Sejarah dan Peninggalan Zaman Neolitikum

Peninggalan Zaman Neolitikum – Zaman akan selalu berkembang dan berubah-ubah. Kita di sekolah dikenalkan adanya zaman dahulu dimana manusia purba hidup, yang biasa disebut sebagai zaman prasejarah.

Zaman prasejarah atau zaman sebelum mengenal adanya tulisan dibagi menjadi empat zaman. Empat zaman tersebut yaitu Zaman Paleolitikum atau zaman batu tua, Zaman Mesolitikum atau zaman batu madya, Zaman Neolitikum atau zaman batu muda, dan Zaman Megalitikum atau zaman batu besar.

Setelah sebelumnya kita telah membahas Zaman Paleolitikum dan Zaman Mesolitikum, kali ini kita akan membahas Zaman Neolitikum atau zaman batu muda.

Agar mampu mengikuti materi ini lebih terperinci. Kita harus mengetahui pengetahuan dasar Zaman Neolitikum. Jadi, apa yang dimaksud dengan Zaman Neolitikum?

Pengertian Zaman Neolitikum

zaman neolitikum
Photo by hariansejarah.id

Zaman Neolitikum merupakan zaman batu muda. Zaman ini terjadi sekitar 1.500 tahun yang lalu. Pada zaman ini, kebudayaannya sudah mengalami banyak perkembangan dan berevolusi daripada zaman sebelumnya

Zaman Neolitikum adalah zaman batu muda. Dimana salah satu ciri peninggalan zaman ini adalah batu yang dihasilkan sudah diperhalus.

Pada zaman ini, manusia purba mulai terjadi perubahan perilaku, perubahan mata pencaharian, dan perubahan gaya hidup. Perubahan-perubahan tersebut dapat kita lihat dari kebudayaannya seperti alat batu sudah diasah dan diperhalus, sudah mulai bercocok tanam secara permanen, dan memproduksi keramik.

Manusia purba yang menjadi pendukung kebudayaan Zaman Neolitikum adalah Homo Sapiens.

Kepercayaan Manusia Purba pada Zaman Neolitikum

peninggalan zaman neolitikum
Photo by yuksinau.id

Pada Zaman Neolitikum, masyarakat purba sudah mengenal alam ghaib. Diantara kepercayaannya adalah mereka percaya jika manusia yang sudah meninggal masih meninggalkan roh yang tidak akan pernah lenyap. Kepercayaan ini dapat dilihat dari cara perawatan mereka pada upacara pemakaman.

Mereka membekali orang-orang yang sudah meninggal dengan kebutuhan sehari-hari, seperti alat-alat untuk makan, minum, dan memasak. Semua perbekalan ini ditujukan agar arwah yang sudah meninggal dapat pergi dengan tenang.

Ciri-Ciri Zaman Neolitikum

Agar kita dapat lebih mengerti kebudayaan dan keadaan alam pada Zaman Neolitikum, maka kita juga harus memahami ciri-ciri Zaman Neolitikum.

Berikut Beberapa Ciri Zaman Batu Neolitikum
  • Peralatan yang digunakan sudah diberi tangkai dan dihaluskan
  • Alat yang digunakan antara lain adalah kapak persegi dan kapak lonjong
  • Pakaian terbuat dari kulit kayu dan kulit binatang
  • Perhiasan di zaman ini terbuat dari kulit kerang, terrakota, dan batu
  • Mulai bertempat tinggal secara permanen atau menetap (sedenter)
  • Memiliki kemampuan bercocok tanam (memproduksi makanan sendiri atau food producing)
  • Menganut sistem kepercayaan animisme dan dinamisme

Peninggalan Zaman Neolitikum

Setiap zaman pasti mempunyai kebudayaan yang menandakan adanya kehidupan pada masa tersebut. Kebudayaan manusia purba yang hidup pada Zaman Neolitikum pun mengalami perkembangan. Diantara perkembangannya adalah memiliki tempat yang permanen untuk bertempat tinggal, perubahan mata pencaharian, dan mulai mengenal bahasa dan aksara baru.

Melalui peninggalan-peninggalan kebudayaan mereka lah kita dapat mengetahui perkembangan kehidupan manusia purba pada Zaman Neolitikum.

Berikut Beberapa alat Peninggalan Zaman Neolitikum
  1. Kapak Persegi
  2. Kapak Lonjong
  3. Kapak Bahu
  4. Gerabah
  5. Tembikar
  6. Pakaian
  7. Perhiasan
  8. Anyaman-Anyaman
  9. Pembuatan Perahu
  10. Penguburan Mayat
  • Kapak Persegi

kapak persegi
Photo by romadecade.org

Peninggalan Zaman Neolitikum yang pertama kali akan kita bahas adalah kapak persegi. Van Heibe Heroes yang memberikan nama kapak ini dengan nama kapak persegi karena memiliki bentuk penampang persegi panjang atau trapesium.

