Sejarah Peninggalan Zaman Mesolitikum

Peninggalan Zaman Mesolitikum – Sebelum adanya kehidupan manusia modern dengan segala kemudahan dan kreatifitasnya, terdapat zaman yang mengawali semua ini. Zaman sebelum mengenal adanya tulisan atau juga bisa disebut sebagai zaman prasejarah.

Zaman prasejarah merupakan kondisi zaman yang sangat berbeda dengan kondisi zaman sekarang. Ketika itu, semuanya masih sangat sederhana dan hanya memanfaatkan apa saja yang disediakan oleh alam.

Zaman prasejarah memiliki 4 periode, yaitu Zaman Paleolitikum (Zaman Batu Tua), Zaman Mesolitikum (Zaman Batu Tengah atau Madya), Zaman Neolitikum (Zaman Batu Muda), dan juga Zaman Megalitikum (Zaman batu Besar). Kali ini kita akan membahas mengenai Zaman Mesolitikum atau zaman batu tengah.

Sebelum melanjutkan pembahasan materi Zaman Mesolitikum atau Zaman Batu Tengah atau Madya lebih lanjut, alangkah baiknya jika kita lebih dahulu mengerti apa yang dimaksud dengan Zaman Mesolitikum?

Pengertian Zaman Mesolitikum

peninggalan zaman mesolitikum
Photo by dosenpendidikan.co.id

Zaman Mesolitikum secara bahasa dapat disebut sebagai zaman batu tengah atau zaman batu madya. Nama Mesolitikum diambil dari bahasa Yunani, Mesos yang berarti tengah dan Lithos yang bermakna batu.

Zaman ini diperkirakan terjadi sekitar 10.000 tahun yang lalu atau terjadi pada masa holosen. Pada zaman ini, manusia purba juga masih menggunakan bebatuan sebagai alat untuk membantu kehidupan sehari-hari mereka.

Zaman Mesolitikum dapat juga disebut sebagai Zaman Batu Tengah atau Zaman Madya.

Perkembangan budaya dan kehidupan Zaman Mesolitikum atau Zaman Batu Madya tentu memiliki tingkatan yang lebih maju dibandingkan Zaman Paleolitikum. Perkembangan budaya dan kehidupan yang lebih maju ini ditunjang oleh beberapa foktor. Diantara faktor-faktor yang menunjang tingkat budaya dan kehidupannya adalah:

  • Keadaan alam pada Zaman Mesolitikum atau Zaman Batu Tengah relatif lebih stabil dibandingkan Zaman Paleolitikum. Kestabilan keadaan alam ini membuat manusia purba yang hidup pada zaman ini mampu hidup dengan suasana yang lebih tenang yang mendorong mereka untuk mengambangkan dan meningkatkan kebudayaan mereka.
  • Manusia purba yang menjadi pendukung kebudayaan pada Zaman Mesolitikum atau Zaman Batu Madya adalah manusia purba berjenis Homo Sapiens, manusia purba yang lebih cerdas dari pendahulunya.

Manusia Purba yang Hidup di Zaman Mesolitikum

manusia purba
Photo by yuksinau.id

Manusia purba yang hidup pada Zaman Mesolitikum memiliki kecerdasan yang lebih baik dibandingkan manusia purba yang hidup pada Zaman Paleolitikum. Manusia purba yang hidup pada zaman ini memiliki tatanan sosial yang lebih tertata, rapi, dan juga lebih maju dari zaman sebelumnya.

Diantara manusia purba yang menjadi pendukung Zaman Mesolitikum adalah manusia purba berjenis Homo Sapiens dan bangsa melanosoid. Bangsa melanosoid merupakan bangsa yang hampir sama atau menyerupai nenek moyang dari orang-orang Sakai, Aeta, Aborogin, dan juga Papua.

