Siapa Sajakah Silsilah Raja Kerajaan Majapahit?

Silsilah Raja Kerajaan Majapahit – Para raja dari Kerajaan Majapahit adalah para penerus dari keluarga Kerajaan Singhasari, yang dirintis oleh Sri Ranggah Rajasa, yang mana merupakan pendiri Wangsa Rajasa. Masa kejayaan Kerajaan Majapahit mencapai puncaknya pada masa Raja Hayam Wuruk berkuasa yang dibantu patih besar setianya, Patih Gajah Mada.

Silsilah Raja Kerajaan Majapahit

Silsilah raja majapahit
Photo by jatimtimes.com

Silsilah mengenai raja Kerajaan Majapahit merupakan penerus estafet kepemimpinan dari raja Kerajaan Singhasari yang terakhir, Raja Kertanegara. Berikut adalah silsilah mengenai raja yang pernah mejadi pemimpin di Kerajaan Majapahit.

Silsilah Raja Majapahit
  1. Raden Wijaya
  2. Kalagamet
  3. Dyah Gitarja
  4. Hayam Wuruk
  5. Wikramawardhana
  6. Suhita
  7. Kertawijaya
  8. Rajasawardhana
  9. Purwawisesa
  10. Bhre Pandanalas
  11. Bhre Kertabumi
  12. Girindawardhana
  13. Hudhara
  • Raden Wijaya (1293 M – 1309 M)

raden wijaya
Photo by idntimes.com

Silsilah raja Kerajaan Majapahit yang pertama adalah Raden Wijaya. Raden Wijaya merupakan pendiri dari Kerajaan Majapahit sekaligus raja pertama yang memimpin Kerajaan Majapahit. Pada masa kepempinannya, Kerajaan Majapahit masih menjadi masa awal Kerajaan Majapahit

Raden Wijaya naik menjadi pemimpin Kerajaan Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana.

Raden Wijaya dalam masa kepemimpinannya lebih mengutamakan melakukan konsolidasi dan memperkuat pemerintahan. Hal ini perlu dilakukan karena pada masa awal berdirinya adalah masa transisi dari kerajaan sebelumnya, yaitu Kerajaan Singhasari menuju Kerajaan Majapahit.

Beberapa usaha dan strategi yang dilakukan oleh Raden Wijaya untuk memperkuat pemerintahannya adalah menjadikan Kerajaan Majapahit sebagai pusat pemerintahan. Setelah itu, memberikan posisi penting kepada para pengikut setianya, dan menikahi keempat putri Kertanegara (Raja Singhasari). Raden Wijaya meninggal pada tahun 1309 dan dimakamkan di Candi Sumberjati atau Candi Simping.

  • Kalagamet (1309 M – 1328 M)

kalagemet
Photo by apotik1.blogspot.com

Raja kedua yang menggantikan Raden Wijaya adalah Kalagamet. Kalagamet naik menjadi pemimpin Kerajaan Majapahit dengan gelar Sri Jayanegara. Oleh karena itu, ia lebih dikenal dengan Jayanegara daripada Kalagamet.

Kalagamet adalah putra Raden Wijaya dari pihak selir. Raden Wijaya tidak memiliki putra dari permaisuri, maka putra dari selir inilah yang diangkat menjadi raja Kerajaan Majapahit. Kalagamet memerintah Kerajaan Majapahit dalam usia yang terhitung muda. Bahkan, dikisahkan bahwa Kalagamet memiliki tabiat yang kurang bagus sebagai raja.

Pada masa pemerintahan Kalagamet, Kerajaan Majapahit tidak begitu kuat sehingga muncul banyak pemberonkan. Dan pemberontakan yang terjadi ini diinisiasi oleh orang-orang dalam lingkup istana Kerajaan Majapahit yang dulunya adalah orang kepercayaan Raden Wijaya, ayahnya.

