peradaban lembah sungai gangga

Peradaban Lembah Sungai Gangga di India

Peradaban Lembah Sungai Gangga – Peradaban India Kuno merupakan salah satu peradaban yang menakjubkan di dunia. Selain peradaban India Kuno, terdapat juga peradaban dunia lainnya, diantaranya adalah peradaban Mesir Kuno dan peradaban Cina Kuno. Pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai peradaban India kuno, tepatnya peradaban Lembah Sungai Gangga.

Peradaban India Kuno yang sebelumnya berada di Lembah Sungai Indus atau Peradaban Lembah Sungai Indus kini bergeser ke arah tenggara, yakni di wilayah Punjab. Perpindahan ini terjadi sekitar abad ke-6 SM atau pada generasi Buddha dan Mahawira mulai berkembang.

Pergeseran peradaban ini ke wilayah Punjab di daerah sekitar pertemuan antara Sungai Gangga, Gogra, dan Son. Pergeseran peradaban ini diakibatkan perluasan wilayah yang dilakukan oleh bangsa Arya dan penaklukkan Lembah Sungai Indus oleh bangsa Persia.

Bangsa Arya merupakan bangsa pendatang yang banyak mengadopsi bahasa dan cara hidup penduduk asli India, bangsa Dravida. Dalam perkembangannya, wilayah Sungai Gangga mulai banyak bermunculan kerajaan yang saling bersaing memperebutkan kekuasaan.

Letak Geografis Lembah Sungai Gangga

letak geografis india
Photo by vdocuments.mx

Peradaban Lembah Sungai Gangga terletak diantara Pegunungan Himalaya dan Pegunungan Windya-Kedna. Sungai Gangga bermata air dari Pegunungan Himalaya dan mengalir melewati kota-kota besar, seperti Delhi, Agra, Allahabad, Patna, Benares, lalu melewati wilayah Bangladesh dan bermuara di teluk Benggala. Sungai Gangga juga bertemu dengan Sungai Kwen Lun.

Dengan keadaan alam yang seperti ini, maka tidak mengherankan jika wilayah Lembah Sungai Gangga sangat subur. Selain itu, wilayah yang subur membantu munculnya suatu peradaban yang maju. Sekitar tahun 1000 – 700 SM, wilayah Sungai Gangga masih didominasi hutan tropis yang lumayan lebat.

Bangsa Arya dalam Peradaban Lembah Sungai Gangga

rute migrasi bangsa Arya
Photo by wawasansejarah.com

Bangsa Arya merupakan bangsa pendatang ke wilayah India. Sekitar 3500 tahun yang lalu, bangsa Arya berpindah ke wilayah selatan melampui celah Khyber untuk menetap di anak benua India. Bencana alam, musim kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan, wabah penyakit, dan perang saudara menyebabkan bangsa Arya pergi meninggalkan kampung halaman mereka di Rusia Selatan.

Pada masa awal kedatangan bangsa Arya ke India, kehidupan mereka tidak semegah yang dinikmati oleh penduduk asli India. Bangsa Arya hidup di dalam rumah yang terbuat dari kayu di desa terpencil, sedangkan penduduk asli India tinggal di rumah-rumah yang terbuat dari batu bata di Lembah Sungai Indus. Takaran bangsa Arya mengukur suatu kekayaan berdasarkan jumlah ternak yang mereka miliki.

Meskipun kehidupan bangsa Arya tidak semegah dan semaju penduduk asli India, mereka lebih pandai dalam bertempur dan bertahan hidup. Selang beberapa waktu, mereka pun menetap dan mengakulturasi kebudayaan di Harappa, yakni menjadi petani dan pandai besi. Mereka mulai mengenal berbagai tanaman pertanian, seperti padi, dan membudidayakannya.

Ciri-Ciri Umum Bangsa Arya
  • Memiliki kulit yang putih dengan hidung yang mancung
  • Memiliki rambut lurus berwarna hitam, terkadang juga berwarna pirang
  • Memiliki postur tubuh yang tinggi dan warna bola mata berwarna biru
  • Sebelumnya hidup dengan cara nomaden
  • Memiliki keahlian memelihara hewan ternak, menggembala, dan berburu
  • Memiliki keterampilan dalam berperang dengan berkuda dan senjata yang terbuat dari perunggu

Sekitar tahun 1200 SM, bangsa Arya mulai menetap di sepanjang Lembah Sungai Indus yang letaknya di sebelah selatan pegunungan. Hampir semua bangsa Arya tinggal di wilayah barat benua tersebut. Bangsa Arya mulai memahami makna reinkarnasi mereka sebagai bangsa yang menetap dan memiliki mitos kepercayaan sendiri.

Dengan mengadopsi dan mengakulturasi kebudayaan asli India, bangsa Arya terus mengalami perkembangan. Perlahan-lahan, bangsa Arya menjadi saingan yang berat bagi bangsa Dravida untuk menanam pengaruhnya di wilayah Sungai Indus. Peperangan pun terjadi antara dua penguasa lembah Sungai Indus ini. Akhirnya, bangsa Arya dapat menjadi penguasa yang mendominasi wilayah Lembah Sungai Indus.

Kehidupan Bangsa Arya di Lembah Sungai Gangga

peradaban lembah sungai gangga
Photo by pracoyo-adi.blogspot.com

Pada tahun 950 M, bangsa Arya menjelajah semakin jauh dari Lembah Sungai Indus. Mereka pun tinggal di Doab, yakni lekungan yang terletak di utara Sungai Gangga dan anak Sungai Jamuna. Bangsa Arya mulai memanfaatkan aliran sungai untuk keperluan irigasi pertanian. Sistem pertanian ini merupakan pondasi awal bagi bangsa Arya untuk menopang peradaban mereka di Lembah Sungai Gangga.

Kondisi politik yang terjadi di Lembah Sungai Gangga hampir sama dengan kondisi politik di Cina yang sezaman dengan peradaban ini. Secara politik, wilayah Lembah Sungai Gangga terbagi menjadi beberapa kerajaan lokal dengan kekuatan dan kekuasaan yang berbeda.

Kondisi politik Lembah Sungai Gangga terbagi menjadi 16 kerajaan, diantaranya adalah Negara Kuru, Gandhara, Videha, satupura Pancala, Ashuakan, Dekan, dan Maghada. Ke-16 kerajaan ini disebut sebagai Mahajanapada yang bermakna “Sebuah suku yang memiliki tanah”.

Diluar ke-16 kerajaan ini, terdapat beberapa suku yang menolak untuk masuk ke dalam salah satu dari 16 Mahajanapada. Mereka lebih memilih untuk membentuk persekutuan mandiri yang disebut gana-sangha.

Sistem Kehidupan Masyarakat Lembah Sungai Gangga

sistem kasta dalam agama Hindu
Photo by ipsmudah.com

Masyarakat Lembah Sungai Gangga memiliki sistem yang menjadi ciri khusus mereka, yakni sistem kasta. Sistem ini membagi golongan sosial masyarakat menjadi 4 strata atau golongan, yakni golongan  pendeta sebagai golongan teratas, golongan kedua ditempati oleh golongan ksatria, golongan ketiga ditempati oleh golongan waisya, dan golongan keempat ditempati oleh golongan sudra.

Persembahan dan kurban merupakan salah satu kegiatan sehari-hari bangsa Arya. Mereka membalut kebiasaan tersebut dengan kebudayaan dari bangsa Harappa, dan suku-suku pribumi India lainnya. Hingga sekarang, praktik keagamaan agama Hindu yang masih dikenal kebanyakan merupakan praktik yang dilakukan oleh bangsa Arya.

Menurut The Laws of Manu, golongan Brahmana digambarkan sebagai raja dari seluruh makhluk ciptaan. Golongan ini dilahirkan untuk melindungi pembendaharaan hukum.

Hanya golongan para pendeta agama Hindu (Brahmana) yang berhak untuk melaksanakan upacara kurban. Golongan pertama dalam sistem kasta agama Hindu ini memiliki pengaruh yang kuat terhadap 16 Mahajanpa. Para pendeta juga memiliki marga sendiri, sehingga orang yang terlahir dari keluarga pendeta atau Brahmana termasuk dalam kasta ini. Mereka juga berhak mewarisi hak istimewa.