Ciri-Ciri Zaman Mesolitikum

manusia purba gua
Photo by bobo.grid.id

Setiap zaman pasti berkembang dan mempunyai ciri-ciri maupun karakteristiknya sendiri-sendiri, begitu juga dengan Zaman Mesolitikum. Berikut adalah beberapa ciri-ciri yang menandakan Zaman Mesolitikum atau Zaman Mesozoikum:

  • Manusia purba yang hidup pada zaman ini sudah tidak lagi menggunakan sistem nomaden atau berpindah-pindah tempat. Mereka sudah memiliki tempat tinggal semi permanen di gua-gua dekat dengan pantai atau biasa dinamakan dengan Abris Sous Roche.
  • Manusia purba yang hidup pada zaman ini sudah mempunyai kemampuan untuk bercocok tanam meskipun masih menggunakan cara yang sangat sederhana.
  • Mereka sudah mampu membuat kerajinan dari gerabah.
  • Manusia purba yang hidup pada zaman ini masih menggunakan sistem food gathering (mengumpulkan makanan), meskipun mereka sudah mulai mengenal cara bercocok tanam.
  • Alat-alat yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari hampir sama atau menyerupai alat-alat yang digunakan pada Zaman Paleolitikum, yakni alat-alat yang terbuat dari batu dan masih kasar.
  • Ditemukannya sampah dapur yang disebut kjokkenmoddinger, yaitu sampah dapur yang terbentuk dari sekelompok kulit dan cangkang siput dan kerang yang menggunung di sepanjang pantai timur di wilayah Sumatera.

Peninggalan Kebudayaan Zaman Mesolitikum

Setiap zaman pasti memiliki peninggalan kebudayaan yang menjelaskan tentang keadaan dan kondisi zaman tersebut, begitu juga dengan Zaman Mesolitikum.

Beberapa alat peninggalan Zaman Mesolitikum
  • Abris Sous Rache
  • Kjokkenmodinger
  • Kebudayaan Tulang dari Sampung
  • Kebudayaan Bacson-Hoabinh
  • Kebudayaan Toala
  • Abris Sous Roche

peninggalan zaman mesolitikum
Photo by Sumbersejarah1.blogspot.com

Abris Sous Rache merupakan gua yang menjadi tempat tinggal bagi manusia purba yang hidup pada Zaman Mesolitikum. Abris Sous Rache ini merupakan gua yang berbentuk ceruk-ceruk pada batu karang yang digunakan sebagai tempat berlindung dari cuaca panas maupun panas dan berlindung dari hewan buas.

Abis Sous Roche di Indonesia ini pertama kali diteliti oleh seorang peneliti asing bernama Van Stein Callenfels pada tahun 1928 M – 1931 M di Gua Lawu, daerah Sampung, Ponorogo. Penemuan ini dinamakan sebagai Sampung Bone Culture karena banyaknya temuan-temuan terbuat dari tulang yang berasal dari Zaman Mesolitikum.

  • Kjokkenmoddinger

peninggalan zaman mesolitikum
Photo by dunianya-dinar.blogspot.com

Kjokkenmodinger merupakan istilah untuk sampah dapur yang berasal dari bahasa Denmark, yakni Kjokken yang berarti dapur dan Modding yang berarti sampah. Jadi, Kjokkenmoddinger merupakan sampah dapur yanag terbentuk dari fosil berupa timbunan atau tumpukan kerang dan siput yang mencapai tinggi sekitar ±7 meter di sepanjang pantai timur wilayah Sumatera.

Penemuan sampah dapur ini menjadi bukti bahwasannya manusia purba mulai tinggal menetap dan tidak berpindah-pindah lagi, atau nomaden. Fosil sampah dapur ini banyak ditemukan di sepanjang Tepi Pantai Timur Sumatera, antara daerah Medan hingga Langsa.

