pertempuran lima hari di semarang

Sejarah Pertempuran 5 Hari di Semarang

Pertempuran Lima Hari di Semarang merupakan salah satu pertempuran yang terjadi setelah kemerdekaan Indonesia. Dalam Bahasa Jawa, pertempuran ini dinamakan Pertempuran Limang Dina. Sebagaimana Peristiwa Bandung Lautan Api dan Pertempuran Ambarawa, pertempuran yang terjadi selama 5 hari di Semarang juga bertujuan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Mr. Wongsonegoro ditunjuk sebagai penguasa Republik di Jawa Tengah yang berpusat di Semarang. Ia diminta untuk mengambil alih kekuasaan dari Jepang dalam segala bidang di Jawa Tengah, terutama di Semarang. Mr. Wongsonegoro kemudian membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian berganti menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Berikut sejarah mengenai Pertempuran Lima Hari di Semarang.

Penyebab dan Latar Belakang Pertempuran

pertempuran 5 hari di semarang
Photo by jateng.idntimes.com

Peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang terjadi karena beberapa sebab dan alasan yang menjadi pemicunya. Berikut beberapa sebab terjadinya Pertempuran 5 hari di Semarang:

  • Keterikatan Jepang dengan Perintah Sekutu

Kekalahan Jepang dalam Perang Dunia 2 menyebabkan ia harus menyerahkan Indonesia kembali kepada Belanda selaku perwakilan Sekutu. Sebelum Sekutu kembali mendaratkan pasukannya di Indonesia, ia memberikan perintah kepada tentara Sekutu untuk mempertahankan status quo di wilayah yang sudah ia duduki.

Pihak Sekutu juga memberikan ancaman hukuman kepada pihak yang kalah jika tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan pihak Sekutu. Oleh karena itu, Jepang bersikeras mempertahankan status quo hingga pemerintah Sekutu kembali untuk mengambil alih pemerintahan di Indonesia.

  • Kericuhan Penyitaan Senjata Jepang

Beberapa wilayah di Indonesia, pelucutan terhadap senjata milik Jepang dapat dilakukan tanpa adanya kekerasan dan kericuhan. Namun, di Semarang justru kericuhan antara kedua belah pihak. Pada tanggal 13 Oktober 1945, tentara Jepang Kidobutai yang bermarkas di Jatingaleh menolak untuk menyerahkan senjata sehingga menimbulkan ketegangan antara kedua belah pihak.

Mayor Kido selaku komandan Kidobutai menolak untuk memberikan senjata kepada pihak Indonesia meskipun pelucutan senjata tersebut sudah dijamin oleh Wongsonegoro jika senjata tersebut tidak dipergunakan untuk membunuh tentara Jepang. Permintaan pemerintahan Indonesia perwakilan Semarang terus mengulang untuk menyerahkan senjata, namun permintaan tersebut hanya menghasilkan pengumpulan senjata-senjata yang sudah agak usang.

Ketika pasukan sekutu berhasil mendaratkan pasukannya di Pulau Jawa, para pemuda Semarang dan BKR semakin curiga jika Jepang akan menyerahkan senjatanya kepada pasukan sekutu. Para pemuda Semarang dan BKR pun berencana harus mendapatkan senjata-senjata tersebut sebelum pasukan sekutu tiba di Semarang.

Kericuhan antara Indonesia dan Jepang pun terus terjadi, puncak kericuhan tersebut terjadi dengan adanya peristiwa lima hari di Semarang. Hal ini juga diperparah ketika tawanan Jepang yang dipindahkan dari Cepiring ke Bulu kabur dan bergabung dengan pasukan Kidobutai lain yang dipimpin oleh Nakamura.

  • Isu Racun Air Minum di Sumber Air Candilama

Setelah tawanan Jepang melarikan diri, pada tanggal 14 Oktober 1945 pukul 06.30 para pemuda Semarang diinstruksikan untuk mencegat dan memeriksa mobil Jepang yang lewat di depan RS Purusara. Pemeriksaan tersebut berhasil menyita sedan dan senjata milik Kempetai, sore harinya tentara Jepang yang tersisa ditawan dan dibawa ke Penjara Bulu.

Pada pukul 18.00 WIB, terjadi serangan mendadak pasukan Jepang yang bersenjata lengkap terhadap delapan anggota polisi istimewa yang sedang menjaga Reservoir Siranda. Reservoir Siranda merupakan sumber air minum bagi warga kota di Candilama.

Kedelapan anggota polisi tersebut dilucuti dan dibawa ke markas Kidobutai di Jatingaleh. Kemudian tersebar isu jika tentara Jepang telah meracuni sumber air minum di Reservoir Siranda. Kabar tersebut membuat rakyat Semarang gelisah. Pada waktu itu, cadangan air di Candilama, Desa Wungkal tersebut merupakan satu-satunya sumber air di Semarang.

  • Gugurnya dr. Kariadi

dr kariadi
Photo by ayojakarta.com

Setelah isu mengenai racun air tersebar, dr. Kariadi selaku Kepala Laboratorium RS Purusara pun pergi hendak memastikan kabar tersebut. Ia pergi menuju sumber air dalam situasi yang sangat berbahaya karena tentara Jepang telah menyerang beberapa tempat, termasuk rute menuju reservoir.

dr. Soenarti, istrinya, mencoba untuk mencegah tindakan dr. Kariadi namun tidak berhasil. Di tengah perjalanan menuju reservoir, mobil dr. Kariadi dicegat oleh tentara Jepang di Jalan Pandanaran. dr. Karadi dan supirnya dari tentara pelajar pun ditembak.

 

  • Kaburnya Tawanan Jepang dalam Pemindahan Penjara

Ketika para pemuda Indonesia memindahkan tawanan Jepang dari penjara Cepiring ke Bulu, ditengah perjalanan para tawanan Jepang berhasil kabur. Mereka bergabung dengan pasukan Kidobutai dibawah pimpinan Jenderal Nakamura. Kidobutai merupakan tentara Jepang yang terkenal sebagai pasukan paling berani.

Para tawanan tersebut kabur dan mencari perlindungan dan bergabung dengan pasukan Kidobutai di Jatingaleh, Semarang.

  • Pendaratan Pasukan Sekutu di Pulau Jawa

BKR dan Pemuda Semarang semakin curiga dengan perilaku pihak Jepang. Ketika pasukan Sekutu berhasil mendarat di Pulau Jawa, pihak Indonesia khawatir jika pasukan Jepang akan menyerahkan senjatanya kepada pihak Sekutu. Pejuang di Semarang pun beranggapan mereka harus mendapatkan senjata dari Jepang sebelum Sekutu berhasil sampai Semarang.

Kecurigaan para pejuang Indonesia di Semarang semakin terlihat ketika pasukan Sekutu juga diboncengi oleh pasukan Belanda. Para pejuang memastikan jika keikutsertaan pasukan Belanda dalam pasukan Sekutu adalah untuk kembali menjajah Indonesia.

  • Pemberontakan Tentara Jepang

Penyebab lain terjadinya Pertempuran 5 Hari di Semarang ialah pemberontakan tentara Jepang. Pemberontakan ini dilakukan oleh 400 tentara Jepang yang memiliki tugas untuk membangun pabrik senjata di Cepiring. Lokasi ini berada di 30 km sebelah barat Kota Semarang hingga Jatingaleh bagian atas kota.

Di Jatingaleh, pasukan Jepang dapat dipukul mundur dan mereka menggabungkan diri dengan pasukan Kidobutai yang memiliki pangkalan di wilayah tersebut.

  • Penangkapan Mr. Wongsonegoro dan Dr. Sukaryo

Selain menangkap Mr. Wongsonegoro, Jepang juga menangkap pemimpin Rumah Sakit Purusara, yakni dr. Sukaryo. Komandan Kompi BKR Mirza Sidarta, dan juga banyak pemimpin lainnya melakukan pembalasan kepada Jepang. Mereka juga meminta bantuan dari luar kota, bantuan terus berdatangan dengan bergabung bersama barisan para pemuda di dalam kota.

Kemudian pasukan BKR dan para pemuda dari Pati bergabung dengan pasukan Mirza Sidarta. Mereka melakukan serangan balasan kepada Jepang yang telah menguasai beberapa tempat penting di dalam kota.

Waktu Pertempuran

akhir pertempuran
Photo by lemabang.wordpress.com

Pertempuran Lima Hari di Semarang terjadi pada tanggal 15-19 Oktober tahun 1945. Pertempuran ini terjadi antara pihak Indonesia bertempur dengan pihak Jepang. Pada masa itu merupakan masa transisi kekuasaan dari Jepang kepada Indonesia yang mana seharusnya masa kekuasaan dan penjajahan Jepang terhadap Indonesia sudah berakhir.

Tokoh-Tokoh dalam Pertempuran 5 Hari di Semarang

Berikut beberapa tokoh dalam Pertempuran 5 Hari di Semarang yang kita peringati dengan adanya Monumen Tugu Muda di Semarang.

Tokoh-Tokoh Pertempuran 5 Hari di Semarang
  1. Kariadi merupakan seorang Kepala Laboratorium Dinas Pusat Purusara. Ia seorang dokter yang akan memeriksa cadangan air minum di Reservoir Siranda di daerah Candi yang kabarnya telah diracuni oleh Jepang.
  2. Wongsonegoro adalah Gubernur Jawa Tengah yang pernah ditahan oleh Jepang.
  3. Sukaryo merupakan pemimpin dari Rumah Sakit Purusara yang pernah ditangkap oleh Jepang.
  4. Sudanco Mirza Sidharta merupakan komandan kompi BKR.
  5. Mayor Kido adalah seorang pemimpin Kidobutai. Ia seorang pemimpin Kidobutai yang berpusat di Jatingaleh, Semarang.
  6. Soenarti merupakan istri dari dr. Kariadi.
  7. Kasman Singodimedjo merupakan perwakilan dari pihak Indonesia dalam perundingan gencatan senjata bersama pasukan Jepang.
  8. Jenderal Nakamura adalah perwira tinggi yang berhasil ditangkap oleh TKR (Tentara Keamanan Rakyat) di Magelang.

Pertempuran 5 Hari di Semarang

pertempuran 5 hari di semarang
Photo by blogmasadi.com

Pada hari Minggu menjelang malam tanggal 15 Oktober 1945, kondisi Kota Semarang sudah mulai mencekam, terutama di sekitar area pos BKR dan para pemuda. Pasukan pemuda yang terdiri dari BKR, Polisi Istimewa, AMRI, AMKA (Angkatan Muda Kereta Api), dan lainnya telah berjaga-jaga.

Pihak Jepang yang dibantu 675 pasukan hendak singgah di Semarang untuk menambah logistik dalam perjalanan dari Irian ke Jakarta. Para pasukan Jepang ini sudah berpengalaman di medan perang Irian. Kondisi antara kedua belah pihak pun sangat kontras, pejuang Indonesia lebih mengandalkan keberanian dibandingkan dengan pasukan Jepang yang memiliki persenjataan lengkap.

Selain itu, pasukan para pemuda sama sekali belum pernah memiliki pengalaman untuk bertempur, jarang mendapatkan pelatihan militer kecuali pasukan Polisi Istimewa, anggota BKR dan eks PETA.

Penyerangan Dadakan Pasukan Jepang

Pada tanggal 15 Oktober 1945 pukul 03.00, pasukan Kidoutai melakukan penyerangan dadakan ke markas BKR Semarang di kompleks bekas sekolah MULO di Mugas, belakang bekas pom bensin Pandanaran. Pasukan Kidobutai menyerang markas dari sebuah bukit rendah di belakang markas.

Penyerang dari pasukan Kidobutai diperkirakan mencapai 1000 orang dan menyerang dari dua arah menggunakan tembakan pelempar granat dan senapan mesin. Setelah melakukan perlawanan selama kurang lebih setengah jam, pemimpin BKR memilih untuk mengundurkan diri dan meninggalkan markas demi menghindari kepungan dari Jepang.

Pasukan BKR tersebut akhirnya bergabung dengan pasukan Mirza Sidharta dan para pemuda dari Pati. Mereka pun melakukan penyerangan balasan membabi buta kepada Jepang yang telah menguasai berbagai lokasi penting di Semarang.

Pada tanggal 17 Oktober 1945, tentara Jepang meminta gencatan senjata kepada pemerintah Indonesia. Namun, secara diam-diam tentara Jepang melakukan serangan kembali ke kampung-kampung.

Pasukan Indonesia melakukan taktik gerilya kota untuk menghindari pertempuran terbuka dengan Jepang. Mereka melakukan serangan secara tiba-tiba dan juga menghilang secara tiba-tiba. Serangan kepada Jepang dilakukan secara bergantian dan bergelombang sehingga Jepang tidak dapat memprediksi serangan dan semakin sulit untuk menguasai kota.

Diperkirakan terdapat sekitar 2000 tentara Jepang yang menggunakan senjata-senjata modern terlibat dalam pertempuran 5 hari di Semarang. Simpang Lima merupakan lokasi yang paling sering terjadi sebagai tempat pertempuran antar kedua kubu.

Puluhan pemuda yang terkepung dibantai oleh pasukan Kidobutai. PMI juga tidak dapat bergerak dengan leluasa untuk mengevakuasi korban pertempuran. Bala bantuan terus berdatangan dari wilayah di sekitar Semarang. BKR juga berhasil melakukan konsolidasi untuk meminta bantuan dari wilayah lainnya di Jawa Tengah.

Akhirnya, situasi pertempuran pun berbalik menyudutkan pihak Jepang. Pihak Jepang kemudian meminta kepada Mr. Wongsonegoro selaku Gubernur Jawa Tengah untuk menghentikan pertempuran. Gencatan senjata antara kedua belah pihak akhirnya disetujui untuk meminimalisir korban.

Meskipun para pemuda masih ingin membalas pasukan Jepang, tetapi kedatangan sekutu pada tanggal 19 Oktober 1945 menggunakan Kapal HMS Grenly mengakhiri peristiwa Pertempuran 5 Hari di Semarang.

Akhir Pertempuran 5 Hari di Semarang

pembangunan tugu muda di semarang
Photo by boombastis.com

Pertempuran selama lima hari yang terjadi antara kedua belah pihak di Semarang akhirnya dapat berhenti. Berakhirnya perang dalam peristiwa tersebut terjadi karena beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut adalah:

  • Gencatan Senjata antara Kedua Belah Pihak

Pihak jepang mulai kewalahan menghadapi serangan dari para pemuda di Semarang. Ia pun meminta kepada perwakilan Indonesia untuk melakukan gencatan senjata. Kedua belah pihak akhirnya setuju untuk melakukan gencatan senjata demi mengurangi korban jiwa yang berjatuhan.

  • Pembunuhan Sandera oleh Jepang

Ketia terjadi perdamaian gencatan senjata antara kedua belah pihak, Jepang masih menyandera sekitar 75 warga Indonesia. Namun, ke-75 sandera tersebut di bunuh dengan cara yang mengerikan oleh Jepang.

Warga Indonesia yang disandera oleh Jepang seharusnya dibebaskan sesuai dengan kesepakatan yang ada antara kedua belah pihak. Peristiwa pembunuhan ini memicu kemarahan para pemuda. Para pemuda yang mengetahui hal ini pun melakukan perlawanan dan penyerangan kepada pihak Jepang hingga akhirnya mundur.

  • Kekalahan Jepang dan Masuknya Sekutu ke Indonesia

Jepang akhirnya dapat dipukul mundur dari Semarang dan senjatanya berhasil dilucuti oleh pihak Indonesia setelah Sekutu masuk ke Indonesia. Kota Semarang akhirnya terbebas dari kekuasaan Jepang setelah menguasai selama 3 tahun pasca Belanda kalah dari Jepang.

Akan tetapi, kekalahan Jepang tidak langsung memberikan angina segar bagi bangsa Indonesia, terutama pejuang di Semarang.  Sekutu yang kembali ke Indonesia untuk mengurus tentara Jepang ternyata diboncengi oleh tentara Belanda yang kembali ingin menguasai Indonesia.

Perjuangan melawan penjajah yang ingin kembali menguasai Indonesia setelah merdeka pun tetap dilakukan. Perjuangan ini terus berkobar hingga Belanda dan dunia internasional mengakui kedaulatan Indonesia, baik secara de facto maupun de jure.

Dalam sejumlah catatan menyebutkan kurang lebih sekitar 2000 jiwa dari pemuda pejuang dan rakyat Indonesia yang gugur dalam pertempuran ini. Sementara itu, pasukan Jepang yang tewas kurang dari 1000 jiwa.

Monumen Tugu Muda

monumen tugu muda
Photo by swiss-belhotel.com

Peristiwa pertempuran 5 Hari di Semarang menjadikan sebuah gagasan untuk membangun sebuah monumen guna mengenang peristiwa tersebut. Pada tanggal 28 Oktober 1945, Mr. Wongsonegoro selaku Gubernur Jawa Tengah melakukan peletakan batu pertama.

Pada awalnya, lokasi monumen direncanakan berdekatan dengan alun-alun Semarang. Namun, pertempuran melawan sekutu dan Jepang pada bulan November 1945 membuat proyek ini tidak terlaksana.

Pada tahun 1949, Badan Koordinasi Pemuda Indonesia (BKPI) kemabli mencetuskan ide tersebut, tetapi tidak terlaksana karena terhalangi oleh dana. Akhirnya, Hadi Soebono Sosro Woedoyo selaku walikota Semarang pada saat itu mencetuskan untuk membentuk Panitia Tugu Muda pada tahun 1951.

Hadi Soebono Sosro Woedoyo juga mengalihkan rencana pembangunan Monumen Tugu Muda yang sebelumnya berdekatan dengan alun-alun Kota Semarang ke lokasi pertempuran. Lokasi baru tersebut yakni berada di pertemuan antara Jalan Pemuda, Jalan Imam Bonjol, Jalan dr. Soetomo, dan Jalan Pandanaran dengan gedung Lawang Sewu.

Batu pertama Monumen Tugu Muda diletakkan pada tanggal 10 November 1951 oleh Gubernur Jateng, Boediono. Desain tugu dikerjakan oleh Salim. Sementara itu, relief pada tugu muda dikerjakan seniman bernama Hendro. Batu yang digunakan berasal dari Kaliurang dan Peker. Peresmian dilakukan pada tanggal 20 Mei 1953 oleh Presiden Soekarno yang bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional.

Demikianlah sedikit ulasan mengenai sejarah dan peristiwa pertempuran 5 hari di Semarang. Semoga materi kali ini dapat menambah wawasan kita mengenai perjuangan rakyat Indonesia pasca kemerdekaan. Aamiin.

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!