perlawanan terhadap voc

Sejarah dan Tujuan Pelayaran Hongi pada Zaman Belanda

Pelayaran Hongi – Sebagian besar dari kita pasti pernah mendengar tentang pelayaran hongi ketika mempelajari sejarah Indonesia di sekolah, terutama yang bersangkut paut dengan VOC Belanda. Jadi, apa sih yang dimaksud dengan pelayaran hongi dan dampaknya bagi Indonesia?

Pelayaran hongi merupakan istilah yang dipakai untuk menyebut suatu pelayaran yang dilakukan oleh VOC Belanda untuk mengontrol lajunya monopoli perdagangan yang dilakukan oleh VOC Belanda. Pelayaran ini juga disebut sebagai Ekspedisi Hongi atau Hongitochten.

Pelayaran hongi di Nusantara difokuskan di daerah perairan Pulau Maluku dengan menggunakan kapal kora-kora. Nama kapal kora-kora yang digunakan sebagai pelayaran adalah kapal hongi, sehingga dikenal sebagai pelayaran hongi.

Sejarah Pelayaran Hongi

pelayaran hongi
Photo by satujam.com

Peristiwa yang mengawali diadakannya pelayaran hongi dimulai dengan VOC. VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) merupakan suatu badan persekutuan dagang yang dibentuk oleh pengusaha Belanda di Indonesia. Ketika itu, cengkeh dan pala merupakan rempah-rempah yang sangat dibutuhkan hingga menjadi langka.

Kelangkaan rempah-rempah berupa cengkeh dan pala disebabkan sulitnya akses ke daerah penghasil rempah-rempah tersebut, yakni Malaka. Hal ini membuat harga rempah-rempah setara dengan harga emas. Hal ini membuat wilayah penghasil rempah-rempah, yakni Indonesia, menjadi wilayah buruan bangsa Eropa.

Hal ini membuat VOC Belanda berinisiatif untuk melakukan monopoli rempah-rempah dan membatasi dalam produksinya. Peristiwa ini membuat banyak masyarakat yang melawan kebijakan VOC, para penguasa dan masyarakat yang melawan kebijakan VOC akan dibunuh.

“Sejak zaman kompeni, Aceh punya keberanian individu, Jawa punya keberanian kelompok. Beda sekali.” – Pramoedya Ananta Noer

Pada tahun 1621 M, Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen mengirimkan armada ke Banda dari Batavia. pemgiriman ini dimaksudkan untuk menghancurkan masyarakat Banda yang tidak menerima kebijakan yang telah diterapkan oleh VOC.

Williard A Hanna dalam Indonesia Banda, Colonialism and its Aftermath in the Numteg Islands (1991) menceritakan bahwasannya pasukan VOC yang terdiri dari 1.655 orang Eropa, diantaranya 150 meninggal dalam perjalanan, ditambah dengan 250 orang dari garnisun pergi ke Banda.

286 orang Jawa ikut dibawa dan dijadikan sebagai pengayuh kapal. Selain orang Jawa dan Eropa, terdapat sekitar 80-100 orang Jepang, beberapa diantaranya dijadikan sebagai algojo pemenggal kepala.

Walaupun begitu, semangat perlawanan yang dilakukan rakyat Banda mudah untuk dipatahkan. Seluruh pimpinan Banda dibunuh dan sebagian rakyat Banda dibawa ke Batavia untuk dijual dan dijadikan budak. Junlah keseluruhan Banda yang dibawa mencapai 883 orang, terdiri dari 287 pria, 356  perempuan, dan 240 sisanya adalah anak-anak, 176 diantaranya meninggal dunia dalam perjalanan.

Untuk memuluskan monopoli perdagangan VOC Belanda di Nusantara, Belanda menyingkirkan pesaing-pesaingnya dari Eropa, diantaranya Portugis, Spanyol, dan Inggris dengan cara yang kejam. Tahun 1623 M, dua tahun setelah pembantaian yang dilakukan oleh VOC Belanda kepada rakyat Banda. Selain itu, para pedagang Inggris juga dibantai oleh serdadu bayaran VOC Belanda.

Tujuan Pelayaran Hongi

perahu kora-kora
Photo by fayllar.org

Dari sejarah pelayaran hongi yang sudah dijabarkan diatas, dapat dikatakan jika pelayaran ini merupakan suatu sistem keamanan yang dilakukan VOC Belanda yang bertujuan untuk menjaga, mencegah, mengawasi, dan mengamankan monopoli perdagangan mereka di Nusantara, terutama perdagangan rempah-rempah.

Pelayaran hongi juga bertujuan untuk mencegah terjadinya permainan perdagangan pasar gelap atau penyelundupan yang dilakukan rakyat pribumi diluar sistem monopoli perdagangan yang telah diterapkan oleh pihak VOC Belanda.

Berikut beberapa tujuan dari Pelayaran Hongi:
  • Mengawasi jalannya monopoli perdagangan milik Belanda, terutama di Nusantara
  • Mengawasi perdagangan rempah-rempah yang ada di Nusantara, khususnya di Pulau Maluku
  • Memusnahkan produksi rempah-rempah yang terlampau berlebihan. Hal ini menyebabkan banyak perkebunan cengkeh dan lada milik warga lokal yang dimusnahkan oleh VOC Belanda
  • Mempertahankan jalannya sistem monopoli perdagangan milik Belanda

Dampak Pelayaran Hongi

pelayaran hongi
Photo by jurnalponsel.com

Seperti kebijakan-kebijakan lainnya yang diterapkan oleh VOC Belanda, pelayaran hongi juga mengakibatkan dampak terhadap pihak yang bersangkutan. Pelayaran hongi memiliki dampak yang cukup terasa bagi Nusantara, baik itu dampak positif maupun dampak negatif.

Berikut dampak yang diakibatkan oleh Pelayaran Hongi bagi bangsa Indonesia, baik dampak posistif maupun dampak negatif.

  • Dampak Negatif

Dampak negatif yang disebabkannya diantaranya adalah menjadikan VOC Belanda semakin berkuasa dan mendapatkan keuntungan yang banyak di Nusantara, terutama dalam aspek perdagangan. Masyarakat pribumi tidak bisa menjual ke pedagang lain selain kepada VOC, yang mana VOC Belanda membelinya dengan harga yang murah.

Selain itu, jumlah rempah-rempah berupa cengkeh dan lada yang ada di Pulau Maluku semakin berkurang. Hal ini sebagai akibat pembakaran yang dilakukan oleh pihak VOC Belanda untuk melakukan pelayaran hongi. Monopoli perdagangan yang dilakukan oleh VOC Belanda pun semakin menjadi-jadi yang mengakibatkan banyak kerugian untuk rakyat pribumi di Nusantara.

  • Dampak Positif

Dampak positif yang disebabkan diantaranya adalah masyarakat Nusantara semakin mengerti dan paham kelicikan yang dilakukan VOC Belanda untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.

Selain itu, rasa kebersamaan dan persatuan antar penduduk masyarakat di Nusantara semakin tumbuh dan meningkat untuk melawan kesewenangan yang dilakukan oleh VOC Belanda kepada mereka.

Peraturan Hongi

suasana pelabuhan ketika bangsa eropa ke indonesia
Photo by ruangguru.co.id

Demi kelancaran VOC Belanda melakukan pelayaran hongi, pihak mereka menerapkan peraturan untuk melancarkan tujuannya. Sebelum melaksanakan peraturan yang akan diterapkannya, pihak VOC melakukan perjanjian terlebih dahulu dengan para raja, patih, atau pun orang-orang yang memiliki pengaruh besar terhadap suatu daerah.

Peraturan yang akan diterapkan VOC Belanda akan berlangsung jika wilayah yang dituju setuju dengan perjanjian yang telah ditetapkan, salah satunya dengan memusnahkan cengkeh. Akan tetapi, jika suatu wilayah tidak setuju dengan perjanjian yang dibuat, maka VOC Belanda tidak segan-segan untuk bertindak kasar. Jadi, perjajian yang dilakukan VOC Belanda hanyalah sebuah formalitas saja.

Jika perjanjian telah disetujui oleh kedua belah pihak, maka wilayah yang tanaman cengkehnya telah dimusnahkan wajib untuk menyediakan perahu kora-kora dan pendayung perahu. Perahu kora-kora ini digunakan untuk melakukan pelayaran ke pulau lain. Jika terdapat rakyat pribumi yang menolak untuk mendayung, maka ia akan mendapatkan hukuman cambuk dan denda.

Semua yang disediakan oleh pemimpin wilayah yang setuju dengan perjanjian yang dibuat VOC Belanda, maka ia akan mendapatkan ganti rugi dari VOC. Akan tetapi, korupsi dan kecurangan yang dilakukan oleh VOC Belanda atau pun pemimpin wilayah menyebabkan rakyat setempat semakin menderita.

Perlawanan Terhadap Sistem Pelayaran Hongi

perlawanan terhadap voc
Photo by atmago.com

VOC Belanda tetap memaksakan kehendak dengan sistem pelayaran hongi dan melakukan kesewenangan. Masyarakat Nusantara yang tidak setuju dengan sikap Belanda ini pun memilih untuk melakukan perlawanan.

Salah satu yang melakukan perlawanan terhadap kesewenangan VOC Belanda adalah pihak Banda. Perlawanan masyarakat Banda seperti yang telah diceritakan diatas, pada akhirnya berakhir dengan kemalangan. Banda dikenal sebagai salah satu produsen cengkeh, dan merasa sangat dirugikan dengan sistem yang dilakukan oleh VOC Belanda.

Selain Banda, Sultan Hasanuddin dari Sulawesi Selatan juga mengerahkan kekuatan dan armadanya untuk melakukan perlawanan terhadap VOC Belanda yang sangat merugikan rakyat Maluku.

Demikianlah sedikit ulasan mengenai sejarah pelayaran hongi yang dilakukan VOC Belanda di Nusantara, terutama di wilayah perairan Maluku. Semoga dengan mempelajari materi ini dapat menambah wawasan dan rasa cinta kita kepada Indonesia yang kaya akan sumber daya alamnya. Aamiin.

Alhamdlillah

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: