Keutamaan Surat Al Fatihah, Tujuh Ayat yang Diulang-ulang

surat al fatihah
Pict by muslimah.or.id

Al-Quran adalah salah satu mukjizat terbesar Nabi Muhammad yang Allah jaga kasliannya sampai saat ini. Al-Quran terdiri dari 114 surat yang tersusun dalam 30 juz. Diantara surat-surat nya, Al-Quran memiliki beberapa surat yang memiliki keutamaan khusus ketika kita membaca maupun menghafalkannya, salah satunya adalah keutamaan Surat Al-Fatihah.

Al-Fatihah merupakan surat ke-01 yang terletak di juz 01. Surat Al-Fatihah memiliki 07 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah. Surat Makkiyah yaitu surat yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam hijrah ke kota Madinah. Surat ini dinamakan Al-Fatihah karena letak surat ini berada di urutan pertama dalam Al-Quran.

Surat Al-Fatihah merupakan salah satu surat yang wajib dihafal oleh umat Islam, karena surat ini merupakan salah satu rukun shalat dalam Islam. Nama lain dari surat ini adalah Sab’ul Matsaani, karena surat ini terdiri dari tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang.

Selain itu, surat ini juga dinamakan Ummul Quran, karena Surat Al-Fatihah merupakan induk juga menjadi tempat rujukan. Kandungan makna pokok-pokok yang terdapat dalam Al-Quran semuanya kembali pada surat ini.

Menurut Imam Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr Al-Anshari al-Qurthub atau lenih dikenal dengan Imam Al-Qurthubi. Dia mengatakan bahwa Surat Al-Fatihah memiliki 12 nama, yaitu As-Shalah (shalat), Faatihatul Kitab (induk alkitab), Ummul Quran (induk kitab), Al-Matsani (berulang-ulang), Al-Quranul ‘Adzim (Al-Quran yang agung), Asy-Syifa (penawar, obat, penyembuh), Ar-Ruqyah (rukyah), Al-Asas (fondasi), Al-Wafiyah (yang menyeluruh), Al-Kafiyah (yang sempurna), dan Al-Fatihah (pembuka).

Para ulama bersepakat, bahwasannya Surat Al-Fatihah merupakan intisari dari kandungan isi dalam Al-Quran. Tema-tema yang tercantum dalam Surat Al-Fatihah mencangkup masalah ketauhidan, keimanan, ibadah, janji dan kabar gembira bagi orang yang beriman, ancaman dan peringatan bagi orang-orang kafir dan pelaku kejahatan.

Asbabun Nuzul Surat Al-Fatihah

Sebagaimana yang diriwatkan oleh Ali bin Abi Tholib, suami dari Fatimah yang merupakan anak dari Rosulullah shollallohu alaihi wasallam: “Surat al-Fatihah turun di Mekah dari perbendaharaan di bawah ‘arsy’”

Riwayat lain mengatakan, Amr bin Shalih berkata kepada kami:”Ayahku mengatakan kepadaku, dari al-Kalbi, dari Abu Salih, dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam berdiri di Mekah, lalu beliau membaca,” Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam”. Kemudian orang-orang Quraisy mengatakan, “Semoga Allah menghancurkan mulutmu (atau kalimat senada).”

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rosulullah saw. bersabda saat Ubai bin Ka’ab membacakan Ummul Quran pada beliau, “Demi zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, Allah tidak menurunkan semisal surat ini di dalam Taurat, Injil, Zabur dan al-Quran. Sesungguhnya surat ini adalah as-sab’ul matsani (tujuh kalimat yang diulang-ulang) dan al-Quran al-’Azhim yang diberikan kepadaku.”

Keutamaan Surat Al-Fatihah

keutamaan surat al fatihah
Pict by ilmualquran.com

Diantara keutamaan-keutamaan Surat Al-Kahfi yaitu,

  • Surat Al-Fatihah Termasuk dalam Rukun Shalat

Salah satu rukun sholat agar sholat kita diterima oleh Allah adalah membaca Surat Al-Fatihah dalam sholat. Hal ini dijalskan dalam hadits,

Dari Ubadah bin Shamit, bahwasannya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidaklah shalat bagi siapa saja yang tidak membaca Faatihatul Kitab (Surat Al-Fatihah).” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

  • Surat Al-Fatihah adalah Surat paling Agung dalam Al-Quran

Surat Al-fatihah merupakan surat yang paling agung. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits,

Dari Abu Sa’id Rafi’ bin Al-Mu’alla radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku,

(أَلاَ أُعَلِّمُكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ فِى الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ؟). فَأَخَذَ بِيَدِى فَلَمَّا أَرَدْنَا أَنْ نَخْرُجَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ قُلْتَ لأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ . قَالَ ( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ) هِىَ السَّبْعُ الْمَثَانِى وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِى أُوتِيتُهُ

“Maukah aku ajarkan kepadamu surat yang paling agung dalam Al-Quran sebelum engkau keluar dari masjid?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil tanganku, maka ketika kami hendak keluar, aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau mengatakan ‘aku akan mengajarkan surat yang paling agung dalam Al-Quran”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Alhamdu lillahi rabbil ‘alamin) adalah tujuh (surat) yang berulang-ulang dan Al-Quran Al-‘Adzim (Al-Quran yang agung) yang telah diberikan kepadaku.” (HR. Imam Bukhari no. 5006)

  • Surat Al-Fatihah dapat Digunakan untuk Meruqyah

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin (4: 671). Dia menyatakan bahwa ada dua syarat Surat Al-Fatihah dapat dijadikan bacaan ruqyah, yaitu:

a. Pembaca Surat Al-Fatihah meyakini bahwasannya bacaan tersebut adalah ruqyah yang bermanfaat

b. Yang dibacakan pada orang yang sakit, yang mana orang yang sakit tersebut juga meyakini jika ruqyah dengan Surat Al-Fatihah itu bermanfaat.

