13+ Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya – Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan maritim yang pernah berjaya di Nusantara. Pusat dari kerajaan ini terletak di wilayah Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan. Kerajaan ini berdiri sekitar tahun 683 M sampai dengan tahun 1025 M. Wilayah yang berhasil dikuasainya meliputi Sumatera, Jawa, Thailand, Kamboja, dan Semenanjung Malaya.

Pendiri Kerajaan Sriwijaya adalah Raja Dapunta Hyang Sri Jayanasa dan mengalami masa kejayaannya pada masa pemerintahan Raja Balaputradewa, yaitu pada sekitar abad ke-9 M sampai dengan abad ke-10 M. Saat itu, kerajaan ini berhasil menguasai jalur perdagangan yang strategis, yaitu Selat Sunda dan Selat Malaka. Kerajaan Sriwijaya juga dijuluki sebagai kerajaan maritim di Nusantara karena memiliki armada laut yang kuat dan tangguh.

Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Sebagai kerajaan yang besar, tentu saja Kerajaan Sriwijaya memiliki peninggalan-peninggalan yang tersebar di wilayah kekuasaan mereka. Diantara peninggalannya dapat berupa candi Kerajaan Sriwijaya dan prasasti-parasastinya. Berikut beberapa prasasti yang ditinggalkan oleh Kerajaan Sriwijaya.

Prasasti Kerajaan Sriwijaya di Nusantara

Prasasti Kerajaan Sriwijaya di Nusantara
  1. Prasasti Kota Kapur
  2. Prasasti Kedukan Bukit
  3. Prasasti Telaga Bukit
  4. Prasasti Talang Tuwo
  5. Prasasti Palas Pasemah
  6. Prasasti Karang Berahi
  7. Prasasti Hujung Langit
  8. Prasasti Bukit Siguntang
  9. Prasasti Amoghapasha
  • Prasasti Kota Kapur

prasasti kota kapur
Photo by dictio.id

Prasasti Kota Kapur merupakan prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di bagian Barat Pulau Bangka pada bulan Desember tahun 1892 M. Parasasti ini ditulis menggunakan bahasa Melayu Kuno dan aksara Pallawa. Prasasti ini merupakan prasasti pertama peninggalan Kerajaan Sriwijaya.

Prasasti Kota Kapur memuat informasi bahwasannya Kerajaan Sriwijaya telah berkuasa atas sebagian wilayah Sumatera, Lampung, Pulau Bangka dan juga Pulau Belitung.

Prasasti ini berhasil ditemukan oleh J.K Van der Meulen. Isi dari prasasti ini menceritakan tentang kutukan kepada siapa saja yang membantah titah pemerintah dan kekuasaan Kerajaan Sriwijaya. Prasasti ini masih berada di Museum Belanda dengan status dipinjamkan oleh Museum Nasional Indonesia.

Dalam Prasasti Kota Kapur juga dijelaskan jika Dapunta Hyang Sri Jayanasa melakukan ekspedisi militer ke Pulau Jawa. Peristiwa ini hampir bersamaan dengan runtuhnya Kerajaan Tarumanegara dan Kerajaan Kalingga di Jawa yang kemungkinan terjadi sebagai akibat serangan dari Kerajaan Sriwijaya.

  • Prasasti Kedukan Bukit

prasasti peninggalan kerajaan sriwijaya
Photo by rumahulin.com

Prasasti Kedukan Bukit ditemukan oleh seorang yang bernama Batenburg di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir pada tanggal 29 November tahun 1920 M. Prasasti ini berukuran sekitar 45 x 80 cm dan ditulis menggunakan huruf Pallawa serta bahasa Melayu Kuno.

Prasasti Kedukan Bukit berisi tentang perjalanan suci atau sidhayarta oleh Dapunta Hyang dengan menggunakan perahu. Dalam perjalanannya, ia didampingi oleh 2000 pasukan berhasil menaklukkan daerah-daerah lain yang dilewatinya. Saat ini, prasasti ini disimpan di Museum Nasional Indonesia.

  • Prasasti Telaga Batu

prasasti telaga batu
Photo by situsbudaya.id

Prasasti Telaga Batu dtemukan pada tahun 1935 M di sekitar kolam Telaga Biru, Kelurahan 3 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang. Prasasti ini berisi tentang kutukan yang diberikan kepada siapa saja yang melakukan kejahatan di Kerajaan Sriwijaya dan tidak taat pada perintah datu. Prasasti ini juga disimpan di Museum Nasional Indonesia.

Prasasti Telaga Batu dipahat di sebuah batu andesit. Ukuran dari prasasti ini cukup besar, tingginya mencapai 118 cm, dan memiliki lebar 148 cm. Pada bagian atas prasasti, terdapat hiasan 7 ekor kepala ular kobra, sedangkan pada bagian bawah tengahnya terdapat bentuk seperti pancuran atau cerat yang biasa digunakan untuk mengalirkan air.

Prasasti Telaga Batu ditulis menggunakan bahasa Melayu Kuno dan menggunakan huruf Pallawa. Jumlah beris yang terdapat dalam prasasti ini sangat banyak, yaitu berjumlah 28 baris. Dari empat prasasti kutukan yang ada, Prasasti Telaga Batu merupakan prasasti yang paling lengkap karena memuat nama-nama pejabat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya.

  • Prasasti Talang Tuwo

prasasti talang tuwo
Photo by beritamusi.co.id

Prasasti Talang Tuwo ditemukan oleh Louis Constant Westenenk, seorang residen Palembang, di kaki Bukit Seguntang tepi bagian utara Sungai Musi pada tanggal 17 November tahun 1920 M. Prasasti ini berisi tentang

Prasasti Talang Tuwo ditulis menggunakan bahasa Melayu Kuno dan dengan huruf Pallawa. Prasasti ini ditemukan dalam keadaan masih baik yang ditulis pada bidang datar berukuran 50 cm x 80 cm yang berangka tahun 606 Saka atau sekitar tahun 684 M. Setelah ditemukan, Prasasti ini disimpan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.

Prasasti Talang Tuwo terdiri 14 baris kalimat berisi tentang doa dedikasi yang menceritakan aliran Buddha yang dipakai Kerajaan Sriwijaya kala itu merupakan aliran Buddha Mahayana. Hal ini dibuktikan dengan pemakaian kata khas aliran Buddha Mahayana seperti Vajrasarira, Bodhicitta, Mahasattva, dan annuttarabhisamyaksamvodhi.

Dalam Prasasti Talang Tuwo juga menceritakan tentang pembangunan sebuah taman oleh Raja Dapunta Hyang Sri Jayanasa yang dibuat untuk kesejahteraan rakyat pada abad ke-7. Raja Sri Jayanasa juga menulis niat untuk membuat taman ini adalah untuk kebaikan seluruh makhluk. Taman yang dibuat ini dinamakan Taman Srikestra.

  • Prasasti Palas Pasemah

prasasti peninggalan kerajaan sriwijaya
Photo by sumbersejarah1.blogspot.com

Prasasti Palas Pasemah ditemukan di pinggir rawa Desa Palas Pasemah, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Prasasti ini ditulis menggunakan bahasa Melayu Kuno dan menggunakan aksara Pallawa.

Isi dari Prasasti Palas Pasemah memuat 13 baris tulisan. Akan tetapi, dalam prasasti ini tidak memuat informasi tentang angka tahun. Namun, berdasarkan penelitian terhadap bentuk aksaranya, prasasti ini kemungkinan dibuat pada akhir abad ke-7 M.

Isi dari Prasasti Palas Pasemah sama dengan isi dari Prasasti Kota Kapur, yaitu tentang kutukan kepada siapa saja yang tidak tunduk dan tidak patuh terhadap perintah dan kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.

  • Prasasti Karang Berahi

prasasti peninggalan kerajaan sriwijaya
Photo by situsbudaya.id

Prasasti Karang Berahi ditemukan pada tahun 1904 M oleh Kontrolir L.M Berkhout di tepian Batang Merangin, Dusun Batu Bersurat, Desa Karang Berahi, Kecamatan Pamenang, Merangin, Jambi. Isi dari Prasasti Karang Berahi juga menceritakan tentang kutukan kepada siapa saja yang melakukan kejahatan dan tidak setia kepada Raja Sriwijaya.

  • Prasasti Hujung Langit

prasasti hujung langit
Photo by baabun.com

Prasasti Hujung Langit merupakan salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di Desa Haur Kuning, Lampung. Prasasti ini juga ditulis menggunakan bahasa Melayu Kuno dan huruf Pallawa.

Susunan pesan dan informasi dalam Prasasti Hujung Langit tidak cukup jelas. Hal ini terjadi karena tingkat keausan dan kerusakan batu prasasti ini cukup tinggi. Akan tetapi, setelah diidentifikasi lebih lanjut, prasasti ini kemungkinan berasal dari tahun 997 M dan informasi didalamnya menjelaskan tentang pemberian tanah sima.

  • Prasasti Bukit Siguntang

prasasti bukit siguntang
Photo by syakyakirty.blogspot.com

Prasasti Bukit Siguntang merupakan prasasti yang ditemukan di kompleks pemakaman raja-raja Kerajaan Sriwijaya. Karena letak penemuannya, banyak benda sejarah lainnya yang ditemukan bersamaan dengan prasasti ini. Isi dari Prasasti Bukit Siguntang ini menceritakan tentang peperangan yang memakan banyak korban jiwa.

  • Prasasti Amoghapasha

prasasti amoghapasa
Photo by kerinciinspirasi.blogspot.com

Prasasti Amoghapasha merupakan salah satu prasasti peniggalan Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di wilayah Jambi. Diperkirakan, prasasti ini sudah ada sejak tahun 1286 M.

Isi dari Prasasti Amoghapasha menceritakan tentang sebuah penyerahan hadiah yang diberikan kepada Raja Kertanegara kepada Raja Suwarnabhumi yang bernama Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa.

Prasasti Kerajaan Sriwijaya di Luar Nusantara

Selain prasasti-prasaasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di Nusantara. Kerajaan Sriwijaya juga meninggalkan jejak sejarahnya lewat prasasti-prasasti yang ditemukan di luar Nusantara.

Prasasti Kerajaan Sriwijaya di Luar Nusantara
  1. Prasasti Ligor
  2. Prasasti Leiden
  3. Prasasti Nalanda
  4. Prasasti Kanton
  5. Prasasti Tanjore
  • Prasasti Ligor

prasasti peninggalan kerajaan sriwijaya
Photo by dictio.id

Seperti namanya, prasasti ini ditemukan di daerah Ligor yang sekarang bernama Nakhon Si Thammarat, Thailand Selatan. Prasasti ini terdiri dari pahatan yang ditulis pada sua sisi prasasti. Sisi pertama prasasti ini dinamakan Prasasti Ligor A atau juga dikenal dengan nama manuskrip Viang Sa. Sedangkan, sisi kedua dari prasasti ini dinamakan Prasasti Ligor. Prasasti ini berangka tahun 775 M dan beraksara Kawi.

Menurut para ahli, Prasasti Ligor B dibuat oleh raja dari wangsa Syailendra yang berisi tentang pemberian gelar Wisnu Sesawarimadawimathana menjadi Sri Maharaja. Ia juga mendapatkan julukan “Sesawarimadawimathana” yang berarti “Pembunuh musuh yang sombong sampai tak bersisa”.

Sedangkan, Prasasti Ligor A menceritakan tentang raja dari Kerajaan Sriwijaya yang mana merupakan raja dari semua raja di dunia yang mendirikan Trisamaya Caitya untuk Kajara.

  • Prasasti Leiden

prasasti leiden
Photo by anangpaser.wordpress.com

Prasasti Leiden merupakan salah satu prasasti Kerajaan Sriwijaya yang ditulis di sebuah lempeng tembaga. Prasasti ini ditulis menggunakan bahasa Sansekerta dan bahasa Tamil. Isi dari prasasti ini menceritakan tentang jalinan hubungan yang baik antara Kerajaan Chola dari Tamil dengan Kerajaan Sriwijaya. Saat ini, prasasti ini berada di Museum Belanda.

  • Prasasti Nalanda

prasasti nalanda
Photo by arkenas.kemdikbud.go.id

Prasasti Nalanda ditemukan pada tahun 1921 M di Benggala, India. Prasasti ini terdiri dari 42 baris pada bagian depannya dan 24 baris pada bagian belakangnya. Prasasti ini ditulis menggunakan huruf Devanagari awal, dan menggunakan bahasa Sansekerta.

Isi dari prasasti ini menceritakan tentang pembangunan sebuah biara oleh Raja Balaputradewa yang ditujukan sebagai tempat tinggal pelajar dan pendeta Sriwijaya saat mempelajari ilmu agama Buddha di India.

  • Prasasti Kanton

Prasasti Kanton ditemukan di Kanton, China dengan angka tahun 1079 M. Isi dari prasasti ini menceritakan tentang bantuan Raja Sriwijaya dalam perbaikan sebuah kuli agama Thao di Kanton.

  • Prasasti Tanjore

prasasti tanjore
Photo by verkedell.blogspot.com

Prasasti Tanjore ditemukan di India dan berangka tahun 1030 M. Prasasti ini dibuat oleh Raja Cola yang bernama Rajendracoladewa.

Pada prasasti Tanjore menceritakan bahwasannya pada tahun 1017 M pasukan Raja Cola  menyerang Kerajaan Swarnabhumi (Sumatera). Serangan ini pun diulang kembali pada tahun 1025 M,  rajanya yang bernama  Sanggramawijayatunggawarman berhasil ditawan oleh pasukan Cola, tetapi akhirnya Raja Sanggramawijaya dilepaskan.

Demikianlah sedikit ulasan mengenai prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang dapat kita nikmati hingga sekarang. Semoga materi kali ini dapat menambah wawasan kita terhadap ilmu sejarah. Aamiin.

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!