Sejarah dan Peninggalan Zaman Megalitikum

Peninggalan Zaman Megalitikum – Sebelum memasuki era modernisasi yang serba cepat seperti sekarang ini, pernah terjadi era praaksara atau prasejarah. Terdapat empat fase dalam zaman prasejarah yang juga dikenal sebagai zaman batu, diantara fase zaman tersebut adalah Zaman Paleolitikum dan Zaman Megalitikum.

Nah, untuk mengerti lebih lanjut apa itu Zaman Megalitikum dan apa saja yang terjadi di dalamnya. Alangkah baiknya kita mengetahui lebih dahulu apa yang dimaksud dengan Zaman Megalitikum?

Pengertian Zaman Megalitikum

Nama Megalitikum atau zaman batu besar berasal dari kata Mega yang berarti besar dan Lihikum atau Lithos yang berarti batu. Dinamakan sebagai Zaman Megalitikum atau zaman batu besar dikarenakan manusia purba yang hidup pada zaman ini menggunakan batu yang berukuran besar sebagai peralatan yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari.

Zaman Megalitikum berkembang ketika Zaman Neolitikum akan berakhir.

Ciri-Ciri Zaman Megalitikum

peninggalan zaman megalitikum
Photo by boombastis.com

Berikut beberapa ciri yang menunjukkan Zaman Megalitikum:

  • Manusia purba yang hidup di zaman ini telah mengetahui sistem pembagian kerja
  • Terdapat pemimpin atau kepala suku dalam suatu kelompok
  • Mulai memanfaatkan logam untuk dijadikan peralatan sehari-hari
  • Sudah menerapkan sistem food producing atau bercocok tanam
  • Mulai menerapkan norma-norma yang berlaku
  • Menerapkan sistem hukum rimba (primus interpercis), yakni memilih yang terkuat dari yang paling kuat

Kepercayaan Manusia Purba Zaman Megalitikum

Manusia purba yang hidup pada Zaman Megalitikum mulai berinisiatif untuk mendirikan bangunan batu yang besar untuk melaksanakan ritual ibadah. Kebudayaan Zaman Megalitikum merupakan ciri khas asli dari nenek moyang Indonesia sebelum mulai terpengaruh dengan kebudayaan Hindu, Buddha, Islam, dan kolonial.

Manusia Purba Pendukung Zaman Megalitikum

Berikut adalah daftar manusia purba pendukung kebudayaan di Zaman Megalitikum:

  1. Meganthropus Paleojavanicus (Manusia berukuran besar dari Jawa)
  2. Pithecanthropus (Manusia kera) yang terbagi menjadi tiga bagian, yaitu:
  3. Pithecanthropus Erectus
  4. Pithecanthropus Mojokertensis
  5. Pithecanthropus Soloensis

Peninggalan Zaman Megalitikum

Berikut daftar beberapa peninggalan kebudayaan Zaman Megalitikum yang masih dapat kita nikmati dan jumpai sampai sekarang:

  • Dolmen
  • Kubur Batu
  • Sarkofagus
  • Punden Berundak
  • Menhir
  • Arca Batu
  • Waruga
  • Batu Lumpang
  • Batu Dakon
  • Batu Kenong

Untuk lebih jelasnya, mari kita bahas satu persatu mengenai alat-alat peninggalan Zaman Megalitikum beserta gambarnya:

  • Dolmen

dolmen
Photo by sumbersejarah1.blogspot.com
Penemuan dolmen sebagai peninggalan kebudayaan pada Zaman Megalitikum banyak ditemukan di Besuki, Jawa Timur yang lebih dikenal dengan nama pandhusa.

Peninggalan Zaman Megalitikum yang akan kita bahas sekarang adalah Dolmen. Dolmen merupakan bangunan yang terbuat dari batu berbentuk besar, pipih, dan horizontal. Bangunan ini digunakan untuk tempat sesaji dan tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang, selain itu juga berfungsi sebagai penutup sarkofagus.

Dolmen biasanya ditempatkan di lokasi yang dianggap keramat atau di tempat yang sering kali dilakukan untuk upacara pemujaan terhadap roh nenek moyang. Seringkali, di bawah dolmen digunakan untuk meletakkan mayat agar tidak dimakan oleh binatang buas.

  • Kubur Batu

kubur batu
Photo by ifestyle.bisnis.com
Bentuk kubur batu ini menyerupai bangunan kuburan yang biasa terlihat pada masa modern ini.

Kubur batu merupakan salah satu peninggalan Zaman Megalitikum yang berfungsi sebagai tempat untuk penyimpanan jenazah. Bangunan ini terbuat dari batu yang biasanya digunakan sebagai tempat penguburan atau stonecists untuk para tetua pada masyarakat megalith.

Kebanyakan kubur batu yang ditemukan terletak membujur dari arah timur ke arah barat. Kubur batu ini banyak ditemukan di Bali, Pasemah (Sumsel), Wonosari (Yogyakarta), Cepu (Jawa Tengah), dan Cirebon (Jawa Barat).

  • Sarkofagus

sarkofagus
Photo by bilisitungkir.wordpress.com

Sarkofagus merupakan peninggalan batu Zaman Megalitikum yang berbentuk peti jenazah mirip dengan alat kubur batu. Akan tetapi, Sarkofagus memiliki bentuk mirip dengan palung atau lesung yang terbuat dari batu utuh dan memiliki penutup.

Pada dinding muka sarkofagus terdapat ukiran manusia atau binatang yang dipercaya memiliki kekuatan magis pada waktu itu. Di Indonesia, penemuan sarkofagus banyak ditemukan di Bali dan Bondowoso (Jawa Timur).

  • Punden Berundak

peninggalan zaman megalitikum
Photo by kebudayaan.kemdikbud.go.id

Punden berundak ini berbentuk bangunan yang disusun secara bertingkat. Bangunan punden berundak ditujukan sebagai pemujaan terhadap roh nenek moyang yang mana menjadi konsep dasar dari candi-candi pada masa Hindu-Buddha.

Struktur dasar punden berundak banyak ditemukan pada situs purbakala yang berasal dari periode kebudayaan Megalith-Neolitikum masa pra Hindu-Buddha masyarakat Astronesia. Contoh punden berundak terdapat di Candi Borobudur, Candi Ceto, dan kompleks pemakaman raja-raja Mataram di Imogiri.

  • Menhir

peninggalan zaman megalitikum
Photo by lampost.co

Menhir merupakan salah satu peninggalan sejarah berupa tugu batu yang tegak berdiri. Menhir sengaja ditempatkan di satu lokasi untuk memperingati orang yang sudah meninggal. Batu menhir ini digunakan sebagai media penghormatan dan lambang peringatan untuk orang-orang yang sudah meninggal.

Batuan menhir memiliki bentuk yang hampir sama dengan dolmen dan cromlech yang berasal dari periode Zaman Neolitikum yang banyak ditemukan di Prancis, Inggris, Irlandia, Spanyol, dan Italia. Situs batuan menhir dipercaya oleh para ahli sebagai tempat religius dan sebagai simbol untuk menyembah roh nenek moyang.

  • Arca Batu

arca batu
Photo by kebudayaan.kemdikbud.go.id
Arca batu banyak ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia, diantaranya ditemukan di Pasemah, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Bentuk dari arca batu dapat menyerupai binatang atau pun manusia yang berciri negrito.

Di Pasemah, ditemukan arca yang diberi nama Batu Gajah. Arca Batu Gajah berbentuk berupa sebongkah batu besar bulat yang di atasnya terdapat pahatan wajah manusia. Pahatan ini diperkirakan merupakan perwujudan dari roh nenek moyang yang seringkali dijadikan objek pemujaan.

Arca dalam agama hindu merujuk pada citra yang menggambarkan roh atau jiwa Ketuhanan (Murta, Murti, atau Murthi). Murti merupakan perwujudan dari aspek Ketuhanan atau dewa-dewi yang berfungsi sebagai sarana agar berkonsentrasi dalam kegiatan pemujaan kepada Tuhan.

  • Waruga

waruga
Photo by bobo.grid.id

Waruga merupakan kubur batu yang tidak berpenutup. Bangunan waruga ini banyak ditemukan di situs Gilimanuk, Bali. Waruga terbuat dari batu yang terdiri dari dua bagian, bagian atas memiliki bentuk segitiga yang mirip dengan bubungan ayap rumah. Sedangkan, bagian bawahnya memiliki bentuk kotak dengan ruang kosong di tengahnya.

