Sejarah Berdirinya PSSI Tahun 1930-1950 M

Sejarah Berdirinya PSSI – Sepak bola merupakan salah satu olahraga yang sangat populer dan memiliki banyak penggemar di berbagai pelosok penjuru dunia. Pada awalnya, olahraga ini digunakan sebagai salah satu alternatif untuk melepas penat dan rekreasi, namun kini berkembang menjadi salah satu alat untuk meningkatkan pretasi dan sebagai jati diri bangsa. Selain itu, sepak bola juga menjadi salah satu alat pemersatu bangsa dari berbagi negara di dunia yang mampu melewati berbagai batas perbedaan.

Sejarah masuknya sepak bola ke Indonesia dibawa oleh orang kolonial Belanda yang kemudian berkembang di kalangan pribumi. Perkumpulan-perkumpulan dan bond-bond sepak bola di Nusantara pun bermunculan dari berbagai kalangan, baik itu kalangan Belanda, Tionghoa, maupun pribumi.

Sejarah Masuknya Sepak Bola ke Hindia Belanda

Pada abad ke-16 M, Belanda datang ke Indonesia dan mendirikan perusahaan dagang yang bernama VOC. Kedatangan bangsa Belanda ke Indonesia tersebut diperkirakan menjadi cikal-bakal bangsa Indonesia mengenal sepak bola modern. Kemungkinan bahwa olahraga ini dibawa oleh orang Belanda dikarenakan faktor geografis negara Belanda yang berdekatan dengan Inggris dimana Inggris diketahui sebagai negara pertama yang memainkan olahraga ini.

Selain dari Belanda, olahraga sepak bola masuk ke Indonesia juga diperkirakan terdapat peranan dari orang Tionghoa. Hal ini dikarenakan orang Cina memiliki permainan yang mirip dengan olahraga sepak bola di Inggris dengan nama ‘Tsu Chu”, namun tidak diketahui secara pasti kapan orang Tionghoa memainkan permainan ini di Nusantara.

Pembentukan Perkumpulan Sepak Bola di Indonesia

Orang-orang Belanda yang sejak tahun 1889 datang untuk bekerja di Indonesia dan menyukai sepak bola berkeinginan untuk membentuk perkumpulan atau klub penyuka sepak bola. Pada tahun 1894, perkumpulan sepak bola Belanda di Hindia Belanda untuk pertama kalinya didirikan dengan nama Root Wit. Dua tahun setelahnya terbentuklah perkumpulan sepak bola di Surabaya yang didirikan oleh John Edgar dengan nama Victory.

Pada tahun 1908, untuk pertama kalinya perkumpulan sepak bola pribumi didirikan di Solo dengan nama “R.O.M.E.O”. Kemudian, menyusul enam perkumpulan lainnya yang ikut mendirikan perkumpulan sepak bola.

Perkumpulan-perkumpulan sepak bola yang telah terbentuk tersebut membentuk sebuah bond yang menyesuaikan asal daerah masing-masing, seperti West Java Voetbal Bond, Soerabaja Voetbal Bond, Semarang Voetbal Bond, dan Bandoeng Voetbal Bond. Keempat bond-bond tersebut terus berkembang dengan sangat pesat dan secara rutin mengadakan kejuaraan sepak bola yang dinamakan Steden Tournooi atau Steden Wedstryden.

Kejuaraan sepak bola tersebut diatur oleh salah satu dari keempat tim tersebut, namun antusiasme masyarakat yang sangat tinggi sehingga dibentuklah sebuah organisasi yang mengatur kejuaraan sepak bola. Oraganisasi yang dibentuk oleh pemerintah Hindia-Belanda ini dibentuk pada tahun 1919 dengan nama “Nederlansch Indische Voetbal Bond” atau (NIVB).

Pada awalnya, organisasi NIVB hanya mewadahi perkumpulan orang-orang Eropa saja. Namun, lambat laun pemain-pemain Tionghoa dan pribumi yang memiliki kemampuan lebih dalam bermain bola diperbolehkan menjadi anggota klub. Orang-orang borjuis dan memiliki kedudukan yang penting di pemerintahan juga diizinkan untuk menjadi anggota klub. Selain itu, NIVB hanya ada di kota-kota besar saja. Selebihnya, NIVB melarang klub pribumi menggunakan lapangan dan melarang klub pribumi melakukan pertandingan dengan klub yang tergabung dalam anggota NIVB.

Klub-klub sepak bola Tionghoa telah banyak didirikan sebelum tahun 1920-an. Pada tahun 1912, telah ada lima perkumpulan sepak bola yang besar dan kuat di Batavia, yakni Donar (Tjie Ying Hwee), Asiatik Eeviol (Peng Ho Sia), Tiong Un Tong, dan MRVC. Selain itu, di sekolah-sekolah dan perusahaan-perusahaan juga terdapat perkumpulan sepak bola Tionghoa seperti Firma Koolie dan Kwik Hoo Tong.

Pada tanggal 27 Juni 1927, Mr. Soeroto dan Mr. R. T. Tjindraboemi dan beberapa orang terkemuka membentuk Indonesische Voetbal Bond (IVB) di Surabaya. IVB sendiri menjadi salah satu cikal-bakal cita-cita dan hasrat untuk mempersatukan seluruh perkumpulan sepak bola. IVB berhasil mengadakan kongres untuk pertama kalinya pada tanggal 2 Oktober 1927 dan dapat dikatakan berjalan dengan cukup lancar. Namun, organisasi ini tidak dapat bertahan lama akibat tidak tertib dan kurang kompak dalam menjalankan fungsinya. Selain itu, organisasi ini juga mengalami kesulitan dalam hal pendanaan.

Sejarah Terbentuknya PSSI di Indonesia

Sejarah terbentuknya PSSI di Indonesia tidak bisa lepas sebagai salah satu upaya bangsa Indonesia melawan dan menentang penjajahan Belanda. Rencana pembentukan PSSI telah dilakukan sejak awal Maret tahun 1930. Pada saat itu, dibentuklah panitia sementara yang terdiri dari H. A. Hamid sebagai ketua, Amirnoto sebagai sekretaris, dan Ir. Soeratin sebagai penghubung dengan perkumpulan-perkumpulan sepak bola pada saat itu. Dari rapat panitia ini juga diputuskan bahwa tanggal 19 April 1930 akan diadakan konferensi yang diketuai oleh M. Daslam Hadiwasito dan bertempat di Sosietet Hande Proyo, Yogyakarta.

Konferensi di Yogyakarta

Pemilihan kota Yogyakara sebagai tempat konferensi disebabkan letaknya yang berada di tengah-tengah. Konferensi ini diadakan untuk membentuk persatuan sepak bola yang anggotanya terdiri dari perkumpulan-perkumpulan dan bond-bond dari seluruh Indonesia. Dari kongres inilah terbentuk PSSI yang didukung dan dihadiri oleh tujuh bond nasional, yakni bond dari kota Jakarta (VIJ), Bandung (BIVB), Magelang (MIVM), Yogyakarta (PSM), Surabaya (SIVB), Madiun (MVB), dan Surakarta (VVB).

Hasil dari konferensi di Yogyakarta antara lain ditetapkan bahwa nama organisasi yang baru dibentuk adalah Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI) dengan Ir. Soeratin Sosrosoegondo sebagai ketua umum. Selain itu, hasil kongres juga menyusun untuk pembagian tugas bagi pengurus dan program kerja PSSI untuk delapan tahun pertama (1930-1938). Program kerja ini dimulai dengan penyelenggaraan kejuaraan antarkota yang akan dilaksanakan pada bulan Mei 1931 di Surakarta.

Setelah PSSI berdiri pada tahun 1930, organisasi ini mulai mengadakan pertandingan dan kompetisi dari tahun 1931 hingga 1941 pada setiap tahunnya. Ketika Jepang menduduki Indonesia, PSSI tidak dapat menyelenggarakan kompetisi dan baru pada tahun 1951 PSSI kembali mengadakan kompetisi dan pertandingan.

PSSI, NIVB, dan NIVU

Pembentukan PSSI oleh masyarakat Indonesia tentu saja menjadi hal yang tidak mengenakkan bagi pemerintah Hindia-Belanda. Hanya dalam kurun waktu satu tahun, PSSI sudah berhasil menambah jumlah anggota sebanyak 6 perkumpulan dan 20 perkumpulam kecil lainnya siap untuk bergabung dengan PSSI. Untuk menghadapi hal tersebut, NIVB mencoba untuk mengahalangi eksistensi PSSI dengan berbagai cara, diantaranya adalah melarang para anggotanya umtuk berpatisipasi dalam kejuaraan yang diaakan oleh PSSI dan melarang klub sepak bola tertentu bertanding dengan klub sepak bola yang berada di bawah naungan PSSI.

