sejarah pmi

Sejarah Berdirinya PMI (Palang Merah Indonesia)

Sejarah PMI – Manusia sebagai makhluk sosial tentu tidak lepas dari bantuan terhadap manusia lainnya yang ada di bumi. Oleh karena itu, manusia tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan pertolongan dari manusia lainnya.

Zaman yang semakin tua dengan teknologi yang semakin maju membuat banyak manusia yang tidak melakukan interaksi sosial secara intens dengan manusia lainnya. Manusia semakin banyak yang bertindak secara individu. Semakin lama, interaksi antar individu semakin jauh.

Akan tetapi, terdapat sekelompok manusia yang membuat suatu perkumpulan yang didalamnya terdapat orang-orang yang lebih peduli dengan kondisi lingkungan dan masyarakat luas. Salah satu organisasi yang terbentuk atas rasa kepedulian adalah Palang Merah Indonesia atau PMI.

Untuk mengenal lebih jauh informasi mengenai PMI, berikut akan kita bahas sejarah Palang Merah Indonesia.

Pengertian PMI

sejarah pmi
Photo by PublicDomainPictures

Palang Merah Indonesia atau PMI merupakan salah satu organisasi di Indonesia yang netral dan independen serta bergerak dalam bidang kemanusiaan. PMI terbentuk atas dasar kemanusiaan bangsa Indonesia, meski pun pembentukan ini juga dipengaruhi oleh Palang Merah Internasional yang sikapnya universal.

PMI memiliki tujuh prinsip dasar yang dimilikinya dalam melaksanakan program organisasi yang selalu berpegang teguh pada tujuh prinsip dasar Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Tujuh prinsip dasar tersebut yakni kemanusiaan, kenetralan, kesukarelaan, kemandirian, kesemestaan, kesamaan, dan kesatuan.

Saat ini, Palang Merah Indonesia memiliki 33 PMI provinsi, 474 kabupaten/kota, dan 3.406 kecamatan (data per-Februari 2019). PMI juga memiliki hampir 1,5 juta sukarelawan yang siap melakukan pelayanan. Kantor utama Palang Merah Indonesia terletak di Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta.

Sejarah Palang Merah

Sebelum kita akan membahas mengenai sejarah PMI di Indonesia, kita akan membahas tentang sejarah Palang Merah Internasional yang menjadi salah satu sebab lahirnya Palang Merah Indonesia.

Sejarah Palang Merah Internasional

henry dunant
Photo bynggaello22.blogspot.com

Sejarah mengenai pembentukan Palang Merah Internasional diawali dengan pertempuran sengit antara pasukan Austria dengan pasukan Prancis pada tanggal 24 Juni 1859 di Kota Solferino, Italia Utara. Dalam pertempuran ini, terdapat sekitar 40.000 prajurit yang tewas dan terluka.

Pada hari yang sama, seorang warga Swiss yang bernama Jean Henry Dunant secara kebetulan melewati wilayah pertempuran tersebut untuk menjumpai Kaisar Prancis, Napoleon III. Henry yang menyaksikan pemandangan tersebut pun merasa ngeri dan prihatin karena prajurit yang bertempur tanpa adanya pelayanan medis.

Akhirnya, Henry Dunan mengajak warga setempat untuk merawat para prajurit dari kedua belah pihak yang bertempur dengan perlakuan yang setara, tanpa mengenal lawan atau kawan.

Sekembalinya Henry Dunant dari Swiss, ia menerbitkan sebuah buku yang berjudul “Un Souvenir de Solferino atau A Memory of Solferino” (Kenangan dari Solferino). Dalam buku tersebut, ia mengusulkan dua usulan dan gagasan:

  1. Ketika masa damai tercapai, supaya mendirikan perhimpunan-perhimpunan bantuan kemanusiaan yang memiliki juru rawat yang siap untuk merawat para korban luka sewaktu terjadi peperangan
  2. Para relawan yang bertugas membantu dinas medis angkatan bersenjata diberi pengakuan dan perlindungan melalui sebuah perjanjian internasional

Pada tanggal 9 Februari 1863 M, sebuah perkumpulan amal bernama Perhimpunan Jenewa yang bergerak untuk kesejahteraan masyarakat membentuk sebuah komisi yang beranggotakan lima orang atau Committee of the Five. Komisi dibentuk untuk mewujudkan gagasan Henry Dunant.

Pengalaman dari perjalanan Henry Dunant menjadi awal sejarah sepak terjang pembentukan Palang Merah Internasional hingga PMI.

Komisi Lima atau Committee of the Five

committee of five International Commite of Red Cross
Photo by icrc.org

Komisi lima atau Committee of the Five ini beranggotakan lima orang. Kelima anggota tersebut adalah:

  1. Gustave Moynier
  2. Guillaume-Henri Dufour
  3. Louis Appia
  4. Theodore Maunoir
  5. Henry Dunant

Komisi yang terdiri dari lima orang ini kemudian mendirikan Komite Internasional Pertolongan Korban Luka. Kemudian, komite ini berubah menjadi Komite Internasional Palang Merah atau International Committee of Red Cross (ICRC). Sejak saat itu, kelima anggota Komite Lima ini terus mengembangkan gagasan yang diutarakan oleh Henry Dunant.

Atas undangan mereka, terdapat 18 negara dan empat lembaga filantropis yang ikut serta menghadiri Konferensi Internasional di Jenewa. Konferensi ini dilaksanakan pada tanggal 26 – 29 Oktober 1863 M. Konferensi ini dilaksanakan untuk mengembangkan langkah-langkah yang memungkinkan demi meningkatkan pelayanan medis di medan perang.

Konferensi ini dihadiri oleh 36 orang yang terdiri dari 18 delegasi resmi dari pemerintah nasional, 6 delegasi dari organisasi non-pemerintah lainnya, 7 delegasi asing non-resmi, dan 5 anggota komite internasional.

Beberapa delegasi resmi yang ikut serta hadir dalam Konferensi Internasional di Jenewa adalah Baden, Bavaria, Prancis, Inggris, Hanover, Hesse, Italia, Belanda, Austria, Prusia, Rusia, Saxony, Swedia, dan Spanyol.

Pada akhir pertemuan Konferensi Internasional di Jenewa, pada tanggal 29 Oktober 1863 M tercatatlah beberapa poin penting dari pertemuan tersebut. Berikut beberapa poin penting yang berhasil disusun.

Hasil Konferensi Internasional di Jenewa

  1. Memantau kepatuhan para pihak yang bertikai kepada Konvensi Jenewa
  2. Mengorganisir perawatan terhadap korban luka di medan perang
  3. Mengawasi perlakuan terhadap tawanan perang (Prisoners of War – POW) dan melakukan intervensi yang bersifat konfidensial dengan pihak berwenang yang melakukan penahanan
  4. Membantu pencarian orang hilang dalam konflik bersenjata (layanan pencarian)
  5. Mengorganisir perlindungan dan perawatan penduduk sipil
  6. Bertindak sebagai perantara netral antara para pihak yang berperang

Sejarah PMI di Indonesia

sejarah pmi
Photo by federaloil.co.id
NoTahunPeristiwa
121 Oktober 1873Pemerintah kolonial Belanda mendirikan organisasi Palang Merah indonesia dengan nama Het Nederland-Indische Rode Kruis (NIRK), kemudian berganti namanya menjadi Nederlands Rode Kruiz Afdeling Indoe (NERKAI).
21932Timbul semangat untuk mendirikan Palang Merah Indonesia (PMI) yang dipelopori oleh dr. RCL. Senduk dan Bahder Djohan.
31940Pengajuan proposal pendirian PMI pada Kongres NERKAI, namun ditolak.
43 September 1945Presiden Soekarno menunjuk Menteri Kesehatan d. Buntaran Martoatmodjo untuk membentuk suatu badan Palang Merah Nasional untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Negara Indonesia telah merdeka.
55 September 1945dr. Buntaran membentuk Panitia Lima yang terdiri dari dr. R. Mochtar, dr. Bahder Johan, dr. Joehana, Dr. Marjuki, dan dr. Sitanala untuk mempersiapkan pembentukan Palang Merah Indonesia
617 September 1945Terbentuklah Pengurus Besar Palang Merah Indonesia resmi didirikan dengan ketua pertamanya Drs. Mohammad Hatta.
716 Januari 1950Pemerintah Belanda membubarkan NERKAI dan menyerahkan asetnya kepada PMI karena dalam satu negara hanya ada satu perhimpunan nasional. Penyerahan aset pihak NERKAI diwakili oleh dr. B. Van Trich dan pihak PMI diwakili oleh dr. Bahder Djohan.
PMI terus memberikan bantuan kepada korban bencana alam dan korban perang hingga Pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) mengeluarkan Keppres RIS No.25 tanggal 16 Januari 1950.
815 Juni 1950Keberadaan PMI diakui secara internasional oleh Komite Palang Merah Internasional (ICRC).
9Oktober 1950PMI diterima sebagai anggota Perhimpunan Nasional ke-68 oleh Liga Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah yang sekarang disebut Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC).
1029 November 1963Pemerintah menguatkan Keppres No. 25 tanggal 16 Januarii 1950 dengan mengeluarkan Keppres No. 246 tanggal 29 November 1963.
Adapun tugas utama PMI berdasarkan Keppres RIS No. 25 tahun 1950 dan Keppres RI No. 246 tahun 1963 adalah untuk memberikan bantuan pertama pada korban bencana alam dan korban perang sesuai dengan isi Konvensi Jenewa 1949.
112018PMI merupakan organisasi kemanusiaan yang berbadan hukum. Hak tersebut dikuatkan dengan Undang-Undang nomor 1 Tahun 2018 tentang Kepalangmerahan guna menkalankan kegiatan Kepalangmerahan sesuai dengan Konvensi Jenewa tahun 1949 dengan tujuan untuk mencegah dan meringankan penderitaan dan melindungi korban tawanan perang dan bencana tanpa membedakan agama, bangsa, suku bangsa, warna kulit, jenis kelamin, golongan, dan pandangan politik.

Sejarah tentang PMI atau Palang Merah Indonesia mulai terbentuk sejak tanggal 21 Oktober 1873 M. Pada masa tersebut, Indonesia masih berada dalam penjajahan pemerintah kolonial Belanda. Awal berdirinya, Palang Merah Indonesia didirikan oleh Belanda dengan nama Het Nederland-Indische Rode Kruis (NIRK). Kemudian, namanya berubah menjadi Nederlands Rode Kruis Afdeling Indie (NERKAI).

Pada tahun 1932 M, dr. RCL. Sendik dan Bahder Djohan mempelopori dan merancang berdirinya Palang Merah Indonesia. Akan tetapi, proposal mereka ditolak di kongres NERKAI yang dilaksanakan pada tahun 1940. Ketika penjajahan Jepang, permohonan tersebut kembali diajukan dan kembali ditolak.

Setelah bangsa Indonesia merdeka dari penjajahan Jepang tahun 1945 M, Presiden memerintah untuk membentuk suatu badan Palang Merah Nasional pada tanggal 3 September 1945 M. Ketika itu, Presiden Soekarno menunjuk dr. Buntaran selaku Menteri Kesehatan diperintah untuk membentuk Palang Merah Indonesia.

Dua hari kemudian, yakni pada tanggal 5 September 1945, dr. Buntaran membentuk Panitia lima. Panitia lima tersebut terdiri dari:

  1. Mochtar (ketua)
  2. Djuhana
  3. Bahder Djohan
  4. Sitanala
  5. Marzuki

Pada tanggal 17 September 1945, Palang Merah Indonesia resmi dibentuk di Indonesia. Akhirnya, setiap tanggal 17 September diperingati sebagai hari jadi PMI. Pengurus besar PMI dibentuk dengan ketua pertamanya yang menjabat yakni DRS. Mohammad Hatta.

Palang Merah Indonesia memiliki tugas kemanusiaan seperti menanggulangi bencana, pelayanan masyarakat, pelatihan pertolongan pertama, dan membantu menyediakan donor darah. Atas dasar rasa kemanusiaan ini, PMI telah banyak membantu dan menolong masyarakat yang membutuhkan.

Pertolongan PMI diantaranya dalam pertolongan penanggulangan bencana. Penolongan PMI tersebut berupa melakukan pelayanan masyarakat dengan melakukan pertolongan dan evakuasi, pelayanan kesehatan dan tim medis, pencarian korban, penyediaan dapur umum, pemberian paket sembako, rumah sakit lapangan, atau sumbangan pakaian.

Tugas PMI

tugas pmi
Photo by historia.id

Palang Merah Indonesia memiliki slogan “Setetes darah anda, nyawa bagi sesama” ini dibentuk pada tanggal 17 September 1945 yang melayani tanpa memandang golongan, ras, suku, atau agama tertentu. Palang Merah Indonesia memiliki beberapa tugas untuk pelayanan maksimal bagi yang membutuhkannya.

Berikut beberapa tugas yang dilakukan PMI:

  1. Memberikan bantuan kepada korban konflik bersenjata, kerusuhan, dan lainnya
  2. Memberikan pelayanan darah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
  3. Melakukan pembinaan relawan
  4. Melaksanakan pendidikan dan pelatihan yang berkaitan dengan Kepalangmerahan
  5. Menyebarluaskan informasi yang berkaitan dengan kegiatan Kepalangmerahan
  6. Membantu dalam penanganan musibah dan/atau bencana di dalam dan luar negeri
  7. Membantu pemberian pelayanan kesehatan dan sosial
  8. Melaksanakan tugas kemanusiaan lainnya yang diberikan oleh pemerintah

Saat ini, PMI memiliki 14 divisi berdasarkan keputusan PP PMI no 176/KEP/PP PMI/X/2010. Divisi tersebut meliputi Divisi Kelembagaan, Divisi Penaggulangan Bencana, Divisi Kesehatan, Divisi Relawan, Divisi Kerjasama dan Pengembangan Sumber Daya, Biro Perencanaan dan Hukum, Biro Kepegawaian, Biro Keuangan, Biro Umum, Biro Humas, Unit Pendidikan dan Pelatihan, Unit Poliklinik, Unit IT, dan Unit Satuan Kerja Audit Internal.

Selain itu, Palang Merah Indonesia juga membina kader-kader muda yang kita kenal sebagai Palang Merah Remaja (PMR).

Lambang PMI

lambang pmi
Photo by palmersda.wordpress.com

Lambang atau logo merupakan sebuah hal yang penting bagi suatu organisasi. Hal tersebut terjadi karena logo sebuah organisasi melambangkan visi dan aspirasi dari organisasi tersebut. Penggunaan lambag Palang Merah merupakan salah satu sejarah yang menarik untuk kita bahas. Lambang Palang Merah yang digunakan diatur dalam sebuah perjanjian internasional, yakni Konvensi Jenewa tahun 1949.

Sejarah Lambang Palang Merah

Dalam Konvensi Jenewa, lambang Palang Merah digunakan bagi relawan yang memberikan perlindungan anggota militer yang terluka dan sakit. Pada tahun 1863, negara yang ikut serta dalam Konvensi Jenewa menilai perlu adanya lambang khusus untuk menjaga kenetralan dan jaminan perlindungan bagi relawan yang ada di medan perang.

Untuk menghormati negara Swiss sebagai tuan rumah diselenggarakannya Konvensi Jenewa, akhirnya seluruh negara sepakat menggunakan warna putih sebagai warna dasar lambang Palang Merah yang diambil dari warna kebalikan bendera Swiss.

Namun pada tahun 1876 M ketika terjadi Perang Balkan, Kerajaan Ottoman Turki mengajukan lambang lain untuk kesatuan medis tentara kerajaan. Lambang tersebut berupa bulan sabit merah diatas dasar putih. Permintaan tersebut dikabulkan dan Kerajaan Turki mengubah lambang tanda pengenal dan pelindung bagi kesatuan medis militernya.

Namun, penggunaan lambang yang dilakukan oleh Kerajaan Ottoman mengakibatkan kontroversi. Lambang Palang Merah dan Bulan Sabit menjadi banyak negara karena dinilai merupakan simbol agama Kristen dan Islam. Padahal, lambang tersebut tidak ada kaitannya dengan agama.

Akhirnya, pada tahun 2005 muncullah lambang Kristal merah yang memiliki status dan fungsi yang sama dengan lambang Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Lambang ini menjadi penutup perdebatan negara-negara yang mengusulkan penggunaan ambang lain bagi kesatuan medis militer.