Pemberontakan yang terjadi pada masa pemerintahan Kalagamet adalah pemberontakan Ronggolawe, pemberontakan Lembu Sora, pemberontakan Nambi, dan ada pemberontakan lagi yang lainnya.

Dan diantara pemberontakan Kerajaan Majapahit, Pemberontakan Kuti merupakan pemberontakan yang paling berbahaya. Kuti dapat menduduki ibukota wilayah Kerajaan Majapahit, sehingga Jayanegara terpaksa melarikan diri ke daerah Badandea. Akhirnya, Jayanegara diselamatkan oleh pasukan Bhayangkari yang dipimpin oleh Gajah Mada.

Pemberontakan ini dapat dipadamkan oleh Gajah Mada, atas jasanya ini Gajah Mada akhirnya diangkat menjadi Patih Kahuripan. Pada tahun 1321 M, Gajah Mada diangkat menjadi Patih Daha.

Pada tahun 1328 M, Jayanegara tewas dibunuh oleh tabib istana, Ratanca, yang sudah menaruh dendam pada Jayanegara. Mengetahui hal ini, Gajah Mada pun membunuh Ratanca. Jasadnya didharmakan di dalam Pura di Sila Petak dan Bubat. Karena Jayanegara tidak mempunyai keturunan yang bisa menggantikannya, maka pimpinan Kerajaan majapahit diserahkan kepada adiknya, Gitarja.

  • Dyah Gitarja (1328 M – 1350 M)

Dyah Gitarja
Photo by boombastis.com

Raja berikutnya yang memerintah Kerajaan Majapahit, atau lebih tepatnya Ratu Kerajaan Majapahit selanjutnya adalah Dyah Gitarja. Ia merupakan adik dari Raja Jayanegara beda ibu. Tahta Kerajaan Majapahit diserahkan kepada Dyah Gitarja karena Jayanegara tidak memiliki anak laki-laki.

Dyah Gitarja naik menjadi pemimpin Kerajaan Majapahit dengan gelar Tribhuwana Wijayatunggadewi.

Ketika Gitarja menduduki tahta kerajaan, sekitar tahun 1331 M terjadi pemberontakan kembali di Sadeng dan Keta, Jawa Timur. Pemberontakan ini dapat dipadamkan oleh Gajah Mada. Atas jasa yang dilakukan Gajah Mada kepada kerajaan, ia akhirnya diangkat menjadi Mahapatih di Kerajaan Majapahit.

Ketika diangkat menjadi Mahapatih Kerajaan Majapahit inilah Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa atau Tan Amukti Palapa. Dia bersumpah tidak akan merasakan palapa (istirahat) sebelum dapat menyatukan Nusantara dibawah naungan kekuasaan Kerajaan Majapahit. Pada masa pemerintahan Dyah Gitarja inilah, Kerajaan Majapahit memulai masa kejayaannya.

Setelah Jayanegara meninggal dunia, Gitarja menikah dengan Cakradhara. Cakradhara merupakan penguasa Singhasari yang menjabat sebagai Bhre Tumapel dengan gelar Kertawardana. Dari perkawinan keduanya, lahirlah dua orang anak yaitu Hayam Wuruk dan Nertaja. Hayam Wuruk kemudian diangkat menjadi yuwaraja.

Setelah Gitarja meninggal dunia, tahta Kerajaan Majapahit diserahkan kepada anaknya, Hayam Wuruk.

  • Hayam Wuruk (1350 M – 1389 M)

silsilah raja majapahit
Photo by id.wikipedia.org

Raja selanjutnya yang memerintah Keajaan Majapahit adalah Hayam Wuruk. Hayam Wuruk dilahirkan pada tahun 1334 M. Ia merupakan putra sulung dari pasangan Tribhuwana Tunggadewi dengan Sri Kertawardhana. Ibunya adalah penguasa ketiga dari Kerajaan Majapahit dan putri dari Raden Wijaya. Sedangkan ayahnya merupakan Bhre Tumapel atau penguasa di Singhasari.

Raja Hayam Wuruk memiliki gelar sebagai Sri Rajasanagara.

Hayam Wuruk merupakan raja Kerajaan Majapahit yang membawa kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya. Salah satu faktor yang menjadi penunjang puncak kejayaannya adalah patih kepercayaannya yang ikut serta membantu, Patih Gajah Mada.

Selain dibantu oleh Patih Gajah Mada, Hayam Wuruk juga dibantu oleh Adityawarman dan Mpu Nala dalam menjalankan roda pemerintahan Kerajaan Majapahit. Orang-orang sekeliling Hayam Wuruk mempunyai kemampuan sangat mumpuni dalam membantu menjalankan pemerintahan Kerajaan Majapahit hingga puncak kejayaannya.

Mpu Nala merupakan pemimpin armada laut yang sangat piawai dalam mengatur dan menjalankan strategi. Dengan kebesaran dan kejayaan yang dimiliki Kerajaan Majapahit, maka tak sulit bagi kerajaan ini untuk menjalin kerjasama dengan kerajaa lainnya. Hubungan ini disebut sebagai Mitrekasatat.

Hayam Wuruk mempunyai permaisuri yang bernama Sri Sudewi dan bergelar Paduka Sor. Sri Sudewi merupakan putri dari Wijayarajasa yang merupakan Bhre Wengker. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai seorang putri yang bernama Kusumawardhani. Kusumawardhani kemudian menikah dengan Wikramawardhana, putra dari Bhre Pajang.

Selain itu, Hayam Wuruk juga menikah dengan selir. Dari salah satu selirnya, Hayam Wuruk mendapatkan seorang putra yang menjabat sebagai Bhre Wirabhumi.

Gajah Mada meninggal dunia terlebih dahulu daripada Hayam Wuruk. Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389 M.

  • Wikaramawardhana (1389 M – 1429 M)

silsilah raja majapahit
Photo by indonesianspaceresearch.blogspot.com

Setelah Raja Hayam Wuruk meninggal dunia, tahta Kerajaan Majapahit diserahkan kepada Kusumawardhani, atau lebih tepatnya Ratu Kusumawardhani. Kepemimpinan ini diserahkan kepada putri mahkotanya karena Hayam Wuruk tidak mempunyai anak laki-laki untuk menggantikan posisinya.

Kusumawardhani kemudian menikah dengan sepupunya sendiri, yaitu Wikramawardhana. Karena pernikahan inilah, pimpinan Kerajaan Majapahit kemudian diserahkan kepada suaminya, Raja Wikramawardhana. Mulai dari pemerintahannya inilah, terjadi Perang Paregreg yang menjadi salah satu penyebab runtuhnya Kerajaan Majapahit.

Disisi lain, Hayam Wuruk ternyata mempunyai anak laki-laki dari salah satu selirnya. Anak itu bernama Bhre Wirabhumi atau Minak Jingga.

  • Suhita (1429 M – 1447 M)

silsilah raja majapahit
Photo by indonesianspaceresearch.blogspot.com

Setelah masa pemerintahan Wikramawardhana selesai, tahta pemerintahan Kerajaan Majapahit diserahkan kepada Suhita. Suhita merupakan putri dari Raja Wikramawardhana dengan salah satu selirnya.

Suhita memerintah Kerajaan Majapahit bersama dengan suaminya, Ratnapangkaja yang bergelar Bhatara Parameswara. Pada tahun 1437 M, Bhatara Parameswara Ratnapangkaja meninggal dunia. Sepuluh tahun kemudian, yaitu pada tahun 1447 M Suhita juga meninggal dunia menyusul suaminya. Keduanya didharmakan bersama di Candi Singhajaya.

setelah Suhita meninggal dunia, tahta Kerajaan Majapahit diserahkan kepada adiknya, Dyah Kertawijaya. Hal ini terjadi dikarenakan Suhita tidak memiliki putra mahkota.

  • Kertawijaya (1447 M – 1451 M)

raja kertawijaya
Photo by indonesianspaceresearch.blogspot.com

Dalam Kitab Pararaton, Kertawijaya merupakan putra dari Raja Wikramawardhana dengan salah satu selirnya. Putra Raja Wikramawardhana yang lainnya adalah Hyang Wekasing Sukha, Bhre Tumapel, dan Suhita. Sebelum diangkat menjadi seorang raja, Kertawijaya pernah menjadi Bhre Tumapel menggantikan kakaknya yang meninggal pada awal tahun 1427 M.

Setelah Suhita meninggal, tahta Kerajaan Majapahit diganti oleh Kertawijaya. Raja Kertawijaya mempunyai gelar Sri Maharaja Wijaya Parakramawardhana. Ia juga dikenal sebagai Raja Brawijaya I. Kertawijaya wafat pada tahun 1451 M, ia didharmakan di Candi Kertawijayapura. Sepeninggalnya, tahta Kerajaan Majapahit digantikan oleh Rajasawardhana.

  • Rajasawardhana (1451 M – 1453 M)

rajasawardhana
Photo by wilwatiktajatim.blogspot.com

Dalam Kitab Pararaton, Rajasawardhana naik tahta pada tahun 1451 M. Sebelum menjadi raja Kerajaan Majapahit, ia pernah menjabat sebagai Bhre Pamotan, Bhre Keling, dan Bhre Kahuripan. Ia juga dikenal sebagai Raja Brawijaya II. Rajasawardhana naik tahta setelah menggantikan Kertawijaya.

Hubungan antara Rajasawardhana dengan Kertawijaya tidak tersebut jelas didalam Kitab Pararaton, sehingga muncul pendapat bahwa hubungan keduanya tidak baik. Muncul pendapat bahwasannya Rajasawardhana adalah adik Kertawijaya dan melakukan kudeta untuk mendapatkan tahta Kerajaan Majapahit.

Akan tetapi, pendapat ini perlu diselidiki lebih lanjut mengenai kebenarannya. Dalam Kitab Pararton disebutkan bahwasannya Kertawijaya adalah putra bungsu dalam keluarga Wikramawardhana.

Pendapat lain mengatakan bahwasannya Rajasawardhana merupakan anak dari Kertawijaya yang bernama Wijayakumara. Ia merupakan putra sulung dari Kertawijaya yang namanya tertulis dalam Prasasti Waringin Pitu.

Raja Rajasawardhana meninggal pada tahun 1453 M. Sepeninggal Rajasawardhana, Kerajaan Majapahit mengalami kekosongan pemerintahan selama tiga tahun. Hingga tahun 1456 M, Bhre Wengker atau Girishawardhana Dyah Suryawikrama naik tahta Kerajaan Majapahit yang memiliki gelar Bhra Hyang Purwasisesa.

  • Purwawisesa (1456 M – 1466 M)

raja purwawisesa
Photo by indonesianspaceresearch.blogspot.com

Girishawardhana Dyah Suryawikrama merupakan salah satu raja Kerajaan Majapahit yang memerintah pada rentang tahun 1456 M – 1466 M. Dalam kitab Pararaton, ia dikenal sebagai Bhra Hyang Purwasisesa.

Setelah Rajasawardhana meninggal pada tahun 1453 M. Pemerintahan Kerajaan Majapahit mengalami kekosongan selama tiga tahun. Akhirnya, pada tahun 1456 M Bhre Wengker atau Girishawardhana Dyah Suryawikrama naik tahta Kerajaan Majapahit dengan gelar Bhra Hyang Purwasisesa. Ia juga dikenal sebagai Raja Brawijaya III. Pada masa pemerintahannya, tepatnya tahun 1462 M terjadi bencana gunung meletus.

Setelah sepuluh tahun menjabat sebagai Raja Majapahit, Purwasisesa akhirnya meninggal pada tahun 1466 M. Ia didharmakan di Candi Puri. Sepeninggalnya, Kerajaan Majapahit digantikan oleh Bhre Pandanalas.

  • Bhre Pandanalas (1466 M – 1468 M)

silsilah raja majapahit
Photo by indonesianspaceresearch.blogspot.com

Raja selanjutnya yang memrintah Kerajaan majapahit sepeninggal Purwasisesa adalah Bhre Pandanalas. Bhre Pandanalas mempunyai nama asli bernama Dyah Suraprabhawa. Ketika menjabat sebagai Raja Majapahit, ia memiliki gelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Giripati Pasutabhupati Ketubhuta. Ia juga biasa disebut sebagai Raja Brawijaya IV. Ia naik tahta pada tahun 1466 M.

Masa pemerintahan Pandanalas berakhir pada tahun 1468 M. Setelah itu, pemerintahan Kerajaan Majapahit diambil alih oleh keponakannya, Bhre Kertabumi yang mana merupakan anak Rajasawardhana.

  • Bhre Kertabumi (1468 M – 1478 M)

raden brawijaya v
Photo by rahmatyayablog.com

Nama Bhre Kertabumi disebut dalam penutupan naskah Kitab Pararaton. Kertabumi merupakan anak dari Rajasawardhana. Ia juga dikenal sebagai Raja Brawijaya V. Pada masa pemerintahan Kertabumi inilah raja terakhir yang memerintah Kerajaan Majapahit.

Raja Kertabumi dikalahkan oleh putranya sendiri, yaitu Jin Bun atau lebih dikenal dengan Raden Fatah, pendiri Kesultanan Demak. Akan tetapi, cerita ini bertentangan dengan fakta sejarah dari Prasasti Petak dan Prasasti Jiyu. Dalam dua prasasti ini disebutkan bahwasannya Raja Kertabumi dijatuhkan oleh Girindrawardana. Jadi, perang sesungguhnya adalah perang antara Demak dan Daha (ibukota Mjapahit saat itu) untuk memperebutkan hegomoni penerus Kerajaan Majapahit.

  • Girindrawardhana (1478 M – 1498 M)

girindawardhana
Photo by apotik1.blogspot.com

Girindawardhana memiliki nama lengkap Prabhu Natha Girindawardhana Dyah Ranawijaya. Ia merupakan bupati bekas Kerajaan Majapahit. Ia merupakan menantu dari Kertabumi dan ipar dari Raden Fatah. Ia juga dilantik oleh Raden Fatah menjadi penguasa Majapahit sebagai bawahan kekuasaan Kesultanan Demak.

Ketika menjabat sebagai penguasa Majapahit, ia menjalin hubungan dengan Portugis di Malaka. Karena hal inilah, Kesultanan Demak kembali menyerang Majapahit. Akan tetapi, jabatannya sebagai bupati di Majapahit masih dipertahankan karena ia ipar dari Raden Fatah.

  • Hudhara

Hudhara atau Patih Udara merupakan seorang patih Kerajan Majapahit pada masa pemerintahan Girindawardhana. Ia juga dikenal sebagai pemegang kekuasaan terakhir sisa-sisa Kerajaan Majapahit sebelum akhirnya diambil seutuhnya oleh Kesultanan Demak.

Dengan sejarah kejayaan dan kemakmurannya yang terjadi pada masa Raja Hayam Wuruk, Kerajaan Majapahit meninggalkan bekas-bekas kejayaannya. Diantaranya adalah candi peninggalan Majapahit yang berfungsi sebagai tempat pemujaan, penyimpanan abu jenazah, atau pun sebagai gapura. Peninggalan lainnya berupa prasasti-prasasti, koin, dan kitab sastra yang menceritakan tentang peristiwa ataupun raja di Majapahit.

Demikianlah sedikit penjelasan mengenai silsilah raja yang pernah memerintah Kerajaan Majapahit. Semogaa dengan kita membaca mengenai kisah dan sejarah raja-raja Majapahit, kita dapat mengambil pelajaran yang terkandung didalamnya. Aamiin

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!