mumi

Peradaban Mesir Kuno dan Sejarahnya

Peradaban Mesir Kuno – Peradaban Mesir Kuno merupakan salah satu peradaban manusia yang menakjubkan pada zaman dahulu. Selain di Mesir, terdapat juga peradaban-peradaban dunia yang menakjubkan seperti Peradaban Cina Kuno, Peradaban Romawi Kuno, dan Peradaban Mesir Kuno.

Peradaban Mesir Kuno merupakan peradaban regional tertua kedua setelah peradaban bangsa Sumeria. Masyarakat Mesir Kuno banyak mengadopsi kebudayaan dari nenek moyang Neolitik dan Chalelolitik.

Selain itu, bangsa Mesir Kuno juga mendapatkan pengaruh kebudayaan dari bangsa Sumeria. Dalam perkembangannya, peradaban Mesir Kuno menjadi salah satu peradaban yang paling maju pada masanya.

Berikut akan kita ulas salah satu peradaban yang hebat di dunia peninggalan masa lalu, yakni peradaban Mesir Kuno.

Letak Geografis Peradaban Mesir Kuno

letak geografis lembah sungai nil
Photo by hariansejarah.id

Peradaban Mesir kuno mulai muncul dan berkembang di sebelah timur laut benua Afrika, tepatnya di sepanjang aliran Sungai Nil. Bangsa Mesir Kuno bertumpu dan bergantung pada aliran air Sungai Nil untuk kesuburan tanah mereka. Sungai Nil merupakan salah satu sungai terpanjang yang ada di dunia.

Secara geografis, wilayah Mesir Kuno terdiri dari tiga bagian besar. Bagian pertama yakni bagian lembah di hulu sungai, bagian kedua yakni bagian delta di hilir sungai, dan bagian ketiga yakni wilayah gurun yang membentang dan mengisolasi Mesir Kuno di bagian timur, barat, dan selatan. Wilayah Mesir Kuno berbatasan dengan Laut Tengah di sebelah utara dan Laut Merah di sebelah timur.

Diantara banyak gurun yang mengisolasi wilayah Mesir Kuno, terdapat banyak oase di dalamnya, seperti Kharfa, Bahariya, Dunqul, dan Daqla. Iklim di wilayah Mesir Kuno pun sama seperti dengan wilayah negara lainnya di Afrika, kering dan jarang sekali turun hujan. Kekeringan di wilayah ini dapat dilihat dari timur, barat, dan selatan wilayah Mesir Kuno yang dikelilingi oleh padang pasir.

Meskipun intesitas hujan yang kecil dan jarang terjadi, hal ini tidak berdampak besar bagi masyarakat Mesir Kuno yang tinggal di sekitar wilayah aliran Sungai Nil. Mereka yang hidup di wilayah Sungai Nil tidak pernah kehabisan air. Oleh karena itu, tumbuh peradaban besar di daerah sepanjang aliran air Sungai Nil.

Permulaan Masyarakat Mesir Kuno

peradaban mesir kuno
Photo by vanessazoyd

Sebelum munculnya pemukiman pertama di mesir Kuno, wilayah di sekitar Sungai Nil merupakan wilayah yang tidak layak huni. Sungai Nil secara keseluruhan mengalir sepanjang 6.400 km lebih. Sungai Nil dibentuk oleh dua sungai besar, yakni Sungai Nil Biru yang bersumber dari Ethiopia dan Sungai Nil Putih yang bersumber dari Uganda.

Kedua sungai besar ini menyatu di wilayah Khartoum hingga terbentuklah Sungai Nil. Dari wilayah Khartoum inilah mengalir sungai yang menyatu dengan panjang 3.040 km yang mengarah ke utara ke Laut Tengah.

Setiap tahun, hujan yang membasahi pegunungan selatan mengalir deras di sepanjang Sungai Nil. Hal ini menyebabkan daerah di sekitar Sungai Nil tergenang. Banjir yang melanda wilayah ini membuat wilayah di sekitar Sungai Nil tidak berpenghuni.

“Mesir adalah hadiah sungai Nil” (Egypt is the gift of the Nile)

– Herodotus

Orang-orang pertama yang nantinya bermukim di wilayah Mesir masih bermukim di sekitar pesisir Laut Merah dan berkelana hingga ke Sahara. Iklim yang lembab membuat Sahara menjadi tempat yang ditumbuhi rumput dan berair, sehingga ditinggali oleh banyak manusia.

Akan tetapi, pola cuaca di dataran Mesopotamia tiba-tiba berubah (termasuk Sahara), cuaca yang awalnya lembab berubah menjadi panas dan kering. Perubahan cuaca yang drastis ini membuat Sahara yang awalnya ditumbuhi rumput dan berair menjadi gersang. Penduduk Sahara pun berpindah ke arah timur menuju Lembah Sungai Nil yang mulai terairi dengan baik.

Berkurangnya curah hujan di Sungai Nil menjadikan wilayah di sekitar Sungai Nil layak huni. Sekitar tahun 5000-4000 SM, pengungsi dari Sahara pun mendirikan pemukiman di wilayah sekitar Lembah Sungai Nil. Para pengungsi pertama ini pun lama-lama berkembang dan dikenal sebagai orang Mesir pertama.

Para pengungsi ini pun menemukan teknik untuk mengatasi banjir tahunan. Mereka menggali tempat penampungan untuk menyimpan air ketika musim penghujan dan dialirkan ke ladang-ladang ketika musim panas.

Bangsa Mesir yang pertama ini membangun pemukiman di kedua tepi sungai. Mereka bermata pencaharian sebagai petani dan berburu binatang liar di sekitar Sungai Nil. Semakin tahun, penduduk di sekitar Lembah Sungai Nil semakin bertambah dengan datangnya pendatang lain dari pesisir barat Laut Merah.

Awal Peradaban Mesir Kuno

peradaban mesir kuno
Photo by マサコ アーント

Sejak 5000 tahun SM, desa-desa pertanian yang ada di sepanjang Lembah Sungai Nil membentuk kota-kota dan berkembang menjadi sebuah kerajaan. Sekitar tahun 3300 SM, terdapat dua kerajaan di wilayah Sungai Nil.  Dua kerajaan ini mendiami wilayah hulu dan hilir Sungai Nil.

Kerajaan pertama yakni wilayah Mesir Hulu. Wilayah Mesir Hulu dipimpin oleh seorang raja yang mengenakan mahkota putih, sehingga kerajaan ini juga disebut sebagai Kerajaan Putih. Wilayah Kerajaan Putih meliputi wilayah kota-kota bagian selatan.

Kerajaan kedua yakni wilayah Mesir Hilir. Wilayah Mesir Hilir dipimpin oleh seorang raja yang mengenakan mahkota berwarna merah berhiaskan ular kobra yang melilitnya. Kerajaan ini pun juga disebut sebagai Kerajaan Merah. Wilayah Kerajaan Mesir Hilir meliputi gabungan kota-kota yang berkembang di utara, termasuk kota Helipolis dan kota Buto.

Perkembangan peradaban Mesir Kuno terjadi sekitar tahun 3150 SM. Pada tahun 3150 SM, kerajaan di wilayah hulu dan hilir Mesir Kuno disatukan oleh Firaun Menes. Menes merupakan seorang penguasa dari wilayah hulu Mesir Kuno dan menjadi penguasa pertama di Mesir Kuno yang terunifikasi dari utara hingga selatan.

Menes menyatukan kedua kerajaan di wilayah Mesir Kuno dengan jalan perang saudara. Setelah menguasai wilayah Mesir Kuno, Menes menghancurkan seluruh pasukan hilir tetapi tetap menjaga kegiatan pertanian dan kehidupan masyarakat sipil di dalamnya. Menes juga memindahkan pusat kerajaan ke titik tengah antara Fayum dan delta Sungai Nil.

Kehidupan di wilayah Mesir Kuno pun mulai terformalisasi menjadi suatu kekaisaran setelah Menes berhasil menyatukan dua kerejaan di hilir dan hulu Mesir Kuno. Raja Firaun Menes pun merayakan penyatuan dua kerajaan ini dengan membangun sebuah ibukota di Memphis sebagai titik pusat kekaisaran yang baru. Kota ini didirikan sekitar 32 km di sebelah selatan bagian delta paling hulu, dekat dengan titik pertemuan Mesir Kuno hilir dan hulu.

Kota Memphis pun menjadi kota terbesar yang ada di wilayah Mesir Kuno. Kota ini juga bertahan sebagai ibukota Mesir Kuno kurang lebih selama 400 tahun.

Sistem Pemerintahan Mesir Kuno

firaun
Photo by Nadine Doerlé
Jika ingin menyebut nama raja, rakyat Mesir Kuno diharuskan didahului dengan istilah Per-O (Istana Agung) sebagai ganti nama raja. Oleh karena itu, muncullah sebutan Pharao atau Firaun untuk raja Mesir Kuno.

Sistem pemerintahan peradaban di Mesir Kuno adalah Monarkisme Absolut, yakni menganut sistem kerajaan. Kekuasaan tertinggi dalam sistem pemerintahan Meisi Kuno berada di tangan raja.

Bangsa Mesir Kuno meyakini jika kedudukan raja yang absolut merupakan kehendak dari para dewa. Mereka percaya jika raja adalah keturunan dewa matahari yang bernama Re. Dewa Re diyakini sebagai raja pertama Mesir. Raja Mesir dianggap seseorang yang sangat suci, rakyat biasa pun tidak diperbolehkan berhadapan atau bertatapan muka secara langsung dengan raja, begitu juga jika menyebut nama raja.

Tanggung Jawab Raja Firaun Mesir Kuno
  • Memerintah dengan adil
  • Memelihara keseimbangan alam semesta
  • Mengatur kelancaran sistem panen dan irigasi
  • Mengatur pemerintahan, hukum, dan kebijakan luar negeri
  • Memimpin angkatan perang
  • Memimpin upacara keagamaan

Organisasi Pemerintahan Mesir Kuno

firaun mesir
Photo by Angelika Garbaya

Dalam mengatur jalannya sistem pemerintahan, Raja dibantu oleh pejabat dan pegawai. Masing-masing dari mereka mendapatkan jabatan dan kedudukan yang sesuai dan terdapat pembagian tugas yang jelas.

Struktur pemerintahan di Kerajaan Mesir Kuno terdapat pejabat dengan jabatan tertinggi dibawah raja, yakni Vassal (raja bawahan) yang ditempatkan di wilayah Mesir Hulu dan Mesir Hilir. Vassal yang bertugas di Mesir Hulu berkedudukan di Memphis, sedangkan Vassal yang bertugas di Mesir Hilir berkedudukan di Thebe. Tugas utama Vassal adalah memantau pelaksanaan kebijakan pusat dan pemungutan pajak.

Vassal membawahi beberapa pegawai, juru tulis, dan duta. Pegawai bertugas untuk menangani urusan keuangan, bangunan kerajaan, lumbung, dan peternakan. Juru tulis atau sekertaris bertugas untuk mencatat seluruh kegiatan pemerintahan, sehingga pemerintah dapat mengawasi sejauh mana aturan dijalankan. Duta bertugas untuk menangani hubungan luar negeri.

Pemerintahan Mesir Kuno

kerajaan mesir kuno
Photo by Oberholster Venita

Sistem pemerintahan yang pernah berkembang dalam peradaban Mesir Kuno ada tiga kategori, yakni Kerajaan Mesir Tua, Kerajaan Mesir Pertengahan, dan kerajaan Mesir Muda. Berikut ulasan lengkap mengenai ketiga kerajaan tersebut.

  • Kerajaan Mesir Tua (3100 – 2134 SM)

raja firaun
Photo by Oberholster Venita

Kerajaan Mesir Tua dimulai dari masa pemerintahan Firaun Menes hingga pemerintahan Firaun Pepi II. Sebagai Raja Mesir yang pertama, Firaun Menes diberi gelar Nesut-biti, yakni raja bermahkota kembar. Mahkota kembar merupakan lambang atas keberhasilan Firaun Menes mempersatukan Mesir Hulu dan Mesir Hilir.

Masa pemerintahan Kerajaan Mesir Tua disebut sebagai abad piramida. Pada masa ini, dibangun berbagai piramida raksasa. Selain Firaun Menes, terdapat beberapa Firaun lain yang terkenal diantaranya adalah Zoser, Cheops, Chefren, dan Mekaure.

Ibukota Kerajaan Mesir Tua berada di daerah Memphis. Mesir Kuno dibagi menjadi 42 distrik administrative yang disebut nomes. Setiap distrik nomes dipimpin oleh seorang pejabat dengan waktu yang singkat. Ketika maja jabatan di nomes habis, para pejabat kembali ke Memphis. Akan tetapi, lama-kelamaan para pejabat ini menetap di nomes dan menjadi penguasa di nomesnya masing-masing.

Pejabat yang menetap di nomes dinamakan nomarch. Bahkan, terdapat jabatan nomarch yang dipegang seumur hidup dan berlaku turun-temurun. Ketika Raja Firaun Pepi II berkuasa, pemerintahan pusat Mesir kuno menjadi lemah dikarenakan persaingan antar nomarch. Masing-masing nomarch memiliki kepentingan, baik dalam bidang politik maupun ekonomi.

Persaingan dan perebutan pengaruh kekuasaan yang panjang membuat perstuan Mesir Kuno sulit untuk dipertahankan kembali. Setelah Firaun Pepi II meninggal dunia, wilayah Mesir terpecah belah. Keadaan ini pun menandakan berakhirnya masa pemerintahan Kerajaan Mesir Tua.

  • Kerajaan Mesir Pertengahan (2040 – 1640 SM)

raja firaun
Photo by PublicDomainPictures

Masa pemerintahan Kerajaan Mesir Pertengahan ditandai dengan keberhasilan Firaun Mentuhotep II dari wilayah Thebe mengalahkan Raja Herakleopolis. Wilayah Mesir pun disatukan kembali dengan Thebe sebagai ibukota Mesir.

Untuk menghindari pelemahan dalam pemerintahannya, Mentuhotep melakukan pembersihan terhadap berbagai pihak yang melawan kebijakannya. Selain itu, Mentuhotep juga mengangkat beberapa tokoh menjadi pejabat penting yang loyal (setia) dalam pemerintahannya.

Masa pemerintahan Kerajaan Mesir Pertengahan juga ditandai dengan perebutan kekuasaan. Ketika Mentuhotep IV berkuasa, ia berhasil digulingkan oleh Amenemhet I dan memindahkan ibukota Mesir ke Itjawy yang berdekatan dengan Memphis.

Kudeta yang dilakukan oleh Amenemhet I tidak mengakhiri masa Kerajaan Mesir Pertengahan. Bahkan, kerajaan ini mengalami kejayaan pada masa Amenemhet I dan penerusnya. Para Firaun yang terkenal pada masa pemerintahan Kerajaan Mesir Pertengahan diantaranya adalah Sensuret I, Sensuret II, dan Amenhemet III.

Pengaruh para nomarch pun masih kuat pada masa awal Kerajaan Mesir Pertengahan berkembang. Pengaruh para nomarch ini pun membahayakan persatuan Mesir. Untuk mengatasi peristiwa seperti ini, Sansuret III melakukan reorganisasi. Reorganisasi yang dilakukan oleh Sasuret III diantaranya adalah nomes dihapuskan. Ia mengganti sistem nomes dengan membagi wilayah Mesir menjadi 3 daerah administrative yang disebut waret.

Ketika Ratu Sobek-Neferu berkuasa, pemerintahan pusat Mesir Kuno semakin melemah. Sementara itu, persaingan antar pejabat pemerintah semakin meruncing. Kondisi Mesir yang melemah membuat bangsa Hyksos dan Timur Tengah menyerang Kerajaan Mesir Pertengahan. Wilayah Mesir pun dipimpin oleh bangsa dan rumpun Semit dan memindahkan ibukota Mesir ke wilayah Awaris.

  • Kerajaan Mesir Baru (1552 – 1069 SM)

firaun ramses II
Photo by LorettaLynn

Keberhasilan pasukan pimpinan Ahmosis mengusir bangsa Hyksos dari wilayah Mesir menjadi penanda dimulainya Kerajaan Mesir Baru. Masa pemerintahan Kerajaan Mesir baru merupakan masa paling gemilang dibandingkan dua masa sebelumnya.

Kehidupan Masa Firaun Ramses II diperkirakan hidup sezaman dengan kehidupan Nabi Musa

Pada masa pemerintahan Kerajaan Mesir Baru, Mesir membangun armada militer yang kuat. Mereka pun melakukan perluasan wilayah hingga ke Asia Barat. Dengan kekuatan militer yang dimiliki oleh Mesir, kerajaan ini menjadi kerajaan yang sangat disegani di wilayah Laut Tengah pada masa itu.

Beberapa Firaun Ternama yang Memimpin Kerajaan Mesir Baru
  • Ahmosis I: Firaun Ahmosis I berhasil mengalahkan bangsa Hyksos dari Mesir. Sehingga mulailah berkuasa dinasti ke-18, ke-19, dan ke-20.
  • Thutmosis I: Pada masa pemerintahan Thutmosis I, ia berhasil menguasai Mesopotamia yang subur.
  • Thutmosis III: Thutmosis merupakan raja terbesar yang memerintah di Mesir. Ia memimpin Mesir bersama dengan istrinya, Hatshepsut. Wilayah yang dikuasai oleh Thutmosis III dari timur hingga Syiria, di selatan hingga Nubia, di barat hingga Lybia, dan di utara hingga Pulau Kreta dan Sicilia. Ia pun dikenal sebagai Napoleon dari Mesir dan pembangunan Kuil Karnak dan Luxor.
  • Imhotep IV: Imhotep IV dikenal sebagai raja yang pertama kali memperkenalkan kepercayaan bersifat monotheisme kepada masyarakat Mesir Kuno. Ia memerintah hanya untuk menyembah Dewa Aton (Dewa Matahari), Dewa Aton merupakan roh yang tidak berbentuk. Firaun Imhotep IV juga menyatakan diri sebagai seorang manusia biasa dan bukan dewa.
  • Ramses II: Ramses II dikenal sebagai Firaun yang membangun bangunan besar bernama Ramesseum dan kuil juga makamnya di Abusimel. Firaun Ramses II juga memerintah untuk melakukan penggalian sebuah terusan yang menghubungkan wilayah Sungai Nil dan Laut Merah, tetapi proyek ini belum berhasil.

Setelah Firaun Ramses II mundur dari jabatannya, kekuasaan di Mesir mengalami kemunduran. Pada tahun 670 SM, Mesir ditaklukkan oleh Asyyria dan pada tahun 525 SM, Mesir menjadi bagian dari wilayah Imperium Persia.

Setelah dikuasai oleh Imperium Persia, Mesir dikuasai oleh Iskandar Zulkarnaen dan para penggantinya dari Yunani hingga dinasti terakhir Ptolomeus. Salah satu keturunan dari dinasti Plotomeus adalah Ratu Cleopatra dan sejak tahun 27 SM, Mesir menjadi bagian dari wilayah Romawi.

Sistem Kepercayaan Masyarakat Mesir Kuno

mumi
Photo by Rudy and Peter Skitterians

Sistem kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Mesir Kuno adalah sistem polytheisme, yakni menyembah banyak dewa-dewi. Bangsa Mesir mengenal sekitar 2000 dewa-dewi. Dewa-dewi yang disembah ada yang bersifat nasional, yakni disembah oleh seluruh rakyat Mesir Kuno. Ada juga dewa-dewi yang bersifat lokal, yakni disembah oleh rakyat Mesir, kalangan tertentu, dan wilayah tertentu.

Dewa-dewi yang disembah oleh masyarakat Mesir Kuno secara nasional berbeda-beda dari masa ke masa. Ketika masa Kerajaan Mesir Tua, pemujaan utama dilakukan kepada Re, Dewa Matahari. Bangsa Mesir Kuno pun membangun kuil di Heliopolis untuk memuja Dewa Re.

Ketika masa pemerintahan Kerajaan Mesir Pertengahan, pemujaan utama dilakukan kepada Osiris, Dewa hakim di alam baka. Setelah itu, pada masa pemerintahan Kerajaan Mesir Baru, pemujaan utama dilakukan kepada Dewa Amun, raja para dewa. Dewa Amun juga sering disembah bersamaan dengan dewa matahari, sehingga digabung menjadi Dewa Amun-Re.

Pembaharuan sistem kepercayaan bangsa Mesir dilakukan ketika Firaun Amenhotep IV berkuasa. Raja Amenhotep IV mengubah sistem kepercayaan Mesir yang awalnya polytheisme berubah menjadi monotheisme. Meskipun pembaharuan ini ditentang oleh para pendeta Amun-Re, Raja Amentahop IV menciptakan ibadah kepada satu dewa, Aten, yang dilambangkan dengan cakram matahari.

Pada masa pemerintaha Raja Amuntahep IV, dewa-dewi yang lain tidak dianggap selain Dewa Aten. Akan tetapi, setelah raja Amuntahep IV meninggal dunia, ibadah kembali dilakukan kepada Amun-Re dan dewa-dewi lainnya.

Dewa-Dewi Mesir
  • Amun : Raja para dewa
  • Re : Dewa matahari
  • Shu : Dewa udara
  • Set : Dewa Gurun, badai, dan bencana
  • Osiris : Dewa hakim di alam baka
  • Min : Dewa kesuburan
  • Khonsu : Dewa bulan
  • Anubis : Dewa kematian
  • Ma’at : Dewi keadilan dan kebenaran

Sistem kepercayaan peradaban Mesir Kuno pun tidak lepas dari tradisi pengawetan jenazah atau mumi. Tradisi ini mencerminkan yang dianut oleh Mesir Kuno jika orang yang telah mati akan hidup abadi selama raganya tetap utuh.

Mumi yang terkenal dari peradaban Mesir Kuno diantaranya adalah jenazah Firaun Tutankhamun dari Kerajaan Mesir Baru yang diteukan oleh arkeolog asal Inggris pada tahun 1922 M.

Peninggalan kebudayaan Peradaban Mesir Kuno

peradaban mesir kuno
Photo by マサコ アーント

Sebagai salah satu peradaban tertua yang ada di dunia, peradaban Mesir Kuno meninggalkan peninggalan yang menakjubkan, baik itu berupa bangunan maupun bidang ilmu pengetahuan. Berikut beberapa peninggalan peradaban Mesir Kuno:

  • Tulisan

hieroglyphs
Photo by Squirrel_photos

Masyarakat Mesir Kuno telah mengenal tulisan yang disebut sebagai Hieroglyph yang berbentuk gambar. Tulisan Hieroglyph banyak ditemukan di dinding piramida, tugu obelisk, dan daun papyrus. Huruf Hieroglyph terdiri dari gambar dan lambang yang berbentuk manusia, hewan, dan benda-benda.

  • Sistem Kalender

kalender mesir kuno
Photo by dictio.id

Penemuan selanjutnya yang ditemukan oleh bangsa Mesir Kuno adalah kalender. Kalender yang dibuat oleh bangsa Mesir Kuno awal kali dihitung berdasarkan siklus bulan yang berlangsung selama 291/2 hari. Akan tetapi, penghitungan kalender ini kurang tepat sehingga ditetapkan berdasarkan kemunculan bintang anjing (Sirius) yang muncul setiap tahun.

Bangsa Mesir Kuno juga mengenal penghitungan kalender dengan tahun kabisat. Perhitungan ini kurang lebih sama dengan penghitungan kalender yang sekarang kita gunakan yang disebut sebagai tahun syamsiyah.

  • Seni Bangunan (Arsitektur)

peradaban mesir kuno
Photo by Heiko S.

Seni bangunan yang dihasilkan oleh peradaban Mesir Kuno sangat terkenal dan menakjubkan di dunia. Bangunan yang beragam dan megah menandakan bangsa Mesir Kuno telah mengenal seni arsitektur dengan baik.

Berikut beberapa peninggalan bangunan peradaban Mesir Kuno:

  • Piramida

piramida giza
Photo by Walkerssk

Piramida merupakan salah satu bangunan yang terbuat dari batu. Piramida digunakan untuk makam para raja Firaun dan keluarganya. Bangunan piramida pertama kali dibangun pada masa pemerintahan Firaun Imhotep untuk makam Raja Firaun Sozer. Piramida ini dibangun di Sakkara. Beberapa piramida yang masyhur diantaranya terdapat di Giza (Gizeh) untuk makam Firaun Cheops (Khufu), Chefren, dan Mekaure.

Pembangunan piraamida merupakan sebagai bentuk penghargaan bangsa Mesir Kuno kepada raja-raja mereka. Bangsa Mesir Kuno berkeyakinan jika seorang raja merupakan turunan dari dewa, sehingga para raja harus dikenang dengan diabadikan dalam suatu monumen yang pantas dikenang sepanjang masa. Sehingga, dibangunlah sebuah piramida untuk mengenang raja mereka.

  • Sphinx

sphinx
Photo by Staleybk

Sphinx merupakan bangunan raksasa yang terbuat dari batu berbentuk singa berkepala manusia (wajah raja Mesir). Sphinx merupakan perwujudan dari Dewa Re. Biasanya, sphinx dibangun di depan piramida sebagai penjaga. Penjagaan ini merupakan lambang perlindungan dewa matahari kepada raja mesir. Sphinx terbesar terletak di Giza.

  • Obelisk

obelisk
Photo by Squirrel

Obelisk merupakan sebuah bangunan yang berbentuk tugu. Pembangunan obelisk ini tujukan untuk memuja Dewa Re. Selain itu, obelisk juga digunakan utuk mencatat kejadian-kejadian yang penting yang ditulis di dinding obelisk. Penulisan yang digunakan oleh bangsa Mesir Kuno menggunakan tulisan hieroglyph.

  • Kuil

kuil mesir kuno
Photo by Yawawa

Sistem kepercayaan Mesir Kuno yang bercorak polytheisme membuat peradaban ini tidak lepas dari keberadaan kuil. Oleh karena itu, terdapat peninggalan kuil yang megah dari peradaban Mesir Kuno. Kuil-kuil yang dibangun ini dibangun untuk memuja dewa-dewa tertentu.

Berikut peninggalan kuil-kuil dari peradaban Mesir Kuno
  • Kuil Dewa Re di Helipolis yang dibangun pada masa Kerajaan Mesir Tua berkuasa.
  • Kuil Hatshepsut di Deir-el Bahari yang dibangun ketika Hatshepsut berkuasa.
  • Kuil Aten di Tel-el Amarna yang dibangun ketika Amenhotep IV berkuasa.
  • Kuil Dewa Amun di Karnak yang dibangun ketika Ramses II berkuasa.
  • Kuil di Medinet Habu yang dibangun ketika Ramses III berkuasa.
  • Bidang Ekonomi

peradaban mesir kuno
Photo by マサコ アーント

Dalam bidang perekonomian, para wazir Mesir yang mengendalikan sistem administrasi dan perdagangan di Mesir dengan kekuasaan tertinggi dipegang oleh raja. Sebagian besar perekonomian Mesir Kuno dikendalikan oleh pemerintah pusat.

Pemegang kendali hukum tertinggi secara resmi pada masa peradaban Mesir Kuno dipegang oleh Firaun. Kasus-kasus hukum yang ringan diserahkan kepada dewan sesepuh lokal yang disebut Kenbet, sedangkan untuk kasus-kasus hukum berat diserahkan kepada Firaun. Masyarakat Mesir Kuno yang terjerat kasus juga harus bersumpah atas kebenaran yang mereka katakan.

  • Bidang Sosial

peradaban mesir kuno
Photo by ilmudasar.id

Dalam bidang sosial, masyarakat juga mengenal sistem strata sosial atau kasta. Jadi, dalam peradaban Mesir Kuno terdapat kelas sosial yang tinggi dan rendah. Urutan strata dari yang tertinggi ditempati oleh Firaun dan bangsawan, para pedagang, petani, buruh perkotaan, dan budak-budak.

Demikianlah sedikit ulasan mengenai sejarah peradaban Mesir Kuno. Semoga materi kali ini dapat menambah wawasan kita mengenai sejarah peradaban manusia, terutama peradaban Mesir Kuno. Aamiin.

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: