keraton kasepuhan cirebon

Sejarah dan Peninggalan Kesultanan Cirebon

Kesultanan Cirebon merupakan salah satu kesultanan yang terkenal di Jawa Barat pada abad 15 – 16 M. Lokasi Kesultanan Cirebon berada di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat. Akibatnya, kebudayaan Kesultanan Cirebon tidak didominasi kebudayaan Jawa, tetapi campuran antara kebudayaan Jawa dan kebudayaan Sunda.

Selain Kesultanan Cirebon, terdapat beberapa kerajaan Islam di indonesia lainnya yang pernah berdiri pada masa kerajaan. Kerajaan-kerajaan tersebut diantaranya adalah Kerajaan Aceh dan Kerajaan Islam Banten. Kali ini kita akan membahas mengenai Kerajaan Cirebon atau Kesultanan Cirebon yang mana masih terdaapat silsilah keturunan dengan Kerajaan Pajajaran.

Sejarah Berdirinya Kesultanan Cirebon

lambang kesultanan cirebon
Photo by id.wikipedia.org

Kesultanan Cirebon didirikan pada tanggal 1 Sura 1445 M oleh Pangeran Cakrabuana. Pada tahun 1479 M, Pangeran Cakrabuana sebagai penguasa Cirebon yang bertempat di Keraton Pakungwati Cirebon menyerahkan kekuasaannya kepada Sunan Gunung Jati.

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah merupakan menantu dari Pangeran Cakrabuana dari ibu ratu Mas Rara Santang.

Sejak Pangeran Cakrabuana menyerahkan kekuasaannya kepada Sunan Gunung Jati, Kerajaan Cirebon menjadi negara merdeka dan bercorak Islam. Sebelum berdirinya kekuasaan politik Islam di Cirebon, wilayah Cirebon masih dibagi menjadi dua daerah, yakni pesisir dan pedalaman.

Wilayah pesisir ini dipimpin oleh Ki Gedeng Jumajan Jati. Sedangkan, wilayah pedalaman dipimpin oleh Ki Gedeng Kasmaya. Setelah Sunan Gunung Jati berkuasa, dua wilayah ini pun disatukan dibawah pemerintahannya.

Silsilah Raja Kesultanan Cirebon

silsilah raja kerajaan Cirebon
Photo by historyofcirebon.id

Ketika itu, Kerajaan Cirebon dipimpin oleh seorang sultan sehingga kerap kali kesultanan ini dikenal sebagai Kesultanan Cirebon. Berikut silsilah raja yang pernah memimpin Kesultanan Cirebon:

  • Pangeran Cakrabuana

Pangeran Cakrabuana atau juga dikenal sebagai Raden Walangsungsang merupakan salah satu keturunan dari Kerajaan Pajajaran. Ia merupakan putra pertama dari Subanglarang (puteri Ki Gedeng Tapa) yang mana merupakan istri pertama dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi.

Pangeran Cakrabuana memiliki dua orang saudara, yakni Raden Kian Santang dan Nyai Rara Santang. Meskipun Pangeran Cakrabuana merupakan anak laki-laki pertama dari Prabu Siliwangi, ia tidak mendapatkan hak menjadi putra mahkota Pakuan Pajajaran. Hal ini terjadi disebabkan ia memeluk agama Islam yang diturunkan oleh ibunya.

Pada abad ke-15 M, mayoritas masyarakat Kerajaan Pajajaran memeluk agama leluhur orang Sunda dengan sebutan wiwitan. Posisi putra mahkota pun bergeser kepada Prabu Surawisesa, anak laki-laki dari istri kedua Prabu Siliwangi yang bernama Nyai Cantring Manikmayan.

Pada tahun 1430 M, Pangeran Cakrabuana pun membuat padukuhan di wilayah kebon pesisir kemudian membantu pemerintahan di Cirebon. Oleh karena itu, Pangeran Cakrabuana dianggap sebagai pendiri dari Kesultanan Cirebon.

