Biografi William Soeryadjaya, Pendiri PT Astra International

Biografi William Soeryadjaya – Indonesia sebagai salah satu negara berkembang di dunia tidak luput dengan lahirnya para pebisnis-pebisnis yang mahir dalam bidangnya.

Salah satu perintis bisnis hingga kesuksesannya yang patut untuk kita ketahui mengenai biografi dan riwayat kehidupannya adalah Bapak William Soeryadjaya. Baliau merupakan salah satu pendiri Perusahaan Astra yang kita kenal sebagai salah satu perusahaan yang berkaitan dengan otomotif. Berikut ulasan lengkap mengenai biografi beliau.

Biodata William Soeryadjaya

NamaWilliam Soeryadjaya atau Tjia Kian Liong
Tempat, Tanggal LahirMajalengka, 23 desember 1923
WafatJakarta, 2 April 2010
PasanganLily Anwar
Anak1. Edwin Soeryadjaya
2. Edward Soeryadjaya
3. Joyce Soeryadjaya
4. Judith Soeryadjaya

Biografi William Soeryadjaya

William Soeryadjaya atau dikenal juga dengan panggilan Oom William merupakan salah satu taipan Indonesia yang berdarah Tiongkok. Ia adalah pendiri dari PT Astra International yang kita kenal sebagai salah satu perusahaan pemasok kendaraan mobil di Indonesia.

Kelahiran dan Masa Kecil

William Soeryadjaya dilahirkan di Majalengka pada tanggal 23 Desember tahun 1923 dengan nama Tjia Kian Liong. Ia merupakan anak kedua dari enam bersaudara dan anak laki-laki pertama di keluarga tersebut.

Masa kecil William Soeryadjaya tidak berbeda jauh dengan masa kecil anak-anak pada umumnya. Hingga saat William berusia 12 tahun, cobaan datang menimpa keluarganya. Ayahnya meninggal pada bulan Oktober tahun 1934, dan ibunya meninggal di tahun yang sama pada bulan Desember. Di usia William yang ke-12 tahun, ia dan saudaranya menjadi anak yatim piatu.

Sebagai anak laki-laki pertama di keluarganya, ia harus berjuang untuk melanjutkan kelangsungan hidupnya dan saudara-saudaranya. William Soeryadjaya pun memutuskan untuk meneruskan usaha ayahnya berjualan hasil bumi seperti kacang, beras, dan gula.

Karena ia harus bekerja, beberapa kali sekolah William Soeryadjaya menjadi terlantar. Bahkan, ia sempat tertinggal kelas. Namun, semangatnya untuk belajar tidak membuatnya pantang menyerah. Ia pun berhasil menamatkan pendidikanna di HCZS (Hollands Chinesche Zendings School) di Kadipaten dan melanjutkan pendidikannya hingga ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Cirebon.

Mata pelajaran dan bidang study yang disukai oleh William Soeryadjaya adalah ekonomi dan tata buku atau pembukuan. Dua mata pelajaran inilah yang mengantarkan William Soeryadjaya menjadi salah satu pebisnis yang sukses dalam bidangnya.

Keluarga William Soeryadjaya

William pun pindah ke Bandung dan menikahi seorang gadis bernama Lily Anwar pada tanggal 15 Januari 1947. Keduanya menikah di catatan sipil tanpa ada pesta besar-besaran, pakaian yang mereka kenakan pun mengenakan pakaian sehari-hari.

Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai empat orang anak. Keempat orang anak tersebut yakni Edwin Soeryadjaya, Edward Soeryadjaya, Joyce Soeryadjaya, dan Judith Soeryadjaya. William bersama istrinya berjualan kacang dan rokok untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Mereka sangat menerapkan untuk hidu hemat.

Ketika usia pernikahan mereka masih berusia muda, William yang notabene masih pengantin muda memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda. Di Belanda, ia menimba ilmu penyamakan kulit. Sepulang belajar dari Belanda, ia mendirikan perusahaan penyamakan kulit.

Astra International

Setelah ditendang oleh mitra kerjanya dari perusahaannya yang bernama PT Sanggabuana, William di penjara di Penjara Banceuy karena tuduhan penggelapan pajak. Setelah dipenjara karena tidak ada bukti atas tindakannya, William dibebaskan dari penjara.

Melihat keadaan kakaknya tersebut, Benjamin Suriadjaya (Tjia Kian Joe) menghubungi kakaknya yang bernama Tjia Kian Tie di Amsterdam. Kakaknya tersebut telah menyelasaikan kuliah ekonomi di Universitas Amsterdam Belanda dan menetap disana.

Pada zaman tersebut, pemerintah yang berkuasa menerapkan Program Benteng yang mana kebijakannya sangat pro terhadap pengusaha pribumi. Oleh karena itu, orang-orang keturunan Tionghoa semacam mereka akan sangat sulit untuk hidup di dunia usaha.

Di penghujung tahun 1956, Kian Tie pulang ke Indonesia. Ia pun mengajak teman sekolahnya yang bernama E. Hardiman (Liem Peng Hong) sekaligus pengusaha rokok di Malang itu untuk membeli sebuah perusahaan yang sudah tidak aktif lagi namun masih mengantongi surat izin ekspor-impor. Perusahaan tersebut sebelumnya memasarkan minuman ringan bermerk Prem Club dan mengekspor hasil bumi.

