Keutamaan Surat Al Kahfi, Surat Perlindungan dari Dajjal

 

Keutamaan Surat Al-Kahfi – Al-Quran merupakan kitab milik umat Islam. Al-Quran diturunkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui Malaikat Jibril. Al-Quran adalah mukjizat terbesar yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, memiliki keutamaan-keutamaan yang berlipat ketika membaca Al-Quran.

Selain memiliki keutamaan secara keseluruhan surat-surat dalam Al-Quran, terdapat juga beberapa surat yang memiliki keutamaan yang dikhususkan, salah satunya adalah Surat Al-Kahfi.

Surat Al-Kahfi adalah surat ke-18 dari jumlah keseluruhan surat dalam Al-Quran. Surat Al-Kahfi terdiri dari 110 ayat yang terbagi menjadi dua juz, yaitu ayat 01-74 terletak di juz 15 dan ayat 75-110 terletak di juz 16. Surat ini termasuk kedalam surat Makkiyah, yaitu surat yang turun sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Kota Madinah.

Asbabun Nuzul Surat Al Kahfi

asbabun nuzul
Photo by tongkronganislami.ne

Diantara asbabun nuzul surat Al-Kahfi diceritakan bahwasannya kaum Quraisy telah mengutus dua orang dari kaumnya, yaitu An-Nadr bin Al-Harits dan ‘Uqbah bin Abi Mu’ith untuk menyelidiki tentang kenabian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada pendeta Yahudi di Madinah.

  • Pergi ke Madinah

madinah
Photo by Abdullah Shakoor

Mereka berdua pergi ke Madinah menemui pendeta Yahudi untuk menanyakan perihal kenabian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang Quraisy percaya bahwasannya pendeta Yahudi memiliki ilmu pengetahuan tentang isi kitab terdahulu dan tanda-tanda kenabian yang tidak diketahui oleh orang kebanyakan.

Setelah mereka berdua sampai di Madinah dan menjelaskan perihal maksud kedatangan mereka, pendeta Yahudi berkata, “Tanyakanlah kepada Muhammad mengenai tiga hal, jika ia mampu menjawabnya maka ia sungguh nabi yang benar-benar diutus. Dan jika ia tidak mampu menjawabnya maka ia hanyalah orang yang mengaku-ngaku sebagai nabi”

Kemudian, pendeta tersebut melanjutkan pembicaraannya, “Tanyakanlah kepada dirinya perihal pemuda zaman dulu yang bepergian dan apa yang terjadi pada mereka, karena sungguh cerita ini sangat menarik.”

“Tanyakanlah kepada Muhammad tentang seorang pengembara yang telah sampai pada ke ujung timur dan ujung barat dan apa yang terjadi padanya.”

“Dan tanyakan juga padanya tentang ruh.”

  • Pulang ke Mekkah

mekkah
Photo by GLady

Setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan, dua utusan ini kembali pulang ke Mekkah dan memberikan informasi tersebut kepada kaum Quraisy. Kemudian, mereka pun datang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memberikan tiga pertanyaan yang telah dipersiapkan berbekal informasi pendeta Yahudi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata mengenai tiga pertanyaan yang diajukan tersebut, “Aku akan menjawab mengenai tiga hal ini besok (tanpa mengucapkan kata InsyaaAllah).” Lalu pulanglah mereka semuanya.

Namun, setelah ditunggu sampai lima belas malam, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam masih belum mendapatkan wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla dan Malaikat Jibril belum pula turun untuk menyampaikan wahyu. Orang Quraisy mulai goyah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedih karena wahyu tidak kunjung datang sehingga belau tidak tahu harus menjawab apa kepada kaum Quraisy.

Pada malam berikutnya, Jibril turun menyampaikan wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla yaitu yang didalamnya menegur atas kemurungan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (QS. Al-Kahfi: 06) dan penjelasan mengenai kisah ashabul kahfi (QS. Al-Kahfi: 09-26), tentang seorang pengembara dari masyriq ke maghrib (QS. Al-Kahfi: 83-101), dan penjelasan tentang ruh (QS. Al-Isra’: 85).

Jadi, begitulah asbabun nuzul mengenai diturunkannya Surat Al-Kahfi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kandungan Surat Al Kahfi

keutamaan surat al kahfi
Photo by konsultasisyariah.com

Surat Al-Kahfi memiliki kandungan-kandungan yang memiliki limpahan hikmah dan pembelajaran. Dan diantara andungan-kandungan yang terdapat di dalam Surat Al-Kahfi adalah,

  • Kisah-Kisah

Dalam Surat Al-Kahfi terkandung empat kisah yang mamuat berbagai ibrah dan pelajaran mengenai kehidupan manusia.

Kisah dalam Surat Al-Kahfi
  1. Kisah Ashabul Kahfi
  2. Kisah Pemilik Dua Kebun
  3. Kisah Nabi Musa bersama Nabi Khidr
  4. Kisah Dzul Qarnain

 

a. Kisah Ashabul Kahfi

gua ashabul kahfi
Photo by theglobal-review.com

Kisah ashabul kahfi terdapat pada ayat ke-9 sampai dengan ayat ke-26. Akan tetapi, inti dari cerita ini terdapat di ayat 13-14,

(13)نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

(14)وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا

“(13) Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) kisah ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang Rabb mereka dan kami tambahkan pula kepada mereka petunjuk. (14) Dan kami teguhkan atas mereka hati mereka ketika mereka berdiri, kemudian mereka pun berkata, “Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, sekali-kali kami tidak menyeru kepada Tuhan selain Dia, sesungguhnya sekiranya kami mengucapkan yang demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.” (QS.Al-Kahfi: 13-14)

Para ashabul kahfi adalah pemuda yang beriman, yang sadar bahwasannya masa muda adalah masa teriknya matahari, masa berkumpulnya dua kekuatan yaitu kekuatan fikriyah (pemikiran) dan kekuatan jasadiyah (fisik). Jadi, alangkah meruginya seseorang jika masa muda dihabiskan tanpa memberikan suatu kontribusi bagi lingkungannya.

Para ashabul kahfi menghabiskan masa mudanya untuk menyuarakan kebenaran dan menegakkan kalimat tauhid. Tak tanggung-tanggung yang dihadapi mereka adalah penguasa yang berkuasa saat itu, dan taruhan yang mereka hadapi adalah kehidupan mereka. Hingga akhirnya mereka memilih untuk mengasingkan diri ke gua demi menyelamatkan hidup dan keimanan mereka.

Pelajaran penting yang dapat diambil dari kisah ini adalah Pemuda dan Iman.

Jika masa muda dihiasi dengan keimanan, selain mendatangkan manfaat juga berlimpah pahala. Karena, masa muda dengan dua kekuatan (fikriah dan jasadiyah) mereka akan sia-sia jika tidak dilandasi dengan keimanan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

b. Kisah Pemilik Dua Kebun

pemilik dua kebun

Kisah mengenai pemilik dua kebun atau Shaahibul Jannatain dimulai dari ayat ke-32 sampai ayat ke-44. Akan tetapi, intisari dari kisah ini terletak pada ayat ke-35 sampai ayat ke-36,

(35)وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا

 (36) وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا

“(35) Dan dia masuk ke dalam kebunnya sedangkan dia zalim kepada dirinya sendiri, ia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya. (36) dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang  dan jika seandainya aku kembali pada Rabb-ku maka pasti aku akan mendapatkan tempat yang lebih baik dari kebun-kebun itu.” (QS. Al-Kahfi: 35-36)

Kisah pemilik dua kebun ini adalah seorang yang kafir lagi ingkar terhadap nikmat Allah ‘Azza wa Jalla yang telah diberikan kepadanya, dan juga mengingkari akan datangnya hari kiamat. Tidak heran jika ia merendahkan saudara muslimnya yang menasehatinya agar bertaubat, kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang telah memberikan nikmat kepadanya.

Kisah pemilik dua kebun ini mengajarkan keterkaitan penting antara Harta dan Iman.

Harta yang bernilai dunia akan bernilai sebagai amalan akhirat jika dilandasi iman dalam pengelolaannya. Dan harta tanpa iman akan menjadi musibah dan menghinakan pemiliknya jatuh pada kesombongan di kehidupan dunia dan akhirat.

c. Kisah Nabi Musa bersama Nabi Khidr

keutamaan surat al kahfi
Photo by fitnahfitnahakhirzaman.blogspot.com

Kisah Nabi Musa ‘alaihissalaam ketika menuntut ilmu dan berguru kepada Nabi Khidr ‘alaihissalaam dimulai dari ayat ke-60 sampai ayat ke-82. Inti dari kisah ini adalah bahwasannya ilmu itu milik Allah ‘Azza wa Jalla, dan Allah ‘Azza wa Jalla akan memberikan ilmu-Nya dan memuliakannya dengan ilmu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Oleh karena itu, tidak selayaknya seorang manusia merasa sombong, merasa lebih hebat, lebih berilmu dari yang lainnya. Selayaknya, seseorang yang berilmu maka ketundukan dan rasa tawadhu’ kepada Allah ‘Azza wa Jalla menjadi karakter utama orang yang berilmu tersebut.

Kisah antara Nabi Musa ‘alaihissalaam dan Nabi Khidr ‘alaihissalaam mengajarkan tentang Ilmu dan Iman.

Ilmu tanpa iman akan melahirkan kesombongan terhadap Allah ‘Azza wa Jalla. Ilmu tanpa iman bagaikan memberikan pisau kepada orang yang tidak berakal, berbahaya dan akan membahayakan sekitar. Ilmu tanpa iman buta, iman tanpa ilmu lumpuh.

d. Kisah Dzul Qurnain

kisah Dzul Qarnain
Photo by muhandisun.wordpress.com

Dzul Qarnain memiliki arti sebagai pemilik dua tanduk. Kisah Dzul Qarnain dimulai dari ayat ke-83 sampai ayat ke-98, namun intisari dari kisah ini terdapat di ayat 86 sampai dengan ayat 88

 حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَوَجَدَ عِنْدَهَا قَوْمًا ۗ قُلْنَا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَنْ تُعَذِّبَ  وَإِمَّا أَنْ تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا

 قَالَ أَمَّا مَنْ ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَىٰ رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُكْرًا

 وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَىٰ ۖ وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا

“(86) Hingga apabila ia telah sampai tempat terbenamnya matahari, dia mendapati matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati disitu suatu kaum. Kami berkata, ‘Wahai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat mengambil kebaikan terhadap mereka. (87) Berkata Dzulkarnain: “Adapun barangsiapa yang zalim, maka kami akan mengazabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Rabb-nya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tiada tara”. (88) Dan barangsiapa saja yang beriman dan mengerjakan amal kebajikan, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.”

Kisah Dzul Qarnain mengajarkan kita perihal kekuasaan dan Iman.

Betapa pentingnya suatu kekuasaan dipegang oleh orang yang bertauhid, yang memiliki kesadaran bahwasannya kekuasaan dan kedudukan suatu saat akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak.

Kekuasaan bukanlah ajang untuk pamer kekayaan, dan merasa sombong memiliki strata tinggi di mata manusia. Dengan kesadaran bahwasannya kekuasaan akan dipertanggung jawabkan, maka dalam menjalaninya akan berlandaskan nilai-nilai iman dan Islam yang akan terciptanya suatu tatanan masyarakat yang adil dan tersebarnya kebaikan.

Oleh karena itu, menjadi pemimpin bukanlah tercela, bukan juga suatu perkara yang untuk dijauhi oleh umat Islam. Bahkan, salah satu ciri hamba Allah ‘Azza wa Jalla adalah menjadi pemimpin bagi orang-orang bertakwa dalam upaya menegakkan risalah Islam dan dakwah.

Dan kepemimpinan dalam beragama adalah bagian dari hal yang wajib kita harapkan, tapi bukan untuk berbangga diri melainkan untuk memberikan manfaat yang besar bagi orang lain dan untuk mengharapkan pahala yang besar.

  • Keimanan

Dalam Surat Al-Kahfi terkandung keimanan yang isinya kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla untuk memberikan daya hidup kepada manusia di luar hukum kebiasaan.

  • Hukum-Hukum

Dan diantara hukum-hukum yang terkandung dalam Surat Al-Kahfi adalah dasar hukum berwakil, seperti larangan membangun tempat ibadah diatas kuburan, hukum membaca InsyaaAllah, perbuatan yang terlupa akan dimaafkan, serta diperbolehkannya merusak suatu barang untuk menghindarkan bahaya yang lebih besar.

  • Lain-Lain

Dan beberapa pelajaran yang dapat diambil dari kisah-kisah dalam Surat Al-Kahfi adalah tentang kekuatan iman kepada Allah ‘Azza wa Jalla serta ibadah yang ikhlas kepadanya. Kesungguhan dalam mencari ilmu serta sopan santun antara murid terhadap gurunya. Dan beberapa contoh tentang kepemimpinan yang baik dalam pemerintahan.

Keutamaan Surat Al Kahfi

Dan diantara keutamaan-keutamaan yang dimiliki oleh Surat Al-Kahfi adalah,

  • Menghindarkan Diri dari Fitnah Dajjal

keutamaan surat al kahfi
Photo by kabarmakkah.com

Dajjal adalah seburuk-buruknya makhluk dan merupakan fitnah terbesar umat Islam menjelang hari kiamat. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk berlindung dari fitnah Dajjal. Dan salah satu upaya agar terhindar dari fitnahnya dengan menghafal sepuluh ayat pertama. Bahkan, dalam riwayat lain disebutkan sepuluh ayat terakhir dari Surat Al-Kahfi.

Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits,

مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ

“Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat dari awal Surat Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari Dajjal.” (HR. Muslim no. 809)

Dalam riwayat lain disebutkan. “Dari akhir Surat Al-Kahfi.” (HR. Muslim no. 809)

Dari penjelasan hadits diatas, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwasannya siapa saja yang menghafal sepuluh ayat pertama atau terakhir dari Surat Al-Kahfi, maka dia akan terlindungi dari fitnah Dajjal.

  • Disinari Cahaya Kebaikan

lampu bohlam
Photo by Free-Photos

Seseorang yang membaca Surat Al-Kahfi pada malam atau pun hari jumat akan diberikan padanya cahaya.

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Barangsiapa yang membaca Surat Al-Kahfi pada malam jum’at, dia akan disinari dari cahaya antara dia dan Bait Al-‘Atiq (Ka’bah).” (HR. Ad-Darimi. Hadits ini hadits shahih menurut Syaikh Al-Bani dalam Shohihul Jami’ no. 6471)

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ

“Barangsiapa yang membaca Surat Al-Kahfi di hari jumat, akan diberikan padanya cahaya antara dua jumat.” (HR. An-Nasai dan Baihaqi. Hadits ini shahih menurut Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6470)

Demikianlah keutamaan-keutamaan yang dimiliki oleh Surat Al-Kahfi. Selain al Kahdi, terdapat beberapa keutamaan ketika membaca Al-Quran yang juga terkandung dalam Surat Al- Mulk dan Surat Al- Ikhlas.

Semoga dengan mengetahui dan mempelajari mengenai keutamaan-keutamaan dalam Surat Al-Kahfi, mampu memacu semangat kita untuk menghafalnya atau pun membacanya pada hari Jumat agar terhindar dari fitnah Dajjal. Aamiin

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!