Keutamaan Surat Al-Ikhlas

keutamaan surat al ikhlas

Keutamaan Surat Al-Ikhlas- Al-Quran adalah firman Allah Azza wa Jalla yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam melalui Malaikat Jibril secara berangsur-angsur. Allah Azza wa Jalla akan memberikan pahala dan keutamaan kepada siapa saja hamba-Nya yang mau membaca atau pun menghafalkan surat-surat dalam Al-Quran.

Selain memberikan keutamaan kepada seluruh surat dalam Al-Quran, Allah Azza wa Jalla juga memberikan keutamaan khusus beberapa surat dalam Al-Quran. Salah satunya adalah Surat Al-Ikhlas.

Surat Al-Ikhlas adalah salah satu surat dalam Al-Quran yang sangat familiar bagi umat Islam. Surat ini merupakan surat ke-112 dalam Al-Quran dan terdiri dari empat ayat. Surat Al-Ikhlas terdapat di juz 30 dan merupakan golongan surat Makkiyah. Surat ini dinamakan Surat Al-Ikhlas yang diambil berdasarkan makna dari surat tersebut.

Ada dua sebab kenapa dinamakan Surat Al-Ikhlas. Yang pertama, karena surat ini membicarakan tentang ikhlas kepada Allah ’Azza wa Jalla, meskipun tidak ada kata “Ikhlas” dalam surat tersebut. Yang kedua, karena surat ini murni membicarakan tentang Allah Azza wa Jalla, tidak ada keterangan apapun dalam surat ini selain tentang Allah Azza wa Jalla dan sifat-Nya.

Asbabun Nuzul Surat Al-Ikhlas

Beberapa surat dan ayat dalam Al-Quran memiliki sebab-sebab diturunkannya surat atau ayat tersebut, dan juga terdapat surat-surat dan ayat yang diturunkan tanpa memiliki asbabun nuzul. Dan salah satu surat dalam Al-Quran yang memiliki asbabun nuzul adalah Surat Al-Ikhlas.

Surat Al-Ikhlas diturunkan sebagai jawaban kepada orang musyrik yang menanyakan kepada Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam, “Sebutkan nasab atau sifat Rabbmu pada kami?”. Maka Allah Azza wa Jalla berfirman kepada Nabi Muhammad, “Katakanlah kepada yang menanyakan tadi, … [lalu disebutkanlah surat ini] (‘Aysarut Tafasir, 1502).

Ada juga yang mengatakan bahwasannya surat ini diturunkan sebagai jawaban atas pertanyaan dari orang-orang Yahudi. (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Quran, At-Ta’rif bi Suratil Quranil Karim, Tafsir Juz ‘Amma 292). Namun, Syaikh Muqbil mengatakan bahwa asbabun nuzul yang disebutkan diatas berasal dari riwayat yang dho’if (lemah), sebagaimana yang telah disebutkan dalam Shohih Al-Musnad min Asbab An-Nuzul.

Kandungan Surat Al-Ikhlas

Surat Al-Ikhlas mengajarkan pokok-pokok tauhid kepada Allah Azza wa Jalla dan pondasi keimanan. Surat ini juga membantah keyakinan orang-orang kafir yang menyekutukan Allah Azza wa Jalla. Dan diantara isi kandungan Surat Al-Ikhlas adalah,

  • Menegaskan keesaan Allah Azza wa Jalla dengan sifat-Nya ahad

Hal ini tertuang dalam Surat Al-Ikhlas ayat 01 yang berbunyi,

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

“Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa” (QS. Al-Ikhlas: 01)

Di dalam ayat ini menegaskan, bahwasannya Allah Azza wa Jalla adalah Maha Esa dan tidak ada sesuatu pun selain Dia dan tidak ada satu pun yang sama dengan Dia. Tidak ada hakikat kecuali hanya hakikat-Nya dan tidak ada wujud yang hakiki kecuali hanya wujud-Nya. Allah Azza wa Jalla hanya satu dan tidak ada yang lain yang semisal dengan-Nya.

  • Allah Azza wa Jalla adalah Tuhan yang hanya kepada-Nya seluruh makhluk bergantung

Hal ini Allah Azza wa Jalla jelaskan dalam Al-Quran yang berbunyi,

اللَّهُ الصَّمَدُ

“Hanya kepada Allah-lah tempat bergantung” (QS. Al-Ikhlas: 02)

Dalam ayat ini, Allah Azza wa Jalla menegaskan bahwasannya tidak ada tempat untuk bergantung kecuali hanya kepada Allah Azza wa Jalla, dan hanya Allah Azza wa Jalla sebaik-baik tempat untuk bergantung. Seluruh makhluk membutuhkan Allah Azza wa Jalla untuk memenuhi hajat-hajatnya. Sedangkan Allah Azza wa Jalla, tidak butuh kepada siapa pun.

  • Allah Azza wa Jalla adalah satu, tidak beranak, tidak diperanakkan dan tidak mempunyai istri

Allah Azza wa Jalla memperjelas hal ini dalam firman-Nya,

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

“Dia (Allah) tidak beranak, dan Dia (Allah) tidak pula diperanakkan.” (QS. Al-Ikhlas: 03)

Ayat 03 menjelaskan, bahwasannya Allah Azza wa Jalla tidak memiliki keluarga yang beranggotakan anak, ayah, istri. Hal ini karena orang Yahudi berkeyakinan bahwasannya Uzair adalah anak Allah Azza wa Jalla, dan orang Nasrani mengatakan bahwasannya Isa adalah anak Allah Azza wa Jalla, dan ini adalah keyakinan yang batil.

  • Allah Azza wa Jalla tidak mempunyai bandingan

Allah Azza wa Jalla juga mempertegas hal ini melalui firman-Nya,

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Dan tidak ada satu pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas: 04)

Allah Azza wa Jalla sama sekali tidak mempunyai tandingan dari makhluk-Nya yang akan menyainginya atau yang menyamai kedudukan-Nya, baik dalam hakikat wujud maupun sifat-Nya.

Keutamaan Surat Al-Ikhlas

Dan diantara keutamaan-keutamaan yang dimiliki oleh Surat Al-Ikhlas adalah,

  • Surat Al-Ikhlas Setara dengan Tsulutsul Quran (Sepertiga Al-Quran)

Keutamaan Surat Al-Ikhlas pada poin ini berdasarkan hadits,

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ أَنَّ رَجُلاً سَمِعَ رَجُلاً يَقْرَأُ ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) يُرَدِّدُهَا ، فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم  فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ ، وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

“Dari Abu Sa’id (Al-Khudri) bahwasannya seorang laki-laki mendengar seseorang membaca ‘Qul huwallahu ahad’ secara berulang-ulang. Ketika datang waktu pagi, orang yang mendengar tersebut datang kepada Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam dan menceritakan hal tersebut dengan nada sekan-akan merendahkan Surat Al-Ikhlas. Lalu Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya surat ini sebanding dengan sepertiga Al-Quran.” (HR. Bukhori no. 6643) [Ada yang mengatakan bahwa yang mendengar tadi adalah Abu Sa’id Al-Khudri, sedangkan yang membaca surat tersebut adalah saudaranya, Qotadah bin Nu’man]

Dalam hadits lain juga dijelaskan,

عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءِ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ (أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِى لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ). قَالُوا: وَكَيْفَ يَقْرَأُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ. قَالَ (قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ) يَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ.

“Dari Abu Darda’ dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Apakah seorang diantara kalian tidak mampu untuk membaca sepertiga Al-Quran dalam semalam?” Mereka mengatakan, “Bagaimana kami bisa membaca sepertiga Al-Quran?” Lalu Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “(Qul huwallahu ahad) itu sebanding dengan sepertiga Al-Quran.” (HR. Muslim no. 1922)

An-Nawawi mengatakan, dalam riwayat lainnya dikatakan, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla membagi Al-Quran menjadi tiga bagian. Lalu Allah Azza wa Jalla menjadikan surat ‘Qul huwallahu ahad’ (Surat Al-Ikhlas) menjadi satu bagian dari tiga bagian tadi.”

