puncak kerusuhan mei 1998

Sejarah dan Peristiwa Kerusuhan Mei 1998

Kerusuhan Mei 1998 menjadi salah satu peristiwa sejarah kelam bagi bangsa Indonesia. Beragam insiden yang meresahkan terus terjadi meninggalkan luka yang dalam pada bulan Mei 1998. Kerusuhan pada tanggal 13-15 Mei 1998 menjadi peristiwa yang sangat menyakitkan bagi etnis Tionghoa yang ada di Indonesia.

Berbagai bentuk penindasan dilakukan kepada mereka yang beretnis Tionghoa. Penindasan dalam bentuk penjarahan, penghancuran toko dan rumah, penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan, dan lain-lain. Kerusuhan pada bulan Mei terbesar terjadi di Kota Jakarta, Medan, dan Surakarta.

Latar Belakang dan Penyebab Kerusuhan Mei 1998

kerusuhan mei 1998
Photo by id.wikipedia.org

Kerusuhan yang terjadi pada tanggal 13-15 Mei 1998 dilatarbelakangi krisis moneter yang terjadi di Asia hingga berdampak ke Indonesia. Selain itu, kritikan terhadap pemerintahan orde baru yang saat itu akan dipimpin oleh Presiden Soeharto untuk periode ke-7 menjadi Presiden Indonesia. Tragedi Trisakt yang menewaskan empat orang mahasiswa menambah daftar panjang penyebab kerusuhan Mei 1998.

Kerusuhan Mei 1998 juga menimbulkan penindasan terhadap etnis Tionghoa yang ada di Indonesia. berdasarkan hasil analisis dari koordinator investigasi dan pendataan tim relawan, Sri Palupi, mengatakan jika sentiment terhadap etnis Tionghoa yang sudah lama terjadi dimanfaatkan untuk memicu kerusuhan yang disebabkan oleh krisis moneter di Asia.

Beberapa jenderal yang tidak memiliki hubungan dengan dunia perekonomian memprovokasi masyarakat bahwa etnis Tionghoa lah yang menyebabkan krisis moneter terjadi. Hal tersebut disebabkan orang Tionghoa lah yang melarikan uang rakyat ke luar negeri dan sengaja menimbun sembako sehingga rakyat Indonesia kelaparan.

Kronologi Kerusuhan Mei 1998

kerusuhan
Photo by riauonline.co.id

Berikut kronologi terjadinya peristiwa kerusuhan Mei 1998 di Indonesia.

  • Krisis Perekonomian di Asia

Krisis perekonomian yang hampir melanda seluruh negara Asia Timur pada bulan Juli 1997 mengakibatkan kekacauan dan kepanikan negara ASEAN. Indonesia merupakan salah satu negara dari tiga anggota ASEAN yang terkena dampak krisis perekonomian cukup serius.

Penurunan nilai mata uang rupiah terhadap dollar mengakibatkan perusahaan yang meminjam dengan uang dolar harus mengembalikan dengan biaya yang lebih besar. Para pemberi pinjaman juga menarik kredit secara besar-besaran sehingga terjadi penyusutan kredit dan kebangkrutan di kalangan pengusaha.

Inflasi mata uang rupiah juga diperparah dengan banyaknya masyarakat yang menukarkan mata uang rupiah ke dolar Amerika. Kepanikan dan kegelisahan masyarakat terhadap tingginya harga bahan pokok menimbulkan aksi protes kepada pemerintahan orde baru. Kritikan dan unjuk rasa yang berdatangan dari berbagai penjuru membuat situasi di dalam negeri semakin memanas.

Berdasarkan keterangan berbagai sumber terkait kejadian kerusuhan Mei 1998 dimulai dari Kota Medan, Sumatera Utara. Pada tanggal 2 Mei 1998, para mahasiswa melakukan unjuk rasa kepada pemerintah setempat yang berujung dengan aksi anarkis.

Pada tanggal 4 Mei 1998, sekelompok golongan pemuda melakukan aksi pembakaran di beberapa titik Kota Medan. Sentiment anti-polisi yang beredar juga menimbulkan kebencian terhadap pihak kepolisian yang berujung dengan pengerusakan dan penghancuran berbagai infrastruktur dan fasilitas aparat kepolisian.

  • Terbunuhnya Empat Mahasiswa Trisakti

Keadaan di dalam negeri semakin memanas setelah aksi demo krisis moneter oleh mahasiswa yang menelan empat korban jiwa di Jakarta pada tanggal 12 Mei 1998. Keempat korban yang ditembak mati oleh aparat keamanan merupakan mahasiswa dari Universitas Trisakti.

Peristiwa tewasnya empat mahasiswa Trisakti dalam aksi demo krisis moneter dikenal sebagai Tragedi Trisakti. Tidak terima dengan peristiwa Trisakti yang menewaskan empat mahasiswa tersebut menyebabkan mahasiswa semakin mengamuk.

  • Penindasan Terhadap Etnis Tionghoa

Aksi unjuk rasa dan bentrokan dengan aparat keamanan terus berlanjut hingga bergulir dengan penindasan terhadap etnis Tionghoa terutama wanita. Sentimen mengenai warga pribumi dan pendatang memang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Ketika Belanda berkuasa di Indonesia, etnis Tionghoa ditugaskan sebagai pemungut pajak, pengambil insentif dari warga, dan perantara perdagangan.

Etnis Tionghoa yang terkesan “membantu” Belanda ketika Belanda menjajah Indonesia menjadikan etnis Tionghoa mendapatkan stigmatisasi dan sentiment negatif dari bangsa Indonesia. Etnis Tionghoa pun dianggap melakukan penindasan dan pengambil alih kekuasaan di Indonesia.

Selain itu, perekonomian etnis Tionghoa yang terbilang cukup stabil dan strategis semakin menjadikan etnis ini menjadi kelompok minoritas yang tidak disukai dan kelompok yang tersisihkan. Rasa benci dan curiga semakin bertambah ketika etnis ini dikaitkan bagian dari rezim Soekarno yang komunis dan bertentangan dengan kepercayaan yang dianut oleh bangsa Indonesia.

Penindasan yang dilakukan terhadap etnis Tionghoa sangat memilukan dam menjadi lembaran hitam bagi bangsa Indonesia. Toko-toko dan rumah-rumah milik etnis Tionghoa dijarah, dibakar, dan dihancurkan. Kekacauan terjadi dimana-mana. Wanita Tionghoa pun dilecehkan, dianiaya, dan diperkosa oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan oleh seorang aktivis tim relawan, Ita F Nadia, memaparkan jika alasan etnis Tionghoa dijadikan sasaran karena masuk dalam golongan triple minority. Triple Minority tersebut yakni:

  1. Wanita
  2. Berasal dari etnis Tionghoa yang minoritas
  3. Beragama non-muslim dimana Islam merupakan agama mayoritas di Indonesia

Gambaran Penindasan Etnis Tionghoa

Pemerkosaan yang dilakukan oleh para perusuh terhadap wanita etnis Tionghoa dilakukan secara gang rape, yakni korban diperkosa secara bergantian dalam waktu bersamaan oleh beberapa orang. Pemerkosaan banyak dilakukan di rumah korban, di tempat umum, bahkan didepan orang lain.

Hal ini tentu meninggalkan trauma psikis yang berat dan mendalam bagi wanita-wanita yang menjadi korban kerusuhan 1998. Impian dan segala yang mereka usahakan menjadi sirna akibat peristiwa tersebut, hanya luka dan trauma yang mendalam bagi mereka. Mereka sering mengalami ketakutan dan kecemasan tanpa henti, terutama terhadap laki-laki yang tidak dikenal.

Beberapa korban ada yang bunuh diri karena tidak sanggup lagi menjalani hidup, ada yang menjadi gila, dan ada yang diusir keluarganya. Bahkan, terdapat diantaranya yang melarikan diri keluar negeri dan mengganti identitas diri.

Korban pemerkosaan tidak berani untuk membuka mulut dikarenakan mendapatkan ancaman dari pelaku. Bukan hanya itu, alasan diamnya korban tidak lebih karena mengalami rasa takut, malu, dan trauma yang membuat mereka tertahan dan berusaha untuk melupakan kejadian tersebut.

Akhir Kerusuhan Mei 1998

peristiwa mei 1998
Photo by boombastis.com

Kerusuhan yang terjadi pada bulan Mei tahun 1998 berakhir dengan pengunduran diri Presiden Soeharto dari kursi kepresidenan. Pengunduran diri ini terjadi pada tanggal 21 Mei 1998 yang dilanjutkan dengan pembentukan Kabinet Reformasi Pembangunan dibawah pemerintahan Presiden B.J Habibie.

Pada akhirnya, Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang dibentuk oleh Presiden B.J Habibie tidak berhasil mengusut tuntas oknum-oknum yang terlibat dalam kerusuhan Mei 1998. Permasalahan yang terjadi dalam kerusuhan Mei 1998 menguap begitu saja tanpa ada tindakan yang lebih lanjut.

Demikianlah sedikit ulasan mengenai sejarah peristiwa kerusuhan Mei 1998. Semoga materi kali ini dapat menambah wawasan kita mengenai sejarah kelam masa lalu sebelum reformasi Indonesia dan dapat lebih bijak lagi dalam menghadapi permasalahan yang akan dihadapi kedepannya dalam agenda merawat Indonesia. Aamiin.

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!