Pada masa pemerintahan 16 kerajaan ini, seseorang yang tidak lahir dari golongan ksatria dapat menjadi raja selama mendapatkan limpahan kuasaan suci dari pendeta yang diserahkan dalam sebuah ritual. Akan tetapi, tidak seorang pun yang dapat mengambil tugas dari seorang Brahmana, kecuali ia berasal dari keturunan langsung kaum Brahmana.

Dalam sistem kasta agama Hindu juga terdapat kaum yang menempati kasta terendah, yakni kaum Sudra. Kaum sudra pada umumnya terdiri dari para budak dan pembantu. Kaum Sudra tidak memiliki hak untuk bersuara dan berkuasa, bahkan menurut hukum mereka boleh dibunuh atau dibuang oleh majikan.

Asal-muasal mengenai kaum Sudra masih belum diketahui secara jelas. Akan tetapi, mereka diperkirakan berasal dari masyarakat yang ditaklukkan oleh ke-16 Mahajanapada.

Kemunculan Jainisme dan Buddha

Nataputra Vardhaman dan Siddharta Gautama merupakan tokoh reformis dari India yang menolak adanya sistem kasta dalam agama Hindu. Mereka pun akhirnya mendapatkan penglihatan setelah melakukan pertapaan. Ajaran yang dibawa oleh Nataputra Vardhaman  disebut Jainisme, sedangkan ajaran yang dibawa oleh Siddharta Gautama disebut Buddha.

Berikut ulasan lengkapnya mengenai kedua tokoh tersebut dan ajaran yang dibawanya:

  • Nataputra Vardhaman

Nataputra Vardhamana
Photo by ancient.eu

Sistem kasta yang diterapkan dalam agama Hindu mendapatkan beragam penolakan dari beberapa tokoh reformis India abad ke-6 SM. Salah satu tokoh reformis India yang muncul pada tahun 569 SM adalah Nataputra Vardhamana. Ia dikenal dengan julukan Mawahira yang bermakna pahlawan.

Mawahira berasal dari gana-sangha yang bernama Vrijji. Wilayah ini terletak di sebelah timur laut Lembah Sungai Gangga. Mawahira merupakan seorang pangeran yang kaya raya, tetapi ia memiliki pandangan yang berbeda terhadap kehidupan.

Ajaran yang diajarkan oleh Mawahira dikenal dengan nama Jainisme, dan pengikut ajaran Jainisme disebut sebagai Jain.

Ketika Mawahira masih berusia muda, ia menolak kekayaan dan melepaskan haknya sebagai seorang pangeran. Setelah melepaskan gelar kebangsawanannya, ia melakukan meditsai selama dua belas tahun. Ketika melakukan meditasi, ia mendapatkan penglihatan tentang kehidupan yang terbebas dari semua pendeta brahmana dalam alam tersebut.

Ia pun mulai berkeliling India pada tahun 597 SM untuk mengajarkan lima sila yang ia terima dari meditasinya. Mawahira bukanlah seseorang yang menemukan ajaran baru, ia hanyalah seorang yang membuat perubahan atas ajaran agama Hindu yang telah ada. Perubahan yang ia buat menarik orang-orang, terutama dari kaum sudra dan waisya.

Lima Sila Hasil Meditasi Mawahira
  • Ahumsa (Tidak bertindak kekerasan terhadap makhluk hidup)
  • Satya (Kebenaran)
  • Asetya (Menahan diri dari pencurian)
  • Brachmacharya (Penolakan terhadap nikmat seksual)
  • Aparigraha (Meninggalkan materi)
  • Siddharta Gautama

peradaban lembah sungai gangga
Photo by apalabradelosfuertes.blogspot.com

Setelah Nataputra Vardhamana muncul dengan ajaran yang dibawanya, beberapa tahun kemudian muncullah seorang tokoh reformis dari luar Mahajanapada. Reformis ini bernama Siddharta Gautama yang lahir di Shakya. Ia juga lebih dikenal dengan julukan Sang Buddha.

