17+ Prasasti Peninggalan Kerajaan Majapahit

Prasasti Peninggalan Kerajaan Majapahit – Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan hindu terbesar di Nusantara. Masa kejayaan Kerajaan Majapahit terjadi ketika pemerintahan Raja Hayam Wuruk yang dibantu patih setianya, Patih Gajah Mada. Kerajaan ini berdiri dari tahun 1293 M – 1527 M yang berpusat di Provinsi Jawa Timur. Silsilah raja Kerajaan Majapahit merupakan bagian dari raja Kerajaan Singhasari, Raja Kertanegara.

Kerajaan ini mulai melemah dan runtuh sekitar tahun 1500 M karena beberapa kejadian yang menjadi penyebab runtuhnya kerajaan Majapahit. Salah satu awal penyebab runtuhnya adalah Perang Saudara atau Perang Paregreg yang terjadi setelah meninggalnya Raja Hayam Wuruk.

Sebagai kerajaan hindu terluas dan terbesar, sudah tentu Kerajaan Majapahit meninggalkan jejak-jejak peninggalannya yang masih dapat kita nikmati sekarang ini. Dan diantara peninggalan Kerajaan Majapahit dapat berupa arca, kitab-kitab sastra, prasasti, hingga candi peninggalan Kerajaan Majapahit.

Kali ini saya akan memaparkan sedikit penjelasan mengenai prasasti yang ditinggalkan oleh Kerajaan Majapahit yang dapat ditemukan. Prasasti adalah peninggalan sejarah zaman kerajaan yang terbuat dari bahan yang tahan lama dan awet, ditulis dalam bahasa kuno (misal: Sansekerta), baik itu dalam bentuk maklumat, piagam undang-undang, dan surat keputusan.

Prasasti Peninggalan Kerajaan Majapahit

peninggalan majapahit
Photo by sejarahmajapahitlengkap.blogspot.com

Sebagai salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia, Kerajaan Majapahit tentu memiliki prasasti peninggalan yang mengabadikan moment-moment penting kerajaan. Berikut beberapa prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit.

Prasasti Peninggalan Kerajaan Majapahit
  1. Prasasti Alasantan
  2. Prasasti Kamban
  3. Prasasti Hara-Hara
  4. Prasasti Maribong
  5. Prasasti Wurare
  6. Prasasti Kudadu
  7. Prasasti Sukamerta
  8. Prasasti Butulan
  9. Prasasti Balawi
  10. Prasasti Prapancasapura
  11. Prasasti Parung
  12. Prasasti Canggu
  13. Prasasti Biluluk I
  14. Prasasti Karang Bogem
  15. Prasasti Katiden
  16. Prasasti Biluluk II
  17. Prasasti Biluluk III
  18. Prasasti Lumpang
  19. Prasasti Waringin Pitu
  20. Prasasti Jiwu
  21. Prasasti Marahi Manuk
  • Prasasti Alasantan (939 M)

Prasasti pertama yang akan kami bahas adalah prasasti Alasantan. Prasasti ini ditemukan di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Prasasti ini merupakan prasasti tertua yang ditemukan.

Prasasti Alasantan bercerita bahwa pada tanggal 06 September tahun 939 M, Sri Maharaja Rakai Halu Dyah Sindok Sri Isanawikrama memerintahkan agar tanah yang berada di kawasan Alasantan dijadikan tanah Sima milik Rakaryan Kabayan.

  • Prasasti Kamban (941 M)

Prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit selanjutnya adalah Prasasti Kamban. Prasasti ini ditemukan tertulis menggunakan bahasa Kawi.

Prasasti Kamban bercerita mengenai peresmian Desa Kamban menjadi daerah perdikan oleh Sri Maharaja Rake Hino Sri Isanawikrama Dyah Matanggadewa pada bulan Maret tahun 941 M.

  • Prasasti Hara-Hara (966 M)

Prasasti Hara-Hara merupakan salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit. Prasasti ini juga dikenal sebagai Prasasti Trowulan VI. Prasasti ini bertuliskan tanggal 12 Agustus tahun 966 M yang dikeluarkan oleh Wisnuwardhana (Suami Jayawardhana). Prasasti ini ditemukan di daerah Wurara.

Isi dari Prasasti Hara-Hara menceritakan mengenai penyerahan tanah milik Mpu Mano. Tanah ini merupakan hak miliknya secara turun temurun dan diserahkan kepada Mpungku Susuk Pager dan Mpungku Nairanjana. Tanah ini diserahkan digunakan sebagai biaya untuk tempat ibadah.

  • Prasasti Maribong (1264 M)

Prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit selanjutnya adalah Prasasti Maribong. Prasasti ini juga dinamakan sebagai Prasasti Trowulan II. Prasasti ini bercerita mengenai raja Wisnuwardhana yang memberikan hak perdikan pada Desa Maribong pada tanggal 28 Agustus tahun 1264 M.

  • Prasasti Wurare (1289 M)

prasasti wurare
Photo by rapikan.com

Prasasti Wurare adalah salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit yang ditemukan daerah Wurare, yaitu di Kandang Gajak, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Prasasti ini bertanggalkan 21 September tahun 1289 M.

Tokoh kisah dari Prasasti Wurare adalah Raja Sri Jnamasiwabajra, raja ini mempunyai gelar Kertanegara setelah ditahbiskan sebagai Jina (Dhyani Buddha). Isi dari prasasti ini mengisahkan tentang seorang raja yang berhasil menyatukan dua daerah, yaitu antara daerah Janggala dan Panjalu, sebelum menancapkan Arca Mahaksobhya di Wurare.

  • Prasasti Kudadu (1294)

prasasti peninggalan majapahit
Photo by kelasips.co.id

Parasasti Kudadu merupakan salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit yang ditemukan di lereng Gunung Butak, wilayah perbatasan antara Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang. Prasasti ini ditulis menggunakan Aksara kawi Majapahit per-tanggal 11 September tahun 1294 M. Prasasti ini juga dikenal sebagai Prasasti Gunung Butak, sesuai dengan nama lokasi penemuannya.

Prasasti ini menceritakan tentang pengalaman Raden Wijaya sebelum menjadi Raja Majapahit. Lebih tepatnya, prasasti ini menceritakan tentang pertolongan yang didapatkan oleh Raden Wijaya dari Rama Kudadu, ketika ia lari dari kejaran Jayakatwang. Setelah Raden Wijaya berhasil menjadi Raja Majapahit, ia memberikan hadiah kepada penduduk desa dan Kepala Desa Kudadu berupa tanah sima.

  • Prasasti Sukamerta (1296 M)

prasasti peninggalan majapahitt
Photo by rapikan.com

Prasasti peninggalan Kerajaan majapahit selanjutnya adalah Prasasti Sukamerta. Prasasti Sukamerta juga dinamakan sebagai Prasasti Raden Wijaya. Prasasti ini ditemukan di Gunung Penanggungan, Jawa Timur. Prasasti ini merupakan prasasti kedua yang dikeluarkan oleh Raden Wijaya selama ia menjadi raja dengan penetapan tahun 1218 C/1296 M.

Prasasti Sukamerta menceritakan tentang Raden Wijaya yang mempersunting empat anak gadis dari Raja Kertanegara untuk dijadikan istri. Keempat gadis ini adalah Sri Paduka Parameswari Dyah Sri Tribhuwaneswari, Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita, Jayendradewi Dyah Dewi Prajnaparamita, dan Rajapadni Dyah Dewi Gayatri.

Selain menceritakan pernihakan dengan keempat gadis Kertanegara, Prasasti Sukamerta juga menceritakan tentang anaknya, Jayanegara, yang berhasil menjadi raja di Daha saat usianya masih terbilang muda.

  • Prasasti Butulan (1298 M)

Prasasti Butulan merupakan prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit yang ditemukan di kawasan Pegunungan Kapur Utara, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

  • Prasasti Balawi (1305 M)

Prasasti Balawi merupakan salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit yang ditemukan di Desa Balawi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

  • Prasasti Prapancasapura (1320 M)

prasasti peninggalan majapahit
Photo by kelasips.co.id

Prasasti Prapancasapura merupakan prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit yang ditemukan di daerah Jinawa. Prasasti ini bertuliskan angka 1320-an M dan dikeluarkan oleh Tribhuwanatunggadewi. Prasasti ini menceritakan tentang Hayam Wuruk sebelum diangkat menjadi raja, ia pernah dinobatkan sebagai Kummaraja Jiwana.

Setelah menjadi raja dari Kerajaan Majapahit, putri dari Raja Hayam Wuruk yang bernama Kusumawardani pernah juga dinobatkan sebagai Raja Kumari yang berkedudukan di Kabalan.

  • Prasasti Parung (1350 M)

Prasasti Parung menceritakan tentang para pejabat kehakiman yang mana seharusnya memiliki pertimbangan sebelum memutuskan suatu perkara masalah di pengadilan.

Prasasti Parung merupakan prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit yang ditemukan di wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Prasasti ini berangka tahun 1350 M.

Prasasti Parung menceritakan tentang para pejabat kehakiman yang mana seharusnya memiliki pertimbangan sebelum memutuskan suatu perkara masalah di pengadilan. Pejabat kehakiman juga harus mempelajari kitab-kitab sastra dari India, peraturan daerah, hukum adat, pendapat para sesepuh, kitab-kitab hukum yang mana selalu dilakukan oleh para pejabat hakim dari sejak dahulu.

  • Prasasti Canggu (1358 M)

prasasti peninggalan majapahit
Photo by kelasips.co.id
Prasasti Canggu menceritakan tentang peraturan yang menjadi lokasi penyeberangan di sekitar Sungai Bengawan Solo dan Sungai Brantas.

Prasasti Canggu merupakan prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit yang juga disebut sebagai Prasasti Trowulan I. Prasasti ini dikeluarkan oleh Raja Hayam Wuruk. Pada saat pertama kali prasasti ini ditemukan, jumlahnya terdiri dari 5 keping tembaga, namun sekarang hanya tersisa satu. Tahun yang tertulis di prasasti ini adalah tahun 1358 M.

Isi dari Prasasti Canggu menceritakan tentang peraturan yang menjadi lokasi penyeberangan di sekitar Sungai Bengawan Solo dan Sungai Brantas, yang saat ini menjadi lokasi penyeberangan orang-orang, ternak, alat bawa, dan lain sebagainya.

  • Prasasti Biluluk I (1366 M)

Prasasti Biluluk memiliki tiga jenis, yaitu Biluluk I (1366 M), Biluluk II (1393 M), dan Biluluk III (1395 M).

Prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit yang selanjutnya adalah Prasasti Biluluk. Prasasti ini memiliki tiga jenis, yaitu Biluluk I (1366 M), Biluluk II (1393 M), dan Biluluk III (1395 M) yang mana semuanya memiliki keluaran angka tahun yang berbeda. Seperti dengan namanya, prasasti ini ditemukan di Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Isi dari Prasasti Biluluk I hingga Prasasti Biluluk III adalah sama, yakni berisi mengenai hak-hak dan wewenang yang diberikan kepada Desa Bluluk dan Tanggulan. Selain itu, prarasti ini juga bercerita mengenai pembuatan dan produksi garam di daerah pesisir dan sumber air asin. Juga dijelaskan didalamnya mengenai sistem perpajakannya, sehingga perlu peraturan dan norma yang ketat.

  • Prasasti Karang Bogem (1387 M)

prasasti karang bogem
Photo by kelasips.co.id
Prasasti Karang Bogem menceritakan mengenai pembukaan atau peresmian wilayah perikanan yang ada di Desa Karang Bogem.

Prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit selanjutnya adalah Prasasti Karang Bogem. Prasasti ini ditemukan di Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Prasasti ini dikeluarkan berangka tahun 1387 M dan merupakan prasasti logam yang hanya berjumlah satu keping. Prasasti ini dikeluarkan dua tahun sebelum Raja Hayam Wuruk wafat.

Nama tokoh yang mengeluarkan Prasasti Karang Bogem adalah Batara Parameswara Pamotan Wijayarajasa Dyah Kudamerta. Ia merupakan raja dari wilayah Kedaton Wetan yang wafat pada tahun 1388 M.

Isi dari Prasasti Karang Bogem menceritakan mengenai pembukaan atau peresmian wilayah perikanan yang ada di Desa Karang Bogem. Dalam isi prasasti terdapat kata Gresik, yang mana merupakan lokasi penemuan Prasasti Karang Bogem. Kini, Karang Bogem masuk dalam wilayah Kecamatan Bungah.

  • Prasasti Katiden (1392 M)

prasasti katiden
Photo by rapikan.com
Prasasti Katiden menceritakan tentang pembebeasan penduduk dari 11 desa yang ada di Katiden.

Prasasti Katiden merupakan prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit yang ditemukan di wilayah Kabupaten Malang. Prasasti ini dikeluarkan ketika Wikramawardhana memimpin Kerajaan Majapahit yang berangka tahun 1392 M.

Prasasti ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu Katiden I dan Katiden II dan dikeluarkan pada angka tahun yang berbeda. Akan tetapi, isi dan makna yang terkandung dalam kedua prasasti ini kurang lebih sama.

