Sejarah Berdirinya Candi Borobudur: Asal-usul, pendiri, lokasi

Sejarah berdirinya Candi Borobudur– Candi Borobudur, candi Buddha yang pamornya masih eksis hingga saat ini, terutama di daerah Jawa Tengah. Candi ini menjadi destinasi wisata yang sangat ramai dikunjungi oleh para wisatawan, baik itu wisatawan lokal maupun mancanegara.

Candi Borobudur merupakan salah satu candi atau kuil Buddha terbesar yang ada di dunia. Karena kemegahan dan keagungannya, Candi Borobudur pun ditetapkan sebagai salah satu warisan kebudayaan dunia (World Heritage) oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO).

Candi Borobudur dibangun pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra. Candi ini berbentuk stupa yang didirikan oleh penganut agama Buddha Mahayana kurang lebih sekitar tahun 750 – 800 an M. Candi ini juga termasuk candi Buddha tertua karena Candi Borobudur dibangun sebelum Candi Angkor Wat di Kamboja yang baru dibangun sekitar abad ke-12 M oleh Raja Suryawarman II.

Asal usul mengenai Candi Borobudur pun masih menjadi misteri tentang siapa yang menjadi pendiri dan tujuan awal pembangunan candi ini. Banyak cerita dan kisah mengenai Candi Borobudur yang beredar di kalangan masyarakat dan kini dikenal sebagai dongeng rakyat.

Letak Candi Borobudur

sejarah berdirinya candi borobudur
photo by olli_wah

Candi Borobudur terletak tepat diatas sebuah bukit. Lokasi tepatnya berada di Jl. Badrawati, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi ini berjarak kurang lebih sekitar 100 km sebelah barat daya dari kota Semarang, 86 km sebelah barat dari kota Surakarta dan 40 km sebelah barat laut dari kota DI Yogyakarta.

Candi Borobudur terletak diatas bukit dengan dataran yang dikelilingi dua pasang gunung kembar, yaitu Gunung Sindoo-Sumbing disebelah barat laut dan Gunung Merbabu-Merapi sebelah timur laut. Di sebelah utara terdapat bukit Tidar, dan tidak jauh dari selatan terdapat jajaran bukit Menoreh. Candi ini juga terletak didekat pertemuan dua sungai, yaitu Sungai Progo dan Sungai Elo di sebelah timur.

Sejarah Candi Borobudur

Sebagai salah satu warisan dunia, tentu segala informasi mengenai Candi Borobudur sangat menarik untuk diulik kembali. Berikut akan kita bahas bersama tentang sejarah Candi Borobudur, baik itu dari asal usul berdirinya, penemuan kembali Candi Borobudur, dan juga proses pemugaran candi.

Asal Usul Candi Borobudur

Asal usul mengenai sejarah berdirinya Candi Borobudur sangatlah panjang. Hingga saat ini, para sejarawan masih belum menemukan bukti tertulis yang menjelaskan mengenai siapa yang membangun Candi Borobudur dan tujuan dari pembangunan candi ini. Akan tetapi, candi ini diperkirakan dibangun sekitar tahun 800 M.

Nama Candi Borobudur berasal dari dua kata, yaitu kata bara dan budur. Secara istilah, bara berarti kompleks biara dan budur bermakna atas. Jika digabungkan, maka kata Barabudur bermakna kompleks biara diatas.

Akan tetapi, terdapat teori lain yang mengatakan jika arti Borobudur berasal dari kata Sambharabudhara yang bermakna gunung. Ada juga teorimitologi yang menyatakan bahwasannya kata “Borobudur” berasal dari ucapan “Para Buddha” dan masih banyak lagi teori lainnya yang menjelaskan asal-usul nama Candi Borobudur.

Perkiraan waktu pembangunan Candi Borobudur ini disandarkan pada perbandingan jenis aksara yang tertulis pada kaki tertutup Karmawibhangga dengan jenis aksara yang pada umumnya digunakan pada prasasti kerajaan abad ke-8 dan abad ke-9. Candi Borobudur pun diperkirakan dibangun pada masa Kerajaan Dinasti Syailendra di Jawa Tengah dalam kurun waktu sekitar tahun 760 M – 830 M.

Proses pembangunan Candi Borobudur diperkirakan menghabiskan waktu antara 75 – 100 tahun lebih. Kemudian, Candi Borobudur baru benar-benar selesai dalam pembangunannya ketika Raja Samaratungga berkuasa tahun 825 M.

Pendiri Candi Borobudur

Lalu, siapakah pendiri Candi Borobudur? Hingga saat ini, masih belum jelas siapa yang membangun Candi Borobudur. Yang jelas, candi ini dibangun pada masa kejayaan Dinasti Syailendra di Pulau Jawa. Pembangunan Candi Borobudur kala itu dipimpin oleh seorang arsitek yang bernama Gunadharma.

Dinasti Syailendra merupakan dinasti yang menganut agama Buddha Mahayana yang taat. Akan tetapi, bedasarkan informasi yang ditulis dalam Prasasti Sojomerto menunjukkan bahwasannya dinasti ini pada awalnya menganut agama Hindu Siwa. Pada masa ini, banyak sekali dibangun candi yang bercorak Hindu dan Buddha di dataran Kedu. Ada juga candi yang bercorak Hindu di dekat Candi Borobudur, yaitu Candi Shiwalingga.

Walaupun begitu, Candi Borobudur disepakati sebagai sebagai peninggalan kerajaan yang beragama Buddha. Candi Borobudur pun dibangun dalam kurun waktu yang hampir bersamaan dengan candi-candi di dataran Prambanan, meskipun Candi Borobudur rampung lebih dulu, yaitu sekitar tahun 825 M.

Proses Pembangunan Candi Borobudur

pembangunan candi borobudur
Photo by wakwauw.com

Pada awal mula berdirinya, Candi Borobudur hanyalah berbentuk rancangan stupa tunggal yang sangat besar di puncaknya. Karena stupa yang terlalu besar dan dianggpap dapat membahayakan, stupa tersebut pun dibongkar dan diganti menjadi tiga barisa stupa yang lebih kecil dan satu stupa induk seperti yang kita lihat sekarang ini.

Berikut perkiraan tahapan proses pembangunan sejarah berdirinya Candi Borobudur:

Tahapan Pertama

Tahapan pertama pembangunan Candi Borobudur dilaksanakan dengan peletakkan pondasi dasar candi. Masa awal pembangunan Candi Borobudur tidak diketahui secara pasti, akan tetapi perkiraan dimulai pada tahun 750 M. Candi Borobudur dibangun di atas bukit yang alami, bagian atas bukit ini diratakan dan pelataran dasarnya diperluas. Candi Borobudur terbuat dari batu andesit, tetapi tidak keseluruhan.

Pada bagian bukit, tanahnya dipadatkan dan ditutup struktur batu sehingga menyerupai cangkang yang membungkus bukit tanah. Kemudian, sisa bagian bukit ditutup dengan struktur batu lapis demi lapis. Awalnya, Candi Borobudur dibangun seperti rancangan piramida. Tetapi, susunan candi tersebut diubah dan sebagai gantinya dibangun tiga undakan pertama yang menutup struktur asli piramida yang diubah.

Tahapan Kedua

Pada tahapan kedua, pembangunan Candi Borobudur tidak melalui banyak proses pembangunan. Hanya ada tahap penambahan dua undakan persegi, pagar langkan, dan satu undakan yang melingkar. Di puncak teratasnya pun dibangun sebuah stupa tunggal yang besar.

Tahapan Ketiga

Pada tahapan ketiga, Candi Borobudur mengalami perubahan rancangan bangunan. Undakan teratas yang dibangun stupa induk besar dibongkar dan diganti dengan tiga undak lingkaran. Stupa-stupa yang lebih kecil dibangun berbaris melingkar pada pelatarab undak-undak dengan satu stupa yang lebih besar di bagian tengahnya.

Pondasi Candi Borobudur juga agak diperlebar dan dibangun kaki tambahan yang membungkus kaki asli, sekaligus relief Karmawibhangga. Perubahan stupa besar ini terjadi karena stupa tersebut terlalu besar dan berat, sehingga diganti dengan tiga stupa kecul dan datu stupa induk.

Tahapan Keempat

Tahapan keempat merupakan tahapan terakhir dari proses pembangunan Candi Borobudur. Tahapan terakhir ini dilakukan sedikit perubahan kecil dan finishing. Perubahan kecil ini meliputi penyempurnaan relief, penambahan pagar langkan terluar, perubahan tangga, dan pelengkung atas gawang pintu serta pelebaran ujung kaki.

Setelah perubahan kecil ini selesai, Candi Borobudur pun selesai dibangun. Candi Borobudur pun diperkirakan rampung secara total pada tahun 850 M.

Tingkatan Ranas Spiritual Candi Borobudur

Candi Borobudur merupakan saksi bisu sejarah yang kini usianya telah mencapai sekitar 12 abad. Sejarah berdirinya Candi Borobudur merupakan lambang kebesaran dan kejayaan bagi raja yang telah membangunnya.

Bangunan Candi Borobudur terbuat dari batu andesit sebanyak 55000 m². Bangunan ini berbentuk linmas yang berjenjang dan dilengkapi dengan anak tangga pada keempat sisinya. Tinggi bangunan dari dasar hingga puncaknya mencapai 42 m dengan lebar dasar 123 m, panjangnya mencapai 123 m dengan sudut yang membentuk 113 m dan tinggi bangunan 30,5 m tegak menjulang.

Pada kaki Candi Borobudur ditutupi dengan batu sebanyak 12.750 m³ sebagai selasor candi. Undakan yang terdapat di Candi Borobudur melambangkan kehidupan alam semesta. Dan setiap tingkatan yang ada di candi ini memiliki makna, terdapat tiga tingkatan ranas spiritual dari candi ini, yaitu:

  • Kamadhatu

kamadhatu
Photo by liputan6.com

Kamadhatu merupakan tingkatan kesatu atau tingkatan terbawah dari Candi Borobudur. Tingkatan kamadhatu menggambarkan alam bawah atau hasrat dunia dan nafsu rendah. Di dunia ini, manusia terikat oleh hawa nafsu mereka, bahkan dikuasai oleh nafsu dan hasrat mereka.

Relief mengenai tingkatan kamadhatu tergambar di kaki candi, dimana relief ini menggambarkan ajaran sebab-akibat antara perbuatan yang baik dan jahat.  Deretan relief kamadhatu sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang ditujukan untuk memperkuat konstruksi bangunan candi, tapi sebagian masih terlihat di sebelah tenggara candi.

  • Rupadhatu

rupadhatu
Photo by travelinkmagz.com

Rupadhatu adalah tingkatan kedua dari Candi Borobudur. Tingkatan Rupadhatu menggambarkan tentang dunia manusia yang mampu membebaskan diri dari hawa nafsu, akan tetapi masih terikat dengan nama, rupa, wujud, dan bentuk. Tingkatan ini menggambarkan alam antara alam atas dan alam bawah.

Tingkatan rupadhatu di Candi Borobudur berupa empat undak teras yang membentuk lorong keliling dan berhiaskan relief pada dindingnya. Bagian empat lorong ini memiliki 1.300 gambar relief dengan panjang 2,5 km dan 1.212 panel berukirakan dekoratif. Seharusnya, pada bagian ini terdapat arca Buddha berjumlah 432 di dalam stupa yang saling berjajar di bagian candi.

  • Arupadhatu

arupadhatu
Photo by flickr.com

Arupadhatu merupakan tingkatan tertinggi dari Candi Borobudur. Tingkatan arupadhatu menggambarkan bahwasannya manusia telah bebas dengan sebagala bentuk dari nafsu dan ikatan dunia fana. Pada tingkatan ini, tidak lagi ada nafsu dan juga rupa. Tingkatan arupadhatu terletak di bagian teras bundar I, teras bundar II, dan teras bundar tiga beserta dengan stupa induknya.

Tingkatan tertinggi ini melukiskan ketiadaan wujud yang digambarkan melalui stupa terbesar dan tetinggi, polos tanpa berlubang. Stupa utama Candi Borobudur dibiarkan kosong, kekosongan ini dimaksudkan untuk melambangkan kebijaksanaan tertinggi, kesunyataan kesunyian, dan ketiadaan sempurna.

Ralief Candi Borobudur

Candi Borobudur memiliki relief yang indah dan bergaya naturalis. Relief pada candi ini menceritakan tentang tingkatan kehidupan manusia. Relief itu terdapat pada kaki candi dan dinding-dinding candi, kecuali pada tingkatan teratas candi yang tidak memiliki relief.

Relief yang terpahat di candi bukanlah hanya dibuat atas dasar keindahan, tetapi memiliki makna mendalam yang mampu memberi pelajaran hidup untuk manusia. Relief dari tingkatan yang paling bawah hingga yang berada di dinding, berikut garis besar relief yang ada di Candi Borobudur.

  • Karmawibhangga

Relief karmawibhangga terdapat di kaki Candi Borobudur. Relief ini sebagian besar sengaja ditimbun, tapi kita masih dapat melihat bagian tenggara candi yang terbuka atau di museum Karmawibhangga di sisi utara candi. Relief karmawibhangga menceritakan tentang sebab-akibat sebagai hukum karma di dunia manusia.

  • Jataka dan Awadana

Ralief jataka mengisahkan tentang sang Buddha sebelum ia dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Relief jataka menonjolkan tentang cerita perbuatan-perbuatan baik dan sikap rela berkorban serta sifat saling tolong-menolong sang Bodhisattva.

Sedangkan relief awadana hampir sama dengan relief jataka, hanya saja tokoh yang diceritakan dalam relief bukan sang Bodhisattva, melainkan diperankan oleh orang lain. Kisah mengenai dihimpun dalam kitab Dwiyawadan yang bermakna perbuatan mulia kedewaan.

  • Gandawyuha

Ralief Gandawyuha merupakan relief yang menghiasi lorong ke-2 dalam cerita Sudhana. Diamana Sudhana melakukan pengelanaan tanpa lelah demi mendapatkan pengetahuan tertinggi. Selain itu, relief ini juga menceritakan tentang kebenaran sejati seorang Sudhana.

Penemuan Candi Borobudur

sejarah berdirinya candi bororbudur
Photo by versesofuniverse.blogspot.it

Sejarah berdirinya Candi Borobudur berikutnya adalah tahapan penemuan kembali candi ini. Candi Borobudur sempat tersembunyi dan terlantar selama berabad-abad lamanya, yakni sekitar 10 abad lamanya. Candi ini terkubur dibawah tanah lapisan tanah dan debu vulkanik, yang kemudian ditumbuhi pepohonan dan semak belukar. Sehingga, Candi Borobudur sebelum tertemukan benar-benar menyerupai sebuah bukit.

Tidak diketahui secara pasti kapan Candi Borobudur mulai ditinggalkan dan dibiarkan tidak terawat. Diperkirakan, antara tahun 928 M – 1006 M ketika Raja Mpu Sindok memindahkan ibukota Kerajaan Medang ke kawasan Jawa Timur akibat letusan gunung berapi yang menjadi salah satu faktor Candi Borobudur mulai ditinggalkan.

Ditambah, masuknya pengaruh Islam pada abad ke-15 M ke tanah Jawa juga membuat Candi Borobudur semakin dilupakan. Walaupun, terdapat cerita yang beredar dalam masyarakat mengenai kejayaan candi ini di masa lalu.

  • Penemuan Candi

Pada tahun 1814 M, Candi Brobudur kembali ditemukan. Ketika itu, pulau Jawa berada dibawah pemerintahan Inggris yang dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles yang menjabat sebagai gubernur jenderal. Gubernur Jenderal Thomas S. Raffles mempunyai ketertarikan pada sejarah dan kebudayaan Jawa.

Ketika Thomas S. Raffles melakukan perjalanan inspeksi ke Semarang, ia mendengar kabar bahwasannya terdapat monumen besar tersembunyi yang letaknya di dalam hutan dekat desa Bumisegoro. Raffles lalu mengutus seorang insinyur Belanda, H.C. Cornelius, untuk menyelidiki keberadaan monument besar ini.

  • Pembersihan Candi

sejarah berdirinya candi bororbudur
Photo by manusialembah.com

Dalam kurun waktu selama dua bulan, Cornelius dan 200 bawahannya berhasil menebang pepohonan dan semak belukar yang tumbuh di Candi Borobudur dan membersihkan lapisan tanah yang mengubur candi ini. Ia lalu melaporkan penemuan ini dan memberi sketsa Candi Borobudur kepada Raffles.

Akibat penemuan ini, Thomas S. Raffles pun dianggap berjasa atas penemuan kembali Candi Borobudur dan mulai menarik perhatian dunia atas keberadaan bangunan besar yang pernah hilang ini.

Hartmann, seorang pejabat dari pemerintahan Hindia Belanda di Keresidenan Kedu pun meneruskan kerja Cornelius. Tahun 1835 M, keseluruhan bagian bangunan Candi Borobudur telah tergali dan bisa terlihat. Pemerintah Hindia Belanda pun menugaskan seorang insinyur pejabat Belanda, F. C. Wilsen, untuk mempelajari monumen besar ini.

Setelah itu, dilakukan penelitian terhadap Candi Borobudur secara terus menerus oleh Pemerintahan Hindia Belanda. Candi Borobudur pun semakin terkenal hingga mengundang kolektor candi untuk berkunjung ke candi ini. Candi ini pun sempat menjadi salah satu target pencurian artefak candi kemudian dijual kembali dengan harga mahal.

Pada tahun 1882 M, kepala inspektur artefak budaya meyarankan agar Candi Borobudur dibongkar secara keseluruhan dan reliefnya dipindahkan ke museum akibat kondisi relief yang tidak stabil, ketidakpastian, dan pencurian.

Akan tetapi, seorang arkeolog bernama Groenveldt yang ditunjuk oleh pemerintah untuk menyelidiki keseluruhan situs. Lalu, Groenveldt menyarankan agar bangunan ini dibiarkan utuh sebagaimana mestinya dan tidak dibongkar untuk dipindahkan.

Pemugaran Candi Borobudur

pemugaran candi
Photo by nasional.republika.co.id

Setelah Candi Borobudur ditemukan, proses selanjutnya berlanjut ke tahap pemugaran.

Tahun 1900 M, pemerintah Hindia Belanda mulai mengambil langkah untuk menjaga kelestarian monument ini. Langkah awal dibentuklah komisi yang terdiri atas tiga pejabat. Pejabat pertama, seorang sejarawan seni bernama Brandes. Kedua, seorang insinyur dan tentara Belanda bernama Theodoor van Erp. Ketiga, insinyur ahli konstruksi bangunan Departemen Pekerjaan Umum bernama Van de Kamer.

Pemugaran Candi Borobudur dilakukan dengan memperhatikan banyak pertimbangan. Pertimbangan yang dilakukan antara lain adalah perbaikan sistem drainase, pengaturan sudut bangunan, pemindahan batu yang membahayakan, penguatan pagar langkan pertama, dan pemugaran beberapa relung, gerbang, stupa, dan stupa utama.

Setelah itu, dtambahkan pula pembuatan pagar halaman Candi Borobudur dan pembersihan kawasan. Proses pemugaran candi ini dilakukan dalam kurun tahun 1907 M – 1911 M. Setelah Indonesia merdeka, pemerintah Indonesia juga melakukan beberapa pemugaran kecil pada candi ini.

Akhir tahun 1960-an, pemerintah Indonesia mengajukan permintaan kepada masyarakat internasional untuk melakukan pemugaran berskala besar untuk melindungi monument ini. Pemerintah Indonesia pun melakukan kerja sama dengan UNESCO untuk mengambil langkah perbaikan terhadap candi ini. Proyek besar ini pun dimulai sejak tahun 1975 M – 1982 M.

Setelah direnovasi, tepatnya tahun 1991 M, UNESCO memasukkan Candi Borobudur ke dalam daftar Situs Warisan Dunia dan masuk kedalam kriteria budaya.

Demikianlah sedikit ulasan mengenai sejarah berdirinya Candi Borobudur, candi Buddha terbesar yang ada di Indonesia.

Semoga dengan membahas mengenai sejarah Candi Borobudur, dapat menambah semangat kita untuk merawat peninggalan-peninggalan sejarah masa lalu, terutama Cand Bororbudur. Aamiin.

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!