Kehidupan Siddharta Gautama pun sama dengan Nataputra Vardhamana, ia lahir dalam keluarga pemegang kekuasaan dan kemewahan. Siddharta juga menolak keistimewaan berupa kekuasaan dan kemewahan yang diberikan dalam hidupnya. Pada umur yang ke-29 tahun, Siddharta memutuskan untuk keluar dari istana untuk berkelana dan melakukan pertapaan.

Hingga pada tahun 543 M, Siddharta mulai berkelana ke penjuru negeri. Akhirnya, setelah bertahun-tahun berkelana hingga melakukan pertapaan, ia menemukan jawaban atas semua pertanyaannya. Bukanlah nafsu yang selama ini memperangkap manusia, tetapi keberadaan itu sendiri yang terikat dengan keinginan yang menggebu-gebu.

Seperti halnya dengan ajaran yang dibawa oleh Nataputra Vardhamana, ajaran Buddha merupakan salah satu bentuk sikap anti brahmana dan anti kasta. Ajaran Buddha mengajarkan agar manusia bergantung pada kekuatan dirinya sendiri, tidak bergantung dengan kekuatan pemimpin-pemimpin yang kuat.

Perkembangan Peradaban Lembah Sungai Gangga

Berikut beberapa perkembangan peradaban Lembah Sungai Gangga:

Perkembangan Peradaban Lembah Sungai Gangga dalam Bidang Religi

Ada dua agama yang berkembang di India, yakni agama Hindu dan agama Buddha.

  • Agama Hindu

Agama Hindu merupakan agama yang memuja dewa-dewa. Ada tiga dewa utama yang dipuja dalam agam Hindu, yaitu Dewa Brahmana sebagai pencipta alam, Dewa Syiwa sebagai perusak alam, dan Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam.

  • Agama Buddha

Agama Buddha merupakan agama yang diajarkan oleh Siddharta Gautama. Agama ini muncul sebagai wujud penolakan terhadap sistem kasta dalam agama Hindu.

Tempat-tempat suci dalam agama Buddha diantaranya adalah Kapilawastu sebagai tempat kelahiran Sang Buddha, Bodh Gaya sebagai tempat sang Buddha bersemedi, Sarnath sebagai tempat sang Buddha memberikan wejangan pertama kali, dan Kusinagara sebagai tempat wafatnya sang Buddha.

Perkembangan Peradaban Lembah Sungai Gangga

peradaban lembah sungai gangga
Photo by kumparan.com

Bangsa pendukung peradaban Lembah Sungai Gangga adalah bangsa Arya. Berikut beberapa kebudayaan yang dihasilkan oleh bangsa Arya:

  • Seni pahatan atau patung yang dihasilkan kebanyakan berupa patung-patung yang melambangkan Dewa Brahmana, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa.
  • Seni bangunan yang dihasilkan berupa candi-candi dengan pahatan yang indah.
  • Tulisan dan bahasa yang digunakan oleh bangsa Arya adalah bahasa Sansekerta dengan huruf Pallawa.
  • Dalam bidang seni sastra, bangsa Arya meninggalkan wiracarita, antara lain:
  1. Kitab Ramayana

Kitab Ramayana ditulis oleh Resi Walmiki. Kitab ini menceritakan tentang kisah putra mahkota bernama Rama Putra Raja Dasaratha dengan istrinya, Dewi Sinta.

  1. Kitab Mahabarata

Kitab Mahabarata merupakan kitab yang ditulis oleh Resi Wiyasa. Kitab ini menceritakan tentang kisah keluarga besar Bharata yang memimpin kerajaan Hastina. Dua keturunan dari keluarga Bharata ini memperebutkan kekuasaan dan berperang di medan perang Kuruksetra.

Perang ini kemudian dikenal dengan nama Perang Barathayudha, yakni peperangan antara kejahatan (pihak Kurawa) melawan kebaikan (pihak Pandawa).

Demikianlah sedikit ulasan mengenai sejarah peradaban agama Hindu dan perkembangannya. Semoga materi kali ini dapat menambah wawasan kita mengenai sejarah peradaban yang ada di dunia. Aamiin.

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: