Tata Cara Berwudhu dalam Islam

Wudhu merupakan salah satu hal penting yang perlu diketahui oleh umat Islam. Karena wudhu merupakan salah satu hal syarat sah nya sholat seseorang. Oleh karena itu, berwudhu memiliki tata cara yang patut untuk kita ketahui.

Pengertian Berwudhu

Kata wudhu diambil dari kata bahasa Arab “الوضوء” yang bermakna kebaikan, dan juga bermakna kebersihan.

Secara umum, wudhu didefinisikan sebagai ibadah ritual untuk mensucikan diri dari hadats kecil dengan menggunakan air sebagai media pembersih atas beberapa anggota tubuh.

Hukum Wudhu

Secara umum, hukum wudhu dapat dibedakan menjadi dua hukum, yaitu wudhu wajib dan wudhu sunnah. Namun, ada beberapa ulama yang menyepakati tentang wudhu wajib, dan juga ada yang memperselisihkan antara hukum wajib dan hukum sunah.

Berdasarkan permasalahan ini, maka hukum dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu wudhu yang disepakati wajib, wudhu yang disepakati sunah, dan wudhu yang diperselisihkan antara wajib dan sunah.

  • Wudhu Wajib

Yang dimaksud dengan wudhu wajib adalah praktik wudhu yang dilakukan sebelum melakukan suatu amalan dalam Islam yang mensyaratkan sahnya amalan tersebut jika sudah berwudhu.

Berikut wudhu yang disepakati ulama sebagai hukum wajib jika seseorang akan melakukan suatu amalan dalam Islam:

1. Wudhu dalam Shalat

Para ulama bersepakat, bahwasannya jika seorang muslim hendak melaksanakan sholat, baik sholat wajib maupun sunnah, maka diwajibkan untuk bersuci dari hadats kecil dengan berwudhu terlebih dahulu.

Firman Allah dalam Al-Quran yang berbunyi,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika sekiranya kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan usaplah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” (QS. Al-Maidah: 06)

2. Melakukan Sujud Tilawah

Para ulama juga bersepakat, bahwasannya seseorang yang membaca atau mendengar ayat Al-Quran yang termasuk dalam ayat-ayat tilawah atau ayat-ayat sajdah, maka disyariatkan harus dalam kondisi suci dari hadats sebelum melakukan sujud tilawah.

Dasar dari kesepakatan ini adalah penetapan status sujud tilawah yang dihukumi sebagaimana hukum shalat.

  • Wudhu yang Diperselisihkan antara Wajib dan Sunnah

Ada juga perkara-perkara yang masih menjadi perselisihan para ulama, apakah wajib atau sunnah. Beberapa perkara tersebut, yaitu:

1. Thawaf di Seputar Ka’bah

Pada umumnya, mayoritas ulama berpendapat bahwasannya status hukum thawaf sama dengan hukum shalat. Hanya saja, dari mereka berbeda pendapat mengenai keabsahan thawaf jika tidak dalam kondisi suci dari hadats kecil.

Mazhab Pertama: Syarat sah

Mayoritas ulama (Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) berpendapat bahwasannya suci dari hadats kecil ketika melaksanakan thawaf diseputar ka’bah adalah syarat sahnya thawaf. Karena status hukum thawaf sama dengan hukum shalat, maka thawaf juga disyaratkan untuk suci dari hadats kecil sebagaimana sholat. Rasulullah bersabda,

“Thawaf di sekitar Ka’bah itu adalah shalat, kecuali Allah telah memperbolehkan untuk berbicara didalamnya. Maka barangsiapa yang ingin berbicara, maka janganlah kalian berbicara kecuali yang baik-baik” (HR. Tirmidzi)

Mazhab Kedua: Wajib atau sunnah

Mazhab Hanafi berpendapat, bahwasannya melakukan thawaf dalam kondisi suci dari hadats kecil terhitung sebagai perkara yang wajib dan bukan rukun, bahkan ada yang berpendapat sunnah. Karena itu, tetap sah jika seorang muslim melakukan thawaf walaupun sedang berhadats kecil. Hanya saja, hal ini membuat pelaku thawafnya mendapatkan dosa walaupun ibadah thawafnya dinilai sah.

Argumentasi dalam mazhab ini adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Kasani, walaupun shalat dihukumi sebagai hal yang sama dengan hukum sholat, thawaf bukanlah shalat secara hakiki, maka status hukumnya lebih rendah dari sholat.

2. Khutbah Jumat

Para ulama juga berselisih mengenai sunnah ataupun wajib wudhu ketika khutbah jumat.

Mazhab Pertama: Syarat sah

Mazhab Maliki dan Mazhab Syafi’i berpendapat, bahwasannya menyampaikan khutbah disyaratkan dalam keadaan suci ketika menyampaikan khutbah. Hal ini dikarenakan khutbah jumat merupakan salah satu bagian dari shalat jumat.

Mazhab Kedua: Sunnah

Mazhab Hanafi dan Mazhab Hanbali berpendapat, bahwasannya suci dari hadats kecil ketika menyampaikan khutbah jumat merupakan bagian dari sunnah, dan tidak disyaratkan harus dalam kondisi bersuci.

  • Wudhu Sunnah

Selain wajib, para ulama juga menyepakati sejumlah perbuatan yang disunnahkan dalam kondisi berwudhu dan suci dari hadats kecil, diantaranya adalah:

1. Mengulangi Wudhu setiap Shalat

Para ulama bersepakat, bahwasannya bagi seorang muslim yang telah mendirikaan shalat, dan hendak melaksanakan shalat diwaktu yang lain, disunnahkan untuk berwudhu kembali meskipun status wudhunya masih belum batal. Dasar pernyataan ini terdapat dalam hadits:

لَوْلَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لِأَمَرْتهمْ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ بِوُضُوءٍ وَمَعَ كُلِّ وُضُوءٍ بِسِوَاكٍ (رَوَاهُ أَحْمَدُ)

“Seandainya tidak memberatkan ummatku, pastilah aku perintahkan untuk berwudhu setiap akan melaksanakan shalat. Dan setiap wudhu dibarengi dengan bersiwak.” (HR. Ahmad)

2. Menyentuh Kitab-Kitab Agama dan Mempelajarinya

Para ulama bersepakat, bahwasannya disunnahkan dalam kondisi berwudhu bagi seseorang yang menyentuh kitab-kitab agama seperti kitab tafsir, hadits, aqidah, fiqih, dan lainnya. Dan juga dalam keadaan bersuci ketika mempelajarinya.

3. Ketika akan Tidur

Disunnahkan juga untuk berwudhu sebelum tidur, sehingga seorang muslim ketika tidur dalam keadaan suci dari hadast kecil. Hal ini disebutkan dalam sebuah hadits,

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأَ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شَقَّكَ الْأَيْمَن .متفق عليه

“Apabila kamu naik ke atas ranjang untuk tidur, maka berwudhulah sebagaimana kamu berwudhu untuk sholat. Kemudian tidurlah dengan posisi di atas sisi kanan” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Sebelum Mandi Janabah

Disunnahkan untuk berwudhu dahulu dengan mengakhirkan membasuh kaki sebelum mandi janabah.

Dari Aisyah ra berkata,

كَانَ ررَسُولَ اللَّهُ صلى الله عليه و سلم إِذَا كَانَ جُنُبًا فَأَرَادَ أَنْ يَأْكُلَ أَوْ يَنَامَ تَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصّلاَةِ . رواه مسلم

“Rasulullah bila dalam keadaan junub dan ingin makan atau tidur beliau berwudhu terlebih dahulu seperti wudhu untuk sholat” (HR. Muslim)

5. Ketika Membaca Al-Quran

Hukum berwudhu ketika membaca Al-Quran adalah sunnah. Hal ini berbeda dengan hukum menyentuh mushaf Al-Quran yang menurut jumhur ulama adalah wajib.

6. Ketika Melantunkan Azdan dan Iqamat

Para ulama bersepakat, disunnahkan untuk berwudhu bagi orang yang akan melakukan adzan dan iqamah.

7. Dzikir

Jumhur ulama menyepakati bahwasannya bagi seorang muslim yang hendak berdzikir dengan lisannya untuk suci dari hadats. Dasar dari pernyataan ini adalah,

عن المهاجر بن قنفذ أنه أتى النبي وهو يبول فسلم عليه فلم يرد عليه حتى توضأ ثم اعتذر إليه فقال إني كرهت أن أذكر الله عز وجل إلا على طهر أو قال على طهارة . رواه أبو داود والنسائى وابن حبان والحاكم

“Dari Al-Muhajir bin Qunfudz bahwasannya dia pernah menemui Nabi ketika beliau sedang buang air kecil, lalu dia mengucapkan salam kepada Nabi, namun beliau tidak menjawab salamnya hingga berwudhu, kemudian beliau meminta maaf seraya bersabda, “Sesungguhnya aku tidak menyebut Nama Allah Ta’ala kecuali dalam keadaan suci.” (HR. Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Hakim)

8. Ziarah ke Makam Nabi Muhammad

Menurut kesepakatan ulama, ketika seorang muslim akan berziarah ke makam Nabi Muhammad agar berwudhu. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan kepada Rasulullah.

Syarat –Syarat Wudhu

tata cara berwudhu
Pict by lifestyle.okezone.com

Syarat adalah ketentuan-ketentuan yang wajib dilakukan sebelum melakukan praktek ibadah. Para lama membedakan syarat wudhu menjadi dua, yaitu syarat wajib wudhu dan syarat sah wudhu.

Maksud dari syarat wajib wudhu adalah apabila syarat-syarat yang ditentukan sudah terpenuhi, maka hukum wudhu menjadi wajib. Sedangkan, syarat sah wudhu adalah apabila hal-hal yang disyaratkan sahnya belu terpenuhi, maka hukum wudhunya menjadi tidak sah.

Syarat-Syarat Wajib Wudhu
  1.  Muslim
  2. Berakal
  3. Baligh
  4. Tidak sedang berhadast besar
  5. Adanya hadast kecil
  6. Masuknya waktu ibadah
  7. Keberadaan air mutlak yang cukup

Volume air mutlak yang cukup yaitu minimal satu mud (0,688 liter/688 ml). hal iىi berdasarkan hadits yang berbunyi, “Dari Anas ra berkata: bahwasannya Rasulullah berwudhu dengan satu mud air dan mandi dengan satu sha’ air hingga lima mud air.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syarat-Syarat Sah Wudhu
  1. Ratanya air yang membasahi anggota wudhu
  2. Tidak adanya penghalang kulit yang menjadi penghalang basahnya bagian anggota wudhu dari air, seperti cat, lilin, dll.
  3. Berhentinya penyebab hadats kecil, misalnya orang yang berwudhu sambil kencing, maka wudhunya menjadi tidak sah.
  4. Ilmu tentang wudhu
  5. Halalnya air (disyaratkan oleh Mazhab Hanbali)

Tata Cara Berwudhu

tata cara berwudhu
Photo by fey777.com

Al-Quran sudah cukup lengkap menjelaskan tentang praktik wudhu. Namun, para ulama bersepakat bahwasannya yang dijelaskan dalam Al-Quran adalah praktik wudhu yang dikategorikan sebagai rukun wudhu.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika sekiranya kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan usaplah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” (QS. Al-Maidah: 06)

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan empat rukun wudhu yang disepakati oleh para ulama, yaitu membasuh wajah, membasuh kedua tangan sampai kedua siku, mengusap kepala, dan membasuh kaki sampai kedua mata kaki.

Namun, selain yang telah dijelaskan oleh ayat ini. Rasulullah juga memberikan beberapa tambahan ritual dalam berwudhu. Dan menjadi perbedaan pendapat antar para ulama dalam menghukumi praktik tambahan yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Apakah praktik tersebut akan dihukumi sebagai rukun yang wajib atau dihukumi sunnah.

Berikut praktik wudhu Rasulullah berdasarkan kesaksian dari Utsman bin Affan ra yang dijelakan dalam hadits berikut,

عن حمران: أن عثمان دعا بوضوء، فغسل كفيه ثلاث مرات، ثم مضمض، واستنشق، واستنثر، ثم غسل وجهه ثلاث مرات، ثم غسل يده اليمنى الى المرفق ثلاث مرات، ثم اليسرى مثل ذالك، ثم مسح برأسه، ثم غسل رجله اليمنى إلى الكعبين ثلاث مرات، ثم اليسرى مثل ذالك، ثم قال: رأيت رسول الله توضأ نحوى وضوئي هذا. أخرجه عبد الرزاق و أحمد والعدنى والبخاري والمسلم وأبو داود والنسائي وابن خزيمة وابن حبان والدارقطني

“Dari Humran, bahwasannya Utsman bin Affan ra meminta air untuk berwudhu:

  1. Maka dia membasuh kedua telapak tangannya tiga kali,
  2. Kemudian berkumur-kumur
  3. Dan menghirup air dengan hidung
  4. Dan menghembuskan airnya keluar
  5. Kemudian membasuh wajahnya sebanyak tiga kali
  6. Lalu membasuh tangan kanannya hingga siku-siku tiga kali, dan tangan kirinya sama seperti itu
  7. Kemudian mengusap kepalanya
  8. Lalu membasuh kaki kanannya hingga kedua mata kaki sebanyak tiga kali dan kaki kirinya sama seperti itu

Kemudian dia berkata: “Aku telah melihat Rasulullah berwudhu sebagaimana aku berwudhu ini. (HR. Abdurrazaq, Ahmad, ‘Adni, Bukhari, Muslim, Abu Daud, An-Nasai, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Dzaroquthni.)

tata cara berwudhu
Pict by carakus.com

Berikut tata cara berwudhu Rasulullah menurut empat mazhab:

1. Mazhab Hanafi

Menurut seorang ulama bermazhab Hanafi, Imam Ibnu Maudud Al-Maushili (683 H), dalam kitab matan-nya “Mukhtar Al-Fatwa” yang menjadi salah satu rujukan dalam Mazhab Hanafi.

  • Rukun Wudhu

Beliau menetapkaan tata cara berwudhu dari sisi rukun sebagai,

وفرضه: غسل الوجه، وغسل اليدين مع المرفقين، ومسح الربع الرأس، وغسل الرجلين مع الكعبين

“Fardhu Wudhu adalah membasuh wajah, membasuh kedua tangan sampai dengan dua siku, mengusap seperempat kepala, dan membasuh kaki sampai kedua mata kaki.”

  • Sunnah Wudhu

Sedangkan, sunnah-sunnah wudhu meliputi,

وسنن الوضوء: غسل اليدين إلى الرسغين ثلاثا قبل إدخالهما قي الإناء امن استيقظ من نومه، وتسمية الله تعالى في ابتدائه، والسواك، والمضمضة، والإستنشاق ثلاثا ثلاثا، ومسح جميع الرأس والأذنين بماء واحد، وتخليل اللحية والأصابع، وتثليث الغسل

“Dan Sunnah-sunnah wudhu meliputi: membasuh kedua tangan sampai ke pergelangan tangan sebanyak tiga kali sebelum memasukkan tangannya ke dalam wadah air bagi yang baru bangun tidur, membaca tasmiyah kepada Allah saat akan memulainya, bersiwak, berkumur-kumur (madhmadhah), menghirup air dengan hidung (istinsyaq) tiga kali, mengusap seluruh kepala dan kedua telinga dengan satu usapan air, takhlil jenggot dan ruas jari-jari, dan membasuh tiga kali.

2. Mazhab Maliki

Menurut seorang ulama yang bermazhab Maliki, Imam Abu An-Naja Al-‘Asymawi (sebelum abad 10H), dalam kitab matan-nya “Matan Al-‘Asymawiyyah” yang menjadi salah satu rujukan dalam Mazhab Maliki.

  • Rukun Wudhu

Beliau menetapkan tata cara berwudhu dari sisi rukun sebagai,

فأما الفرائض الوضوء سبعة: النية عند الغسل الوجه، وغسل اليدين إلى مرفقين، ومسح جميع الرأس، وغسل الرجلين إلى الكعبين، والفور، والتدليك. فهذه سبعة.

لكن يجب عليك في غسل وجهك أن تخلل شعر لحيتك إن كان شعر اللخية خفيفا تظهر البشرة تحته، وإن كان كثيفا فلا يجب عليك تخليلها، وكذلك يجب عليك في غسل يديك أن تخلل أصابعك على المشهور.

“Adapun fardhu wudhu ada tujuh, yaitu: 1) Niat saat membasuh wajah 2) Membasuh kedua tangan sampai siku-siku 3) Mengusap seluruh kepala 4) Membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki 5) Faur/Muwalah 6)Tadlik/Menggosok. Maka ini menjadi tujuh.”

Namun, diwajibkan atasmu saat membasuh wajah untuk melakukan takhlil pada jenggot tipis, dimana kulitnya tampak terlihat. Jika jenggotmu tebal, maka tidak diwajibkan atasmu untuk takhlil. Begitu juga diwajibkan atasmu untuk melakukan takhlil pada ruas-ruas jari, sebagaimana pendapat masyhur.

  • Sunnah Wudhu

Sedangkan, sunnah-sunnah wudhu meliputi,

وأما سنن الوضوء فثمانية: غسل اليدين أولا إلى الكوعين، والمضمضة، والإستنشاق، والإستنثار, وهوجدب الماء من الأنف، ورد مسح الرأس، ومسح الأذنين ظاهرهما وباطنهما، وتجديد الماء لهما، وترتيب فرائضه.

Sedangkan sunnah-sunnah wudhu ada delapan, yaitu: 1)Membasuh kedua taangan sampai pergelangan, 2) Berkumur-kumur (Madhmadhah), 3) Menghirup air dengan hidung (Istinsyaq), 4) Membuang air yang dimasukkan kedalam hidung (Istintsar), 5) Mengusap kepala dan membalikkannya dari belakang, 6) Mengusap sisi luar dan dalam telinga, 7) Mengusap telinga dengan air baru, dan 8) Tertib.

وأما فضائله فسبعة: التسمية، والموضع الطاهر، وقلة الماء بلا حد، ووضع الإناء على اليمين إن كان مفتوحا، والغسلة الثانية والثالثة إذا أوعبربالأولى، والبدأ بمقدم الرأس، والسواك. والله أعلم.

Adapun fadhilah anjuran dibawah kualitas sunnah ada tujuh, yaitu: 1) Tasmiyyah, 2) Berwudhu di tempat yang suci, 3) Meminimalkan penggunaan air, 4) Meletakkan wadah air diatas tangan kanan, 5) Basuhan kedua dan ketiga, jika telah sempurna pada basuhan yang pertama, 6) Memulai usapan dari arah depan kepala, dan 7) Bersiwak.

3. Mazhab Syafi’i

Menurut seorang ulama yang bermazhab Syafi’i, Imam Abu Syuja’ Al-Ashfahani (593 H), dalam kitab matan-nya “Al-Ghayah wa At-Taqrib” yang menjadi salah satu rujukan dalam Mazhab Syafi’i.

  • Rukun Wudhu

Beliau menetapkan tata cara berwudhu dari sisi rukun sebagai,

وفروضه الوضوء ستة أشياء: النية عند غسل الوجه وغسل الوجه وغسل اليدين مع المرفقين ومسح بعض الرأس وغسل الرجلين إلى الكعبين والترتيب على ما ذكرناه

Fardhu wudhu ada enam, yaitu: 1) Niat saat membasuh wajah, 2) Membasuh wajah, 3) Membasuh kedua tangan dan kedua siku, 4) Mengusap sebagian kepala, 5) membaasuh mata kaki dan kedua mata kaki, 6) Tertib, sebagaimana yang telah disebutkan.

  • Sunnah Wudhu

Sedangkan, sunnah-sunnah wudhu meliputi,

وسننه عشرة أشياء: التسمية و غسل الكفين قبل إدخالهماالإناء والمضمضة ولإستنشاق ومسح الأذنين ظاهرهما و باطنهما بماء جديد وتخليل اللحية الكثة وتخليل أصابع اليدين والرجلين وتقديم اليمنى على اليسرى والطهارة ثلاثا ثلاثا والموالاة

Dan sunnah-sunnahnya ada 10 macam, yaitu: 1)Tasmiyyah, 2) Membasuh kedua telapak tangan sebelum memasukkannya kedalam wadah air, 3) Berkumur-kumur (Madhmadhah), 4) Menghirup air kedalam hidung (Istinsyaq), 5) Membasuh sisi dalam dan luar telinga dengan air yang baru, 6) Takhlil jenggot yang tebal, 7) Takhlil ruas-ruas jari tangan dan kaki, 8) Mendahulukan anggota tubuh yang kanan dari yang kiri, 9) Melakukan wudhu tiga kali-tiga kali, dan 10) Muwalah.

4. Mazhab Hanbali

Menurut seorang ulama yang bermazhab Hanbali, Imam Mar’I bin Yusuf Al-Karmi (1033 H), dalam kitab matan-nya “ Dalil Ath-Thalib li Nail Al-Mathalib” yang menjadi salah satu rujukan dalam Mazhab Hanbali.

  • Rukun Wudhu

Beliau menetapkan tata cara berwudhu dari sisi rukun sebagai,

وفروضه ستة: غسل الوجه ومنه المضمضة والإستنشاق و غسل اليدين مع المرفقين ومسح الرأس كله ومنه الأذنان وغسل الرجلين مع الكعبين والترتيب والموالاة

Fardhu wudhu ada enam, yaitu: 1) Membasuh wajah dan termasuk didalamnya berkumur-kumur (Madhmahah) dan menghirup udara kedalam hidung (Istinsyaq), 2) Membasuh kedua tangan dan kedua siku, 3) Mengusap seluruh kepala termasuk dan  termasuk didalamnya kedua telinga, 4) Membasuh kedua kaki dan juga kedua mata kaki, 5) Tertib, dan 6) Muwalah.

  • Sunnah Wudhu

Sedangkan, sunnah-sunnah wudhu meliputi,

وسننه ثمانية عشر: إستقبال القبلة، والسواك، وعسل الكقين ثلاثا، والبداءة قبل غسل الوجه بالمضمضة والإستنشاق، والمبالغة فيهما لغير الصائم، والمبالغة في سائر الأعضاء مطلقا، والزيادة قي ماء الوجه، وتخليل اللحية الكثيفة، وتخليل الأصابع، وأخذ ماء جديد للأذنين، وتقديم اليمنى على اليسرى، ومجاوزة محل الفرض، والغسلة الثنية والثالثة، واستصحاب ذكر النية إلى آخر الوضوء، والإتيان بها عند غسل الكفين، والنطق بها سرا، وقول أشهد أن لا إله إلا الله وحده لاشريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسول له مع رفع بصره إلى السماء: بعد فراغه، وأن يتولى وضوءه بنفسه من غير معاونه

Dan sunnah wudhu ada 18, yaitu: 1) Menghadap kiblat, 2) Bersiwak, 3) Membasuh telapak taangan tiga kali, 4) Mendahulukan berkumur-kumur (Madhmadhah) dan menghirup udara kedalam hidung (Istinsyaq) sebelum membasuh wajah, 5) Memperbanyak hirupan air dalam madhmadhah dan istinsyaq, kecuali bagi orang yang berpuasa, 6) Menekan anggota wudhu yang dibasuh, 7) Memperbanyak basuhan di wajah hingga ke sisi luar dan dalam, 8) Takhlil jenggot yang tebal, 9) Takhlil ruas-ruas jari, 10) Membasuh telinga dengan air yang baru, 11) Mendahulukan anggota wudhu yang kanan atas yang kiri, 12) Melebihkan wilayah basuhan, 13) Basuhan kedua dan ketiga, 14) Senantiasa tetap berniat hingga wudhu selesai, 15) Berniat saat membasuh telapak tangan, 16) Membaca niat secara sir,17) Membaca dua kalimat syahadat setelah berwudhu dengan menghadapkan wajah ke langit, 18) Mandiri dalam berwudhu, tanpa bantuan orang lain.

Demikianlah tata cara berwudhu menutur empat mazhab. Islam juga mengajarkan adab dan tata cara lainnya, seperti adab makan dan minum, tata cara mandi junub, dan pengetahuan perbedaan haji dan umroh. Semoga dengan kita mempelajari ini, dapat menambah wawasan kita dalam berilmu dan semakin sempurna wudhu kita. Aamiin

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

2 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!