Di perusahaan yang masih baru tersebut, William Soeryadjaya bertanggung jawab atas operasional perusahaan sehari-hari dan pengelolaan keuangan perusahaan. Benjamin yang saat itu masih menjalani kuliah teknik sipil di Institut Teknologi Bandung menjadi salah satu pemegang saham perusahaan tersebut.

Pemberian Nama Astra

Mereka sepakat untuk mengganti nama perusahaan yang baru saja dibelinya tersebut. Kian Tie mengusulkan nama Astra yang diambil dari kata Astrea. Astrea dalam mitologi Yunani merupakan seorang dewi terakhir yang terbang ke langit dan berubah menjadi bintang yang bersinar paling terang.

Walaupun hanya memiliki jumlah karyawan empat orang, William menambahkan kata International agar perusahaannya terlihat lebih mentereng dan menjadi salah satu harapannya agar mampu berkiprah di dunia internasional.

Perusahaan yang bernama Astra International Inc tersebut didaftarkan ke Notaris Sie Khwan Djioe pada tanggal 20 februari 1957. Modal awal mereka kala itu adalah 2,5 juta. Pembuatan logo awal perusahaan Astra berbentuk bola dunia yang dilabeli dengan pita bertuliskan “Astra”.

Pada tanggal 20 Februari 1957, PT Astra International Incorporated (Tahun 1990 berganti nama menjadi PT Astra International Tbk) bergerak dibidang perdagangan yang berdiri dan berkantor di Jalan Sabang 36 A Jakarta. Pada tahun 1961, Kian Tie, Benjamin, dan Peng Hong memutuskan untuk menyerahkan dan mengalihkan seluruh sahamnya kepada William. Sejak itu, saham Astra sepenuhnya milik William Soeryadjaya.

Semakin lama, Astra berubah menjadi Astra International Tbk dan memiliki berbagai anak perusahaan lebih dari 70 perusahaan dibawahnya. Bahkan, pada tahun 1992 terdapat 300 perusahaan yang ada dalam grup Astra.

Dalam menjalankan perusahaannya, William mengutamakan nilai-nilai naluri, loyalitas, dan kejujuran. SDM Astra digembleng untuk menjadi unggulan dan mengutamakan inovasi dalam pengembangan produk yang dipasarkan.

Astra berkembang menjadi perusahaan yang terjun dalam pemasaran berbagai kebutuhan. Astra menjadi agen penjualan kornet daging bermerek CIP. Selain itu, juga menambahkan memasarkan produk lainnya seperti pasta gigi Fresh O Dent dan ODOL-dent.

Astra juga terjun dalam bisnis pengiriman alumunium fosfat (tawas), bohlam lampu listrik, dan fitting. Sejak zaman Orde Baru berkuasa, Astra tumbuh menjadi perusahaan pemain utama otomotif. Awalnya, perusahaan ini mengimpor 800 truk Chevrolet dari General Motor yang masih berbentuk semi-knock-down (SKD) dan akan dirakit di Indonesia.

Ketika Djuanda menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia, ia menghentikan Program Benteng. Penghentian program ini membuat asa William membuncah senang. Astra akan lebih leluasa untuk memasarkan produk-produknya. Perjalanan Astra selanjutnya pun tidak lepas dari sosok Perdana Menteri Djuanda.

Astra Pernah Hampir Pailit

Pada tahun 1992, salah satu anak perusahaan Astra yakni Bank Summa yang dipegang oleh anaknya yang bernama Edward Soeryadjaya hampir colaps. Hal ini disebabkan keberanian Edward yang memberikan kredit bagi nasabahnya. Hal ini menjadikan hutang Bank Summa meningkat tak terkendali.

Pilihan yang ada pada saat itu antara menutup Bank Summa yang menjadi ladang bagi ratusan karyawannya atau menjual saham Astra untuk menutup hutang-hutang milik Bank Summa sehingga tidak terjadi likuidasi.

Akhirnya, William Soeryadjaya memilih untuk menyelamatkan Bank Summa dengan menjual sahamnya di Astra. Keputusan tersebut merupakan pilihan yang sulit baginya. Namun, beliau memilih hal tersebut daripada menutup Bank Summa yang menyebabkan banyak karyawannya menjadi pengangguran dan menjaga nama baik keluarganya.

Setelah keputusan tersebut, William pelan-pelan bangkit dari masa sulit tersebut dengan membeli 10 juta saham PT Mandiri Intifinance. Ia juga mulai berinvesatsi di pengembangan usaha-usaha kecil, seperti pertanian, UKM, dan semacamnya.

Selain berkecimpung di dunia otomotif yang menjadi andalan Astra, perusahaan ini juga merambah di sektor bisnis lainnya. Sektor bisnis yang dirambah oleh Astra diantaranya adalah perdagangan, keuangan, kontraktor, elektronik, komputer, hotel, kayu lapis, hingga agrobisnis.

Kematian William Soeryadjaya

William Soeryadjaya meninggal dunia pada tanggal 2 April 2010 karena sakit yang dideritanya. Ia meninggal dunia di RS Medistra, Jakarta di usianya yang ke-86 tahun. Kerja keras Oom William dalam mencurahkan akal dan tenaganya untuk Astra berhasil menjadikan Astra “menggapai bintang-bintang di langit.”

Demikianlah sedikit ulasan mengenai biografi salah satu entrepreneur Indonesia, Bapak William Soeryadjaya. Semoga materi kali ini dapat melecut semangat juang kita untuk terus bergerak dan berinovasi dalam segala bidang, terkhusus dalam bidang perekonomian. Aamiin.

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!