  • Sultan Syarif Hidayatullah

Sultan Syarif Hidayatullah
Photo by thegorbalsla.com

Pada tahun 1479 – 1495 merupakan masa kepemimpinan Sultan Syarif Hidayatullah sebagai sultan pertama yang memimpin Kesultanan Cirebon. Syarif Hidayatullah juga menjadi salah satu anggota walisongo yang menyebarkan agama Islam di Jawa dengan gelar Sunan Gunung jati.

Pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hidayatullah, Kerajaan Pajajaran berhasil ditaklukkan oleh Kerajaan Banten dan wilayahnya dibagi menjadi empat bagian, yakni Pajajaran Timur, Pajajaran Barat, Pajajaran Tengah, dan Jayakarta. Hal ini pun menjadikan Kesultanan Cirebon sebagai kerajaan Islam yang bebas.

Selain menjadi pemimpin bagi Kesultanan Cirebon, Sultan Syarif Hidayatullah juga menyebarkan ajaran Islam ke berbagai wilayah di Jawa Barat seperti Majalengka, Kuningan, Sunda Kelapa, dan Kawali.

Kemajuan yang berhasil tercapai ketika Sultan Syarif memimpin Kesultanan Cirebon yakni majunya kawasan pelabuhan yang menjadi jalur sutra perdagangan dan menerapkan sistem pemerintahan yang bersifat desentralisasi.

  • Pangeran Pasarean

Masa pemerintahan Pangeran Pasarean seharusnya dimulai pada tahun 1495-1555 M, tetapi Pangeran Pasarean wafat sebelum penobatannya sebagai sultan. Jabatan sultan pun diberikan kepada Pangeran Dipati Anom Carbon (Pangeran Sedang Kemuning) sebagai posisi penggantinya. Akan tetapi, Pangeran Dipati Anom Carbon juga meninggal sebelum penobatannya.

Pemerintah pun digantikan oleh Fatahillah sebagai pejabat pengganti sultan. Hal tersebut terjadi dikarenakan terjadi kekosongan jabatan dalam pemerintahan Kesultanan Cirebon.

  • Kekosongan Jabatan

Pada tahun 1552 -1562 M, terjadi kekosongan jabatan di Kesultanan Cirebon. Hal tersebut terjadi dikarenakan pewaris tahta yang berhak memimpin kerajaan meninggal dunia sebelum dinobatkan. Pewaris pengganti yang berhak memimpin kerajaan pun masih anak-anak dan belum cukup umur.

  • Pangeran Agung

Pada tahun 1568 -1649 M, Kesultanan Cirebon dipimpin oleh Pangeran Agung dengan gelar Panembahan Ratu I. Pangeran Agung merupakan anak dari Dipati Anom Carbon 1. Hal ini menjadikan Pangeran Agung menjadi Sultan ke II di Kerajaan Cirebon.

Pangeran Agung merupakan cicit dari Sultan Syarif Hidayatullah, Sultan pertama Kesultanan Cirebon. Ditinjau dari masa berkuasanya, Pangeran Agung memimpin Kerajaan Cirebon kurang lebihh selama 80 tahun.

Pangeran Agung memiliki istri yang bernama Ratu Mas Glampok dan memiliki 5 orang anak. Menurut sumber sejarah, Pangeran Agung wafat pada tahun 1649 di usianya yang ke 140 tahun.

  • Pangeran Sedang Gayam

Pada tahun 1649 M, terjadi pemindahan kepemimpinan setelah meninggalnya Pangeran Agung. Silsilah kepemimpinan Kesultanan Cirebon diberikan kepada Pangeran Sedang Gayam yang bergelar Pangeran Dipati Anom Carbon II. Namun, sebelum dinobatkan sebagai raja, Pangeran Sedang Gayam sudah keburu meninggal dunia.

  • Panembahan Girilaya

Setelah Pangeran Sedang Gayam wafat, jabatan sultan digantikan oleh Pangeran Putera (Pangeran Girilaya). Pangeran Girilaya atau Panembahan Ratu II merupakan anak dari Pangeran Sedang Gayam. Hal ini pun membuat Pangeran Girilaya menjadi sultan ketiga di Kerajaan Cirebon.

Sultan Panembahan Girilaya memimpin Kesultanan Cirebon selama 13 tahun, yakni dari tahun 1649 -1662 M. Riwayat kehidupan keluarga Panembahan Girilaya menurut naskah Mertasinga diceritakan memiliki dua istri (permaisuri).