Fungsi Lambang Palang Merah

lambang palang merah indonesia
Photo by historia.id

Lambang Palang Merah, Bulan Sabit Merah, dan Kristal Merah memiliki dua tujuan. Dua tujuan tersebut yakni:

  1. Lambang Palang Merah sebagai Tanda Perlindungan

Ketika terjadi masa konflik bersenjata, lambang Palang Merah digunakan sebagai tanda perlindungan yang berlaku di waktu damai dan waktu perang. Perlindungan tersebut diberikan dan dijamin dalam perjanjian internasional yang tertuang di Konvensi Jenewa dan protokol-protokol tambahannya.

Apabila lambang Palang Merah digunakan untuk sebagai tanda pelindung, maka lambang tersebut harus dapat menimbulkan sebuah reaksi otomatis untuk menahan diri dan menghormati antara kombatan. Lambang harus selalu ditampakkan dalam bentuk yang asli dan dapat dikenali dalam jarak jauh sesuai yang diperlukan dalam situasi perang.

Lambang Tanda Perlindungan diperuntukkan bagi:

  1. Personal medis dan keagamaan angkatan bersenjata
  2. Unit dan fasilitas medis angkatan bersenjata
  3. Unit dan transportasi medis perhimpunan nasional apabila digunakan sebagai bantuan terhadap pelayanan medis angkatan bersenjata
  4. Peralatan medis

Para personil yang berhak menggunakannya sebagai tanda pelindung menggunakan lambang tersebut dalam bentuk ban lengan dan dipakai di sebelah kiri. Ban lengan ini harus terlihat dengan jelas (cukup besar) ketika menjalankan tugas kemanusiaan. Personil tersebut harus membawa kartu identitas yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat mengenai statusnya.

Bagi kendaraan yang atau bangunan yang berhak menggunakan lambang, maka lambang harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga terlihat jelas dari jauh maupun dari udara. Lambang tersebut misalnya dapat diletakkan di atap bangunan atau kendaraan pada sisi-sisinya dengan ukuran yang besar.

  1. Lambang Palang Merah sebagai Tanda Pengenal

Selain digunakan sebagai tanda pelindung, lambang Palang Merah juga digunakan sebagai tanda pengenal. Tanda pengenal tersebut menunjukkan jika si pemakai tanda pengenal merupakan orang-orang atau obejk-objek yang ada kaitannya dengan gerakan palang merah dan bulan sabit merah internasional.

Jika digunakan sebagai tanda pengenal, maka lambang yang digunakan harus dalam ukuran kecil. Lambang juga berfungsi untuk mengingatkan bahwa institusi diatas bekerja sesuai dengan prinsip-prinsip dasar gerakan. Pemakaian lambang sebagai tanda pengenal juga menunjukkan bahwa seseorang, sebuah kendaraan, atau bangunan yang berkaitan dengan gerakan.

Penggunaan tanda pengenal juga diatur dan didasarkan pada undang-undang nasional mengenai lambang untuk perhimpunan nasional. Anggota perhimpunan nasional diperbolehkan memakai lambang sebagai tanda pengenal ketika pelaksanaan tugas, tetapi dengan ukuran yang lebih kecil.

Ketika tidak sedang menjalankan tugas, penggunaan lambang hanya diperbolehkan memakai emblem dalam ukuran yang sangat kecil, misalnya dalam bentuk badge, jepitan dasi, pin, dan sebagainya. Ketentuan ini juga berlaku bagi Palang Merah Remaja dengan mencantumkan kata Palang Merah Remaja atau singkatannya.

Penyalahgunaan Lambang

pelanggaran lambang palang merah indonesia
Photo by slideshare.net

Setiap negara peserta Konvensi Jenewa memiliki kewajiban untuk membuat peraturan dan perundang-undangan guna untuk mencegah dan mengurangi penyalahgunaan lambang. Negara secara khusus harus mengesahkan suatu peraturan untuk melindungi lambang Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.

Bentuk-bentuk penyalahgunaan lambang diantaranya adalah:

  • Peniruan
  • Penggunaan yang Tidak Tepat
  • Penggunaan yang Melanggar Ketentuan atau Pelanggaran Berat

Demikianlah sedikit ulasan mengenai sejarah pembentukan PMI. Semoga materi sejarah PMI kali ini mampu menambah wawasan kita mengenai informasi PMI dan menjadikan kita seorang manusia yang memiliki jiwa PMI. Aamiin.

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!