suasana perang mempertahankan kemerdekaan

Sejarah dan Peristiwa Kelima Perang Puputan di Bali

Perang Puputan – Sebagaimana yang tertulis dalam Wikipedia, puputan merupakan tradisi masyarakat Bali dimana berupa tindakan perlawanan menggunakan senjata secara habis-habisan demi kehormatan tanah air. Istilah “Puputan” diambil dari kata “puput” yang bermakna tanggal, putus, habis, atau mati. Jadi, puputan bermakna perang sampai mati.

Perang sampai mati ini berlaku untuk seluruh warga negara dari semua golongan atau kasta sebagai bentuk perlawanan hingga titik darah penghabisan. Dalam sejarah Bali, tercatat setidaknya terjadi lima kali perang puputan. Kelima perang puputan tersebut merupakan bentuk perlawanan rakyat Bali terhadap penjajahan Belanda.

Perang Puputan pertama kali terjadi pada tahun 1846 M dan terakhir kali terjadi pada tahun 1946 M. Berikut kelima Perang Puputan yang dilakukan untuk menentang penjajahan Belanda di Indonesia.

Perang Puputan di Bali

Perang Puputan di Bali
  • Perang Puputan Jagaraga
  • Perang Puputan Kusamba
  • Perang Puputan Badung
  • Perang Puputan Klungkung
  • Perang Puputan Margarana
perang puputan
Photo by netralnews.com

Pada tahun 1846 M, Raja I Gusti Ngurah Made Karang Asem dari Kerajaan Buleleng yang sekarang masuk dalam wilayah Kabupaten Buleleng memutuskan untuk melakukan Perang Puputan. Perang ini dipicu karena hak istimewa politik tawan karang yang ditentang oleh Belanda. Politik tawan Karang merupakan sebuah tradisi di Bali yakni dengan menyita seluruh kapal yang terdampar di wilayah perairan Kerajaan Bueleng lengkap dengan seluruh muatan dari kapal tersebut.

Latar Belakang Terjadinya Perang

Hak istimewa politik tawan karang yang dimiliki oleh raja-raja Bali merupakan sebuah hukum tradisi yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Bali Kuno hingga zaman terjadinya perang Puputan Badung tahun 1906.

Politik Tawan Karang yang diberlakukan oleh Kerajaan Buleleng ini tidak diterima oleh pihak Belanda karena mengancam keselamtan harta benda dan awak kapal Belanda yang masuk ke wilayah Kerajaan Buleleng. Pada tahun 1843, Belanda mengadakan perjanjian dengan beberapa kerajaan di Bali untuk menghapuskan politik tawan karang.

Setahun setelah mengadakan perjanjian tersebut, kapal-kapal milik Belanda yang terdampar di Pantai Prancah (Bali Barat) dan Sangsit (Buleleng bagian Timur) dirampas oleh penguasa setempat. Belanda akhirnya mengirim utusan Asisten Residen Banyuwangi Ravia de Liginij untuk menuntut agar Kerajaan Buleleng melaksanakan perjanjian 1843 M dengan melepaskan kapal-kapal tersebut.

Namun, tuntutan dari Belanda untuk melepaskan kapal-kapal milik Belanda ditolak oleh Raja Buleleng I Gusti Ngurah Made Karangasem. Hal ini pun menjadi alasan bagi Belanda untuk menyerang Kerajaan Buleleng. Pantai Buleleng mulai diblokade oleh pihak Belanda.

Perang Puputan Jagaraga

Pada tahun 1846 M, Belanda mengirim pasukan ke wilayah Kerajaan Buleleng. Pasukan perang Belanda terdiri dari pasukan gabungan Batavia dan Surabaya dengan jumlah 1.700 orang dan 400 tentara Eropa. Pertempuran kali ini dipimpin oleh Komandan Angkatan Laut Kerajaan Belanda Laksamana E.B Van den Bosch dan pasukan angkatan darat dibawah komando Letnan Kolonel J Bakker.

Sebelum melakukan penyerangan, Belanda masih menawarkan diplomasi terakhir kepada I Gusti Ketut Jelantik selaku patih kerajaan untuk meminta maaf dan mengganti rugi kapal-kapal milik Belanda yang dirampas. Patih Jagaraga merupakan tokoh sentral dalam pertempuran ini.

Pihak Belanda yang dilengkapi dengan senjata perang modern yang lengkap menyerang wilayah Kerajaan Buleleng. Saat itu, Belanda dilengkapi dengan kapal laut, kapal udara, mobil perang dan senapan apinya. Akhirnya, satu-persatu wilayah disekitar Istana raja berhasil diduduki oleh Belanda. I Gusti Made Karangasem menyiasati hal tersebut dengan berpura-pura menyerah dan tunduk kepada Belanda.

I Gusti Ketut Jelantik sebagai patih kerajaan melanjutkan perlawanan dengan menempatkan pusat perlawanannya di wilayah Buleleng Timur, yakni di sebuah desa yang bernama Desa Jagaraga. Desa Jagaraga memiliki letak geografis yang strategis sebagai tempat pertahanan karena berada di tempat ketinggian yang terletak di lereng perbukitan dengan jurang berada di kanan kirinya.

Benteng pertahanan Desa Jagaraga yang berbentuk “Supit Urang” ini dibuat sekelilingnya parit dengan ranjau yang terbuat dari bambu. Ranjau-ranjau ini diharapkan mampu menghambat pergerakan musuh.

Belanda pun menyerang benteng pertahanan Jagaraga namun mengalami kegagalan karena belum mengenal medan yang sebenarnya dan siasat supit urang yang dilakukan oleh pasukan Kerajaan Buleleng. I Gusti Ketut Jelantik pun berhasil memperoleh kemenangan di Desa Jagaraga.

Puncak Pertempuran

Pada tahun 1849, pihak Belanda kembali mengirim pasukan dibawah pimpinan Jenderal Mayor A.V Michiels dan wakilnyaa Van Swieten. Pasukan Belanda meyerang benteng pertahanan Jagaraga dari segala dua arah, yakni arah depan dan arah belakang. Meskipun mendapatkan serangan yang sangat tidak imbang, pasukan I Gusti Ketut Jelantik tidak menyerah melawan serangan dari pasukan Belanda.

Pertempuran yang sengit antara kedua belah pihak terus berlanjut. Benteng Pertahanan Jagaraga dihujani dengan tembakan meriam oleh pasukan Belanda. Meskipun situasi semakin tidak imbang di pihak pasukan Kerajaan Buleleng, laskar Jagaraga tidak mundur ataupun melarikan diri. Pada tanggal 19 April 1849, Benteng Pertahanan Jagaraga berhasil dikuasai oleh Belanda. Dengan begitu, Belanda berhasil menguasai wilayah Bali Utara.

  • Sejarah Perang Puputan Kusamba

suasana perang
Photo by jasmerah45.wordpress.com

Tiga tahun kemudian setelah terjadinya Perang Puputan Jagaraga, yakni tahun 1849 M, Belanda kembali berusaha untuk menduduki wilayah Bali bagian timur. Pasukan Belanda berencana untuk menguasai Kerajaan Klungkung yang mana merupakan kerajaan tertinggi di Bali pada saat itu. Dengan menguasai Kerajaan Klungkung, maka secara otomatis Belanda akan menguasai seluruh wilayah Bali.

Akan tetapi, rencana tersebut diketahui oleh salah satu desa benteng kekuatan dari Kerajaan Klungkung, yakni rakyat Desa Kusamba. Rakyat Desa Kusamba yang mendapat dukungan penuh dari atasannya pun menyatakan akan menghadapi pasukan Belanda dengan perang puputan.

Pada tanggal 25 Mei 1849, seorang perempuan Bali bernama Ida I Dewa Istri Kanya tampil sebagai pemimpin dari perang puputan melawan pasukan Belanda. Perang puputan ini dikenal dengan nama Perang Puputan Kusamba yang diambil dari nama Desa Kusamba.

Pada saat itu, pasukan Belanda berada dibawah pimpinan Letjen Michiels melawan pasukan Bali dalam perang puputan. Perang puputan kali ini berhasil dimenangkan oleh pasukan Bali dibawah pimpinan Ida I Dewa Istri Kanya dengan terbunuhnya Letjen Micheils di medan perang. Kekalahan dalam perang puputan kali ini membuat pihak Belanda sangat malu.

  • Sejarah Perang Puputan Badung

perang puputan badung
Photo by balisaja.com

Setelah hampir setengah abad tidak terdengar lagi tentang adanya perang puputan di Bali, tiba-tiba tiga kerajaan di Bali pada tanggal 20 September 1906 mengumumkan perang puputan untuk melawan Belanda di Batavia. Ketiga kerajaan tersebut yakni Puri Kesiman, Puri Denpasar, dan Puri Pemecutan.

Penyebab Terjadinya Perang

Pertikaian antar tiga kerajaan dengan Belanda ini dipicu oleh siasat licik pihak Belanda dengan menuduh rakyat Sanur mencuri barang-barang milik saudagar Cina. Cerita bermula ketika perahu dagang Sri Komala yang berbendera Belanda terdampar pada tanggal 27 Mei 1904 di Pantai Sanur, sebelah timur Kerajaan Badung.

Kapal yang berlayar dari Banjarmasin ini akhirnya melakukan bongkar muatan di Pantai Sanur agar barang-barang dalam kapal yang terdampar tersebut dapat diselamatkan. Nahkoda Kapal Sri Komala meminta bantuan kepada syahbandar Sanur agar barang-barang milik kapal tersebut aman dan dapat terjaga dengan baik.

Semua barang yang sudah dibongkar dan sudah diturunkan dipastikan memiliki jumlah yang sama sebagaimana yang telah dilaporkan oleh pemilik barang, Kwee Tek Tjiang. Proses pembongkaran tersebut dibantu oleh 11 pekerja dan berjalan dengan baik.

Dua hari seelah pembongkaran, utusan dari Kerajaan Badung melakukan pengecekan atas perahu yang terdampar di Pantai Sanur. Pada saat tersebut, pemilik barang yang bernama Kwee Tek Tijang membuat laporan palsu kepada utusan raja dengan menyatakan jika rakyat Sanur telah mencuri 3.700 ringgit uang perak dan 2.300 uang kepeng.

Utusan raja pun tidak begitu saja mempercayai tuduhan tersebut, sehingga Kwee Tek Tjiang langsung menghadap Raja Badung dan melaporkan tuduhan tersebut. Rakyat Sanur akhirnya melakukan sumpah kepada raja untuk menyatakan kejujuran jika tidak mencuri apapun dari pedagang Cina Kwee Tek Tjiang. Raja Badung pun yakin jika segala tuduhan yang ditujukan kepada rakyatnya hanyalah sebuah tipu muslihat saja.

Perang Puputan Badung

Pada saat itu, Jenderal Van Heutsz yang menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Indonesia. ia memiliki cita-cita agar seluruh wilayah Nusantara berada dibawah satu pemerintahan Belanda yang berkedudukan di Belanda. Kerajaan Bali yang memiliki otoritas sendiri menjadi salah satu penghalang cita-cita Jenderal van Heutsz.

Permasalahan pencurian di Kapal Sri Komala yang terdampar di Pantai Sanur menjadi salah satu upaya pihak Belanda untuk menaklukkan wilayah Bali. Pihak Belanda akhirnya memberikan ultimatum kepada Raja Badung I Gusti Ngurah Denpasar (Badung adalah otoritas tiga kerajaan, yakni Kesiman, Denpasar, dan Pemecutan) untuk membayar denda sebanyak 3.000 ringgit (7.500 gulden).

Jika Raja Badung tidak membayar denda hingga batas waktu yang ditentukan yakni tanggal 9 Januari 1905, maka wilayah Badung akan dilakukan blokade ekonomi oleh pihak Belanda. Hingga batas waktu yang ditentukan, Kerajaan Badung tetap tidak membayar denda. Akhirnya Belanda melakukan blokade dengan mengirim kapal laut untuk memblokade dermaga yang menyebabkan Kerajaan Badung mengalami banyak kerugian akibat blokade tersebut.

Pihak Belanda juga semakin sering melakukan patroli karena Raja Badung semakin kukuh untuk tidak membayar ganti rugi. Ketegangan antara kedua belah pihak tersebut semakin meningkat yang menyebabkan pihak Belanda menaikkan ganti rugi menjadi 5.173 ringgit untuk biaya kapal yang digunakan untuk blokade oleh Belanda. Belanda kembali memberikan ultimatum hingga tanggal 1 September 1906 dan akan mengancam dari blokade ekonomi menjadi tindakan militer.

Ultimatum yang diberikan tidak membuat Raja Badung menyerah, bahkan Raja Badung telah menyiapkan segala keperluan militer meskipun dengan segala resiko demi membela harga diri dan kedaulatan kerajaan. Akhirnya, ekspedisi militer ke Bali yang dikirimkan oleh Gubernur Hindia Belanda sampai di Selat Badung pada tanggal 12 September 1906. Pabean Sanur pun berhasil dikuasai sebagai tempat pertahanan untuk pasukan Hindia Belanda.

Puncak Terjadinya Perang

Pihak Belanda mengirim utusan kepada Raja Badung dan Raja Tabanan yang mendukung Kerajaan Badung untuk menyerah. Ultimatum tersebut ditolak tegas oleh kedua raja tersebut. Akhirnya, terjadi pertempuran hebat di Desa Sanur pada tanggal 15 September 1906 yang menyebabkan memakan banyak korban jiwa. Dari laskar Kerajaan Badung tercatat terdapat 33 orang yang gugur dan diantaranya terluka.

Puncak dari Perang Puputan Badung terjadi pada tanggal 20 September 1906, pasukan Belanda bergerak ke arah barat dan menembakkan meriam ke arah Puri Pemecutan dan Puri Denpasar. Raja I Gusti Ngurah Denpasar bersama pengikut setianya membawa senjata baik itu tombak maupun keris untuk bertempur habis-habisan melawan pasukan Belanda.

Perlawanan yang tidak seimbang ini membuat pasukan kerajaan mengalami kekalahan. Korban yang gugur dari pihak rakyat Bali mencapai 7.000 orang termasuk didalamnya terdapat para raja dan kerabat istana serta pahlawan dari ketiga puri yang ikut terlibat.

Pasukan Belanda yang dipimpin oleh Rost Van Toningen pun berhasil menduduki wilayah Badung. Akan tetapi, wartawan perang yang dibawa oleh pihak Belanda menyatakan jika Perang Puputan Badung ini merupakan pembantaian massal yang dilakukan oleh pasukan Belanda terhadap rakyat sipil di Bali yang tidak bersenjata.

Monumen Puputan Badung di Denpasar

Perang Puputan Badung melawan pasukan Belanda merupakan sebuah cerminan dari raja dan rakyat Badung dalam menjaga setiap jengkal tanah milik mereka. Mereka dengan berani mengorbankan jiwa dan raga secara mati-matian agar pihak Belanda dengan tidak mudah mendapatkan tanah kelahiran mereka.

Peristiwa Perang Puputan Badung yang terjadi pada tanggal 20 September 1906 hingga saat ini tetap di kenang oleh masyarakat sebagai salah satu sejarah di Bali. Tempat terjadinya perang kini berubah menjadi alun-alun dan dikenal dengan nama Lapangan Puputan Badung. Di sebelah utara lapangan terdapat sebuah monument yang dikenal sebagai Monumen Puputan Badung. Di atas monument terdapat dua orang patung dewasa yang memegang tombak dan keris beserta satu orang anak.

Pada tanggal 10 September 2009 melalui Surat Keputusa Walikota tahun 2009, lapangan tempat berdirinya Monumen Puputan Badung berganti nama menjadi Lapangan  Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung. Nama tersebut merupakan sebuah apresiasi untuk mengenang perjuangan raja dan rakyat Badung yang telah berjuang dalam Perang Puputan Badung.

  • Sejarah Perang Puputan Klungkung

perang puputan
Photo by tribunnewswiki.com

Dua tahun berselang setelah terjadi Perang Puputan Badung, kembali terjadi perang puputan untuk melawan kolonial Belanda pada tanggal 28 April 1908 M. Perang puputan kali ini merupakan perang puputan terakhir yang terjadi pada masa kerajaan di Bali. Perang puputan yang dinamakan Perang Puputan Klungkung ini menandai jatuhnya seluruh wilayah Bali ke pihak Belanda karena pada saat itu Kerajaan Klungkung merupakan kerajaan terbesar.

Perang ini disebabkan kesewenangan Belanda dalam membuat peraturan yang merugikan rakyat Bali. Kerajaan Klungkung yang dipimpin oleh Raja Klungkung Ida I Dewa Agung Jombe pun gugur dalam pertempuran. Kemenangan Belanda kali ini merupakan suatu obat penawar atas kekalahannya ketika menyerang wilayah Klungkung di Desa Kusamba sekitar setengah abad sebelumnya.

Berikut kronologi Pertempuran Puputan Klungkung:

16 April 1908

Pertikaian antara Kerajaan klungkung dengan Belanda dimulai ketika Belanda melakukan patroli keamanan di wilayah Klungkung pada tanggal 13 – 16 April 1908. Patroli yang dilakukan oleh Belanda ini sudah ditolak oleh Raja Klungkung karena dianggap telah melanggar kedaulatan Kerajaan Klungkung. Belanda saat itu berdalih jika patroli yang dilakukannya untuk mengamankan dan memeriksa tempat-tempat penjualan candu karena pada saat itu Belanda memonopoli perdagangan candu.

Salah satu kerabat raja bernama Cokorda Gelgel yang menentang terhadap patroli Belanda pun menyiapkan suatu penyerangan terhadap patroli Belanda. Ketika patroli Belanda sedang bertugas di Gelgel terjadilah serangan dari pasukan Cokorda Gelgel di tempat tersebut.

Dalam penyerangan yang mendadak ini, pasukan Belanda menderita kekalahan dengan 10 orang serdadu yang gugur termasuk didalamnya salah satu pemimpin serdadu Belanda, Letnan Haremaker. Dari pihak Cokorda Gelgel, prajurit yang tewas sebanyak 12 prajurit termasuk didalamnya I Putu Gledeg.

17 April 1908

Pihak Belanda pun melakukan serangan balasan atas penyerangan yang dilakukan oleh pasukan Gelgel. Belanda mengirim pasukan dari Karangasem untuk menambah bantuan pasukan yang masuk dari arah Satria pada tanggal 16 April 1908 malam hari. Laskar pasukan Klungkung segera memberikan perlawanan sengit hingga menyebabkan tiga pasukan Belanda dan lima lainnya luka-luka.

Pagi hari pada tanggal 17 April 1908, pasukan Belanda mulai menyerang pasukan Gelgel. Raja Klungkung segera mengirim saudara raja yang lain bernama Cokorda Raka Pugog untuk mencegah pertumpahan darah dengan berdamai dengan Belanda dan menekan Cokorda Gelgel supaya tidak melakukan perlawanan.

Akan tetapi, usaha yang diperintahkan oleh Raja Klungkung ini mengalami kegagalan. Cokorda Gelgel tetap pada pendiriannya untuk melawan pasukan Belanda dan Belanda malah berbalik mencurigai Cokorda Raga Pugog. Perang antar kedua belah pihak di wilayah Gelgel pun tak dapat dihindarkan. Selama peperangan inilah digunakan meriam pusaka kerajaan I Bangke Bahi.

Akan tetapi, peperangan di Gelgel berhasil dimenangkan oleh pihak Belanda. Saudara raja yang menjadi utusan perdamaian antara kedua belah pihak, Cokorda Raga Pugog, ikut gugur dalam pertempuran. Bantuan pasukan yang juga dikirimkan oleh Raja Klungkung dibawah pimpinan Ida Bagus Jumpung juga tidak mampu memukul mundur pasukan Belanda dari Gelgel. Bahkan, Ida Bagus Jumpung ikut gugur dalam pertempuran.

Cokorda Gelgel bersama sisa pasukannya berhasil mundur dan melarikan diri ke Klungkung. Malam harinya, Cokorda Gelgel bersama pasukannya menyerang perkemahan pasukan Belanda. Penyerangan tersebut membuat banyak serdadu Belanda yang mengalami luka-luka.

Pasukan Belanda akhirnya memutuskan untuk mundur ke wilayah Gianyar. Residen perwakilan Belanda untuk wilayah Bali-Lombok, F.A Liefrinck berhasil tiba di Jumpai bersama empat buah kapal perang yang digunakan sebagai alat intimidasi. Residen ini mengultimatum agar raja dan para pembesar Kerajaan Klungkung menyerah tanpa syarat kepada Belanda hingga batas waktu 22 April 1908 M.

21 April 1908

Ultimatum yang diberikan Belanda kepada Kerajaan Klungkung berisi:

  1. Kerajaan Klungkung mengakui kekuasaan Belanda
  2. Hak tawan karang yang biasa dilakukan Kerajaan Klungkung dihapus
  3. Kerajaan Klungkung memberi perlindungan kepada perdagangan Belanda

Dengan ultimatum ini, posisi Kerajaan Klungkung dengan jelas berada dalam situasi perang dengan Belanda apabila menolak ultimatum tersebut. Ekspedisi khusus untuk mempersiapkan peperangan dengan Kerajaan Klungkung pun disiapkan Belanda dari Batavia. Raja Klungkung akhirnya memilih menolak ultimatum dari Belanda untuk menyerah hingga batas waktu pada tanggal 22 April 1908 M.

Pada tanggal 21 April 1908, Belanda mulai membombardir istana Kerajaan Klungkung di Smarapura, Gelgel, dan Satria dengan tembakan meriam selama enam hari.

27 April 1908

Pada tanggal 27 April 1908 malam hari, ekspedisi khusus yang dikirim Belanda dari Batavia tiba di Perairan Jumpai disertai dengan kapal perang dan persenjataan lengkap. Dari atas kapal perang, pihak Belanda kembali memberikan ultimatum hingga batas waktu tengah hari kepada Raja Klungkung untuk menyerah tanpa syarat kepada pihak Belanda.

Raja Klungkung menjawab ultimatum tersebut dan meminta kepada pihak Belanda agar menunda penyerangan selama lima hari untuk berunding dengan pejabat kerajaan. Akan tetapi, Belanda menolak permintaan tersebut dan wilayah Kerajaan Klungkung ditembaki dengan meriam dari atas kapal perang Belanda.

28 April 1908

Perang antara Kerajaan Klungkung dan pihak Belanda pun dimulai. Persenjataan yang tidak seimbang antara kedua belah pihak menjadikan Belanda dengan cepat dapat menguasai wilayah Kusamba dan Jumpai meskipun rakyat dari kedua wilayah tersebut melakukan perlawanan.

Setelah berhasil menaklukkan pertahanan luar dari Kerajaan Klungkung, pasukan Belanda secara perlahan menuju wilayah Klungkung. Istana Smarapura berhasil dikepung oleh pasukan Belanda. Cokorda Gelgel dan Dewa Agung Gede Semarabawa akhirnya gugur ketika menghadapi pasukan Belanda di banteng selatan.

Kabar mengenai gugurnya Cokorda Gelgel dan Dewa Agung Gede Semarabawa membuat Dewa Agung Istri Muter bersama putra mahkota Dewa Agung Gede ikut turun ke medan perang mengikuti ibu suri, Dewa Agung Muter. Seluruh keluarga kerajaan yang ikut turun ke medan perang berpakaian serba putih, siap untuk mempertaruhkan nyawa. Akhirnya, Dewa Agung Muter bersama putra mahkota gugur dalam perang.

Kabar mengenai kematian permaisuri dan putra mahkotanya di medan perang, tidak menjadikan Raja Klungkung Dewaa Agung Jambe menyerah. Dewa Agung Jambe membulatkan tekad untuk berperang hingga titi darah penghabisan. Ia keluar dari istana diiringi oleh seluruh keluarga istana dan prajurit yang setia untuk maju berperang menghadapi pasukan Belanda.

Persenjataan yang tidak imbang menjadikan raja dan keluarga kerajaan lainnya gugur dalam pertempuran melawan Belanda. Rakyat Kerajaan Klungkung dan seluruh keluarga kerajaan menunjukkan jiwa yang patriotis dan harga diri yang tinggi dalam membela tanah kelahiran mereka.

Pada tanggal 28 April 1908 sekitar pukul 15.00 waktu setempat, Kerajaan Klungkung jatuh ke tangan kekuasaan Belanda. Setelah Kerajaan Klungkung berhasil ditaklukkan oleh Belanda, maka secara otomatis seluruh wilayah Bali berhasil dikuasai oleh pemerintahan kolonial Belanda.

  • Sejarah Perang Puputan Margarana

suasana perang penghabisan margarana
Photo by minews.id

Pada masa-masa perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia setelah merdeka pada tahun 1945, kembali terjadi perang puputan di wilayah Tabanan tepatnya di Desa Marga. Di tempat tersebut menjadi tempat bersejarah yang membuktikan bagaimana rakyat Indonesia khususnya rakyat Bali yang gigih dalam menentang segala bentuk penjajahan.

Latar Belakang Terjadinya Perang

“Pulau Bali bergolak karena kedatangan pasukan Belanda. Dengan demikian, apabila ingin Pulau Bali dan damai, Belanda harus angkat kaki dari Pulau bali”. – I Gusti Ngurah Rai

Perang Puputan Margarana dilatarbelakangi dengan hasil Perundingan Linggarjati yang terjadi antara Belanda dan Indonesia pada tanggal 11-13 November 1946. Salah satu hasil dari perundingan tersebut adalah Belanda mengakui wilayah kekuasaan Indonesia secara de facto meliputi wilayah Jawa, Sumatera, dan Madura. Artinya, Bali tidak termasuk dalam bagian wilayah Republik Indonesia. Hal ini tentu melukai hati rakyat Bali dan memicu perlawanan terhadap pihak Belanda.

Selain itu, hasil dari perundingan juga mengharuskan pasukan Belanda untuk meninggalkan wilayah de facto milik Indonesia paling lambat pada tanggal 01 Januari 1949. Perang Puputan Margarana juga dipicu atas penolakan Letkol I Gusti Ngurah Rai yang saat itu menjabat sebagai Kepala Divisi Sunda Kecil terhadap tujuan Belanda yang ingin mendirikan Negara Indonesia Timur (NIT).

Setelah Indonesia merdeka, Kolonel I Gusti Ngurah Rai mendapatkan tugas untuk membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di wilayahnya. Pembentukan pasukan TKR ini bertujuan untuk menghadang agresi militer Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia setelah Jepang hengkang dari Indonesia karena kalah dalam Perang Dunia II.

Pembentukan Pasukan Ciung Wanara

Kemudian, I Gusti Ngurah Rai membentuk sebuah pasukan Sunda Kecil yang bernama Pasukan Ciung Wanara. Setelah membentuk pasukan tersebut, ia berkunjung ke Yogyakarta untuk melakukan konsultasi dengan markas besar TRI mengenai pembentukan pasukan tersebut. Pada saat yang bersamaan yakni tanggal 2-3 Maret 1946, Belanda mendaratkan sekitar 2.000 pasukannya di Bali untuk mewujudkan pendirian wilayah Negara Indonesia Timur (NIT).

Sekembalinya I Gusti Ngurah Rai dari Yogyakarta dan masih tidak mengetahui tentang pendaratan pasukan Belanda, Belanda telah mendaratkan pasukannya di Bali. Melihat hal tersebut, I Gusti Ngurah Rai segera mengumpulkan pasukan Ciung Wanara yang telah dibentuknya untuk berkumpul kembali kaarena telah tercerai berai menjadi pasukan-pasukan kecil.

Untuk memuluskan pencapaian tujuannya, Belanda membujuk I Gusti Ngurah Rai agar bersedia bekerja sama dengan Belanda untuk membangun Negara Indonesia Timur (NIT). Hal ini tercatat dalam surat yang dikirimkan oleh Kapten J.M.T Kunie kepada I Gusti Ngurah Rai yang inti dari isi suratnya adalah mengajak berunding.

“Soal perundingan kami serahkan kepada kebijaksanaan pemimpin-pemimpin kita di Jawa. Bali bukan tempatnya perundingan diplomasi. Dan saya bukan kompromis. Saya atas nama rakyat hanya mengingini lenyapnya Belanda dari Pulau Bali atau kami sanggup bertempur terus sampai cita-cita kita tercapai.” – I Gusti Ngurah Rai dalam Perang Puputan Margarana

Akan tetapi, ajakan tersebut secara tegas ditolak oleh I Gusti Ngurah Rai. Bahkan, ia bertekad untuk melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda. Penolakan yang dilakukan oleh I Gusti Ngurah Rai membuat Belanda melakukan penambahan bala bantuan pasukan dari Lombok. Tujuan penambahan bala bantuan pasukan ini untuk menyergap pasukan Ngurah Rai di Tabanan.

Perang Puputan Margarana

Kolonel I Gusti Ngurah Rai berhasil mengetahui pergerakan Belanda tersebut. Ia segera memindahkan pasukannya ke wilayah Kecamatan Marga. I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya melakukan perjalanan longmarch ke ke wilayah ujung timur Bali, termasuk melewati Gunung Agung. Namun, upaya yang dilakukan oleh I Gusti Ngurah Rai berhasil diendus oleh pasukan Belanda dan mengejar pasukan I Gusti Ngurah Rai.

Ditengah perjalanan, pasukan Ciung Wanara berhasil dicegat oleh serdadu Belanda di Desa Marga. Pertemuan pada tanggal 20 November 1946 antara kedua belah pasukan yang bersebrangan ini pun menimbulkan pertempuran yang sengit. Dalam pertempuran ini, pasukan Ciung Wanara berhasil memukul mundur pasukan Belanda.

Meskipun Belanda berhasil dipukul mundur oleh pasukan Ciung Wanara, pertempuran tidak juga berhenti. Pasukan Belanda mendapatkan bala bantuan dengan jumlah yang cukup besar yang dilengkapi dengan persenjataan yang lebih lengkap dan lebih modern. Kondisi pertempuran pun berbalik, pasukan Belanda berhasil membuat pasukan Ciung Wanara terdesak.

Walaupun hari telah beranjak malam, pertempuran antara kedua belah pihak juga tidak ada tanda akan berhenti. Pasukan Belanda semakin gigih menggempur pasukan I Gusti Ngurah Rai menggunakan bom dari pesawat tempur.

Puncak Perang Puputan Margarana

Akhirnya, pasukan Ciung wanara berhasil terdesak ke wilayah terbuka di area persawahan dan ladang jagung di sekitar kawasan Banjar Kelaci, Desa Marga. Area persawahan dan ladang jagung tersebut berubah menjadi tempat pertempuran antara kedua belah pihak. Bunyi letupan senjata di wilayah tersebut merubah suasana tenang di ladang jagung yang terletak sekitar 40 km dari Denpasar.

Dalam kondisi yang sangat terdesak tersebut, Kolonel I Gusti Ngurah Rai mengeluarkan komando perintah puputan atau bertempur hingga titik darah penghabisan. Dalam sudut pandang pejuang Bali, bertempur puputan artinya lebih baik berjuang sebagai ksatria secara habis-habisan daripada jatuh ke tangan musuh.

Akhirnya, malam hari pada tanggal 20 November 1946 gugurlah I Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya dalam pertempuran Puputan Margarana. Pertempuran yang terjadi di Banjar Kelaci ini membuat Letkol I Gusti Ngurah Rai dan sekitar 96 pasukannya gugur, sedangkan dari pihak Belanda sekitar 400 orang yang tewas dalam perang tersebut.

Kekalahan pasukan Ciung Wanara yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai memuluskan usaha Belanda untuk mendirikan Negara Indonesia Timur (NIT). Akan tetapi, usaha ini pada akhirnya gagal dikarenakan pada tahun 1950, Indonesia kembali menjadi negara kesatuan setelah sebelumnya menjadi Republik Indonesia Serikat dalam Perundingan Linggarjati.

Tugu Pahlawan Pujaan Bangsa

Perang Puputan Margarana yang dipimpin oleh Letkol I Gusti Ngurah Rai merupakan salah satu contoh untuk mempertahankan setiap jengkal tanah air Indonesia dengan segenap jiwa dan raga. Perjuangan tersebut juga merupakan salah satu bentuk untuk mempertahankan harga diri dan kedaulatan kita sebagai suatu bangsa yang merdeka.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, setiap tanggal 20 November kini diperingati sebagai hari Perang Puputan Margarana. Bekas arena pertempuran juga didirikan sebuah tugu yang dikenal sebagai Tugu Pahlawan Taman Pujaan Bangsa atau Monumen Puputan Margarana.

Tokoh Pertempuran Perang Puputan

i Gusti ngurah rai dan pasukannya
Photo by tribunnewswiki.com

Berikut beberapa tokoh pertempuran dalam perang puputan yang beberapa kali terjadi di Bali.

  • Tokoh Pertempuran Puputan Jagaraga

Berikut beberapa tokoh pertempuran dalam Pertempuran Puputan Jagaraga:

  • Pihak Bali
  1. I Guti Ngurah Made Karang Asem
  2. Patih I Gusti Ketut Jelantik
  • Pihak Belanda
  1. Laksamana E.B Van den Bosch
  2. Letnan Kolonel J Bakker
  3. Jenderal Mayor A.V Michiels
  4. Wakil Jenderal Van Swieten
  • Tokoh Pertempuran Puputan Kusamba

Berikut beberapa tokoh pertempuran dalam Pertempuran Puputan Kusamba:

  • Pihak Bali
  1. Ida I Dewa Istri Kanya
  • Pihak Belanda
  1. Letjen Michiels
  • Tokoh Pertempuran Puputan Badung

Berikut beberapa tokoh pertempuran dalam Pertempuran Puputan Badung:

  • Pihak Bali
  1. Raja Badung I Gusti Ngurah Denpasar
  • Pihak Belanda
  1. Rost Van Toningen
  2. Kwee Tek Tjiang
  • Tokoh Pertempuran Puputan Klungkung

Berikut beberapa tokoh pertempuran dalam Pertempuran Puputan Klungkung:

  • Pihak Bali
  1. Raja Klungkung Ida I Dewa Agung Jombe
  2. Cokorda Gelgel
  3. I Putu Gledeg
  4. Cokorda Raka Pugog
  5. Ida Bagus Jumpung
  6. Dewa Agung Gede Semarabawa
  7. Dewa Agung Istri Muter
  8. Dewa Agung Gede
  9. Dewa Agung Muter
  • Pihak Belanda
  1. Letnan Haremaker
  2. A Liefrinck
  • Tokoh Pertempuran Puputan Margarana

Berikut beberapa tokoh pertempuran dalam Pertempuran Puputan Margarana:

  • Pihak Bali
  1. I Gusti Ngurah Rai
  • Pihak Belanda
  1. Kapten J.M.T Kunie
  2. Pasukan NICA

Nilai Moral yang Dapat Diteladani dari Perang Puputan

Setiap peristiwa yang telah terjadi pasti mengandung nilai moral dan keteladanan yang dapat kita contoh dalam peristiwa tersebut, termasuk peristiwa Perang Puputan. Berikut beberapa nilai moral dan keteladanan yang dapat kita ambil dari peristiwa Perang Puputan:

  1. Bersikap bijaksana dan pantang menyerah dalam membela harga diri bangsa dan kedaulatan negara Indonesia.
  2. Menghargai jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur mendahului kita dalam mempertahankan NKRI.
  3. Sebagai seorang pelajar maka sebaiknya kita rajin belajar dan bertekad untuk ikut memajukan bangsa. Hal tersebut sebagai salah satu usaha merawat NKRI yang telah diperjuangkan oleh pahlawan terdahulu.
  4. Mencintai dan merawat kedaulatan NKRI dengan lebih menyukai produk buatan negara sendiri daripada buatan luar negeri.

Demikianlah sedikit ulasan mengenai sejarah pertempuran puputan yang terjadi di Bali. Semoga materi kali ini dapat menambah wawasan kita dan menambah semangat kita untuk merawat Indonesia. aamiin.

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!