Lalu Al-Qodhi mengatakan bahwa Al-Marizi berkata, “Dikatakan bahwa maknanya adalah Al-Quran itu ada tiga bagian, yaitu membicarakan (1) Kisah-kisah (2) Hukum (3) Sifat-sifat Allah Azza wa Jalla. Sedangkan, surat ‘Qul huwallahu ahad’ (Surat Al-Ikhlas) ini berisi pembahasan mengenai sifat-sifat Allah Azza wa Jalla. Oleh karena itu, surat ini disebut sepertiga Al-Quran dari bagian yang ada. (Syarh Shahih Muslim, 6/94)

Akan tetapi, jika kita membacanya sebanyak tiga kali, tidak berarti kita sudah membaca Al-Quran sebanyak 30 juz. Karena, ada suatu kaidah “Sesuatu yang bernilai sama, belum tentu dapat menggantikan.”

  • Membaca Surat Al-Ikhlas sebab Mendapatkan Kecintaan dari Allah Azza wa Jalla

cinta kepada Allah
Photo by kaskus.co.id

Salah satu keutamaan membaca surat Al-Ikhlas adalah mendapatkan kecintaan Allah ‘Azza wa Jalla. Hal ini berdasarkan hadits,

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – بَعَثَ رَجُلاً عَلَى سَرِيَّةٍ ، وَكَانَ يَقْرَأُ لأَصْحَابِهِ فِى صَلاَتِهِ فَيَخْتِمُ بِپ ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) فَلَمَّا رَجَعُوا ذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ (سَلُوهُ لأَىِّ شَىْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ). فَسَأَلُوهُ فَقَالَ لأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ ، وَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ

“Dari Aisyah, bahwasannya Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam pernah mengutus seseorang pada suatu pasukan. Lalu ia membaca surat dalam shalat pada para sahabatnya dan ia selalu tutup dengan surat “Qul huwallahu ahad” (Surat Al-Ikhlas). Ketika kembali, mereka menceritakan perihal orang tadi kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam. Beliau pun berkata, “Tanyakan padanya, kenapa ia melakukan seperti itu?” Mereka pun bertanya pada orang tadi, ia pun berkata, “Karena di dalam Surat Al-Ikhlas terdapat sifat Ar-Rahman (sifat Allah) dan aku pun suka membaca surat tersebut.” Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Katakan padanya bahwa Allah mencintainya.” (HR. Bukhari no.7375)

Menurut Ibnu Daqiq Al-‘Ied, perkataan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam “Kabarkan padanya bahwa Allah mencintainya”. Beliau mengatakan, “Maksudnya adalah bahwa sebab kecintaan Allah pada orang tersebut adalah karena kecintaan orang tadi pada Surat Al-ikhlas ini. Boleh jadi, dapat dikatakan dari perkataan orang tadi, karena dia menyukai sifat Rabb nya, ini menunjukkan benarnya keyakinannya terhadap Rabb nya.” (Fathul Bari, 20/443)

Waktu Dianjurkannya Membaca Surat Al-Ikhlas

Diantara waktu yang dianjurkan untuk membaca Surat Al-Ikhlas agar kita mendapatkan keutamaan surat ini antara lain,

  • Waktu Pagi dan Sore

membaca surat al ikhlas pagi dan sore
Photo by dakwah.id

Pada pagi dan sore hari, kita dianjurkan untuk membaca Surat Al-Ikhlas bersamaan dengan surat muawwidhatain (Surat Al-Falaq dan Surat An-Naas) masing-masing sebanyak tiga kali. Keutamaan yang diperoleh jika membaca Surat Al-Ikhlas dan muawwidhatain (Surat Al-Falaq dan Surat An-Naas) adalah akan dijaga oleh Allah Azza wa Jalla dari segala keburukan.

Hal ini diterangkan dalam hadits berikut,

Dari Mu’adz bin Abdullah bin Khubaib dari bapaknya ia berkata,

خَرَجْنَا فِى لَيْلَةِ مَطَرٍ وَظُلْمَةٍ شَدِيدَةٍ نَطْلُبُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِيُصَلِّىَ لَنَا فَأَدْرَكْنَاهُ فَقَالَ « أَصَلَّيْتُمْ ». فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا فَقَالَ « قُلْ ». فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ « قُلْ ». فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ « قُلْ ». فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَقُولُ قَالَ : (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِى وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ

“Kami keluar pada malam hujan dan gelap gulita mencari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam untuk shalat bersama kami, lalu kami menemukannya. Maka beliau bersabda, “Apakah kalian telah shalat?” Akan tetapi aku sama sekali tidak berkata-kata. Beliau bersabda, “Katakanlah”. Akan tetapi aku sama sekali tidak berkata-kata. Beliau bersabda, “Katakanlah”. Akan tetapi aku sama sekali tidak berkata-kata. Kemudian beliau bersabda, “Katakanlah”. Hingga aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku katakan?” Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Katakanlah (bacalah) ‘Qul huwAllahu ahad’ dan surat mu’awwidzatain (Surat Al-Falaq dan Surat An-Nas) ketika sore hari dan ketika pagi hari sebanyak tiga kali, maka dengan membacanya akan mencukupkanmu (menjagamu) dari segala sesuatu (keburukan).” (HR. Abu Daud no. 5082 dan An-Nasai no. 5428. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)

  • Waktu Menjelang Tidur

tidur lucu
Photo by tautan.pro

Sebelum tidur malam, kita dianjurkan untuk membaca Surat Al-Ikhlas, Surat Al-Falaq, dan Surat An-Naas dengan menengadahkan kedua telapak tangan, lalu ditiup dan dibacakan tiga surat ini.

Setelah itu, kedua telapak tangan ini diusapkan pada seluruh anggota badan yang dapat dijangkau, mulai dari kepala sampai ujung kaki. Cara seperti ini dilakukan sebanyak tiga kali.

Hal ini dijelaskan oleh hadits, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ) ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

“Bahwasannya Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam ketika berada di tempat tidur setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ‘Qul huwallahu ahad’ (Surat Al-Ikhlas), ‘Qul a’udzu birobbil falaq’ (Surat Al-Falaq), dan ‘Qul a’udzu birobbin naas’ (Surat An-Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari no.5017)

  • Ketika akan Meruqyah

Imam Bukhari membawakan bab dalam shahihnya ‘Meniupkan bacaan ketika ruqyah’. Lalu dibawakanlah hadits serupa dengan cara seperti yang dijelaskan dalam poin kedua.

Hal ini dijelaskan dalam hadits,

عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ نَفَثَ فِى كَفَّيْهِ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَبِالْمُعَوِّذَتَيْنِ جَمِيعًا ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ ، وَمَا بَلَغَتْ يَدَاهُ مِنْ جَسَدِهِ . قَالَتْ عَائِشَةُ فَلَمَّا اشْتَكَى كَانَ يَأْمُرُنِى أَنْ أَفْعَلَ ذَلِكَ بِهِ

“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak tidur, beliau akan meniupkan ke telapak tangannya sambil membaca ‘Qul huwallahu ahad’ (Surat Al-Ikhlas) dan surat mu’awwidzatain (Surat An-Naas dan Surat Al-Falaq), kemudian beliau mengusapkan ke wajahnya dan seluruh anggota badannya. Aisyah berkata, “Ketika beliau sakit, beliau menyuruhku melakukan hal itu (sama seperti ketika beliau hendak tidur, -pen).” (HR. Bukhari no.5748)

Jadi, ketika meruqyah kita dianjurkan untuk membaca Surat Al-Ikhlas, Surat Al-Falaq, dan Surat An-Naas dengan cara: mengumpulkan kedua telapak tangan lalu keduanya ditiup lalu bacakanlah ketiga surat tersebut. Kemudian, kedua telapak tangan tadi diusapkan pada seluruh anggota tubuh yang mampu untuk dijangkau. Cara seperti ini diulang sebanyak tiga kali.

  • Dzikir Setelah Shalat

Kita dianjurkan untuk membaca Surat Al-Ikhlas, Surat Al-Falaq, dan Surat An-Naas setelah salam dalam sholat masing-masing sekali.

Hal ini dijelaskan dalam hadits, dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata,

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ الْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku untuk membaca mu’awwidzaat setiap di akhir shalat (sesudah salam).” (HR. An-Nasai no. 1336 dan Abu Daud no. 1523. Hadits ini dikatakan Syaikh Al-Albani sebagai hadits yang shahih). Menurut Ibnu Hajar Al-‘Asqolani yang dimaksud dengan mu’awwidzaat adalah Surat Al-Ikhlas, Surat Al-Falaq, dan Surat An-Naas. (Fathul Bari, 9/62)

  • Shalat Sunnah Fajar (Qabliyah Subuh)

keutamaan Surat Al-Ikhlas dalam sholat sunnah fajar
Photo by dream.co.id

Ketika melaksanakan shalat qabliyah subuh, kita dianjurkan untuk membaca QS. Al-Kafirun pada raka’at pertama dan QS. Al-Ikhlas dibaca pada raka’at kedua.

Hal ini dijelaskan dalam hadits, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتِ السُّوْرَتَانِ يَقْرَأُ بِهِمَا فِي رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الفَجْرِ : قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ وَ  قُلْ يَا أَيُّهَا الكَافِرُوْنَ

“Sebaik-baik surat yang dibaca ketika dua rakaat qobliyah subuh adalah ‘Qul huwallahu ahad’ (Surat Al-Ikhlas) dan ‘Qul yaa ayyuhal kaafiruun’ (Surat Al-Kafirun).” (HR. Ibnu Khuzaimah. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwasannya hadits ini shahih dalam Silsilah Ash-Shohihah)

  • Shalat Sunnah Ba’diyah Maghrib

Ketika melaksanakan sholat sunnah ba’diyah maghrib, kita dianjurkan untuk membaca Surat Al-Ikhlas bersama dengan Surat Al-Kafirun. Surat Al-Kafirun dibaca pada rakaat pertama dan Surat Al-Ikhlas dibaca pada rakaat kedua.

Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits, dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

مَا أُحْصِى مَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَفِى الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْفَجْرِ بِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

“Aku tidak dapat menghitung karena aku sangat sering mendengar bacaan Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam membaca surat pada shalat dua rakaat ba’diyah maghrib dan pada shalat dua rakaat qabliyah subuh, yaitu ‘Qul yaa ayyuhal kaafiruun’ (Surat Al-Kafirun) dan ‘Qul huwallahu ahad’ (Surat Al-Ikhlas).” (HR. Tirmidzi no. 431. Hadits ini dikatakan sebagai hadits hasan shahih menurut Syaikh Al-Albani).

  • Shalat Witir Tiga Rakaat

Ketika mengerjakan sholat witir tiga rakaat, maka Surat Al-A’la dibaca pada rakaat pertama, Surat Al-Kafirun dibaca pada rakaat kedua, dan Surat Al-Ikhlas dibaca pada rakaat ketiga.

Hal ini dijelaskan dalam hadits, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Juraij, beliau berkata, “Aku menanyakan kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, surat apakah yang dibaca oleh Rasulullah (setelah membaca Surat Al-Fatihah) ketika shalat witir?” Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab,

كَانَ يُوتِرُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ يَقْرَأُ فِى الأُولَى بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَفِى الثَّانِيَةِ بِ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) وَفِى الثَّالِثَةِ بِ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) وَالْمُعَوِّذَتَيْن

“Rasulullah ketika shalat witir pada rakaat pertama membaca ‘Sabbihisma robbikal A’la’ (Surat Al-A’la), dan pada rakaat kedua membaca ‘Qul yaa ayyuhal kaafiruun’ (Surat Al-Kafirun), dan pada rakaat ketiga membaca ‘Qul huwallahu ahad’ (Surat Al-Ikhlas) dan mu’awwidzatain (Surat Al-Falaq dan Surat An-Naas).” (HR. An-Nasai no. 1699, Thirmidzi no. 463, dan Ahmad 6/227)

Dalam riwayat hadits yang lain menyebutkan tidak ada penambahan surat al-mu’awwidzatain ketika melaksanakan rakaat ketiga. Hal ini dijelaskan dalam hadits,

عَنْ أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُوتِرُ بِ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى وَ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

“Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, “Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam biasanya melaksanakan shalat witir dengan membaca ‘Sabbihisma robbikal a’la’ (Surat Al-A’la), ‘Qul yaa ayyuhal kaafiruun’ (Surat Al-Kafirun), dan ‘Qul huwallahu ahad’ (Surat Al-Ikhlas).” (HR. Abu Daud no. 1423 dan An-Nasai no. 1730)

Akan tetapi, bacaan ketika shalat witir ini sebaiknya tidak rutin dalam membacanya, namun diselingi juga dengan membaca surat lainnya. Syaikh ‘Abdullah Al-Jabirin rahimahullah mengatakan,

والظاهر أنه يكثر من قراءتها، ولا يداوم عليها فينبغي قراءة غيرها أحياناً حتى لا يعتقد العامة وجوب القراءة بها

“Dan yang Nampak dari hadits yang ada, hendaknya bacaan tersebut lebih banyak (sering) untuk dibaca, namun tidak terus-menerus. Maka sudah seharusnya seseorang membaca surat yang lain agar orang yang awam tidak salah paham, dikhawatirkan mereka menganggapnya sebagai suatu yang wajib untuk membacanya.” (Fatwa Syaikh Ibnu Jibrin, 24/43)

  • Shalat Maghrib pada Malam Jumat

shalat maghrib
Photo by ejajufri.wordpress.com

Saat melaksanakan shalat maghrib pada malam jumat, Surat Al-Kafirun dibaca pada rakaat pertama setelah membaca Surat Al-Fatihah, sedangkan Surat Al-Ikhlas dibaca pada rakaat kedua.

Hal ini dijelaskan dalam hadits, dari Jabir bin Samaroh, beliau berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ فِي صَلاَةِ المَغْرِبِ لَيْلَةَ الجُمُعَةِ :  قَلْ يَا أَيُّهَا الكَافِرُوْنَ وَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ

“Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam ketika melaksanakan shalat maghrib pada malam jumat membaca ‘Qul yaa ayyuhal kaafiruun’ (Surat Al-Kafirun) dan ‘Qul huwallahu ahad’ (Surat Al-Ikhlas).” (Menurut Syaikh Al-Albani hadits ini shahih dalam Takhrij Misykatul Mashobih (812))

  • Shalat Dua Rakaat Dibelakang Maqom Ibrahim Setelah Thowaf

Dalam hadits yang sangat panjang dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu disebutkan,

فجعل المقام بينه وبين البيت [ فصلى ركعتين : هق حم ] فكان يقرأ في الركعتين :  (قل هو الله أحد) و (قل يا أيها الكافرون). وفي رواية : (قل يا أيها الكافرون)  و  (قل هو الله أحد

“Maka Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam menjadikan maqom Ibrahim antara dirinya dan Ka’bah, kemudian Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat dua rakaat, dalam dua rakaat tersebut Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam membaca ‘Qul huwallahu ahad’ (Surat Al-Ikhlas) dan ‘Qul yaa ayyuhal kaafiruun’ (Surat Al-Kafirun). Dalam riwayat lain mengatakan, beliau membaca ‘Qul yaa ayyuhal kaafiruun’ (Surat Al-Kafirun) dan ‘Qul huwallahu ahad’ (Surat Al-Ikhlas).” (Syaikh Al-Albani menyebutnya dalam Hajjatun Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, hal. 56)

Demikianlah keutamaan yang dimiliki Surat Al-Ikhlas. Selain Surat Al-Ikhlas, terdapat juga keutamaan-keutamaan yang dimiliki surat lainnya dalam Al-Quran, diantaranya adalah Surat al-Kahfi, Surat Al-Mulk, dan Surat Fatihah.

Semoga dengan kita mempelajari dan mengamalkan kandungan dalam Surat Al-Ikhlas, dapat menambah keimanan kita kepada Allah Azza wa Jalla, membuat kita mendapatkan keutamaan yang dimiliki Surat Al-Ikhlas, dan bertambahnya rasa cinta kita kepada Al-Quran. Aamiin.

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!