Pemerintah Hindia-Belanda yang mengira jika umur PSSI tidak akan lama namun hal yang terjadi justru terjadi keretakan dalam NIVB. Pada tahun 1935, perpecahan NIVB menyebabkan lahirnya organisasi baru bernama NIVU (Nederlaandsche Indische Voetbal Unie). Pemikiran NIVU sendiri lebih maju dibandingkan dengan oraganisasi sebelumnya, NIVB. Pada tahun 1937, NIVU mengajak PSSI untuk berunding dan mengadakan gentlemen’s agreement, yang mana isinya adalah bond-bond dari anggota PSSI diperbolehkan untuk bertanding dengan tim asing yang didatangkan oleh NIVU.

Gentlemen’s agreement antara NIVU dan PSSI menjadi penanda pengakuan NIVU terhadap eksistensi PSSI di Indonesia. Namun, perjanjian ini harus berakhir ketika Jepang menduduki Indonesia. Dalam perkembangannya pada masa Belanda, PSSI mampu menjalankan programnya setiap tahun meskipun masih disertai dengan tekanan dan hambatan. Program-program yang terus berjalan antara lain kongres yang diadakan setiap tahun dan pertandingan kejuaraan antar klub.

Perkembangan PSSI Masa Pendudukan Jepang

Pada tanggal 8 Maret 1942, Jepang datang ke Indonesia sebagai penanda resmi bahwa pemerintahan Hindia-Belanda telah berakhir. Setelah pemerintahan Jepang ditegakkan di Indonesia, maka seluruh struktur organisasi keolahragaan, termasuk PSSI, disesuaikan dengan Tai Iku Kai. Tai Iku Kai adalah oraganisasi yang dibentuk oleh Jepang untuk mewadahi seluruh jenis bidang olahraga.

Peleburan PSSI ke dalam organiasi Tai Iku Kai menyebabkan pelaksanaan program pembinaan PSSI untuk 8 tahun kedua tidak sebagus program pembinaan pada 8 tahun pertama dan esksistensi PSSI mulai memudar.  Selain itu, kongres PSSI tidak dapat diteruskan pada masa pendudukan Jepang dan terhenti pada tahun 1941 di Bandung. Tidak hanya PSSI, NIVU juga menggabungkan diri dengan organisasi Tai Iku Kai.

PSSI Pasca Melebur Dengan Tai Iku Kai

Setelah melebur dengan Tai Iku Kai, PSSI juga hanya dapat mengadakan kejuaraan antar karesidenan di Yogyakarta pada tahun 1943. Seluruh aktifitas PSSI dibekukan dan kegiatan persepakbolaan diatur oleh Tai Iku Kai. Salah satu hal yang menarik dari organisasi Tai Iku Kai adalah organisasi ini mampu menyatukan dua organisasi (PSSI dan NIVU) yang berbeda menjadi satu tim kesebelasan dimana hal ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Tai Iku Kai sendiri memiliki cabang di setiap keresidenan. Setiap tahun juga diadakan kejuaran olahraga di Jakarta dari berbagai cabang olahraga, seperti sepak bola, atletik, cross country, dan cabang olahraga lainnya yang menunjang pertahanan militer. Kegiatan utama organisasi Tai Iku Kai adalah perlombaan yang dinamakan “Pembelaan Tanah Air” dimana perlombaan ini fokus pada latihan disiplin, latihan fisik, latihan dan ketahanan mental. Hal ini menjadi salah satu tujuan Jepang untuk menguatkan dan meningkatkan kekuatam Jepang dalam menghadapi musuh.

Pada tahun 1943, diadakan kompetisi sepak bola di Yogyakarta dan PERSIS Solo keluar sebagai juara. Setahun setelahnya yakni tahun 1944, terlihat tanda-tanda jika Jepang akan kalah dari sekutu sehingga dibentuklah GELORA. Organisasi olahraga bentukan Jepang ini bertujuan untuk menarik simpati rakyat Indonesia sehingga namanya menggunakan bahasa Indonesia.

Seluruh urusan olahraga yang sebelumnya diurus oleh Tai Iku Kai diserahkan kepada GELORA (Gerakan Latihan Olahraga). Namun, GELORA belum sempat melakukan akitifitasnya diakibatkan tentara Inggris sudah mendarat di Semarang dan Surabaya pada akhir tahun 1945 sehingga terjadi pertempuran di seluruh wilayah Jawa.

