kongres perempuan indonesia

Organisasi Wanita pada Masa Pergerakan Nasional

Organisasi wanita pada masa pergerakan nasional tidak akan pernah lepas dari perjuangan bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan. Wanita merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan suatu bangsa. Wanita yang berkualitas maka akan melahirkan penerus bangsa yang berkualitas pula.

Pada awal kemunculannya, organisasi pergerakan wanita belum mempersoalkan masalah-masalah yang menyangkut isu nasional. Mereka masih fokus pada perbaikan hidup dalam berkeluarga dan meningkatkan kecakapan menjadi seorang ibu.

Lambat laun dalam perkembangannya, organisasi pergerakan wanita mulai merambah dan ikut serta dalam usaha untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Berikut beberapa organisasi pergerakan wanita pada masa kemerdekaan.

Latar Belakang Munculnya Organisasi Wanita

organisasi wanita pada masa perrgerakan nasional
Photo by goodnewsfromindonesia.id

Kelahiran organisasi wanita tidak lain dikarenakan ketimpangan derajat antara laki-laki dan perempuan, terutama dalam hal pendidikan. Perkembangan pendidikan pada masa pergerakan tidak dapat sepenuhnya dirasakan oleh kaum perempuan karena hanya kaum laki-laki yang dapat mengenyam pendidikan hingga ke jenjang yang tinggi.

Permasalahan tersebut menimbulkan adanya diskriminasi terhadap kaum perempuan. Pembatasan pendidikan yang dialami oleh kaum perempuan juga dipengaruhi oleh adat yang berkembang pada saat itu. Akibat adanya pembatasan ini menjadikan kaum perempuan mengenyam pendidikan hanya sebatas persiapan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik.

Kaum perempuan bersekolah hanya sampai di tingkat sekolah rendah atau sekolah dasar. Pada masa itu, anak perempuan yang sudah menginjak usia dewasa tidak diperbolehkan keluar rumah dalam kehidupan keluarga.

Pada masa pertama pergerakan Indonesia, pergerakan perempuan hanya berjuang untuk mempertinggi kedudukan sosial. Pada abad ke-20, beberapa tokoh pejuang kaum perempuan mulai lahir, diantaranya adalah R.A Kartini dan Dewi Sartika. R.A Kartini dan Dewi Sartika menjadi pelopor tokoh pejuang kaum perempuan di berbagai daerah.

Perjuangan kaum perempuan yang masih perorangan ini membuat kaum perempuan mulai sadar bahwa peningkatan derajat kaum perempuan sangatlah penting. Hal ini terjadi karena masyarakat Indonesia pada saat itu masih menganggap pendidikan untuk kaum perempuan tidak penting, mereka menganggap tugas kaum perempuan hanyalah mengurusi urusan rumah tangga.

Semangat kebangsaan yang tumbuh dan berkembang ini telah membawa pengaruh yang besar terhadap kaum perempuan pribumi. Kesadaran ini tumbuh akan situasi dan kondisi hidup dalam masyarakat yang terjajah. Berikut organisasi wanita pada masa pergerakan nasional yang muncul sebagai akibat dari akar masalah bangsa pada masa penjajahan, terutama pembatasan pendidikan terhadap kaum wanita

Organisasi Wanita pada Masa Pergerakan Nasional

Berikut beberapa organisasi wanita pada masa pergerakan nasional:

  • Putri Mardika

Pada tahun 1912 M, atas segala usaha yang dilakukan oleh Boedi Oetomo berdirilah sebuah organisasi wanita yang bernama Putri Mardika. Organisasi ini berdiri di Jakarta yang bertujuan untuk memberikan bantuan, bimbingan, dan penerangan kepada wanita-wanita pribumi dalam menuntut pelajaran dan dalam menyatakan pendapat dihadapan umum.

Putri Mardika merupakan organisasi keputrian yang masih bagian dari organisasi Boedi Oetomo. Kegiatan yang dilakukan oleh organisasi ini diantaranya adalah memberikan beasiswa dan menerbitkan majalah bulanan.

Tokoh-tokoh dari organisasi ini diantaranya adalah P.A Sabarudin, R.A Sutinah Joyopranoto, R.R Rukmini, dan Sadikun Tondokusumo.

  • Kautamaan Istri

organisasi wanita pada zaman kemerdekaan kautamaan istri
Photo by id.pinterest.com

Kautamaan Istri merupakan organisasi wanita yang telah dirintis oleh R. Dewi Sartika sejak tahun 1904 M di Tasikmalaya, Jawa Barat. Organisasi ini kemudian berubah menjadi Vereninging Kaoetaman Istri. Pada tahun 1910, organisasi Kautamaan Istri mendirikan sekolah yang diurus oleh sebuah panitia terdiri dari Njonja Directour Opleidingschool, Raden Ajoe Regent, Raden Ajoe Patih, dan Raden Ajoe Hoofd-Djaksa.

Tujuan didirikannya sekolah Kautamaan Istri adalah untuk mengajari anak gadis supaya mampu membaca, menulis, berhitung, dan memiliki keterampilan kerumahtanggaan. Seluruh aspek ini diharapkan agar kelak para gadis dapat menjadi ibu rumah tangga yang baik bagi keluarganya.

Organisasi Kautamaan Istri juga memiliki perwakilan daerah di beberapa daerah, seperti Tasikmalaya (1913), Sumedang dan Cianjur (1916), Ciamis (1917), dan Cicurug (1918).

  • Kartini Fonds (Dana Kartini)

sekolah kartini
Photo by rakyatbekasi.com

Organisasi Kartini Fonds didirikan oleh Tuan dan Nyonya C. Th. Van Deventer yang mana merupakan seorang tokoh politik etis. Salah satu usaha yang dilakukan oleh organisasi ini dengan mendirikan sekolah-sekolah, diantaranya Sekolah Kartini di Jakarta, Bogor, dan Semarang (1913), Madiun (1914), Malang dan Cirebon (1916), Pekalongan (1917), Surabaya dan Rembang.

  • Kerajinan Amai Setia (KAS)

pendiri kerajinan amai setia
Photo by aisyiyah.or.id

Kerajinan Amai Setia (KAS) merupakan salah satu organisasi wanita pada masa pergerakan nasional yang didirikan di Kota Gadang, Sumatera Barat. Organisasi ini didirikan oleh Rohana Kudus pada tahun 1914.

Tujuan didirikannya organisasi ini untuk meningkatkan pendidikan wanita dengan mengajarkan bagaimana cara mengatur rumah tangga, membuat barang-barang dari kerajinan tangan dan bagaimana cara memasarkannya.

Pada tahun 1914 M, KAS berhasil mendirikan sekolah wanita pertama di Sumatera sebelum terbentuknya Diniyah Putri di Padangpanjang.

  • PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya)

Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya
Photo by kowani.or.id

Organisasi PIKAT (Percintaaan Ibu Kepada Anak Temurunnya) merupakan salah satu organisasi pergerakan yang didirikan oleh Maria Yosephine Catharine Maramis. Ia lebih dikenal dengan nama Maria Walanda Maramis.

Organisasi PIKAT didirikan pada tanggal 8 Juli 1917 di Kota Manado dengan tujuan untuk memajukan harkat dan martabat seorang wanita. Organisasi ini terus berkembang di Indonesia hingga memiliki berbagai organisasi cabang di daerah lain seperti di Jakarta, Bandung, Surabaya, Bogor, Malang, Balikpapan, Magelang, dan lain-lain.

Selain mendirikan organisasi PIKAT, Maria Walanda Maramis juga mendirikan Hulshoud School PIKAT. Sekolah ini merupakan sekolah rumah tangga untuk gadis-gadis, khususnya bagi siswi yang telah lulus dari sekolah dasar.

  • Aisyiah

logo aisyiyah
Photo by republika.co.id

Organisasi Aisyiah merupakan organisasi pergerakan wanita yang didirikan pada tanggal 22 April 1917 M. Organisasi ini masih berada satu bagian dengan Muhammadiyah. Pendiri Aisyiyah adalah Siti Walidah, istri dari pendiri Muhammadiyah Ahmad Dahlan.

Kegiatan utama dari Aisyiah adalah memajukan pendidikan dan keagamaan bagi kaum wanita, memelihara anak yatim, dan menanamkan rasa kebangsaan lewat kegiatan organisasi agar kaum wamita dapat mengambil peran aktif dalam masa pergerakan nasional di Indonesia.

Setelah berdiri, Aisyiah berkembang dengan amat cepat. Sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah, Aisyiyah tumbuh menjadi organisasi yang otonom dan terus berkembang ke penjuru tanah air.

Pada awal berdirinya, Aisyiyah bernama “Sopo Tresno” pada tahun 1914. Sopo Tresno merupakan sebuah forum pengajian wanita yang dipimpin oleh Siti Walidah. Dalam forum pengajian ini, Nyai Ahmad Dahlan mengajarkan pelajaran membaca dan menulis latin maupun Arab. Semakin hari, forum ini semakin menarik masyarakat luas dari beragam kalangan.

Dalam forum ini, para anggota juga diajak untuk mendalami ayat-ayat Al-Quran dan Hadits yang berkenaan dengan hak-hak dan kewajiban perempuan. Kehadiran Sopo Tresno sangat berpengaruh dalam masyarakat sekitar karena dapat menjadi penghambat meluasnya misi kristenisasi yang waktu itu telah meluas hingga ke Pulau Jawa.

Melihat perkembangan yang positif dari forum pengajian Sopo Tresno, diadakanlah pertemuan khusus di rumah Nyai Ahmad Dahlan. Dalam pertemuan yang dihadiri oleh K.H Ahmad Dahlan selaku pendiri Muhammadiyah dan beberapap pengurus Muhammadiyah memutuskan untuk mengembangkan perkumpulan pengajian Sopo Tresno menjadi organisasi wanita Islam yang mapan.

Akhirnya, forum pengajian Sopo Tresno berubah menjadi organisasi wanita Islam Aisyiyah. Dari waktu ke waktu, gerakan Aisyiyah terus berkembang dan memberikan manfaat bagi peningkatan harkat dan martabat perempuan Indonesia. Hasil yang sangat nyata diantaranya adalah berdirinya ribuan taman kanak-kanak, sekolah dasar, hingga perguruan tinggi.

  • Organisasi Kewanitaan Lain

organisasi wanita pada masa pergerakan nasional
Photo by katailmu.com

Selain kelima organisasi tersebut, terdapat organisasi pergerakan wanita pada masa pergerakan nasional yang lainnya.

Organisasi pergerakan wanita yang lainnya diantaranya adalah Pawiyatan Wanita di Magelang (1915), Wanita Susila di Pemalang (1918), Wanita Rukun Santoso di Malang, Budi wanita di Soo, Putri Budi Sejati di Surabaya (1919), Wanita Mulya di Yogyakarta (1920), Wanita Nasrani di Yogyakarta (1921), PMDS Putri (1923), Wanita Taman Siswa (1922), dan Putri Indonesia (1927).

Dari beragam jenis organisasi wanita yang berkembang pada masa pergerakan nasional tersebut, paham kebangsaan dan persatuan Indonesia juga diterima di kalangan organisasi ini. Oleh karena itu, untuk mempersatukan dan membulatkan tekad dan mendukung persatuan Indonesia maka diadakanlah kongres perempuan Indonesia di Yogyakarta pada tanggal 22-25 November 1928 M.

Kongres Perempuan Indonesia

kongres perempuan Indonesia
Photo by wawasansejarah.com

Kongres Perempuan Indonesia pertama kali diadakan di Yogyakarta pada tanggal 22-25 Desember 1928. Kongres ini diprakasai oleh beberapa organisasi wanita, seperti Wanita Utomo, Putri Indonesia, wanita Katholik, Wanita Mulya, Aisyiah, SI, JIB, dan Taman Siswa bagian wanita.

Kongres Perempuan Indonesia bertujuan untuk mempersatukan cita-cita dan usaha untuk memajukan wanita Indonesia, dan juga mengadakan gabungan terhadap berbagai perkumpulan wanita yang ada. Dalam kongres tersebut, tercetuslah suatu keputusan untuk mendirikan gabungan perkumpulan wanita yang disebut Perikatan Perempuan Indonesia (PPI).

Tujuan Perikatan Perempuan

No 
1Memberi penerangan dan perantaraan terhadap kaum perempuan, dan mendirikan studie fond untuk anak-anak perempuan yang kurang mampu.
2Mengadakan kursus-kursus kesehatan.
3Menentang perkawinan anak.
4Memajukan kepanduan untuk organisasi-organisasi wanita tersebut di atas, pada umumnya tidak mencampuri urusan politik dan berjuang dengan haluan kooperatif.

Setahun kemudian, tepatnya pada tanggal 28-31 Desember 1929, PPI mengadakan kongres di Jakarta. Pokok bahasan yang dibahas masih mengenai kedudukan wanita dan anti poligami. Selain itu, konres juga memutuskan untuk mengganti nama organisasi menjadi Perikatan Perhimpunan Istri Indonesia (PPII) yang bertujuan untuk memperbaiki nasib dan derajat wanita Indonesia.

Pada tanggal 20-24 Juli 1935, diadakan Kongres Perempuan Indonesia (KPI) yang kedua di Jakarta. Beberapa keputusan KPI adalah mendirikan Badan Penyelidikan Perburuhan Perempuan yang berfungsi untuk meneliti pekerjaan yang dilakukan wanita Indonesia. Selain itu juga didirikan Badan Kongres Perempuan Indonesia sekaligus mengakhiri kiprah PPII karena didirikannya badan tersebut.

Pada tanggal 25-28 Juli 1938, diadakan kongres ketiga di Bandung yang menetapkan tanggal 22 Desember sebagai hari ibu. Peringatan hari ibu diharapkan mampu mendorong kesadaran wanita Indonesia akan kewajibannya sebagai ibu bangsa.

Pada tahun 1940, dibentuklah sebuah organisasi perkumpulan Pekerja Perempuan Indonesia di Jakarta. Perkumpulan ini dibentuk karena banyaknya kaum wanita yang bekerja di lapangan sehingga perlu dibentuk suatu organisasi.

Kemudian, pada tahun yang sama yakni tahun 1940 terbentuklah perkumpulan dalam kalangan mahasiswi dengan nama Indonesische Vrouweijke Studentedvereniging (Perkumpulan Mahasiswi Indonesia) di Jakarta.

Dapat dikatakan, pada periode ini kaum perempuan telah menaruh perjuangan politik, baik dengan sikap kooperatif maupun non-kooperatif terhadap pemerintah kolonial.

Demikianlah sedikit ulasan mengenai materi organisasi wanita pada masa pergerakan nasional di Indonesia. Semoga materi kali ini dapat menambah wawasan kita dan menjadikan kita terus bersemangat meneruskan perjuangan bangsa Indonesia setelah kemerdekaan. Aamiin.

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!