Kapak persegi terbuat dari bahan dasar batu yang memiliki bentuk persegi. Kapak ini memiliki fungsi yang berbeda dengan kapak-kapak peninggalan Zaman Paleolitikum maupun Zaman Mesolitikum yang rata-rata digunakan untuk berburu atau pun memotong makanan.

Kapak persegi pada Zaman Neolitikum digunakan seperti pacul untuk mencangkul dalam bercocok tanam dan alat untuk memahat kayu. Kayu yang dipahat dan dipukul tersebut digunakan untuk membuat baju dari serat kayu yang dipukul dan dipahat menggunakan kapak persegi ini. Kapak persegi banyak ditemukan di wilayah Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Jawa, dan sekitarnya.

  • Kapak Lonjong

kapak lonjong
Photo by romadecade.org
Kapak lonjong merupakan salah satu ikon peninggalan Zaman Neolitikum.

Kapak lonjong terbuat dari batuan nefrit yang dihaluskan. Dari bentuk kapak ini yang sudah diperhalus menunjukkan jika terjadi kemajuan yang cukup pesat terhadap kebudayaan di zaman batu.

Kapak lonjong menjadi kapak yang tergolong modern pada Zaman Neolitikum daripada kapak-kapak yang lainnya. Kapak ini disebut sebagai kapak lonjong dikarenakan bentuk dari kapak ini yang lonjong hampir ke bentuk oval. Ukuran kapak lonjong yang besar dinamakan kapak welzeinber, dan kapak kecil disebut sebagai kleinbell.

Kapak lonjong memiliki ciri-ciri yang sedikit mirip dengan kapak persegi. Akan tetapi, keduanya juga memilki perbedaannya. Perbedaannya adalah bentuk kapak lonjong pada salah satu bagian sisinya memiliki bagian yang lebih runcing dan tajam. Sedangkan kapak persegi semua bagiannya sama rata, tidak ada bagian yang lebih lonjong dan juga tajam.

Kapak lonjong juga ditemukan di beberapa negara luar negeri, tidak hanya di Indonesia saja. Diantara negara yang ditemukan kapak lonjong didalamnya adalah Filipina, Cina, Vietnam, dan negara Asia lainnya.

  • Kapak Bahu

kapak bahu
Photo by romadecade.org

Kapak bahu memiliki bentuk yang tidak berbeda jauh dengan kapak persegi. Yang membedakan kapak bahu dengan kapak persegi terletak pada bagian tangkainya terdapat tempat untuk mengikatkan. Kapak bahu tidak banyak ditemukan di Indonesia, tetapi terdapat beberapa penemuan kapak bahu di daerah Minahasa.

  • Gerabah

peninggalan zaman neolitikum
Photo by yuksinau.id`

Peninggalan Zaman Neolitikum selanjutnya yang akan kita bahas adalah gerabah. Dapat dikatakan, gerabah merupakan salah satu peninggalan Zaman Neolitikum yang masih ada hingga sekarang dengan inovasi yang lebih berkembang.

Gerabah adalah salah satu hasil kerajinan tangan yang dibuat dengan bahan dasar dari tanah liat, pasir, dan dibentuk menggunakan tangan.

Cara membuat gerabah adalah dengan menumbuk tanah liat dan diaduk hingga menghasilkan tekstur yang padat. Kemudian, hasil tersebut dihaluskan menggunakan batu yang lainnya agar memiliki bentuk yang lebih rapi.

Gerabah yang dihasilkan akan membentuk sebuah wadah kecil yang biasa digunakan untuk alat makan dan minum. Selain digunakan sebagai alat makan dan minum, gerabah juga dijadikan sebagai celengan dan mainan. Gerabah di Indonesia banyak ditemukan di Sulawesi, Banyuwangi, Tangerang, Bogor, dan beberapa titik lainnya.

  • Tembikar

tembikar
Photo by serbasejarah.blogspot.com
Manusia purba yang hidup pada Zaman Neolitikum membuat tembikar sebagai wadah untuk meletakkan segala macam hasil panen, meskipun tidak jarang ditemui tembikar dengan isi tulang.

Kemungkinan besar, tembikar yang digunakan pada Zaman Neolitikum adalah sebagai wadah hasil pengkonsumsian setiap hari, entah hasil buruan, hasil panen, hasil laut, dan lainnya.

Tembikar pertama kali ditemukan di daerah perbukitan Sumatera. Akan tetapi, para arkeolog hanya menemukan beberapa bagian kecil atau hanya sebagian saja dari bentuk tembikar tersebut. Penemuan tembikar ini diperkirakan tembikar yang berasal dari Zaman Neolitikum. Hal ini dapat dilihat dari gambar dan hiasan-hiasan yang terdapat dalam tembikar tersebut menunjukkan ciri pada Zaman Neolitikum.

  • Pakaian

pakaian zaman neolitikum
Photo by yuksinau.id

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, salah satu fungsi dari kapak persegi dan kapak lonjong adalah untuk memotong dan menghaluskan serat kayu. Serat kayu ini berfungsi sebagai bahan dasar untuk membuat pakaian pada Zaman Neolitikum. Pada zaman ini, mereka telah mengenal pakaian untuk menjaga diri dari cuaca dingin.