Hal ini dijelaskan dalam hadits,

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانُوا فى سَفَرٍ فَمَرُّوا بِحَىٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَلَمْ يُضِيفُوهُمْ. فَقَالُوا لَهُمْ هَلْ فِيكُمْ رَاقٍ فَإِنَّ سَيِّدَ الْحَىِّ لَدِيغٌ أَوْ مُصَابٌ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ نَعَمْ فَأَتَاهُ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ الرَّجُلُ فَأُعْطِىَ قَطِيعًا مِنْ غَنَمٍ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَهَا. وَقَالَ حَتَّى أَذْكُرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم-. فَأَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ. فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ مَا رَقَيْتُ إِلاَّ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ. فَتَبَسَّمَ وَقَالَ ( وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ). ثُمَّ قَالَ ( خُذُوا مِنْهُمْ وَاضْرِبُوا لِى بِسَهْمٍ مَعَكُمْ)

“Dari Abu Sa’id Al-khudri, bahwa ada sekolompok sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam safar (perjalanan jauh), lalu melewati suatu perkampungan Arab. Saat itu, mereka meminta untuk dijamu, namun penduduk kampung tersebut enggan untuk menjamu mereka.

Kemudian penduduk kampung tersebut berkata kepada para sahabat tersebut, “Apakah diantara kalian ada yang bisa meruqyah, karena sesungguhnya pembesar kampung tersebut tersengat binatang atau demam”

Kemudian salah seorang sahabat berkata kepada mereka, “Iya, ada”. Kemudian, sahabat tersebut mendatangi pembesar kampung tersebut dengan membaca Surat Al-Fatihah.

Akhirnya, pembesar kampung tersebut sembuh. Kemudian, laki-laki yang meruqyah tadi diberikan makanan berupa seekor kambing, akan tetapi ia enggan menerimanya, ia mau menerimanya sampai kisah tadi diceritakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menceritakan kisah tadi kepada beliau.

Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidaklah meruqyah kecuali dengan membaca Surat Al-Fatihah”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum dan berkata, “Bagaimana engkau bisa tahu bahwasannya Surat Al-Fatihah adalah ruqyah (bisa digunakan untuk meruqyah)?” Kemudian beliau bersabda, “Ambillah kambing tersebut dari mereka dan potongkan untukku sebagiannya bersama kalian.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Kandungan Surat Al-Fatihah

Kandungan Surat Al-Fatihah secara ringkas memiliki berbagai pelajaran yang tidak terangkum secara terpadu dalam surat-surat lain dalam Al-Quran. Surat ini mengandung tiga intisari tauhid, yaitu rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa sifat.

Dalam penggalan ayat ‘Rabbil ‘aalamiin’ terkandung makna tauhid rububiyah, yaitu mengesakan Allah dalam hal perbuatan-perbuatanNya, seperti menciptakan, memberi rezeki, mematikan, dan lain sebagainya.

Dan dalam kata ‘Allah’ dan ‘Iyyaka na’budu’ terkandung makna uluhiyah, yaitu mengesakan Allah dalam bentuk perbuatan-perbuatan hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya, seperti shalat, zakat, dan lain-lain.

Dan dalam penggalan kata ayat ‘Alhamdu’ terkandung makna tauhid asma’ wa sifat, yaitu mengesakan Allah dalam hal nama-nama dan sifat-sifat yang Allah miliki, yang biasa kita kenal sebagai asmaul husna.

Selain itu, dalam penggalan ayat ‘Ihdinash shirathal mustaqiim’ mencakup masalah kenabian. Karena, jalan yang lurus tidak akan dapat ditempuh oleh seorang hamba tanpa bimbingan wahyu yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul.

Surat ini juga menjelaskan bahwasannya amal-amal seorang hamba akan dibalas sesuai amalannya. Hal ini tampak dalam penggalan ayat ‘Maaliki yaumid diin’. Karena pada hari kiamat, amal seorang hamba akan dibalas dengan seadil-adilnya.

Pun surat ini juga mengandung makna bahwasannya segala ketaatan dan beragama harus berlandaskan keikhlasan kepada Allah. Hal ini terkandung dalam penggalan ayat ‘Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin.’

Demikianlah keutamaan Surat Al-Fatihah. Selain Surat Al-Fatihah, terdapat juga surat-surat dalam Al-Quran yang memiliki keutamaan ketika kita membacanya atau pun menghafalkannya. Dan diantara surat tersebut adalah Surat Al-Kahfi, Surat Al-Ikhlas, dan Surat Al-Mulk.

Semoga dengan kita mengetahui dan mengamalkan kandungan Surat Al-Fatihah, dapat meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah. Aamiin.

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

 

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!