Perkembangan PSSI Pasca Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, kegiataan keolahragaan mendapatkan angin segar untuk menangani sendiri seluruh kegiatan olahraganya, namun, kegiatan olahraga masih dilaksanakan secara terbatas akibat masih mempertahankan kemerdekaan dari bangsa asing.

Kongres Olahraga I

Pada bulan Januari tahun 1947, Kongres Olahraga I diadakan di Surakarta. Dalam peremuan kongres tersebut, R. Maladi dinobatkan sebagai pemimpin sepak bola Indonesia. Berikut hasil keputusan kongres yang dilaksanakan pada tanggal 18-19 Januari di Surakarta:

  • Organisasi GELORA dibubarkan
  • Pendirian Komite Olimpiade Republik Indonesia
  • Mendirikan persatuan keolahragaan yang baru dengan nama Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI)

Setelah PORI dibentuk, maka agenda utama yang menjadi prioritas PORI adalah rencana untuk menyelenggarakan kegiatan PON (Pekan Olahraga Nasional). Selain itu, PORI juga mendesak PSSI supaya Indonesia mendapat pengakuan dari FIFA sehingga dapat mengirimkan tim nasional sepak bola ke olimpiade London pada tahun 1948.

Namun, Indonesia masih tetap tidak bisa mengirimkan perwakilannya untuk mengikuti olimpiade disebabkan Indonesia masih diambang-ambang kemerdekaan. Selain itu, PORI juga belum menjadi anggota International Olympic Committee (TOC) yang menyebabkan para atlet Indonesia tidak dapat berpartisipasi dalam olimpiade.

Konferensi Darurat Tanggal 2 dan 9 Mei 1948

Pada tanggal 2 dan 9 Mei 1948, diadakan konferensi darurat yang membahas kegagalan pengiriman delegasi olimpiade London. Dalam konferensi darurat tersebut terjadi kesepakatan untuk mengadakan Pekan Olahraga Nasional Pertama (PON I).

Lokasi PON I dilaksanakan di Solo dikarenakan Solo memiliki stadion yang menjadi stadion terbaik di Indonesia, Stadion Sriwedari. Selain itu, sebagian besar pengurus PORI bertempat di Solo menjadi alasan lain untuk memilih Solo sebagai tempat pelaksanaan PON I.

Penyelenggaraan PON I ditujukan antara lain untuk membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia mampu menggalang persatuan dan kesatuan bangsa dalam bentuk pesta olahraga meskipun Indonesia masih dalam keadaan yang tidak kondusif.

Setelah pelaksanaan PON I selesai, PORI berhenti melakukan seluruh kegiatannya akibat aksi agresi militer Belanda yang ke-2 ke Indonesia. Seluruh aktivitas keolahragaan akhirnya berada dalam pengawasan Belanda yang membuat PORI tidak dapat melakukan kongres.

Proses Lahirnya Kembali PSSI

Pada tanggal 22-23 Desember 1949, PORI melakukan kongres yang ke-3 di Yogyakarta. Dalam kongres ini, PORI memberikan wewenang kepada cabang olahraga sepak bola untuk membentuk kembali PSSI yang otonom. Hasil kongres PORI yang ke-3 ini menghsilkan beberapa keputusan, yakni:

  • Kongres ke-3 dianggap sebagai kelanjutan dari kongres PSSI setelah pendudukan Jepang.
  • Kongres diadakan hanya untuk memilih ketua PSSI yang diberi wewenang untuk menyusun formasi lengkap kepengurusan.
  • Pengurus PSSI berkedudukan di ibukota republik Indonesia
  • Pengurus PSSI mendapatkan wewenang untuk menyusun AD dan ART baru untuk disahkan pada kongres PSSI berikutnya.
  • Kejuaraan PSSI akan dilaksanakan setiap tahun.

Berdasarkan kongres tersebut, pimpinan PORI kemudian menginstruksikan supaya setiap cabang olahraga dibentuk organisasi induk yang otonom. Setahun kemudian pada tanggal 2-4 September 1950, PSSI mengadakan kongres secara independen. Kongres kali ini dianggap sebagai awal kebangkitan PSSI setelah masa pendudukan Jepang dan setelah secara resmi merdeka dari pendudukan Belanda.

Kongres PSSI XII

Pada tanggal 2 September 1950, kongres PSSI XII dilaksanakan di Gedung Rakyat Indonesia Semarang (GRIS). Kongres ini dihadiri oleh pengurus lama PSSI dengan perwakilan anggota klub PSSI yang berjumlah 16 tim sepak bola dari seluruh Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, R. Maladi selaku orang yang menjabat sebagai ketua PSSI pada saat itu menguraikan beberapa hal, yakni:

  • Pertandingan yang akan dilaksanakan tim sepak bola dari Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Semarang yakni untuk memperebutkan kejuaraan kongres.
  • Sebagai upaya kelanjutan dari kongres PORI, maka PSSI harus diresmikan kembali berdirinya untuk menyusun harapan baru di dunia sepak bola.
  • Pengurus PSSI yang menjabat saat ini adalah pengurus sementara dan kongres harus memilih pengurus yang baru
  • AD/ART disarankan untuk disempurnakan sembari organisasi berjalan.

Pada tanggal 3 September 1950, kongres kembali diadakan di Hotel Du Pavilyon, Semarang. Kongres kali ini dihadiri oleh 26 perkumpulan atau bond sepak bola dari seluruh Indonesia. Selain itu, kongres ini juga dimeriahkan dengan adanya pertandingan antara tim sepak bola PERSIB Bandung, PERSEBAYA Surabaya, PSIS Semarang, dan PERSIS Surakarta. Dalam pertandingan antara 4 tim besar tersebut, PERSIB Bandung keluar sebagai juaranya.

Hasil dari keputusan kongres PSSI XII di Semarang antara lain adalah:

  • Mengesahkan nama PSSI dari Persatuan Sepak-raga Seluruh Indonesia menjadi Persatuan Sepak-bola Seluruh Indonesia.
  • Pengurus PSSI ditetapkan berkedudukan di Jakarta
  • Ketua R. Maladi dipilih untuk menyusun pengurus lengkap dengan mempertimbangkan saran dan usul dari Persija Jakarta.
  • Komisariat PSSI diadakan di Jawa Barat dengan berpusat di Bandung, Jawa Tengah berpusat di Semarang, Jawa Timur berpusat di Surabaya, Sumatera berpusat di Medan, Sulawesi berpusat di Makassar, dan Kalimantan berpusat di Banjarmasin.
  • Pembentukan struktur organisasi pengurus PSSI
  • Pembentukan panitia anggaran dasar, anggaran rumah tangga, dan peraturan pertandingan
  • Pengupayaan secepatnya untuk menjadi anggota FIFA dan mempersiapkan tim kesebelasan untuk Asian Games I di New Delhi. Pemilihan tim kesebelasan dilaksanakan melalui pertandingan dengan ketentuan Indonesia dibagi menjadi 6 distrik pemilihan.
  • Komisi pemilih di pusat dan tempat komisaris adalah badan yang diberi kuasa untuk menetapkan pemilihan pemain.

Dampak Kongres Ke-12 PSSI Terhadap Sepak Bola Indonesia

Kongres PSSI yang ke-12 menjadi penanda sebagai awal kebangkitan sepak bola di Indonesia setelah lepas dari pendudukan Jepang. Kongre ini memberi dampak yang cukup signifikan untuk perkembangan sepak bola di Indonesia kedepannya. Berikut dampak-dampak dari kongres PSSI XII:

  • Indonesia secara resmi menjadi anggota FIFA pada tanggal 1 November 1952 ketika kongres FIFA di Helsinki setelah PSSI mengirimkan surat ke FIFA agar diterima sebagai anggota resmi FIFA.
  • Pelaksanaan Kejurnas (Kejuaraan Nasional) untuk pertama kalinya pada tahun 1951 oleh PSSI dengan tujuan untuk meningkatkan mutu pemain-pemian di Indonesia.
  • Keikutsertaan Indonesia dalam pertandingan Asian Games I di New Delhi, India meskipun dengan hasil yang kurang memuaskan.
  • Keikutsertaan Indonesia dalam pertandingan Asian Games II di Manila, Filipina dengan persiapan yang lebih mumpuni sehingga membuahkan hasil yang memuaskan.
  • Pelaksanaan pertandingan Internasional yang dilaksanakan di Indonesia ataupun Indonesia yang datang ke beberapa negara untuk melakukan pertandingan persahabatan.

Demikianlah sejarah berdirinya PSSI dari tahun 1930-1950 M. Semoga materi kali ini dapat menambah wawasan kita terhadap sejarah terbentuknya dan perkembangan sepak bola di Indonesia. Semoga bermanfaat!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!