Sejarah Lahirnya Agama Hindu dan Perkembangannya

Sejarah Agama Hindu – Agama Hindu merupakan agama tertua yang ada di dunia, the oldest religion in the world, yang masih hidup dan berkembang hingga saat ini. Meskipun agama Hindu telah berkembang sejak tahun 5000 SM, ajaran pemikirannya masih relevan dengan perkembangan zaman.

Agama Hindu muncul di lembah Sungai Shindu, India sebelah barat daya, yang mana sekarang tempat ini dikenal sebagai daerah Punyab. Nama “Hindu” diambil dari nama Sungai “Shindu”. Bangsa Persia yang mengadakan kontak ke lembah Sungai Shindu menyebut kata “Shindu” dengan kata “Hindu”, hal ini terjadi karena Bangsa Persia tidak bisa menyebut lafal “S”.

Agama Hindu merupakan ajaran agama yang bersifat universal dan memberikan kebebasan bagi pemeluknya untuk mendalami dan menjalankan ajaran agama ini. Karena bersifat universal, agama Hindu terbagi dalam beberapa golongan.

Sejarah Perkembangan Agama Hindu

sejarah agama hindu
Photo by Twitter.com

Menurut sejarah perkembangannya, agama Hindu di India dibagi menjadi beberapa fase atau zaman. Diantaranya adalah:

Sejarah Perkembangan Agama Hindu pada Zaman Weda

Zaman Weda merupakan zaman dimana diturunkannya ajaran Weda (wahyu) kepada Maha Sri oleh Ida Sang Hyang Widhi. Jangka waktu penurunan Weda ini diturunkan dalam jangka yang sangat panjang. Kata “Weda” berasal dari akar kata bahasa Sansekerta “Vid” yang bermakna mengetahui. Jadi, kata Weda memiliki makna pengetahuan, yakni pengetahuan suci dari Sang Hyang Widhi Wasa.

Zaman Weda di India dimulai dengan datangnya bangsa Arya ke India, kurang lebih 1500 SM di lembah Sungai Shindu. Bangsa Arya merupakan bangsa yang berasal dari Austria, Hungaria, dan Babylonia. Bangsa Arya datang ke India melalui laut hitam menuju Selat Bosporus.

Di Selat Bosporus, bangsa Arya berpisah menuju dua arah yaitu ke arah utara menuju India dengan membawa kebudayaan Weda dan ke arah timur menuju Iran dengan membawa kebudayaan Awesta. Masa perpindahan bangsa Arya ini disebut sebagai fase Indi-Iran.

Sebelum berpisah, bangsa Arya pada awalnya mengalami hidup bersama. Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa kata dalam kitab Weda maupun kitab Awesta memiliki kata yang sama.

Kitab Weda

Kitab Awesta

Soma

Hauma

Shindu

Hindu

Bhagawan

Bhaga

Aramati

Araiti

Vayu

Wayu

Mitra

Mitri

Perkembangan Agama Hindu pada Zaman Brahmana

Perkembangan agama Hindu di India ditandai dengan munculnya kitab suci Brahmana, yaitu bagian Weda yang berisi tentang peraturan dan kewajiban keagamaan. Kitab Brahmana juga disebut dengan Karma Kanda yang berbentuk prosa. Kata Brahmana berasal dari kata “Brahman” yang bermakna doa, yaitu perkataan suci yang diucapkan oleh Brahmana ketika melaksanakan korban suci.

Ketika zaman Brahmana, kehidupan dalam beragama lebih ditekankan dalam pelaksanaan korban suci atau juga disebut yadnya. Karena segala sesuatu dalam menjalankan agama Hindu diatur berdasarkan korban suci atau upacara yadnya, maka peranan Brahmana dalam agama Hindu semakin penting dan masyarakat bergantung kepada para Brahmana.

