Tata Cara Pengurusan Jenazah dalam Islam

Tata Cara Pengurusan Jenazah – Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Begitu juga dengan manusia, siap tidak siap, kematian pasti akan datang menjemput. Akan ada masa dimana kita akan merasakan menjadi orang yang ditinggal maupun yang meninggalkan. Oleh karena itu, untuk menghormati seseorang yang telah meninggal dunia. Islam mengajarkan bagaimana tata cara pengurusan jenazah yang baik dan benar.

Berikut akan kita bahas mengenai tata cara pengurusan jenazah dalam Islam.

Contents

Hukum Perawatan terhadap Jenazah

Seorang muslim mempunyai kewajiban dengan muslim lainnya, begitu juga ketika saudara sesama muslimnya meninggal dunia. Hukum mengurus jenazah seorang muslim adalah fardhu kifayah.

Akan tetapi, jika sudah ada yang melakukan pengurusan terhadap mayit meliputi memandikan, mengkafani, menyalatkan dan menguburkan jenazah. Maka, kewajiban untuk muslim lainnya akan gugur.

Tata Cara Pengurusan Jenazah

tata cara pengurusan jenazah
Pict by m.inilah.com

1.Perawatan Jenazah ketika Baru Meninggal

  • Mentalqin orang yang sekarat dengan kalimat “لاإله إلاّ اللّه”
  • Memejamkan kedua mata mayit jika yakin sudah meninggal
  • Mendoakan kebaikan kepada mayit
  • Mengikat dagu mayit supaya mulutnya tidak terbuka
  • Menutup mayat mayit dengan kain
  • Bersegera mempersiapkan mayit untuk dikuburkan

2. Memandikan Mayit

Jenazah yang wajib dimandikan adalah orang yang beragama Islam. Ada dua mayit yang tidak dimandikan, yaitu orang yang mati syahid dalam medan perang dan janin yang belum mengeluarkan suara tangisan (madzhab Imam Syafi’i) atau janin yang keguguran dibawah 4 bulan (madzhab Imam Ahmad).

Orang yang berhak memandikan mayit lebih diutamakan dari kalangan keluarga mayit. Jenazah laki-laki dimandikan oleh laki-laki dan jenazah perempuan dimandikan oleh perempuan, hal ini dimaksudkan untuk menjaga aurat dari jenazah.

Namun, jika suami istri makan boleh dimandikan oleh istrinya atau sebaliknya. Jika yang meninggal anak yang berusia kurang dari 7 tahun, maka boleh dimandikan oleh laki-laki atau perempuan.

Perangkat untuk Memandikan Mayit

Beberapa Perangkat yang Perlu Disiapkan untuk Memandikan Mayit
  • Kapas
  • Sarung tangan atau kain untuk dipakai orang yang akan memandikan mayit agar terjaga dari najis, kotoran, atau penyakit.
  • Masker penutup hidung. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga orang yang memandikan mayit dari penyakit
  • Spon penggosok atau kain untuk menggosok dan membersihkan badan mayit
  • Kapur barus yang sudah digerus untuk dilarutkan kedalam air
  • Sidrin (daun bidara)
  • Shampo
  • Air
  • Wewangian untuk mengusir bau busuk

Tata Cara Memandikan Mayit

tata cara pengurusan jenazah
Pict by islami.co

Berikut tata cara memandikan jenazah mayit:

NoTata Cara Memandikan Jenazah
1Jenazah harus dimandikan ditempat yang tertutup. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga aurat mayit dari khalayak ramai.
2Melemaskan persendian mayit untuk memudahkan saat melakukan pemandian.
3Melepaskan pakaian yang melekat di badan mayit.
4Menggunakan sarung atau kain untuk menutup aurat mayit saat memandikannya, karena mayit dalam kondisi yang tidak layak untuk dilihat.
5Jenazah di tempatkan di tempat yang tinggi dan papan sedikit dimiringkan ke arah kaki, posisi ini memudahkan agar air dan kotoran yang keluar dari jasadnya mudah mengalir.
6Membersihkan kotoran-kotorannya. Apabila kuku-kuku jenazah itu panjang, maka dipotong. Begitu juga dengan bulu ketiaknya. Kemudian, angkat kepala jenazah hingga hampir dalam keadaan posisi duduk, urut perutnya dengan perlahan untuk mengeluarkan kotoran yang masih dalam perutnya. Bersihkan qubul dan dubur mayit dengan kain atau sarung tangan tanpa harus melihat atau menyentuh auratnya langsung.
7Mewudhukan jenazah sebagaimana wudhu untuk shalat. Tapi, tidak perlu memasukkan air ke hidung dan mulut mayit, cukup memasukkan kain yang basah dengan jari-jari ke mulutnya lalu gosoklah giginya dan kedua lubang hidung mayit.
8Membasuh tubuh jenazah dimulai dari tubuh sebelah kanan. Dimulai dari sisi kanan tengkuk, lalu tangan kanan dan bahu kanan, lalu belahan dada sebelah kanan, lalu sisi tubuhnya yang sebelah kanan, lalu paha, betis dan telapak kaki sebelah kanan.
Kemudian petugas membalik sisi tubuh mayit hingga miring ke kiri, lalu membasuh belahan punggung mayit sebelaah kanan. Dilanjutkan bagian tubuh mayit sebelah kiri dengan cara yang sama ketika membasuh tubuh bagian kanan. Jika setiap membasuh bagian perut mayit mengeluarkan kotoran darinya, maka hendaknya untuk dibersihkan.
9Wajib memandikan mayat satu kali dan disunnahkan untuk memandikannya tiga kali. Tambahkan kabur barus dan bidara pada siraman terakhir.
10Dimakruhkan menggunakan air panas ketika memandikannya. Namun, jika air tersebut dibutuhkan untuk menghilangkan kotoran pada mayit maka hal tersebut diperbolehkan.
11Dianjurkan untuk menyisir rambut mayit, memotong kumis, bulu ketiak, dan kuku-kukunya jika panjang. Kemudian letakkan semua yang dipotong tersebut kedalam kain kafan bersamanya.
12Jika jenazah tersebut adalah wanita, dilepaskan ikat rambutnya dan dibersihkan. Lalu rambut kepalanya dikepang menjadi tiga kepangan dan diletakkan dibagian belakang punggung.
13Jika mayit masih mengeluarkan kotoran setelah dibasuh sebanyak tujuh kali, maka hendaknya untuk menutup tempat keluarnya kotoran tersebut dengan kapas, kemudian mencuci kembali tubuh mayit yang terkena najis dan diwudhukan kembali.
14Jika mayit meninggal dalam keadaan sedang berihram, baik sedang menunaikan ibadah haji atau umrah. Maka cara memandikannya cukup dengan air yang dicampur dengan bidara.
15Jika tidak ada air untuk memandikan mayit atau keadaan mayit yang tidak memungkinkan untuk dimandikan atau mayat tersebut adalah seorang wanita ditengaah kaum laki-laki, sedangkan tidak ada mahramnya atau sebaliknya, maka mayit tersebut cukup ditayamumi.
16Hendaknya petugas yang memandikan mayit untuk menutup apa saja yang tidak pantas untuk diperlihatkan dari si mayit. Petugas juga diharuskan untuk menjaga aib-aib yang ada pada tubuh mayit.
17Disunnahkan untuk mandi bagi orang yang telah selesai memandikan mayit.

3. Mengkafani Mayit

Tata Cara Mengkafani Mayit
  • Kain kafan harus sudah siap setelah memandikan mayit
  • Kain kafan untuk mayit lebih utama diambilkan dari harta mayit
  • Kain kafan berwarna putih hukumnya sunnah, tidak wajib
  • Disunnahkan untuk menggunakan tiga helai kain putih
  • Kain kafan untuk mayit lebih utama diambilkan dari harta mayit
  • Kain kafan berwarna putih hukumnya sunnah, tidak wajib
  • Disunnahkan untuk menggunakan tiga helai kain putih

Jika kesulitan untuk mendapatkan tiga lapis kain, maka cukup dengan satu lapis kain yang menutupi seluruh badan mayit tersebut.

  • Kain kafan untuk wanita

Jenazah wanita dikafani dengan lima pakaian; baju panjang, kerudung, sarung, dan dua lapis kain. Akan tetapi, mayat wanita dalam hal ini sebenarnya sama dengan laki-laki, sunnah untuk dikafani dengan tiga lembar kafan, karena tidak ada dalil yang membedakan keduanya.

Akan tetapi, jumhur ulama berpendapat bahwa mayat wanita disunnahkan untuk dikafani dengan lima helai kain kafan. Namun hadits mengenai hal ini lemah. Maka dalam hal ini perkaranya longgar, boleh dengan tiga helai kain kafan atau lima. Hal ini dimaksudkan untuk lebih menutupi tubuh dan aurat mayit wanita.

  • Kain kafan untuk seorang yang muhrim (orang yang sedang berihram)

Seseorang jika meninggal dalam keadaan sedang berihram cukup dikafani dengan sarung dan selendang yang ia gunakan atau selainnya. Kepala dan wajahnya tidak boleh ditutup dan tidak bleh diberi wewangian.

Jika yang meninggal adalah seorang wanita yang sedang berihram, maka juga dikafani seperti jenazah yang lain. Mukanya tidak boleh ditutup dengan cadar, kedua tangannya tidak boleh dipakaikan kaus tangan, dan tidak dipakaikan wewangian.

Akan tetapi wajah dan kedua tangannya ditutup dengan kain kafan yang digunakan untuk mengkafaninya. Hal ini dijelaskan sebagaimana tata cara mengkafani mayat wanita

  • Kain kafan untuk anak kecil

Kain kafan untuk anak kecil dikafani dengan satu sampai tiga lapis kain. Jika mayatnya adalah anak kecil perempuan, maka dikafani dengan menggunakan baju panjang dan dua lapis kain. Karena anak kecil perempuan tidak dibutuhkan untuk memakai kerudung, maka begitu juga ketika dia meninggal.

Teknis Mengkafani Mayit

Beberapa teknis untuk mengkafani mayit sebagai berikut:

  1. Bentangkan tali-tali pengikat kain kafan secukupnya
  2. Bentangkan kain kafan lapis pertama di atas tali-tali tersebut, berikan wewangian pada kain tersebut.
  3. Bentangkan kain kafan lapis kedua di atas kain lapis pertama, lalu berikan wewangian pada kain tersebut.
  4. Bentangkan kain kafan lapis ketiga di atas kain lapis kedua, lalu berikan wewangian pada kain tersebut
  5. Letakkan mayit di tengah-tengah kain tersebut
  6. Tutup dengan kain lapis ketiga dari sisi kiri ke kanan, lalu dari sisi kanan ke kiri
  7. Tutup dengan kain lapis kedua dari sisi kiri ke kanan, lalu dari sisi kanan ke kiri
  8. Tutup dengan kain lapis pertama dari sisi kiri ke kanan, lalu dari sisi kanan ke kiri
  9. Kemudian ikat dengan tali-tali yang tadi

4. Mensholatkan Mayit

Posisi berdiri imam, jika jenazahnya adalah laki-laki maka posisi imam menghadap bagian kepala jenazah yang disholatkan. Jika jenazahnya adalah perempuan, maka posisi imam berada pada bagian tengah tubuh jenazah atau bagian pinggang jenazah wanita yang disholatkan.
Tata Cara Sholat Jenazah
  • Berniat didalam hati
  • Diusahakan untuk berdiri, bagi yang mampu
  • Dilakukan dengan empat kali takbir (tanpa ruku’ dan sujud)

Empat kali takbir tersebut dilakukan sebagai:

a. Takbir Pertama membaca QS. Al-Fatihah

b. Takbir kedua membaca shalawat kepada Nabi Muhammad

c. Takbir ketiga membaca doa

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ

“Ya Allah, ampunilah dia (mayat) dan berilah rahmat untuknya, dan selamatkanlah dia dan maafkanlah dia, dan tempatkanlah dia di tempat yang mulia, dan luaskanlah kuburannya, dan mandikanlah dia dengan air dan salju dan es. Dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan sebagaimana Engkau membersihkan baju berwarna putih dari kotoran. Dan gantilah tempat tinggal yang lebih baik dari tempat tinggalnya (di dunia), dan keluarga yang lebih baik dari keluarganya (di dunia), dan pasangan yang lebih baik dari pasangannya (di dunia), dan masukkanlah dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan siksa Neraka.” (HR. Muslim no. 963)

Doa diatas berlaku untuk mayit laki-laki. Jika mayit perempuan, maka kata ganti “hu atau hi”, diganti dengan “haa”. Contoh:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا

Jika mayit anak kecil, maka diganti dengan doa:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ لَنَا فَرَطًا وَسَلَفًا وَأَجْرًا

“Ya Allah, jadikan kematian anak ini sebagai simpanan pahala, amal baik, dan pahala untuk kami.” (HR. Bukhari)

d. Takbir keempat membaca doa, setelah membaca doa ini kemudian salam.

اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَّ بَعْدَهُ وَاغْفِرْلَناَ وَلَهُ

“Ya Allah, jangan halangi kami untuk memperoleh pahalanya (mayit) dan jangan sesatkan kami sepeninggalnya dia, dan ampunilah kami dan dia”.

Untuk mayit perempuan, kata ganti “hu” juga diganti dengan “haa”.

5. Mengkuburkan Mayit

pohon gersang
Pict by rumaysho.com

Disunnahkan untuk segera mengantarkan jenazah ke pemakaman dan menguburkannya tanpa tergesa-gesa. Para pengiring jenazah tidak diperbolehkan duduk sebelum jenazah diletakkan, karena Rasulullah melarang hal tersebut.

Disunnahkan untuk membuat lubang kubur yang dalam, hal ini dimaksudkan agar jenazah dapat terhindar dari jangkauan binatang buas dan bau dari mayit tidak tercium sampai luar.

Berikut tata cara menguburkan jenazah:

NoPengurusan Jenazah
1Jenazah sudah siap untuk dikuburkan
2Jenazah diangkat ke atas tangan dan diletakkan di dalam kubur
3Jenazah dimasukkan ke dalam kubur. Disunnahkan memasukkan jenazah ke liang lahad dari arah kaki kuburan, kemudian diturunkan ke dalam liang kubur secara perlahan. Jika tidak memungkinkan hal tersebut, maka boleh diturunkan dari arah kiblat.
4Petugas yang memasukkan jenazah ke liang kubur hendaknya berdoa dengan doa:

بِسْمِ اللهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ

"Dengan menyebut nama Allah dan dengan mengikuti sunnah Rasulullah." (HR. Abu Daud)
5Disunnahkan untuk membaringkan jenazah dengan tumpuan sisi kanannya (posisi miring) dan dihadapkan ke arah kiblat sambil melepas tali-talinya selain tali kepala dan tali kedua kaki.
6Tidak perlu meletakkan bantalan dari tanah atau batu di bawah kepalanya, karena tidak ada dalil shahih yang menjelaskan hal tersebut. Mayat pun tidak perlu disingkap wajahnya, kecuali mayat tersebut meninggal dunia saat melakukan ihram.
7Setelah jenazah diletakkan ke dalam liang lahad dan tali-tali selain tali kepala dan kaki dilepas, maka rongga liang lahad tersebut ditutup dengan batu bata atau papan kayu atau bambu dari sebelah atasnya (agak dimiringkan).
8Lalu sela-sela batu bata, papan kayu, atau bbambu tersebut ditutup dengan tanah liat untuk menghalangi seseuatu yang masuk dan untuk menguatkannya.
9Disunnahkan bagi para pengiring untuk menabur tiga genggaman tanah ke dalam liang kubur setelah jenazah diletakkan didalamnya, hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Setelah itu, diuruk dengan tanah ke atas jenazah tersebut.
10Hendaknya meninggikan makam kira-kira sejengkal sebagai tanda agar tidak dilanggar kehormatannya, di buat gundukan seperti punuk unta, seperti itulah bentuk makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.
11Kemudian, taburi makam tersebut dengan kerikil sebagai tanda sebuah makam dan perciki dengan air, berdasarkan tuntunan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Lalu letakkan batu pada bagian kepala makam agar mudah dikenali.
12Kemudian pengiring jenazah mendoakan keteguhan bagi mayit dalam menjawab pertanyaan dua malaikat yang disebut dengan fitnah kubur. Maka disunnahkan setelah selesai menguburkan mayit, orang-orang itu berhenti sebentar untuk mendoakan kebaikan bagi mayit (doa ini dilakukan secara sendiri-sendiri). Karena sesungguhnya mayit dapat mendapatkan manfaat dari doa mereka.

Hal-Hal yang Dilarang dalam Mengurus Jenazah

Beberapa larangan dalam pengurusan jenazah, yaitu:

  • Larangan meratapi orang mati

Meratapi orang mati disini seperti dengan menampar pipi, menggundul rambut, dan merobek-robek pakaiannya

  • Dilarang mencaci maki dan menceritakan kejelekan orang yang sudah meninggal

  • Haram hukumnya menyemen dan membangun bangunan diatas kuburan.

Larangan ini juga berlaku menulis batu nisan. Dan diharamkan juga duduk di atas kuburan, menginjaknya dan bersandar padanya Larangan membuat bangunan diatas kuburan

  • Larangan masuk ke pemakaman dengan menggunakan sandal

  • Larangan bagi wanita berkabung terhadap mayit secara berlebihan

  • Larangan menguburkan mayit pada tiga waktu

Tiga waktu tersebut yakni:

    1. Ketika matahari baru terbit hingga naik setinggi satu tombak
    2. Ketika matahari berada ditengah-tengah
    3. Ketika matahari akan tenggelam hingga tenggelam
  • Larangan menguburkan mayit pada malam hari, kecuali jika terpaksa

  • Larangan bagi yang mengiringi jenazah duduk sebelum jenazah diletakkan

  • Diamakruhkan wanita ikut mengiringi jenazah hingga kuburan

  • Larangan mematahkan tulang mayit

  • Larangan menyiarkan kabar kematian mengikuti tradisi jahiliyah

  • Larangan seorang muslim membantu perawatan jenazah orang kafir, kecuali jika tidak ada orang lain lagi yang mengurusnya.

Di tempat lainnya, Imam Nawawi berkata, “Tidaklah makruh jika seorang muslim mengiringi jenazah kerabatnya yang kaafir. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih mengizinkan ‘Ali nin Abi Thalib untuk mengiringi jenazah ayahnya, yang juga paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal Abu Thalib mati dalam keadaan kafir.”

Syaikh ‘Abdullah bin ’Abdul ‘Aziz Al Jibrin berkata, “Boleh bagi seorang muslim berta’ziyah kepada orang kafir jika ia melihat ada maslahat besar di dalamnya. Namun, sama sekali mayit tersebut tidak didoakan dengan doa dan ampunan.” (Tashil Al ‘Aqidah Al Islamiyah, hal.622)

Keutamaan Orang-Orang yang Melakukan Perawatan terhadap Jenazah

tata cara pengurusan jenazah
Pict by bacaanmadani.com

Beberapa keutamaan orang yang melaakukan perawatan terhadap jenazah, yaitu:

  • Mendapatkan pahala dua qirat

Jika ikut mengiringi dari jenazah dishalatkan hingga dikuburkan, maka dia berhak mendapatkan pahala dua qirat. Yang mana satu qiratnya dihitung seperti Gunung Uhud.

  • Diberi Allah pahala satu qirat

Jika ikut menshaalatkan jenazah, namun tidak ikut mengiringinya sampaai kuburan. Maka, pahala untuknya satu qirat sebesar Gunung Uhud.

“Barangsiapa yang ikut mensholatkan jenazah dan tidak ikut mengiringinya, maka baginya pahala satu qiroth. Jika ia sampai mengikuti jenazahnya, maka baginya pahala dua qiroth.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dengan dua qiroth?” Beliau menjawab, “Ukuran terkecil dari dua qiroth adalah semisal Gunung Uhud.” (HR. Muslim no. 945)

  • Akan mendapatkan ampunan dari Allah

Orang yang memandikan mayit, dan menyembunyikan aib-aibnya, maka Allah akan mengampuninya sebanyak empat puluh kali ampunan.

“Barangsiapa yang memandikan mayit seorang muslim lalu menutup aib-aibnya, Allah akan mengampuninya dengan empat puluh kali ampunan. Dan baarangsiapa menggali (kubur) untuknya, maka akan diberikan pahala baginya seperti pahala orang yang memberikan tempat tinggal hingga hari kiamat. Dan barangsiapa mengkafaani mayit, Allah akan mengkafaninya pada hari kiamat dengan sutra halus dan bludru dari Surga.” (HR. Al-Hakim, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)

  • Diberikan pahala seperti hingga hari kiamat

Orang yang membuatkan liang lahad, akan diberikan oleh Allah pahala seperti orang yang memberikan tempat tinggal hingga hari kiamat.

  • Dikafani oleh Allah dengan sutra dan bludru dari Surga

Orang yang mengkafani mayit, akan Allah kafani dengan sutra lembut dan bludru dari Surga pada hari kiamat.

Demikianlah sedikit materi mangenai tata cara perawatan jenazah. Selain materi ini, Islam juga mengajarkan beragam adab lainnya dalam keseharian kita, diantaranya adalah tata cara berwudhu, tata cara manid junub, dan pengetahuan perbedaan haji dan umroh. Semoga, dengan kita mempelajari tata cara pengurusan terhadap jenazah, dapat membantu kita untuk mendapatkan keutamaan-keutamaan dari Allah.

Alhamdulillah.

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!