  • Kebudayaan Tulang dari Sampung

alat-alat dari tulang
Photo by artikelsiana.com

Pada tahun 1925 M, dr. P.V Van Stein Callenfels melakukan penelitian terhadap kjokkenmoddinger dan menemukan kapak genggam yang berbeda dengan dengan kapak genggam pada Zaman Paleolitikum. Van Stein Callenfels meneliti Abis Sous Roche di Gua Lawu, daerah Sampung Ponorogo.

Ketika melakukan penelitian, Van Stein Callenfels menemukan alat-alat peninggalan yang terbuat dari tulang belulang dari Zaman Mesolitikum dan dinamakan sebagai Sampung Bone Culture.

  • Kebudayaan Bacson-Hoabinh

Kebudayaan Bacson-Hoabinh adalah kebudayaan yang ditemukan di dalam bukit-bukit kerang dan gua di Indo-China, Sumatera Timur, dan Malaka. Di dalam gua, terdapat alat seperti batu giling.

Peninggalan kebudayaan Bacson-Hoabinh ini cukup unik. Jika terdapat manusia yang meninggal dunia, mayatnya di posisikan dengan posisi jongkok kemudian diberi cat berwarna merah. Tujuan pemberian cat ini adalah agar mengembalikan hayat kepada mereka yang masih hidup.

  • Kebudayaan Toala

peninggalan zaman mesolitikum
Photo by Suarajelata.com

Kebudayaan toala sebagian besar membuat alatnya dari batu yang menyerupai batu api dari Eropa, seperti kaleson, jaspis, obsidian, dan kapur.

Kebudayaan toala berbeda dengan kebudayaan Bacson-Hoabinh. Kebudayaan Toala jika ada yang meninggal, mayatnya dikuburkan di dalam gua. Jika tulang-belulangnya telah mengering, maka akan diberikan kepada keluarga mayat sebagai kenang-kenangan. Biasanya, kaum perempuan akan menjadikan tulang-belulang yang telah mengering tersebut sebagai kalung.

Peninggalan Alat-Alat Zaman Mesolitikum

Pada masa zaman mesolitikum juga memiliki beberapa alat peninggalan kebudayaan zaman tersebut.

Beberapa alat peninggalan Zaman Mesolitikum
  1. Pebble Sumatera
  2. Hachecourt
  3. Pipisan
  • Pebble Sumatera

kapak sumatera
Photo by sejarahlengkap.com
Pebble Sumatera juga disebu sebagai kapak genggam Sumatera.

Pebble Sumatera ditemukan oleh PV Van Stein Callenfels pada tahun 1925 M. Ia melakukan penelitian di bukit kerang dan akhirnya menemukan kapak genggam Sumatera ini. Bahan yang digunakan untuk membuat kapak genggam Sumatera ini adalah batu kali yang dipecah-pecah.

  • Hachecourt

kapak genggam
Photo by materitugassingkat.blogspot.com

Hachecourt atau kapak pendek juga ditemukan oleh dr. PV Van Stein Callenfels di dalam bukit kerang. Panjang kapak ini lebih pendek daripada kapak genggam Sumatera atau pebble, oleh karena itu disebut sebagai kapak pendek atau Hachecourt.

  • Pipisan

peninggalan zaman mesolitikum
Photo by panduanwisata.id

Pipisan merupakan batu-batu penggiling beserta dengan landasannya. Batu ini digunakan untuk menggiling makanan dan menghaluskan cat merah yang berasal dari tanah merah.

batu pipisan
Photo by Disparbud.jabarprov.go.id

Kesimpulan dari materi yang di atas adalah Zaman Mesolitikum sudah memiliki kemajuan dalam kebudayaannya. Pada zaman ini, manusia purba yang hidup di dalamnya sudah memiliki tempat tinggal semi permanen, mulai mengenal cara bercocok tanam, dan memiliki kemampuan untuk membuat gerabah.

Demikianlah sedikit materi mengenai peninggalan Zaman Mesolitikum beserta dengan ciri-cirinya. Semoga dengan mempelajari dan membaca materi ini, dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan kita. Aamiin.

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!