  • Perhiasan

perhiasan zaman neolitikum
Photo by pendidikan.co.id

Sudah sewajarnya jika manusia menyukai keindahan, begitu juga dengan manusia purba. Mereka memiliki perasaan untuk memperindah diri sehingga mereka membuat perhiasan sendiri. Para arkeolog yang meneliti, seringkali menemukan perhiasan pada gambar diatas yang dipercaya berasal dari Zaman Neolitikum.

Gelang dan tahapan dalam pembuatan perhiasan yang berasal dari Zaman Neolitikum banyak ditemukan oleh para arkeolog ketika melakukan penelitian di daerah Tasikmalaya. Perhiasan yang berasal dari Tasikmalaya ini terdiri dari berbagai macam batuan, diantaranya adalah batu Agete, Kalsedon, dan batuan Jaspis dengan beragam warna.

Penemuan gelang ini ditemukan dalam beberapa macam bentuk yang memiliki ukuran yang berbeda. Gelang ini berdiameter 24 – 55 mm dengan ketebalan 06 – 17 mm. Selain gelang, diperkirakan masih ada perhiasan lainnya yang berbentuk lebih kecil, seperti anting atau yang lebih kecil dari anting dan digunakan sebagai jimat.

  • Anyaman-Anyaman

Peninggalan pada Zaman Neolitikum selanjutnya adalah anyaman-anyaman. Ketika zaman ini, mereka mulai mengenal kerajinan anyaman yang terbuat dari bahan dasar bambu, rumput, dan rotan. Kerajinan anyaman ini digunakan sebagai tempat untuk menyimpan dan meletakkan makanan.

Diperkirakan pada zaman ini, mereka telah mengenal sistem barter. Mereka melakukan barter dengan ikan, anyaman, perhiasan, garam, hasil cocok tanam, dll.

  • Pembuatan Perahu

perahu bercadik
Photo by slideshare.net

Pada Zaman Neolitikum, mereka membuat perhau dengan cara yang masih sangat sederhana menggunakan batang pohon sebagai badan kapal dan tiang untuk layar perahu. Karena masih menganut kepercayaan Animisme dan Dinamisme, maka pohon yang akan digunakan sebagai bahan pembuatan kapal didoakan dahulu dan dilakukan ritual ibadah sebelum pemotongannya.

Pembuatan perahu dimulai dengan membangun sisi luar dari perahu tersebut, baru mengerjakan sisi dalamnya. Untuk menghindari perahu terbalik, mereka memasang katik sebagai penyeimbang perahu tersebut. Dalam pembuatan layar perahu, mereka melakukan teknik yang sama seperti membuat pakaian. Layar perahu ini biasa disebut sebagai layar sudu-sudu atau suru dalam bahasa Jawa.

  • Penguburan Mayat

penguburan
Photo by dedyirawannn.blogspot.com
Dalam kebudayaan Zaman Neolitikum, ada dua jenis penguburan mayat yang terkenal, yakni penguburan langsung dan penguburan tidak langsung.

Teknik penguburan langsung sama dengan cara yang digunakan sekarang, yakni mayat langsung sekali dikubur dan diletakkan pada sebuah wadah. Ada dua cara, yaitu mayat dilipat atau dalam posisi merungkuk. Sebelum melakukan penguburan, dilakukan upacara terhadap mayat.

Mayat diposisikan menghadap ke arah leluhur mereka di pegunungan dan diberikan bekal berupa ayam, manik-manik, dan lain sebagainya menuju ke alam arwah. Teknik penguburan seperti ini dapat kita temukan di daerah Anyer (Jawa Barat), dan di daerah Plawangan, Rembang (Jawa tengah).

Teknik penguburan tidak langsung dilakukan dengan cara mayat dikuburkan biasa tanpa diikuti upacara tertentu, lalu mayat akan digali lagi jika diperkirakan kondisi mayat sudah mengering. Mereka percaya bahwasannya roh arwah orang yang mati akan mendapatkan tempat sesuai perbuatannya selama di dunia dan seberapa besar upacara adat yang dilakukan.

Penggalian kubur kembali ini dimaksudkan untuk membersihkan sisa-sisa tulang dan diberikan pengawet pada persedian tulang, kemudian di letakkan pada suatu tempayan.

Puncak penyelenggaraan penguburan mayat ini ditandai dengan pendirian bangunan batu yang besar yang disebut dengan Zaman Megalitikum. Teknik penguburan mayat secara tidak langsung ini dapat kita temukan di daerah Melolo (Sumba), Gilimanuk (Bali), Lesung Batu (Sumatera Selatan), dan Lomblen di Flores (NTT).

Demikianlah sedikit ulasan materi mengenai sejarah dan peninggalan Zaman Neolitikum. Semoga dengan memahami materi ini, dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan kita tentang sejarah. Aamiin.

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!