Tata Cara Mandi Junub dalam Islam

Tata cara mandi junub, atau lebih dikenal dengan tata cara mandi wajib merupakan salah satu ilmu yang sangat penting bagi seorang muslim. Karena, dengan mandi wajib kita dapat menghilangkan hadats besar yang menghalangi umat Islam untuk beribadah kepada Allah.

Pengertian Mandi Junub

tata cara mandi junub
Pict by konsultasisyariah.com

Dalam bahasa Arab, mandi janabah disebut dengan ghusl janabah “غسل الجنابة” atau bisa disingkat al-ghusl “الغسل”. Secara istilah, al-ghusl bermakna menuangkan air ke seluruh tubuh.

Di Indonesia, mandi janabah disebut juga sebagai mandi wajib. Dimana mandi ini dimaksudkan untuk menghilangkan hadats besar.

Sedangkan, secara istilah, mandi wajib atau mandi janabah adalah memakai air yang suci pada seluruh badan dengan tata cara tertentu dengan syarat-syarat dan rukun-rukunnya.

Hal-Hal yang Menyebabkan Mandi Junub

mandi
Photo by ayosemarang.com

Mayoritas ulama bersepakat, bahwasannya hal-hal yang menyebabkan seorang muslim melakukan mandi junub ada enam hal. Tiga hal diantaranya untuk laki-laki dan perempuan, dan tiga lainnya terjadi pada perempuan.

Berikut hal-hal yang menyebabkan seseorang diwajibkan untuk mandi janabah:

  • Keluar Mani

Para ulama bersepakat, bahwasannya keluarnya air mani menyebabkan seseorang mendapat janabah, baik secara sengaja maupun tidak disengaja, baik laki-laki maupun perempuan.

Dalil mengenai hal ini disebutkan dalam sebuah hadits,

الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ (متفق عليه)

“Sesungguhnya air itu (kewajiban mandi) dari sebab air (keluarnya air mani)” (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Bertemunya dua kemaluan

Maksud dari bertemunya dua kemaluan yaitu bertemunya antara kemaluan laki-laki dan perempuan. Istilah ini lebih dikenal dengan persetubuhan (jima’) atau hubungan antara suami dan istri.

Para ulama kemudian meluaskan makna jima’ tidak hanya terjadi antara suami dan istri saja, tetapi juga jima’ yang terjadi antara orang dewasa dan anak kecil. Juga jima’ yang dilakukan kepada wanita yang masih hidup maupun yang wanita yang sudah mati.

Termasuk juga didalamnya jika kemaluan dimasukkan ke dalam dubur, baik milik laki-laki maupun perempuan. Dan juga jika seseorang bersetubuh dengan hewan. Seluruhnya diwajibkan untuk mandi janabah walaupun tidak sampai mengeluarkan mani, terlepas hal yang dilakukan termasuk ke dalam hal yang dilarang ataupun tidak dalam islam.

Dalil yang menjelaskan hal tersebut adalah,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الّلهِ: “إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الْأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلَ.” (متفق عليه) وَزَادَ مُسْلِمٌ: “وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ”

Dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah bersabda:”Bila seseorang duduk di antara empat cabangnya kemudian bersungguh-sungguh (menyetuubuhi) maka wajib atasnya mandi. (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim ditambahkan: “Meskipun tidak keluar mani.”

  • Meninggal

Para ulama juga bersepakat, bahwasannya seseorang yang meninggal dunia dari kalangan umat islam membuat orang islam yang hidup wajib memandikan jenazahnya.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ النَّبِيَّ قَالَ فِي الَّذَيْ سَقَطَ عَنْ رَاحِلَتِهِ فَمَاتَ: “اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوبَيْنِز” (متفق عليه)

“Dari Ibnu Abbas ra: Nabi bersabda mengenai orang yang terjatuh dari kendaraannya kemudian dia meninggal, “Mandikanlah ia dengan air dan bidara, dan kafankanlah dengan dua lapis kainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Haid

Haid atau menstruasi adalah kejadian alami yang wajar terjadi pada seorang wanita dan bersifat rutin terjadi setiap bulannya. Menurut Al-Quran, keluarnya darah haid dari seorang wanita menunjukkan wanita tersebut sedang mengeluarkan kotoran dan diwajibkan untuk mandi janabah.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Dan mereka bertanya tentang haid, maka katakanlah: “Haid adalah kotoran”. Oleh karena itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Maka apabila mereka telah suci maka campurilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat lagi orang yang mensucikan diri” (QS. Al-Baqarah: 222)

  • Nifas

Nifas merupakan darah yang keluar dari seorang wanita setelah dia melahirkan.

Para ulama bersepakat, bahwasannya nifas termasuk hal yang mewajibkan seorang wanita untuk mandi janabah, meski bayi yang dilahirkan dalam kondisi meninggal dunia. Begitu darah yang dikeluarkan berhenti sesudah persalinan, maka diwajibkan atasnya untuk mandi janabah.

Adapun dasar yang mewajibkan wanita untuk mandi setelah nifas adalah ijma’ ulama yang didasarkan kepada qiyas haid.

  • Melahirkan (Wiladah)

Seorang wanita yang melahirkan anak, meski anak itu dalam keadaan mati maka wajib atasnya untuk melakukan mandi janabah. Walaupun saat melahirkan darahnya tidak keluar. Artinya, walaupun seorang wanita tidak mengalami nifas saat melahirkan, dia tetap diharuskan mandi janabah karena persalinan yang dialaminya.

Sebagian ulama mengatakan bahwa illat atas mandi wajibnya seorang wanita setelah melahirkan karena anak yang dilahirkan itu pada hakikatnya adalah mani, walaupun telah berubah wujud menjadi manusia. Dengan demikian, maka diqiyaskan sebagai seseorang yang mengeluarkan mani, meski yang lahir masih berbentuk janin.

Tata Cara Mandi Junub

mandi junub
Photo by dream.co.id

Secara umum, praktik tata cara mandi junub dibagi menjadi amalan yang bersifat rukun dan sunnah. Namun, praktik mandi junub pada masa Rasulullah belum diklasifikasikan sebagai rukun dan sunnah.

Al-Quran menyebutkan mandi janabah secara global. Dalam hal perinciannya, praktik Rasulullah menjadi penjelas dari aturan global dalam Al-Quran. Disinilah tugas para ulama mujtahid untuk mengidentifikasi rincian praktek Nabi sehingga melahirkan aturan fiqih yang sistematis, mana yang berhukum wajib dan sunnah.

  • Hadits Pertama

Berikut praktik mandi Rasulullah yang diriwayatkan oleh para sahabat,

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِى المَاءِ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ، ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَعَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ

 “Dari Aisyah ra berkata: bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian, beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk sholat. Kemudian beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air, kemudian menggosokkannya ke kulit kepala. Kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya.” (HR. Bukhari no. 248 dan Muslim no. 316)

  • Hadits Kedua

Dan juga hadits dari sahabat Nabi yang lain,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَتْ مَيْمُونَةُ وَضَعْتُ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم غُسْلاً ، فَسَتَرْتُهُ بِثَوْبٍ، وَصَبَّ عَلَى يَدَيْهِ ، فَغَسَلَهُمَا، ثُمَّ صَبَّ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ ، فَغَسَلَ فَرْجَهُ، فَضَرَبَ بِيَدِهِ الْأَرْضَ، فَمَسَحَهَا، ثُمَّ غَسَلَهَا، فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ، وَغَسَلَ وَجْهَهُ وَذِرَاعَيْهِ، ثُمَّ صَبَّ عَلَى رَأْسِهِ وَأَفَاضَ عَلَى جَسَدِهِ ، ثُمَّ تَنَحَّى، فَغَسَلَ قَدَمَيْهِ، فَنَاوَلْتُهُ ثَوْبًا فَلَمْ يَأْخُذُهُ، فَانْطَلَقَ وَهُوَ يَنْفُضُ يَدَيْهِ .رواه البخاري

“Dari Ibnu Abbas berkata: Maimunah ra telah berkata, “Aku memberi air kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mandi, lalu aku tutupi beliau dengan kain. Maka beliau menuangkan air ke tangannya, lalu mencuci kedua tangannya. Kemudian menuangkan air dengan tangan kanannya ke tangan kirinya lalu mencuci kemaluannya, lalu tangannya dipukulkannya ke tanah, kemudian mengusapnya lalu mencucinya. Kemudian berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung, kemudian membasuh mukanya dan kedua lengannya, lalu mengguyur kepalanya, lalu menyiram seluruh badannya, dan diakhiri dengan mencuci kedua telapak kakinya. Lalu aku sodorkan kain (sebagai pengering) tapi Nabi tidak mengambilnya, lalu beliau pergi dengan mengeringkan air dari badannya dengan tangannya.” (HR. Bukhari no. 276)

  • Hadits Ketiga

Dan juga hadits yang berbunyi,

وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : قُلْتُ : يَا رَسُولَ اَللَّهِ إِنِّي اِمْرَأَةٌ أَشُدُّ شَعْرَ رَأْسِي أَفَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ اَلْجَنَابَةِ ؟ فَقَالَ: لَا إِنَّمَا يَكْفِيكِ أَنْ تَحْثِي عَلَى رَأْسِكِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ .رواه مسلم

“Dari Ummu Salamah ra berkata, aku bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ini wanita yang mengikat rambut kepalaku. Apakah aku harus membukanya untuk mandi janabah? Maka Rasulullah bersabda: “Tidak, tapi kamu cukup mengguyur air diatas kepalamu tiga kali.” (HR. Muslim)

Penjelasan mengenai hadits ini, jika seseorang sudah memenuhi rukun mandi maka mandinya dianggap sah, asalkan disertai niat untuk mandi wajib. Jadi, seseorang yang mandi di pancuran atau shower dan air mengenai seluruh tubuhnya, maka mandinya juga sudah dianggap sah.

Adapun berkumur-kumur, memasukkan air ke dalam hidung, dan menggosok-gosok badan adalah perkara yang sunnah menurut mayoritas ulama.

tata cara mandi junub
Pict by thegorbalsla.com

Berikut tata cara mandi junub Rasulullah menurut empat mazhab:

1.Mazhab Hanafi

Menurut salah satu ulama yang bermazhab Hanafi, Imam Burhanuddin Al-Marghinani (593 H), dalam kitab matannya yang menjadi rujukan Mazhab Hanafi menetapkan tata cara mandi junub dari sisi rukun sebagai,

وَفَرْضُ الغَسْلُ: الْمَضْمَضَةُ، وَالْإِسْتِنْشَاقُ، وَ غَسْلُ سَائِرِ الْبَدَنِ

“Dan fardhu mandi janabah adalah: berkumur-kumur (madhmadhah), memasukkan air kedalam hidung (istinsyaq), dan membasuh seluruh badan.

Sedangkan sunnah-sunnahnya meliputi,

وسننه: أن يبدأ المغتسل فيغسل يديه وفرجه ويزيل نجاسة إن كانت على بدنه ثم يتوضأ وضوءه للصلاة إلا رجليه ثم يفيض الماء على رأسه وسائر جسده ثلاثا ثم يتنحى عن ذلك المكان فيغسل رجليه وليس على المرأة أن تنقض ضفائرها في الغسل إذا بلغ الماء أصوالشعر

“Dan sunnah-sunnahnya: memulai dengan membasuh kedua tangan dan kemaluannya sebelum mandi, dan menghilangkan najis pada tubuhnya jika ada, kemudian berwudhu seperti wudhu ketika hendak sholat kecuali kedua kakinya, kemudian menumpahkan air ke kepala dank e seluruh badannya sebanyak tiga kali basuhan. Kemudian menjauhi tempat mandinya dan membasuh kakinya. Dan tidak diharuskan seorang wanita untuk melepaskan ikatan rambutnya (menguraikan rambutnya yang panjang), jika dirasa air telah membasahi sampai dasar-dasar tumbuhnya rambut.”

2. Mazhab Maliki

Menurut salah satu ulama yang bermazhab Maliki, Imam Abu An-Naja Al-‘Asymawi (sebelum abad 10 H), dalam kitab matan-nya yang menjadi salah satu rujukan dalam Mazhab Maliki, menetapkan tata cara mandi junub dari sisi rukunnya sebagai,

باب فرائض الغسل وسننه وفضائله. فأما فرائضه فخمسة: النية، وتعميم الجسد بالماء، ودلك جميع الجسد، والفور، وتخليل الشعر

“Bab tentang fardhu mandi janabah, sunnah-sunnahnya, dan fadhilahnya. Adapun fardhu mandi janabah ada lima, yaitu: niat, membasuh seluruh badan dengan air, dalku (menggosok seluruh badan), fawr (muwalah, berkesinambungan), dan menyela-nyela rambut.

Sedangkan, sunnah-sunnahnya meliputi,

و أما سننه فأربعة: غسل يديه أولا إلى كوعيه، والمضمضة، والإستنشاق، ومسح صماخ الأذنين

“Dan adapun sunnah-sunnahnya ada empat, yaitu: mencuci kedua tangannya terlebih dahulu (sebelum mandi) sampai pergelangan, berkumur-kumur (madhmadhah), menghirup air kedalam hidung (istinsyaq), dan mengusap daun telinga.”

Adapun fadhilah-fadhilahnya meliputi,

وأما فضائله فستة: البدأ بإزالة الأذى عن جسده، ثم إكمال أعضاء وضوئه، وغسل الأعالي قبل الأسافل، وتثليث الرأس بالغسل، والبدأ بالميامن قبل المياسر، وقلة الماء مع الإحكام الغسل. والله أعلم

“Adapun fadhilah-fadhilahnya ada enam: membersihkan najis yang ada pada tubuh, berwudhu sebelum mandi, membasuh bagian teratas sebelum bagian bawah, membasuh kepala sebanyak tiga kali (sebelum mandi), membasuh bagian yang kanan sebelum bagian yang kiri, meminimalkan penggunaan air sembari menyempurnakan basuhan. Wallahua’lam.

3. Mazhab Syafi’i

Menurut salah satu ulama yang bermazhab Syafi’i, Imam Abu Syuja Al-Ashfahani (593 H), dalam kitab matan-nya yang menjadi salaah satu rujukan Mazhab Syafi’i menetapkan tata cara mandi junub dari sisi rukun sebagai,

وفرائض الغسل ثلاثة أشياء: النية و إزالة النجاسة إن كانت على بدنه وإيصال الماء إلى جميع الشعر والبشرة.

“Dan fardhu mandi janabah ada tiga macam: niat, membersihkan najis dari badan jika ada, dan mengalirkan air ke seluruh rambut dan permukaan kulit.”

Sedangkan, sunnah-sunnahnya meliputi,

وسننه خمسة أشياء: التسمية والوضوء قبله وإمرار اليد على الجسد والموالاة وتقديم اليمنى على اليسرى.

“Dan sunnah-sunnahnya ada lima macam, yaitu: membaca tasmiyyah (bismillah), berwudhu sebelum mandi, menggosokkan tangan diatas badan (dalk), berkesinambungan (muwalah), dan mendahulukan anggota badan yang kanan atas yang kiri.”

4. Mazhab Hanbali

Menurut salah satu ulama yang bermazhab Hanbali, Imam Abu An-Naja Al-Hijawi (968 H), dalam kitab matan-nya yang menjadi dalah satu rujukan dalam Mazhab Hanbali menetapkan tata cara mandi junub dari sisi rukun sebagai,

والمجزئ: أنينوي ثم يسمي ويعم بدنه بالغسل مرة

“Dan standar cukupnya (sah) mandi janabah adalah berniat, kemudian membaca kalimat tasmiyyah (bismillah), dan membasuh seluruh badan dengan sekali basuhan air”

Sedangkan, mandi janabah yang sempurna disertai sunnah-sunnahnya meliputi,

والغسل الكامل: أن ينوي ثم يسمي ويغسل يديه ثلاثا وما لوثه ويتوضأ ويحثي على رأسه ثلاثا ترويه ويعم بدنه غسلا ثلاثا ويدلكه ويتيا من ويغسل قدميه مكانا آحر.

“Adapun mandi janabah yang sempurna: berniat, kemudian membaca kalimat tasmiyyah (bismillah), mencuci kedua tangan tiga kali, dan mencuci anggota tubuh yang terkena najis, berwudhu, menyiram kepala tiga kali dengan meyela-nyela kepala, membasuh seluruh badan tiga kali, melakukan dalk (menggosok badan dengan tangan), mendahulukan anggota tubuh yang kanan, dan membasuh kedua kaki di tempat lain.”

Hal-Hal yang Makruh Dilakukan saat Mandi Junub

Beberapa hal yang dimakruhkan saat mandi junub, meliputi:

  • Berlebih-lebihan dalam penggunaan air
  • Mandi di tempat yang najis
  • Mandi tanpa penutup
  • Mandi dengan bekas air mandi istri
  • Mandi dengan air yang tidak mengalir

Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits. Abu Hurairah berkata, bahwasannya Nabi Muhammad bersabda,

“لا يغتسل أحدكم في الماء الدائم وهو جنب”. فقالوا: يا أبا هريرة. كيف يفعل؟ قال: يتناوله تناولاً”

“Janganlah salah seorang diantara kalian mandi di dalam air yang tidak mengalir, dan dia dalam keadaan junub”. Para sahabat pun bertanya, “Wahai Abu Hurairah, Bagaimana ia melakukannya?” Abu Hurairah menjawab, “Ia mencakupnya (air) dengan satu cukupan.” (HR. Muslim)

Demikianlah sedikit ulasan mengenai tata cara mandi junub. Islam juga mengajarkan adab seperti adab makan dan minum. Semoga dengan mempelajari ilmu mengenai tata cara mandi janabah, kita dapat menjadi salah satu hamba Allah yang dinaikkan derajatnya oleh Allah karena ilmu yang kita miliki, dan menambah rasa cinta kita terhadap agam Islam.

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!