  • Batu Lumpang

batu lumpang
Photo by kebudayaan.kemdikbud.go.id

Batu lumpang merupakan struktur batu hasil dari kebudayaan Zaman Megalitikum yang di tengahnya mempunyai cekungan. Batu lumpang ini juga disebut sebagai batu berlubang yang berfungsi sebagai alat upacara dan pembuatan makanan persembahan untuk para leluhur.

Batu lumpang atau batu berlubang ini banyak ditemukan di Garut dan Situs Patakan di Lamongan, Jawa Tengah.

  • Batu Dakon

batu dakon
Photo by travelingyuk.com

Batu dakon atau batu congklak merupakan prasasti yang terbuat dari batu. Batu dakon ini memiliki beberapa cekungan pada permukaan bagian atasnya. Penemuan batu ini terdapat di Bogor dan Purbalingga.

  • Batu Kenong

peninggalan zaman megalitikum
Photo by id.wikipedia.org

Batu kenong merupakan batu peninggalan Zaman Megalitikum yang memiliki bentuk silinder atau bulat dan memiliki tonjolan di bagian atasnya. Bentuk dari batu ini menyerupai dengan musik gamelan kenong. Batu ini ditemukan di Bondowoso dan di Kreongan, Jember.

Situs Megalitikum di Indonesia

Beberapa peninggalan prasejarah Zaman Megalitikum dapat kita lihat di berbagai situs yang ada di Indonesia.

Beberapa Situs Megalitikum di Indonesia
  • Situs Pasemah
  • Situs Gunung Padang
  • Situs Kampung Bena
  • Situs Pasemah

situs pasemah
Photo by indephedia.com

Situs Pasemah berada di kawasan Dataran Tinggi Pasemah, Pegunungan Bukit Barisan, Sumatera Selatan. Di situs ini, terdapat dua batu yang mencolok. Batu pertama berbentuk manusia yang meiliki tubuh tambun sedang membungkuk, dan kepalanya menghadap ke depan dengan posisi kepala agak menengadah.

Batu kedua yang terdapat di situs Pasemah berbentuk gajah. Di situs ini juga ada arca batu besar, alat-alat batu, tembikar, bilik batu, dan menhir.

  • Situs Gunung Padang

peninggalan zaman megalitikum
Photo by pegipegi.com

Situs Gunung Padang merupakan situs prasejarah Zaman Megalitikum terbesar di Asia Tenggara yang terletak di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Situs Gunung Padang pertama kali ditemukan oleh Belanda pada tahun 1914 M.

Situs Gunung Padang diperkirakan mempunyai luas dan tinggi melebihi Candi Borobudur dan memiliki umur yang lebih tua daripada Piramida Giza. Situs ini dipercaya merupakan salah satu tahta dari tahta Prabu Siliwangi yang memimpin Kerajaan Pajajaran.

  • Situs Kampung Bena

situs kampung bena
Photo by labuanbajotour.com

Situs Kampung Bena terletak di Kabupaten Benawa, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Kampung Bena merupakan situs peninggalan Zaman Megalitikum berbentuk daerah pemukiman yang masih bertahan hingga sekarang.

Masyarakat yang tinggal di Situs Kampung Bena masih mempraktikkan tradisi dan budaya yang sudah ada sejak 1200 tahun yang lalu di kampung yang dikelilingi Gunung Inerie.

Masyarakat yang tinggal di Situs kampung Bena terbagi menjadi 9 klan, yaitu Dizi, Dizi Azi, Wahtu, Deru Lalulea, Deeru Solamae, Ngada, Khopa, Ago, dan Klan Bena yang menjadi tetua sekaligus pendiri kampung.

Setiap klan yang hidup di Kampung Bena ini hidup pada tingkatan yang berbeda. Klan Bena sebagai pendiri kampung dan dianggap sebagai klan paling tua berada di tengah kampung. Rumah tradisional penduduk Kampung Bena berjumlah sekitar 40 buah mengelilingi sebuah struktur dari batu.

Demikianlah sedikit ulasan mengenai materi sejarah dan peninggalan Zaman Megalitikum. Semoga dengan mempelajari materi ini, dapat menambah wawasan dan pengetahuan kita tentang sejarah, terutama sejarah nenek moyang Indonesia. Aamiin.

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!