Istri pertama bernama Rara Kerta yang melahirkan seorang anak bernama Pangeran Sepuh. Dan istri kedua bernama Ratu Mas Kirani yang melahirkan dua orang putra, yakni Pangeran Anomsada dan Pangeran Emas Pakungwati.

Panembahan Girilaya juga memiliki beberapa selir yang mana salah satu selirnya adalah anak dari Raja Mataram Amangkurat I. Pada masa pemerintahan Panembahan Girilaya, terdapat gejolak politik di Keslutanan Cirebon yang independen. Kunjungan Panembahan Senopati ke Kerajaan Mataram hanyalah kunjungan antar keluarga, namun Kerajaan Mataram membuat kunjungan tersebut seolah Kerajaan Cirebon merupakan wilayah jajahan Kerajaan Mataram.

Hal tersebut tetap terjadi meskipun Kesultanan Cirebon sangat dihormati oleh Kerajaan Mataram ketika dipimpin oleh Sultan Agung. Ketika Kerajaan Mataram berganti kepemimpinan, terjadi gejolak politik dalam kerajaan tersebut.

Kerajaan Mataram menginginkan Kesultanan Cirebon untuk tunduk dibawah pemerintahan Kerajaan Mataram, tetapi permintaan tersebut ditolak. Hal ini membuat sakit hati Raja Amangkurat I. Panembahan Girilaya pun ditahan di Mataram hingga beliau wafat dengan menyandang status tahanan politik.

  • Kekosongan Jabatan

Pada tahun 1662 – 1678 M, terjadi kekosongan jabatan di Kesultanan Cirebon yang terjadi selama 16 tahun. Hal ini terjadi disebabkan Kesultanan Cirebon menjadi Tarik ulur antara Kerajaan Mataram dan Kerajaan Banten.

Pada tahun 1678 M, terjadi perpecahan wilayah di Kesultanan Cirebon menjadi dua bagian, yakni Kasepuhan dan Kanoman. Pembagian dua wilayah ini menjadikan keadaan saling bersekutu antara satu dengan lainnya. Satu wilayah bersekutu dengan Kerajaan Mataram, sedangkan wilayah lainnya bersekutu dengan Kerajaan Banten.

Setelah wilayah kekuasaan Kesultanan Cirebon terbagi menjadi dua, maka tiap wilayah memiliki pemimpin sendiri di tiap wilayah kekuasaannya. Berikut silsilah lengkap dari dua wilayah kekuasaan tersebut:

  1. Silsilah Kesultanan Kasepuhan

Pembagian dua wilayah kekuasaan dari Kesultanan Cirebon ini dicetuskan oleh Sultan Ageng Tirtayasa untuk menghindarkan perpecahan dalam Kesultanan Cirebon. Pada saat itu, terjadi perbedaan pendapat di kalangan keluarga Dalem Kesultanan Cirebon.

Berikut daftar silsilah lengkap pemimpinan Kesultanan Kasepuhan.

NoGelarNamaMasa Pemerintahan
1Sultan Sepuh ISultan Raja Syamsudin Martawidjaja1679 –1697 M
2Sultan Sepuh IISultan Raja Tajularipin Djamaludin1697 – 1723 M
3Sultan Sepuh IIISultan Raja Djaenudin1723 – 1753 M
4Sultan Sepuh IVSultan Raja Amir Sena Muhammad Jaenuddin1753 – 1773 M
5Sultan Sepuh VSultan Sepuh Sjafiudin Matangaji1773 – 1786 M
6Sultan Sepuh VISultan Sepuh Hasanuddin1786 – 1791 M
7Sultan Sepuh VIISultan Sepuh Djoharudin1791 – 1815 M
8Sultan Sepuh VIIISultan Sepuh Radja Udaka1815 – 1845 M
9Sultan Sepuh IXSultan Radja Sulaeman1845 – 1853 M
10Sultan Sepuh XSultan Radja Atmadja Rajaningrat1880 – 1885 M
11Sultan Sepuh XISultan Sepuh Radja Jamaludin Aluda Tajularifin 1899 – 1942 M
12Sultan Sepuh XIISultan Sepuh Radja Radjaningrat1942 – 1969 M
13Sultan Sepuh XIIIPangeran Raja Adipati DR.H. Maulana Pakuningrat. SH1969 – 2010 M
14Sultan Sepuh XIVPangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat. SE2010 – sekarang

Kesultanan Cirebon telah runtuh beberapa tahun yang lalu, tetap silsilah keluarga masih tetap ada hingga sekarang. Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat merupakan pangeran yang saat ini menjabat sebagai pemimpin Keraton Kasepuhan dan menjabat sebagai Sultan Sepuh ke-14 yang dinobatkan pada tanggal 09 Juni 2010.

  1. Silsilah Kesultanan Kanoman

Setelah pembagian wilayah kekuasaan, berdirilah Kesultanan Kanoman yang ditandai dengan didirikannya keraton baru di wilayah Kesultanan Kanoman. Lokasi keraton tersebut berada tidak jauh dari Keraton Kasepuhan Cirebon.

Pada tahun 1807 – 1810 M, pengaruh Belanda mulai masuk dan telah menguasai beberapa wilayah di Kerajaan Mataram, kerajaan tersebut juga mengalami masa kemunduran. Kerajaan Belanda juga sudah menaklukkan Kerajaan Banten, maka secara tidak langsung Belanda telah menguasai Kerajaan Cirebon.

Penguasaan Cirebon ditandai dengan pembagian wilayah Kesultanan Cirebon menjadi tiga bagian oleh Belanda. Kesultanan Kanoman dibagi lagi menjadi dua wilayah, yakni Kesultanan Kanoman dan Kerajaan Kacirbonan. Kesultanan Cirebon pun terbagi menjadi tiga wilayah kekuasaan, yakni Kesultanan Kasepuhan, Kesultanan Kanoman, dan Kerajaan Kacirbonan.

Pembagian tiga wilayah kekuasaan ini menjadi titik awal kehancuran kerajaan. Belanda mulai mendominasi wewenang para sultan, sehingga sultan tidak lagi memiliki wewenang dan hanya menjadi simbol pemimpin saja.

Berikut silsilah sultan Kesultanan Kanoman:

NoGelarNama
1Sultan Anom IMuhammad Badrudin Kartawijaya
2Sultan Anom IIPangeran Raja Mandurareja Muhammad Qadirudin
3Sultan Anom IIIPangeran Raja Adipati Muhammad Alimudin
4Sultan Anom IVPangeran Raja Adipati Sultan Muhammad Chaeruddin
5Sultan Anom VPangeran Raja Abu Soleh Muhammad Imammudin
6Sultan Anom VIMuhammad Kamaroedin I
7Sultan Anom VIIMuhamamad Kamaroedin II
8Sultan Anom VIIIPangeran Raja Muhamamad Dzulkarnaen
9Sultan Anom IXPangeran Raja Adipati Muhamamad Nurbuat
10Sultan Anom XPangeran Raja Adipati Muhamamad Nurus
11Sultan Anom XIPangeran Raja Adipati Muhamamad Jalalludin
12Sultan Anom XIIPangeran Raja Muhamamad Emiruddin
13Sultan Anom XIIIPangeran Elang Mochamad Saladin

Secara singkat, Kesultanan Cirebon selama masa berlangsungnya memiliki tiga sultan sebelum adanya perpecahan wilayah kekuasaan. Hal ini terjadi dikarenakan terdapat jeda waktu lama akibat kekosongan jabatan pemerintah di Kesultanan Cirebon sehingga digantikan oleh pegawai pengganti sultan.