Isi dari Prasasti Katiden menceritakan tentang pembebeasan penduduk dari 11 desa yang ada di Katiden. Pembebasannya pun bukan karena tanpa alasan, yakni mereka diberi tugas penting untuk menjaga dan memelihara hutan alang-alang yang ada di daerah Gunung Lejar.

  • Prasasti Biluluk II (1393 M)

Prasasti Biluluk II merupakan prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit yang ditemukaan di Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Isi mengenai prasasti ini sama dengan isi dengan Prasasti Biluluk I dan Biluluk III.

  • Prasasti Biluluk III (1395 M)

Prasasti Biluluk III merupakan salah satu prarasti peninggalan Kerajaan Majapahit yang juga ditemukan di Kecamatan Biluluk, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Isi dari Prasasti Biluluk III sama dengan isi dari Prasasti Biluluk I dan Biluluk II.

  • Prasati Lumpang (1395 M)

Prasasti Lumpang juga dinamakan sebagai Prasasti Katiden II karena memiliki isi yang sama dengan Prasasti Katiden I meskipun dikeluarkan di tahun yang berbeda.

Prasasti Lumpang merupakan salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit yang juga bernama Prasasti Katiden II. Prasasti ini ditemukan di daerah Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Isi dan makna dari Prasasti Lumpang sama dengan Prasasti Katiden, oleh karena itu kenapa Prasasti ini juga dinamakan Prasasti katiden II walaupun angka keluarnya tidak bersamaan.

  • Prasasti Waringin Pitu (1447 M)

Prasasti Waringin Pitu menceritakan tentang tatanan penguasa dan pemerintahan Kerajaan Majapahit yang terbagi dalam 14 keraton dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Prasasti Waringin Pitu merupakan prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit yang ditemukan di wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Prasasti ini bertuliskan angka tahun 1447 M. Prasasti ini menyebutkan bahwasannya 14 keraton bawahan Kerajaan Majapahit dan seluruh anggota wangsa Girindra disebut dengan gelar “Bhre” pada masa itu.

Isi dari Prasasti Waringin Pitu menceritakan tentang tatanan penguasa dan pemerintahan Kerajaan majapahit. 14 keraton bawahan Kerajaan Majapahit adalah Bhre Daha, Bhre Kahuripan, Bhre Pajang, Bhre Wengker, Bhre Wirabumi, Bhre Matahun, Bhre Tumapel, Bhre Jagaraga, Bhre Tanjungpura, Bhre Kembeng Jenar, Bhre Kabalan, Bhre Singhapura, Bhre Keling, dan Bhre Kelinggapura.

  • Prasasti Jiwu (1486 M)

Prasasti Jiwu menceritakan tentang pengukuhan pemberian tanah-tanah di Trailokyapuri kepada Sri Brahmana Ganggadara.

Prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit selanjutnya adalah Prasasti Jiwu. Prasasti ini memiliki angka tahun 1416 Saka atau tahun 1486 M yang dikeluarkan oleh Trailokyapuri.

Isi dari Prasasti Jiwu menceritakan tentang pengukuhan pemberian tanah-tanah di Trailokyapuri kepada Sri Brahmana Ganggadara, seorang brahmana yang telah berjasa di masa perang. Dimana pada masa perang ini, Ranawijaya berhasil merebut kembali Kerajaan Majapahit dari Bhre Kertabumi yang akhirnya gugur di Kedaton.

  • Prasasti Marahi Manuk

Prasasti Marahi Manuk menceritakan tentang sengketa tanah yang terjadi pada waktu itu.

Prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit selanjutnya adalah Prasasti Marahi Manuk. Prasasti ini ditemukan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Prasasti ini berisi mengenai sengketa tanah yang terjadi pada kala itu.

Konon, pada saat itu terjadi sengketa tanah antar pihak yang mana akhirnya menemukan jalan keluar dan diputuskan oleh hakim –pejabat kala itu. Hakim pejabat yang memutuskan persengketaan tanah ini tentu telah mengerti kitab-kitab dan hukum adat setempat.

Demikianlah sedikit penjelasan mengenai prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit yang berhasil ditemukan. Prasasti Kerajaan Majapahit hingga saat ini masih terus dicari dan digali melalui petunjuk peninggalan prasasti yang telah ditemukan sebelumnya.

Semoga dengan kita membaca dan kembali mengulik sejarah Kerajaan Majapahit melalui prasasti yang ditinggalkannya, dapat menambah wawasan kita mengenai Kerajaan Majapahit dan jejak-jejak peninggalan yang terjadi pada masa itu. Aamiin.

Alhamdulillah

Semoga Bermanfaat!

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!