Pelaksanaan upacara yadnya pada zaman Brahmana selalu dibarengi dengan perkataan mantra-mantra Weda yang rapalkan oleh pendeta catur (sruti). Pendeta yang mengucapkan reg Weda dinamakan Hotr, untuk sama Weda dinamakan Udgatr, untuk yajur Weda dinamakan Adwaryu, dan untuk atarwa Weda dinamakan Brahman.

Golongan Masyarakat Hindu

sejarah agama hindu
Photo by slideshare.net

Pada zaman ini juga terjadi pembagian tingkatan masyarakat dalam agama Hindu sesuai dengan profesinya. Pembagian ini terbagi dalam empat warna atau golongan. Keempat warna atau golongan ini dinamakan sebagai catur warna, yaitu:

  • Golongan Brahmana

Golongan Brahmana ini terdiri dari kaum Brahmana, orang suci, pemuka agama, dan rohaniwan.

  • Golongan Ksatria

Golongan Ksatria ini terdiri dari orang-orang yang memegang tampuk pemerintahan, seperti raja, adipati, patih, menteri, dan pejabat negara.

  • Golongan Wesya

Golongan Wesya ini terdiri dari orang-orang yang memiliki keahlian dalam berdagang.

  • Golongan Sudra

Golongan Sudra ini terdiri dari orang-orang yang menolong ketiga golongan diatasnya.

Selain empat golongan diatas, terdapat pula golongan dalam agama Hindu yang disebut sebagai golongan Paria, yaitu golongan yang terdiri dari gelandangan dan orang-orang buangan.

Dari pembagian golongan ini, agama Hindu merupakan perpaduan antara keyakinan agama yang suci dan kelas sosial yang mempunyai hukum moral. Pembagian golongan ini pada dasarnya merupakan hanyalah untuk menjaga kemurnian ras bangsa Arya agar tidak tercampur dengan ras bangsa Dravida.

Selama zaman Brahmana, perkembangan agama Hindu meluas sampai ke India Tengah, yaitu di dataran tinggi Dekan dan lembah Yamuna. Di tempat inilah ditulis peraturan-peraturan yang berisi tentang tuntunan dalam kehidupan (tata susila). Peraturan dna tuntunan ini ditulis berdasarkaan kitab Weda sruti, sehingga tidak diragukan lagi akan kebenarannya.

Pada masa zaman Brahmana, kegiatan dalam keagamaan ditekankan pada pembuatan sesaji. Oleh karena itu, pada periode zaman ini disebut sebagai zaman Brahmana.

Perkembangan Agama Hindu pada Zaman Upanisad

Perkembangan agama Hindu pada zaman Upanisad ini bersumber pada ajaran dalam kitab Upanisad yang dijalskan secara filosofis dan tergolong sruti. Konsep keyakinan terhadap panca srsdha dijadikan sebagai titik tolak pembahasan oleh para Sri dan arif bijaksana.

Zaman Upanisad ini sudah berlangsung dari tahun 800 SM. Agama Hindu yang berkembang di dataran tinggi Dekan dan lembah Sungai Yamuna terus meluas hingga ke lembah Sungai Gangga. Pemukiman di lembah Sungai Gangga dihuni oleh penduduk yang bermata pencaharian beraneka ragam, akan tetapi mayoritas berprofesi sebagai pedagang.

Dengan pola pikir kehidupan perekonomian penduduk di lembah Sungai Gangga yang seperti ini, menjadikan mereka tidak menginginkan praktek kehidupan beragama dengan upacara secara berlebihan.

Kata Upanisad berasal dari akar kata bahasa Sansekerta, Upa yang bermakna dekat, Niberarti yang bermakna guru atau pemimpin, dan Sad yang bermakna duduk. Jika digabungkan, maka kata Upanisad memiliki arti duduk dekat dengan guru untuk mendengarkan ajaran-ajaran suci kerohanian. Upanisad mengajarkan bagaimana cara untuk mengatasi kegelapan dalam jiwa hingga menemukan kesadaran dan kebahagiaan (sat cit ananda).

Penerapan ajaran filsafat dalam agama Hindu dimulai sejak zaman Upanisad. Pandangan yang menonjol pada zaman ini bersifat monistis dan absoluteisme, yaitu ajaran yang mengajarkan bahwasannya segala sesuatu yang bermacam-macam ini berasal dari satu asal yang disebut “brahman”.

Ajaran Upanisad dapat disebut juga sebagai Rhasiopadesa atau Aranyaka yang berarti adalah ajaran rahasia yang ditulis di hutan. Karena ajaran ini disampaikan kepada murid-muridnya secara rahasia yang setia dan putih secara terbatas di hutan. Ajaran pokok Upanisad adalah hakekat Panca Sradha Tattwa.

kitab weda
Photo by new.babadbali.com

Jumlah semua Upanisad terdapat 108 buah, dan setiap Weda Samhita mempunyai Upanisad sendiri, yaitu:

  • Reg Weda, memiliki Reg Weda memiliki Aiteria Upanisad dan Kausitaki Upanisad.
  • Sama Weda, memiliki Candogya Upanisad, Kena Upanisad, dan Matreyi Upanisad.
  • Yajur Weda, memiliki Taittiriya Upanisad, Suetaspatara Upanisad, Ksurika Upanisad, Brhadakanyaka Upanisad, dan Jabala Upanisad.
  • Atharwa Weda, memiliki Prasna Upanisad, Mandukya Upanisad, Atharwasira Upanisad.

Pada zaman Upanisad, aliran filsafat berkembang menjadi sembilan aliran yang terbagi dalam dua kelompok besar, yaitu:

  • Kelompok Astika

Kelompok Astika merupakan kelompok filsafat yang sepenuhnya mengikuti kebenaran Weda sebagai sumber ajaran untuk percaya kepada Ida Sang Hyang Widhi. Yang masuk dalam kelompok ini adalah Wedanta, Mimamsa, Nyaya, Samkhya, Waisesika, dan Yoga.

  • Kelompok Nastika

Kelompok Nastika merupakan kelompok filsafat yang tidak mengikuti kebenaran Weda sebagai sumber ajaran yang percaya kepada Ida Sang Hyang Widhi. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah Carwakas, Buddha, dan Jaina.

Sejarah Agama Hindu di India

dewa siwa
Photo by hinduismedila.blogspot.com

Perkembangan agama Hindu di India dapat dibagi menjadi 4 fase, yaitu Zaman Weda, Zaman Brahmana, Zaman Upanisad, dan Zaman Buddha. Menurut peninggalan benda-benda purbakala di Mohenjodaro dan Harappa, menunjukkan bahwasannya bangsa yang tinggal di India pada zaman dulu telah mempunyai peradaban yang tinggi.

Salah satu peninggalan yang menarik di India adalah sebuah patung yang menunjukka perwujudan dari Dewa Siwa. Peninggalan patung ini berkaitan erat dengan ajaran Weda, karena pada zaman ini mulai dikenal penyembahan terhadap dewa-dewa.

Zaman Weda di India dimulai sejak Bangsa Arya berada di Punjab, Lembah Sungai Shindu mendesak Bangsa Dravida ke sebelah selatan sampai dataran tinggi Dekkan sejak 2500 s.d 1500 SM. Bangsa Arya telah memiliki  peradaban yang tinggi. Bangsa ini telah menyembah dewa-dewa, seperti Dewa Agni, Dewa Varuna, Dewa Vayu, Dewa Indra, Dewa Siwa, dan sebagainya.

Meskipn dewa tersebut banyak, akan tetapi semuanya adalah bentuk manifesti dan perwujudan Tuhan Yang Maha Tunggal. Tuhan Yang Tunggal dan Maha Kuasa yang mengatur alam semesta ini disebut “Rta”. Zaman sekarang, masyarakat agama Hindu dibagi atas kaum Brahmana, kaum Ksatria, kaum Waisya, dan kaum Sudra.

Pada zaman Upanisad, yang diutamakan bukanlah hanya sebatas upacara dan sesajen saja, akan tetapi juga peingkatan terhadap pengetahuan bathin yang lebih tinggi dan dapat membuka tabir alam ghaib. Zaman ini merupakan zaman pengembangan dan penyususnan falsafah agama, yaitu zaman orang yang bersifat atas dasar Weda.

Sebagai zaman pengembangan filsafat, zaman Upanisad mulai bermunculan ajaran filsafat yang tinggi-tinggi, yang juga dikembangkan dalam ajaran Darsana, Itihasa, dan Purana. Kemudian, pada zaman Purana pemujaan terhadap Tuhan sebagai Tri Murti menjadi umum.

Dewa Trimurti Agama Hindu

arca tri murti
Photo by nyontek.net

Dewa utama disebut sebgai Trimurti. Trimurti merupakan kesatuan tiga dewa yang terdiri dari,

  1. Dewa Brahmana sebagai Dewa Pencipta
  2. Dewa Wisnu sebagai Dewa Pemelihara
  3. Dewa Siwa sebagai Dewa Perusak

Dalam praktik pemujaannya, dewa-dewa ini dibentuk dalam perwujudan patung. Patung merupakan salah satu unsur penting dalam agama Hindu.

Selanjutnya, Zaman Buddah dimulai ketika putra Raja Sudhodana yang bernama “Sidharta” menafsirkan Weda dari sudut pandang logika dan mengembangkan sistem yoga dan semedi. Pengembangan sistem yoga dan semedi ini ditujukan sebagai jalan untuk menghubungkan diri dengan Tuhan.

Sumber Ajaran Agama Hindu

Sumber ajaran dan pedoman hidup agama Hindu adalah Kitab Suci Weda. Kitab Suci Weda terdiri atas empat bagian, yaitu:

  1. Reg Weda, yang berisi tentang puji-pujian terhadap para dewa.
  2. Sama Weda, yang berisi tentang nyanyian suci.
  3. Yajur Weda, yang berisi tentang mantra-mantra.
  4. Atharwa Weda, yang berisis tentang doa-doa dan pengobatan.

Tempat Suci dan Hari Raya umat Hindu

Agama Hindu juga mempunyai tempat yang dianggap suci serta mempunyai hari raya umat Hindu, antara lain adalah:

  1. Kota Beneras, adalah kota yang dianggap sebagai tempat bersemayamnya Dewa Siwa.
  2. Sungai Gangga, adalah sebuah seungai yang dianggap keramat dan suci. Air Sungai Gangga dianggap dapat mensucikan abu jenazah yang dibuang ke sungai tersebut.
  3. Hari Raya Umat Hindu, diantaranya adalah Galungan, Kuningan, Saraswati, Pagerwesi, Nyepi, dan Siwaratri.

Agama Hindu dari India Selatan ini terus menyebar sampai keluar India dengan berbagai cara. Dari sekian cara penyebarannya, ajaran ini akhirnya masuk ke Nusantara.

Sejarah Agama Hindu di Indonesia

sejarah agama hindu
Photo by widipradanabali.blogspot.com

Agama Hindu diperkirakan mulai berkembang di lembah Sungai Shindu di India. Di lembah sungai inilah, Rsi menerima wahyu dari Sang Hyang Widhi dan diabadikan dalam Kitab Suci Weda. Dimulai dari lembah Sungai Shindu inilah, agama Hindu berkembang dan tersebar ke berbagai pelosok penjuru dunia, seperti India Belakang, Asia tengah, Tiongkok, Jepang, hingga sampai ke Indonesia.

Teori Masuknya Agama Hindu ke Indonesia

Terdapat beberapa teori yang menyatakan masuknya agama Hindu ke Indonesia, yaitu:

  • Krom

Krom merupakan seorang ahli dari Belanda. Ia mengungkapkan dengan teori Waisya dalam bukunya yang berjudul “Hindu Javanesche Geschiedenis”. Dalam buku tersebut, ia mengungkapkan bahwasannya masuknya agama Hindu ke Indonesia dilakukan melalui jalan dagang yang dilakukan oleh golongan pedagang dari India.

  • Mookerjee

Mookerjee merupakan seorang ahli dari India tahun 1912 M. Ia menyatakan bahwasannya teori masuknya pengaruh Hindu ke Indonesia dibawa oleh para pedagang dari India dengan armada yang besar. Setelah rombongan ini sampai di Pulau Jawa, mereka mendirikan koloni dan membangun kota-kota sebagai tempat untuk perkembangan usahanya.

Dari tempat inilah, para pedagang India mulai melakukan interaksi langsung dengan penduduk setempat. Interaksi yang berlangsung sangat lama ini, terjadilah penyebaran dan pengaruh agama Hindu di Indonesia.

  • Moens dan Bosch

Moens dan Bosch merupakan seorang ahli dari Belanda. Ia menyatakan bahwa peranan kaum Ksatria dari India sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan dan pengaruh agama Hindu di Indonesia. Selain itu, pengaruh dari kaum Brahmana Hindu dari India juga berpengaruh besar terhadap agama Hindu di Indonesia.

Agama Hindu di Indonesia

sejarah agama hindu
Photo by Patricia van den Berg

Agama Hindu masuk ke Indonesia terjadi pada awal tahun masehi. Hal ini dapat diketahui dengan adanya bukti tertulis berupa benda-benda purbakala berangka tahun 4 abad M dengan ditemukannya tujuh prasasti Yupa peninggalan Kerajaan Kutai, Kalimantan Timur.

Masuknya pengaruh agama Hindu ke Indonesia berdampak besar, diantaranya adalah berakhirnya zaman prasejarah di Indonesia, perubahan religi kuno ke dalam kehidupan religi yang hanya menyembah Tuhan Yang Maha Esa, dan munculnya kerajaan yang mengatur kehidupan suatu daerah.

prasasti Yupa
Photo by id.wikipedia.org

Agama Hindu berkembang di Jawa Barat diperkirakan pada abad ke-5 M dengan ditemukannya tujuh buah prasasti. Ketujuh buah prasasti ini adalah Prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebonkopi, Prasasti Jambu, Prasasti Pasir Awi, Prasasti Muara Cinaten, Prasasti Lebak, dan Prasasti Tugu. Ketujuh prassti ini menggunakan bahasa sansekerta dan huruf pallawa.

Agama Hindu juga berkembang di Jawa Tengah. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya Prasasti Tukmas yang diduga berasal dari tahun 650 M di lereng Gunung Merbabu. Prasasti Tukmas menggunakan bahasa sansekerta dan huruf pallawa, dan memiliki tipe prasasti yang lebih muda dari prasasti Purnawarman. Prasasti ini menggunakan atribut Dewa Tri Murti.

Agama Hindu juga berkembang di Jawa Timur yang dibuktikan dengan ditemukannya Prasasti Dinaya (Dinoyo) di dekat kota Malang. Prasasti ini menggunakan bahasa sansekerta dan huruf Jawa Kuno. Isinya mengenai pelaksanaan upacara besar yang dilaksanakan oleh Raja Dea Simha pada tahun 760 M. Dea Simha merupakan seorang salah satu raja dari Kerajaan Kanjuruan.

Selanjutnya, agama Hindu juga berkembang di Bali. Agama ini diperkirakan berkembang di Bali pada abad ke-8 M. Hal ini dibuktikan dengan adanya prasasti-prasasti, Arca Siwa, dan Pura Putra Bhatara Desa Bedahulu, Gianyar. Arca yang ditemukan setipe dengan Arca Siwa yang ditemukan di Dieng berasal dari abad ke-8 M.

Demikianlah sedikit ulasan mengenai sejarah Agama Hindu di India maupun di Indonesia. Semoga dengan mempelajari dan membaca ulasan materi ini, dapat menambah wawasan kita tentang agama Hindu. Aamiin.

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!