Masa Pemerintahan Abdurrahman II sd. Abdullah di Andalusia

Masa Pemerintahan Abdurrahman II sd. Abdullah di Andalusia – Masa pemerintahan Dinasti Umayyah di Andalusia merupakan kelanjutan pemerintahan Dinasti Umayyah di Damaskus. Setelah Dinasti Umayyah di Damaskus berhasil dikalahkan oleh Dinasti Abbasiyah, para bangsawan darah biru melarikan diri dari pemusnahan Dinasti Abbasiyah. Dalam peristiwa tersebut, salah satu keturunan Dinasti Umayyah yang bernama Abdurrahman al-Dakhil berhasil melarikan diri ke Andalusia. Setelah berhasil ke Andalusia, ia mendirikan Dinasti Umayyah II.

Masa pemerintahan Dinasti Umayyah II di Andalusia terbagi menjadi dua, yakni masa keamiran dan masa kekhalifahan. Masa keamiran terjadi pada tahun 756-912 M dan masa kekhalifahan terjadi sejak masa pemerintahan Abdurrahman III pada tahun 929 M. Masa keamiran adalah masa dimana pemerintahan Daulah Umayyah II berada dibawah seorang pemimpin yang bergelar amir (gubernur), namun tidak tunduk kepada pemerintahan Islam pusat khalifah Abbasiyah di Baghdad.

Pada masa ke-amir-an ini, Daulah Umayyah di Andalusia dipimpin oleh tujuh amir, yakni Abdurrahman I (756-788 M), Hisyam I (788-796 M), Hakam I (796-822 M), Abdurrahman II (822-852 M), Muhammad I (852-886 M), Mundzir (886-888 M), dan Abdullah (888-912 M).

Abdurrahman II merupakan anak dari Hakam I. Ia juga dikenal dengan nama sebagai Abdurrahman al-Ausath (penengah) karena kemunculannya ada diantara Abdurrahman I dan Abdurrahman III.  Abdurrahman II menegakkan toleransi beragama terhadap penganut Kristen dan Yahudi sehingga kedua penganut agama ini ikut serta berpartisipasi dalam perkembangan peradaban Islam di Andalusia. Kedua agama ini juga disediakan hakim khusus yang menangani permasalahan sesuai dengan ajaran agama masing-masing.

Setelah Pangeran Abdurrahman II naik tahta memimpin Andalusia, ia berhasil membawa Eropa ke era baru sehingga masanya identik dengan Eropa memasuki masa renaissance. Abdurrahman II mendirikan universitas, memperluas dan memperindah Masjid Utama Cordoba. Pencapaian tersebut membuat Reinhart Pieter Dozy berkomentar jika tidak ada seorang pun penguasa Andalusia yang memiliki istana berkilau dan semegah istana pada era Abduurrahman II.

Abdurrahman II dikenal sebagai penguasa Andalusia yang cinta akan ilmu. Pada masanya, pemikiran filsafat mulai masuk. Ia mengundang para ahli di dunia Islam lainnya untuk datang ke Andalusia sehingga kegiatan keilmuan di Andalusia mulai semarak.  Selain cinta akan ilmu, Abdurrahman II juga dikenal sebagai seorang penguasa yang mengembagkan kesenian dan kesusastraan dan pembaharu dalam bidang kemiliteran. Ia sangat mencintai kesenian, kesusasteraan, dan mencintai masyarakat yang berbakat dan berilmu. Hal ini membuat para seniman dan cendekiawan berduyun-duyun untuk mengunjungi istananya. Abdurrahman II banyak memberikan hadiah kepada para seniman, penyair, dan musisi. Ia menjadikan Cordoba sebagai Baghdad kedua.

Kedatangan Ziryab ke Andalusia

Ketika Abdurrahman II berkuasa, Andalusia kedatangan seorang biduan terkenal dari Baghdad yang bermigrasi dan menetap di Cordoba. Biduan ini bernama Ziryab dan berasal dari Persia. Ziryab merupakan mantan biduan dari istana khalifah Abbasiyah di Baghdad. Ketenarannya di Baghdad membangkitkan kecemburuan terhadap gurunya yang sama-sama tenar, yakni Ishaq al-Mawshuli. Hal ini membuat Ziryab melarikan diri dari Baghdad ke Afrika barat-laut.  Selain seorang biduan, ia juga seorang ilmuwan dan sastrawan.

Kedatangan Ziryab ke Andalusia dimanfaatkan oleh Abdurrahman II dengan memberinya gaji 3000 dinar/tahun. Abdurrahman II berharap dengan cara tersebut Ziryab dapat memperkaya peradaban Cordoba sehingga dapat menyaingi Baghdad. Upaya ini cukup berhasil dimana Ziryab menjadi trend setter dan biduan yang mempopulerkan Cordoba. Berkat kehadiran dan gaya Ziryab, orang-orang Cordoba mulai minum menggunakan gelas dimana sebelumnya mereka minum dari bejana yang berbahan logam.

Abdurrahman II merupakan penguasa yang aktif dalam pembangunan. Pada masa pemerintahanyya, Abdurrahman II memperindah kota dengan membangun gedung-gedung besar, masjid-masjid, dan taman-taman sehingga menjadikan Cordoba sebagai kota kebudayaan yang indah dengan budi bahasa yang halus dan sopan santun Arab yang anggun yang kemudian ditiru oleh orang-orang Eropa.

Fenomena Mozarab di Andalusia

Pengaruh kebudayaan Cordoba yang kuat tidak hanya diikuti oleh lingkungan istana dan penduduk Andalusia yang beragama Islam, namun juga oleh penduduk Andalusia yang beragama Kristen. Pengaruh dari kebudayaan ini hanya menjadikan penduduk Andalusia yang Kristen menjadi ter-Arab-kan atau arabisasi, bukan islamisasi. Orang-orang Kristen ini disebut sebagai mozarab,  yakni orang-orang yang mengikuti bahasa dan adat-istiadat Arab. Orang-orang Andalusia yang fanatik pada Kekristenan justru salah faham terhadap fenomena ini. Mereka menganggap bahwa Umayyah II sedang melakukan islamisasi melalui budaya.

Fenomena mozarab ini menuai gerakan yang reaksioner seperti kemunculan banyak martir (laki-laki dan perempuan yang siap mati) yang menghina Nabi Muhammad dan Islam. Penghinaan terhadap Nabi Muhammad dan Islam oleh beberapa pendeta Kristen yang siap mati seperti Pendeta Perfectus dan Pendeta Isaac. Pendeta-pendeta yang menghina Nabi Muhammad dan Islam diberi hukuman mati. Oleh kalangan Kristen, pendeta-pendeta tersebut diberi gelar santo. Kejadian ini terus berulang beberapa kali yang keseluruhannya berujung pada hukuman mati. Bahkan, setelah amir Andalusia berganti dari pemerintahan Abdurrahman II ke Muhammad I, kejadian tersebut masih berlanjut.

Tokoh-Tokoh Yang Berpengaruh di Andalusia

Dalam menjalankan roda pemerintahan Andalusia, Abdurrahman II dipengaruhi oleh 4 tokoh besar di istananya. Keempat tokoh tersebut yakni:

  • Yahya ibn Yahya

Yahya ibn Yahya adalah seorang ulama besar yang lumayan berpengaruh pada msa pemerintahan Abdurrahman II. Ia merupakan seorang Berber dari suku Mashmudah dan murid dari Imam Malik ibn Anas di Baghdad. Yahya ibn Yahya juga bertanggung jawab memperkenalkan Mazhab Maliki ke Spanyol.

  • Abul Hasan Ali ibn Nafi’

Abul Hasan Ali ibn Nafi’ lebih dikenal sebagai Ziryab. Ia merupakan orang yang pertama kali mendirikan sekolah musik. Ia juga seorang penyanyi dan pencipta lagu serta orang yang secara resmi membawa budaya timur ke barat, seperti berpakaian rapi, makan di ruang makan dengan menggunakan meja makan, dan lagu-lagu musiman. Selain menerapkan kesenian, Abul Hasan Ali juga menerapkan geografi, astronomi, sastra, dan gaya menyisir rambut.

  • Khawaja Nasir

Khawaja Nasir adalah seorang sekertaris negara. Ia terlibat dalam kosnpirasi bersama dengan Sultanah Tarub untuk membunuh Pangeran Muhammad.

  • Sultanah Tarub

Sultanah Tarub merupakan ibu negara dan istri dari Abdurrahman II. Ia bersekongkol dengan Khawaja Nasir untuk membunuh Pangeran Muuhammad supaya anak Tarub (anak bawaan dari suami lain) yang bernama Abdullah dapat menggantikan posisi Pangeran Muhammad. Akan tetapi, persekongkolan tersebut berhasil terbongkar yang menyebabkan Nasir dibunuh dan Tarub tidak lagi dipercaya oleh Amir Abdurrahman II.

Setelah memimpin Andalusia selama 30 tahun, Abdurrahman II meninggal dunia pada tahun 852 M. Pemerintahan Andalusia dilanjutkan oleh anaknya, Muhammad ibn Abdurrahman.

  • Masa Pemerintahan Muhammad ibn Abdurrahman II (852-886 M)

Setelah Amir Abdurrahman II meninggal dunia, Pangeran Muhammad ibn Abdurrahman II naik tahta. Pada masa awal kepemimpinannya, terjadi serangkaian kerusuhan dalam negeri. Kerusuhan-kerusuhan tetsebut antara lain pemberontakan rakyat Toledo yang dibantu oleh kepala suku Leon pada tahun 854 M. Untuk mengatasi pemberontakan tersebut, Muhammad I segera berangkat dengan membawa pasukan besar untuk menundukkan para pemberontak. Dalam pertempuran tersebut, sekitar 8.000 orang Kristen dibunuh akibat tidak tunduk pada pemerintah.

Selain pemberontakan Toledo, terjadi kerusuhan oleh Bangsa Norman, orang-orang Franka, dan diikuti oleh orang-orang Gasilia dan Navarre. Setelah berhasil mengatasi kerusuhan tersebut, Muhammad I mulai mengorganisir pemerintahan Andalusia secara teratur seperti membuat sistem peraturan ketata pemerintahan, pembentukan undang-undang bagi pengelolaan negara, dan melakukan kebijakan-kebijakan pemerintah yang mengarah pada kesejahteraan rakyat. Kebijakan tersebut antara lain memberikan bantuan keepada rakyat yang kurang mampu.

Kecintaan Amir Muhammad Terhadap Ilmu

Seperti ayahnya, Muhammad I juga penguasa yang cinta akan ilmu dan keindahan. Ia memperindah ibu kota dengan gedung-gedung yang indah, bangunan-bangunan besar, dan monumen-monumen. Sebagai amir yang cinta ilmu, ia dikenal sebagai amir yang memelopori pembangunan perpustakaan terbesar di Cordoba, kemudian perpustakaan tersebut diperluas pada masa pemerintahan Abdurrahman III .

Muhammad I juga menyokong fasilitas pendidikan bagi pelajar, penyair, dan penulis dalam bidang keilmuan sehingga berdampak pada perkembangan Islam dalam bidang sains dan filsafat pada masanya. Ia memprakarsai lahirnya tokoh filsafat islam.  Diantara tokoh-tokoh filsafat yang lahir pada masa pemerintahan Muhammad II antara lain Ibn Bajjah dengan karyanya yang berjudul “The Rule of The Solitary”, Ibn Tufail dengan karyanya “Hay ibn Yaqzan”, dan Ibn Rusyd dengan karyanya “Tahafut al Tahafut”.

Selain dalam bidang filsafat, sains juga berkembang pada masa ini, seperti ilmu kedokteran, Matematika, Astronomi, dan Kimia. Diantara tokoh-tokoh sains adalah Abbas ibn Famas yang berhasil menemukan pembuatan kaca dari batu untuk pertama kalinya, Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash yang berhasil menemukan alat yang dapat menentukam waktu terjadi dan lama waktunya gerhana matahari, dan Ahmad ibn Abbas dari Cordoba yang ahli dalam bidang obat-obatan.

Pertentangan Antara Dua Mazhab

Mazhab Maliki mulai berkembang di Andalusia pada masa pemerintahan Abdurrahman II. Mazhab ini dibawa dan disebarkan oleh Yahya ibn Yahya.  Pada masa pemerintahan Muhammad I, terjadi pertikaian antara Mazhab Maliki dan Mazhab Hambali. Muhammad I berhasil mendamaikan dua mazhab tersebut sehingga ia dikenal sebagai amir yang berhasil mendamaikan dua mazhab. Pertikaian antara Mazhab Maliki dan Mazhab Hambali hampir saja membawa Andalusia dalam perpecahan. Hal ini dikarenakan Mazhab Hambali dianggap baru di Andalusia. Bahkan, terdapat masyarakat Andalusia yang menilai Mazhab Hambali bertentangan dengan al-Quran dan sunah.

Masyarakat yang masih asing dengan Mazhab Hambali mengadu kepada amir untuk mempertahankan pendapat mereka. Amir Muhammad berpendapat jika umat Islam terus bertikai, maka hal ini akan menguntungkan kelompok Kristen. Oleh karena itu, amir mengajak umat Islam untuk berdamai dan bersatu. Ide dan saran dari Muhammad II diterima oleh umat Islam dan mereka bersatu untuk menghadapi kekuatan kelompok Kristen.

Kerusuhan Pada Masa Pemerintahan Muhammad

Perkembangan yang dicapai oleh Bani Umayyah pada masa Muhammad I juga diwarnai dengan ancaman dan kerusuhan, diantaranya kelanjutan gerakan reaksioner fenomena mozarab oleh umat Kristen di Andalusia. Dalam menangani fenomena tersebut, Muhammad I mengambil kebijakan dan tindakan yang lebih tegas dengan menghukum mati aktor intelektual dari gerakan martir tersebut, yakni Pendeta Eulogius dan Uskup Cordoba.  Akan tetapi, tindakan yang dilakukan oleh Muhammad I tidak menghentikan kekacauan berbasis sentiment agama tersebut.

Kekacauan akibat fenomena mozarab masih berlanjut hingga ke penerus Muhammad I, Mundzir ibn Muhammad dan Abdullah ibn Muhammad. Bahkan, Abdullah ibn Muhammad dituduh sebagai penguasa yang tidak toleran oleh pihak-pihak pengacau. Dengan kata lain, para amir Andalusia dipaksa untuk bersikap toleran terhadap tindakan-tindakan yang menghujat serta menghina Nabi Muhammad dan Islam.  Setelah memimpin Andalusia selama 34 tahun, Muhammad I kemudian meninggal pada tahun 886 M di usianya yang ke-65 tahun.

  • Masa Pemerintahan Mundzir ibn Muhammad (886-888 M)

Setelah Muhammad II meninggal dunia, kursi pemerintahan Andalusia diduduki oleh puteranya yang bernama Mundzir. Mundzir dikenal sebagai seorang amir yang displin dan kuat. Meski hanya memerintah Andalusia dalam kurun waktu yang cukup singkat, dalam kurun waktu dua tahun tersebut dia berhasil membawa Andalusia aman dan maju. Mundzir wafat secara mendadak sehingga waktu pemerintahannya cukup singkat.  Mundzir wafat akibat diracun atas perintah saudaranya, Abdullah, oleh dokternya dengan racun yang dipakai oleh ahli bedah saat mengeluarkan darahnya.

Ketika Mundzir wafat, perlawanan terus berlanjut di wilayah kerajaan antara kaum Mozarab kaum Muwallad.  Sejumlah negara bagian yang berada dibawah pemerintahan orang Berber atau Muslim Spanyol melepaskan diri dari kekuasaan Kordoba dan menegaskan kemerdekaannya masing-masing. Gerakan-gerakan separatis ini terus berlangsung dan cukup membuat repot para amir Umayyah hingga abad ke-10. Gerakan-gerakan ini disponsori oleh kalangan neo-Muslim yang bersikap sebagai pejuang nasional di provinsi-provinsi yang sebelumnya masih berada dalam kekuasaan Kordoba.

  • Masa Pemerintahan Abdullah ibn Muhammad (888-912 M)

Setelah amir Mundzir mati secara mendadak, tahta pemerintahan Andalusia diduduki oleh saudara kandungnya yang bernama Abdullah. Abdullah naik tahta pada waktu yang sangat krisis. Ia mengalami gejolak dan tekanan yang cukup hebat dari kelompok Kristen maupun kelompok bangsawann Arab. Meski berhasil memerintah Andalusia selama 25 tahun, masa pemerintahannya dipenuhi dengan gangguan dan pemberontakan dari berbagai pihak.

Pada masa Abdullah, Umar ibn Hafsun yang memberontak kepadanya berhasil menjadi penguasa di sebagian Andalusia secara defacto. Umar ibn Hafsun kemudian masuk Kristen dan mengganti namanya menjadi Samuel dengan tujuan untuk mencari simpati dari umat Kristen. Akan tetapi, Umar ibn Hafsun tidak diakui sebagai amir.

Pemberontakan Umar ibn Hafsun sudah berlangsung selama masa pemerintahan Muhammad I, Mundzir ibn Muhammad, Abdullah ibn Muhammad, dan Abdurrahman III. Bagi orang Kristen dan orang-orang yang tidak puas dengan pemerintahan Kordoba, Umar ibn Hafsun menjadi pahlawan bagi mereka. Akan tetapi bagi orang Arab, Umar ibn Hafsun adalah pemberontak. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan pada masa pemerintahan Abdurrahman III.

Daftar Pustaka
  • Affan, Muhammad. 2018. “Peperangan Proxy, Mozarab, dan Cordoba dalam Sejarah Umayyah II di Andalusia.” JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam) Vol. 2, No. 1.
  • Alhana, Anastya Nida. 2019. “Muhammad ibn Abd al-Rahman (Studi atas Peranannya dalam Pengembangan Filsafat dan Sains di Andalusia).” Raushan Fikr Vol. 8, No. 1.
  • Hitti, Philip K. 2018. History of The Arabs. 10. Dialihbahasakan oleh R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi. Jakarta Selatan: Zaman.
  • Karim, Muhammad Abdul. 2019. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Bagaskara.
  • Napitupulu, Dedi Sahputra. 2019. “Romantika Sejarah Kejayaan Islam di Spanyol.” Mukadimah Vol. 3, No. 1.
  • Nasution, Syamruddin. 2013. Sejarah Peradaban Islam. Riau: Yayasan Pustaka Riau.
  • Rusniati. (Tanpa Tahun). “Masuknya Islam di Spanyol (Studi Naskah Sejarah Islam).” Makalah. Makassar: Universitas Muhammadiyah Makassar
  • Saiful. n.d. “Kemajuan Peradaban Islam di Spanyol Pada Masa Muluk al-Thawaif.” Skripsi. Makassar: Universitas Islam Negeri Alauddin
  • Syauqi, Abrari, Ahmad Kastalani, and Hidayati Widuri. 2016. Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta: Aswaji Pressindo.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!