Masa Kejayaan Kesultanan Cirebon

kesultanan cirebon
Photo by historyofcirebon.id

Masa kejayaan Kesultanan Cirebon terjadi pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah. Pada masa pemerintahannya, berikut beberapa kemajuan yang berhasil diraih oleh Sultan Syarif Hidayatullah:

  • Terpenuhinya prasarana dan sarana fisik essensial pemerintahan dan ekonomi dalam ukuran suatu kerajaan pesisir
  • Telah dikuasainya daerah-daerah yang dapat mensuplai bahan pangan, termasuk daerah penghasil garam, daerah yang cukup berpengaruh bagi pemasukan negeri pesisir dengan luas yang memadai
  • Memiliki sejumlah pasukan laskar dengan semangat tinggi yang dipimpin oleh panglima yang cukup berwibawa dan bisa dipercaya
  • Memiliki penasehat-penasehat yang baik dalam bidang pertahanan maupun agama
  • Memiliki jalinan hubungan yang baik dengan antar negara yang sangat erat, contohnya Cirebon dengan Demak
  • Mendapat dukungan penuh dari para wali
  • Tidak terdapat indikasi ancaman dari Prabu Siliwangi untuk menghancurkan eksistensi Cirebon

Penyebab Kemunduran dan Kehancuran Kesultanan Cirebon

Penyebab kemunduran Kesultanan Cirebon mulai terlihat ketika Kesultanan Cirebon terbagi menjadi tiga wilayah kekuasaan, yakni Kesultanan Kasepuhan, Kesultanan Kanoman, dan Kerajaan Kacirebonan. Perpecahan ini menjadi awal sebab kehancuran Kesultanan Cirebon.

Selain itu, terjadi perebutan kekuasaan sepeninggal Panembahan Gerilya pada tahun 1702 M. campur tangan Belanda dalam urusan pemerintahan Kesultanan Cirebon dan mengadu domba mereka juga memperparah kemunduran dan kehancuran Kerajaan Cirebon.

Peninggalan Kerajaan Cirebon

Sebagai salah satu kerajaan Islam yang ada di Pulau Jawa, Kesultanan Cirebon meninggalkan beberapa peninggalan sejarah yang bercorak Islam. Berikut beberapa peninggalan Kesultanan Cirebon:

  • Keraton Kasepuhan Cirebon

keraton kasepuhan cirebon
Photo by cirebonkota.go.id

Keratin Kasepuhan Cirebon atau Keraton Pakungwati merupakan keratin yang dibangun oleh Pangeran Cakrabuana pada tahun 1430 M. Pada awalnya, keraton tersebut dinamakan Dalem Agung Pakungwati. Selang beberapa waktu kemudian, Pangeran Cakrabuana mengganti nama keraton tersebut menajdi Keraton Pakungwati.

Asal-usul pemberian nama ini berasal dari nama putri dari Pangeran Cakrabuana, Ratu Ayu Pakungwati. Pemberian nama ini merupakan salah satu bentuk kasih sayang Pangeran Cakrabuana kepada putrinya tersebut.

  • Keraton Kanoman

keraton kenoman cirebon
Photo by id.wikipedia.org

Keraton Kanoman merupakan keraton yang dibangun oleh Pangeran Mohammad Badridin atau Pangeran Kertawijaya. Keraton Kanoman memiliki luas sekitar 6 hektar dan berlokasi di belakang pasar. Keraton ini merupakan tempat tinggal keseultanan ke-12, yakni Sultan Muhammad Emiruddin beserta keluarganya.

Dalam keraton ini terdapat peninggalan kereta peninggalan Kesultanan Cirebon, yakni Paksi Naga Liman dan Kereta Jempana.

  • Keraton Kacirebonan

keraton kacirebonan
Photo by cirebonlovers.blogspot.com

Keraton Kacirebonan meruapakan keraton yang dibangun pada tahun 1800 M. Keraton ini digunakan untuk menyimpan barang-barang peninggalan pada zaman dahulu, seperti Keris, Wayang, alat music Gamelan, dan alat-alat lainnya.

Keraton Kacirebonan terletak di Kelurahan Pulasaren, Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon. Keraton ini terletak di sebelah barat daya dari Keraton Kasepuhan dan sebelah selatan dari Keraton Kanoman. Keraton ini memiliki panjang yang sangat besar dan memanjang ke arah selatan dengan luas tanag 46.500 m persegi.

  • Keraton Keprabon

Keraton Keprabon merupakan sebuah tempat untuk pembelajaran yang didirikan oleh putera mahkota Kesultanan Kanoman, Pangeran Raja Adipati Keprabon. Pangeran Raja Adipati Keprabon lebih memilih untuk memperdalam ilmu keagamaannya di agama Islam.

Keraton Keprabon bukanlah sebuah kesultanan, melainkan tempat untuk memperdalam ilmu agama Islam yang dibangun oleh Pangeran Raja Adipati.

  • Kereta Singa Barong Kasepuhan

Kereta Singa Barong Kasepuhan merupakan kereta karya Panembahan Losari (cucu Sunan Gunung Jati) yang dibuat pada tahun 1549 M. Kereta Singa Barong ini biasa digunakan untuk acara kirab pada tanggal 1 Muharram dan pelantikan sultan. Pada tahun 1945, Kereta Singa Barong yang asli tidak lagi digunakan untuk kirab, namun menggunakan Kereta Singa Barong tiruan atau duplikat.

Bagian depan Kereta Singa Barong yang berbentuk belalai gajag melambangkan persahabatan Kesultanan Cirebon dengan India, dan yang berkepala naga melambangkan persahabatan dengan Tiongkok. Sayap dan badan Buroq dari kereta melambangkan persahabatan dengan Mesir. Senjata trisula pada belalai gajah melambangkan ketajaman cipta, rasa, dan karsa manusia.

  • Masjid Sang Cipta Rasa

Masjid Agung Sang Cipta Rasa merupakan masjid tertua yang ada di Cirebon. Masjid ini dibangun pada tahun 1840 M. Nama masjid diambil dari kata “Sang” yang berarti keagungan, “cipta” yang berarti dibangun, dan “rasa” yang berarti digunakan.

Konon, masjid ini dibangun melibatkan 500 orang yang didatangkan dari Majapahit, Demak, dan Cirebon. Sunan Gunung Jati menunjuk Sunan Kalijaga untuk menjadi arsitek dari masjid ini. Sunan Gunung Jati juga meminta bantuan Raden Sepat, seorang arsitek yang menjaadi tahanan perang Demak-Majapahit untuk menjadi arsitek dari masjid ini.

  • Makam Sunan Gunung Jati

Makam Sunan Gunung Jati terletak di bukit kecil yang sering disebut sebagai Gunung Sembung. Kompleks pemakaman ini terletak berada di lintasan Cirebon-Indramayu. Sebagai salah seorang wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa, makam Sunan Gunung Jati jarang sepi dari pengunjung berbagai daerah di Indonesia.

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah merupakan putra dari Nyai Rara Santang. Nyai Rara Santang sendiri merupakan seorang puteri dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari istrinya yang bernama Nyai Subang Larang.

  • Patung Macan Putih

patung macan putih
Photo by jabar.indonesiaraya.co.id

Patung macan putih biasanya diletakkan di depan keraton-keraton yang terdapat di Cirebon, terutama Keraton Kasepuhan. Makna dari patung macan putih sendiri merupakan lambang keluarga besar Pajajaran yang mana keturunan dari Maharaja Prabu Siliwangi.

Kebanyakan masyarakat saat ini menganggap dua buah patung macan putih sebagai penjaga suatu tempat yang sacral dan mistis yang berhubungan dengan Pajajaran. Akan tetapi, fungsi sebenarnya dari patung tersebut pada zaman dahulu sebagai penanda atau lambang keluarga keturunan Prabu Siliwangi.

  • Alun-Alun Sangkala Buana atau Saptonan

Alun-Alun Sangkala Buana merupakan salag satu tempat yang sering digunakan untuk acara resmi keraton. Sultan Cirebon biasanya menyaksikan dari tempat duduknya di Mande Malang Semirang yang berlokasi di kompleks Siti Inggil.

Tempat ini kadang juga disebut Saptonan dikarenakan tempat ini juga digunakan untuk tempat latihan keprajuritasn setiap hari Sabtu. Selain itu, tempat ini juga digunakan sebagai tempat hukuman terhadap rakyat-rakyat yang melakukan kesalahan.

  • Bangunan Mande Pengiring

Bangunan Mande Pegiring merupakan salah satu bangunan yang ada di dalam Keraton Kasepuhan. Bangunan ini dibangun oleh Sunan Gunung Jati yang digunakan untuk tempat bersantai atau duduk bagi pengiring sultan. Oleh karena itu, bangunan ini disebut sebagai Mande Pengiring.

  • Bangunan Mande Karesmen

Bangunan Mande Karesmen merupakan bangunan yang terletak di sebelah Mande Pengiring yang digunakan untuk tempat pengiring tetabuhan atau gamelan. Hingga sekarang, bangunan ini masih digunakan untuk membunyikan gamelan sekaten (Gong Sekati) setiap dua kali dalam setahun pada hari-hari tertentu, seperti Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

  • Regol Pengada

Regol Pengada merupakan pintu gerbang yang berbentuk padurakasa. Bangunan ini dibangun menggunakan batu dan daun pintunya terbuat dari kayu. Gapura Lonceng terdapat di sebelah timur gerabang pengada. Gerbang ini berbentuk kori agung atau gapura beratap yang menggunakan bahan dasar batu bata.

Bangunan Pengada yang terletak di depan Regol Pengada dengan ukuran 17 x 9,5 m berfungsi sebagai tempat untuk membagikan berkat. Selain itu, tempat ini juga digunakan untuk tempat pemeriksaan sebelum menghadap ke hadapan raja.

  • Tajuq Agung dan Bedug Samogiri

Tajuq Agung atau Mushola Agung merupakan bangunan yang terdapat di dalam Keraton Kasepuhan. Tajuq Agung ini berfungsi sebagai tempat untuk ibadah kerabat keraton. Bangunan utama ini mempunyai ukuran 6 x 6 m dengan luas teras 8 x 2,5 meter. Pos bedug Samogiri adalah bangunan disamping Mushola Agung dibangun tanpa dinding dan memilik atap berbentuk limas.

Pos bedug ini menghadap ke timur berdenah bujursangkar berukuran 4 x 4 m yang didalamnya terdapat bedug. Penutup atap ini didukung 4 tiang utama dan 5 tiang pendukung.

  • Kutagara Wadasan dan Kuncung

Kutagara Wadasan merupakan bangunan yang ada di Keraton Kasepuhan berbentuk gapura yang bercat putih bergaya khas Cirebon. Kekhasan gaya Cirebon ini tampak pada bagian bawah kaki gapura yang berukiran Wadasan dan bagian atas diukir dengan ukiran mega mendung.

Ukiran tersebut memiliki arti seseorang harus mempunyai pondasi yang kuat jika sudah mempunyai seorang pimpinan atau sultan. Pemimpin atau sultan tersebut juga harus mempu mengayomi bawahan dan rakyatnya. Kuncung merupakan bangunan yang digunakan untuk parkir kendaraan sultan. Bangunan ini dibangun oleh Sultan Sepuh I Syamsuddiin Martawidjaja pada tahun 1678 M.

  • Mangkok Kayu Berukir

Mangkok kayu berukir merupakan barang peninggalan yang digunakan Kesultanan Cirebon sebagai nampan. Sebelumnya, warna dari mangkok tersebut terdapat beberapa warna, tetapi sekarang yang terdapat di Museum Tropen Belanda tinggal yang berwarna coklat dan memiliki ukiran pohon kehidupan.

Mangkok tersebut digunakan kerajaan untuk membawakan keluarga raja suatu makanan atau yang lainnya. Corak ukiran pohon kehidupan memiliki arti silsilah sebuah kehidupan yang panjang yang dialami oleh manusia di dunia ini.

Setelah masa kemerdekaan Indonesia, Kesultanan Cirebon tidak lagi menjadi pusat pemerintahan dan pengembangan agama Islam. Walaupun demikian, Keraton Cirebon tetap menjalankan perannya sebagai pusat kebudayaan masyarakat, khususnya untuk wilayah Cirebon dan sekitarnya. Kesultanan Cirebon kerap kali mengambil peran dalam Festival Keraton Nusantara (FKN).

Demikianlah sedikit ulasan mengenai sejarah Kesultanan Cirebon. Semoga materi kali ini dapat menambah wawasan kita mengenai sejarah keraton-keraton yang ada di Indonesia. Aamiin.

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!