bendera kerajaan mataram islam

Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan Mataram Islam – Sejarah bangsa Indonesia tentu saja tidak lepas dari perkembangan kerajaan-kerajaan yang dahulu pernah ada dan berjaya di Indonesia. Beragam latar belakang kerajaan berdiri di Indonesia, baik itu yang bercorak Agama Hindu, Agama Buddha, maupun Agama Islam.

Salah satu kerajaan yang bercorak Islam di Jawa adalah Kerajaan Mataram. Sisa-sisa dari Kerajaan Mataram Islam pun masih ada hingga sekarang, salah satunya adalah Keraton Kesultanan Yogyakarta. Kesultanan Yogyakarta merupakan salah satu pecahan wilayah kekuasaan dari kerajaan ini.

Berikut akan kita bahas secara singkat mengenai sejarah dan peninggalan Kerajaan Mataram Islam yang masih dapat kita jumpai hingga saat ini.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Mataram Islam

kerajaan islam mataram
Photo by salamadian.com

Sejarah berdirinya Kerajaan Mataram Islam dimulai ketika Sultan Hadiwijaya yang berkuasa di Pajang melantik Ki Ageng Pamanahan sebagai bupati di Mataram. Pelantikan ini merupakan hadian dan imbalan atas jasanya berhasil membantu menumpas Arya Penangsang dari Kerajaan Demak. Selain itu, anaknya yang bernama Sutawijaya juga dijadikan anak angkat oleh Sultan Hadiwijaya.

Pada tahun 1575 M, Ki Ageng Pemanahan meninggal dunia. Sutawijaya pun menggantikan ayahnya menjadi bupati di Mataram. Sutawijaya tidak begitu puas hanya menjadi seorang bupati di Mataram, ia ingin menjadi seorang raja yang menguasai wilayah Jawa. Ia kemudian memperkuat sistem pertahanan di Mataram.

Hal ini diketahui oleh Sultan Hadiwijaya. Akhirnya, Sultan Hadiwijaya mengirimkan pasukan untuk meyerang wilayah Mataram pada tahun 1582 M. Peperangan antara Kerajaan Pajang dan Mataram berlangsung sangat sengit. Dalam pertempuran ini, Kerajaan Pajang mengalami kekalahan. Selain itu, Sultan Hadiwijaya yang pada waktu itu sedang sakit pun meninggal dunia.

Keadaan ini membuat kericuhan di Kerajaan Pajang dan terjadi perebutan kekuasaan diantara bangsawan Pajang. Pangeran Pangiri yang mana merupakan Bupati Demak sekaligus menantu Hadiwijaya menyerang Mataram untuk merebut kembali wilayah Mataram dibawah kekuasaan Kerajaan Pajang.

Akan tetapi, penyerbuan tersebut ditentang oleh bangsawan Pajang yang bekerjasama dengan Sutawijaya. Pangeran Pangiri pun kalah dalam peperangan dan diusir dari Kerajaan Pajang. Setelah situasi kembali aman, Pangeran Benawa selaku putra dari Hadiwijaya menyerahkan tahta Kerajaan Pajang kepada Sutawijaya.

Setelah penyerahan tahta tersebut, pusat pemerintahan di Pajang dipindahkan ke wilayah Mataram pada tahun 1586 M. Perpindahan tahta tersebut menjadi tanda awal berdirinya Kerajaan Mataram Islam.

Lokasi Kerajaan Mataram Islam

letak geografis kerajaan mataram islam
Photo by yuksinau.id

Pusat Kerajaan Mataram Islam terletak di Kotagede, Yogyakarta. Sebelum tahun 1613 M, wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram mencakup wilayah Kerajaan Pajang.

Setelah Sultan Agung berkuasa, wilayah Kerajaan Mataram diperluas hingga mencakup wilayah Jawa Barat dan sebagian Jawa Timur yang meliputi Surabaya, Lasem, Pasuruan, Tuban, dan Madura.

Silsilah Raja Kerajaan Mataram

Sebagai salah satu kerajaan Islam yang berpengaruh di Pulau Jawa, Kerajaan Mataram Islam tentu memiliki raja-raja yang hebat dan bijaksana. Berikut silsilah enam raja yang pernah memimpin Kerajaan Mataram Islam.

  • Ki Ageng Pamanahan (1556 – 1584 M)

ki ageng pemanahan
Photo by menggapaiangkasa.com

Pada tahun 1556 M, Ki Ageng Pamanahan mendirikan Desa Mataram. Sebelum dibangun menjadi sebuah desa, wilayah tersebut merupakan merupakan sebuah alas yang bernama Alas Mentaok. Oleh karena itu, Kerajaan Mataram Islam didirikan oleh Ki Ageng Pamanahan. Namun, raja pertamanya adalah anaknya yang bernama Sutawijaya.

Ki Ageng Pamanahan pun menjadikan alas tersebut menjadi sebuah wilayah bernama Mataram. Ki Ageng wafat pada tahun 1584 M dan dimakamkan di Kotagede, Yogyakarta. Setelah beliau wafat, kekuasaan jatuh ke tangan anaknya yang bernama Sutawijaya.

  • Panembahan Senapati (1584 – 1601 M)

panembahan senapati
Photo by id.wikipedia.org

Sutawijaya yang merupakan anak dari Ki Ageng Pamanahan pun mendapatkan kekuasaan di wilayah Mataram. Sutawijaya merupakan menantu dan anak angkat dari Sultan di Kesultanan Pajang, Sultan Hadiwijaya. Sebelumnya, ia merupakan senapati utama dari Kerajaan Pajang, sehingga ia mendapatkan gelar Panembahan Senapati Ing Alaga Sayidim Panatagama.

Ketika Panembahan Senapati menjadi raja pertama di Kerajaan Mataram Islam, kerajaan tersebut mulai bangkit dan mulai melakukan perluasan wilayah. Ia melakukan perluasan hingga ke wilayah Pajang, Demak, Tuban, Madiun, Pasuruan, dan sebagian besar wilayah Surabaya.

Selain itu, Sultan Panembahan Senapati juga berhasil menumpas bupati-bupati yang membangkang dan berusaha melepaskan diri dari Kerajaan Mataram. Bupati yang membangkang tersebut diantaranya adalahh bupati Ponorogo, Kediri, Madiun, Surabaya, Pasuruan, dan Demak. Seluruh bupati tersebut berhasil ditundukkan pada tahun 1595 M.

Setelah Panembahan Senapati wafat pada tahun 1601 M, tahta kekuasaan Kerajaan Mataram Islam diberikan kepada anaknya yang bernama Raden Mas Jolang.

  • Raden Mas Jolang (1601 – 1613 M)

Raden Mas Jolang adalah putra dari Panembahan Senapati yang menikah dengan Putri Ki Ageng Panjawi. Raden Mas Jolang mendapatkan julukan Panembahan Anyakrawati. Ia merupakan pewaris kedua di Kerajaan Mataram Islam.

Pada masa Raden Mas Jolang berkuasa, banyak sekali peperangan yang terjadi. Peperangan tersebut dimaksudkan untuk memperluas wilayah kekuasaan dan mempertahankan wilayah yang dikuasai. Ia pun wafat pada tahun 1613 M setelah memimpin Kerajaan Mataram Islam selama 12 tahun.

Raden Mas Jolang meninggal dunia dikarenakan mengalami kecelakaan ketika sedang berburu di Hutan Krapyak. Oleh karena itu, ia juga mendapat julukan Susuhan Seda Krapyak, yak bermakna Raja (yang) wafat (di) Krapyak. Raden Mas Jolang dimakamkan di Kotagede.

  • Raden Mas Rangsang (1613 – 1646 M)

raden mas rangsang
Photo by beritasatu.com

Raden Mas Rangsang merupakan raja Mataram yang ketiga dan anak dari Raden Mas Jolang. Ia mendapatkan gelar Sultan Agung Senapati Ingalaga Ngabdurrahman atau lebih kita kenal dengan sebutan Sultan Agung. Pada masa pemerintahannya, kerajaan yang dipimpinnya berada di puncak kejayaannya.

Kerajaan Mataram Islam berhasil menguasai hampir seluruh tanah yang ada di Pulau Jawa. Selain memperluas wilayah kekuasaannya, ia juga mengembangkan Kerajaan Mataram menjadi kerajaan yang unggul dalam bidang agraris. Sultan Agung meninggal dunia pada tahun 1546 M dan dimakamkan di Imogiri.

  • Amangkurat I (1646 – 1677 M)

amangkuratt 1
Photo by humansbiography.blogspot.com

Sultan Amangkurat I merupakan anak dari Sultan Ageng. Pada masa pemerintahannya, ia memindahkan ibukota kerajaan dari Kotagede ke Pleret di Bantul pada tahun 1647 M. Pada masa pemerintahannya, Sultan Amangkurat I menjalin kerjasama dengan VOC Belanda, hal ini tentu memicu perpecahan di Kerajaan Mataram Islam.

Kerajaan Mataram Islam mulai terlihat keruntuhannya ketika Sultan Amangkurat I berkuasa. Hal ini disebabkan karena ia bekerjasama dengan VOC Belanda yang menimbulkan perpecahan diberbagai kalangan kerajaan. Sultan Amangkurat I wafat pada tanggal 10 Juli 1677 dan dimakamkan di Telagawangi, Tegal.

  • Amangkurat II

amangkurat 2
Photo by helmiairan.wordpress.com

Sebelum meninggal dunia, Sultan Amangkurat I mengangkat Amangkurat II menjadi Sultan Kerajaan Mataram Islam. Sultan Amangkurat bernama asli Rasen Mas Rahmat. Ia merupakan pendiri sekaligus raja pertama dari Kasunan Kartasura. Kasunan Kartusara adalah lanjutan dari Kerajaan Mataram Islam.

Sultan Amangkurat II merupakan raja pertama Jawa yang memakai pakaian dinas berupa pakaian bangsa Eropa. Sultan Amangkurat II pun mendapatkan julukan Sunan Amral (Admiral) dari rakyatnya.

Masa Kejayaan Kerajaan Mataram Islam

masa kejayaan mataram islam
Photo by harianmerapi.com

Masa kejayaan Kerajaan Mataram terjadi ketika masa pemerintahan Raden Mas Rangsang atau Sultan Agung. Wilayah kekuasaannya meliputi seluruh wilayah Pulau Jawa dan Madura, kecuali Batavia yang dikuasai oleh VOC Belanda. VOC yang mulai bertindak sewenang-wenang ini tidak disukai oleh Sultan Agung, sehingga muncullah slogan anti kolonalisme pada masa pemerintahannya.

Selain itu, pada masa pemerintahan Sultan Agung, ia berhasil membendung kekuatan VOC di Batavia Belanda yang ingin menguasai Pulau Jawa. Akan tetapi, Sultan Kerajaan Mataram penggantinya yakni Sultan Amangkurat I melakukan kerjasama dengan pihak VOC Belanda.

Perlawanan Kesultanan Mataram terhadap kesewenangan VOC dilakukan dengan melakukan penyerangan ke Batavia pada tahun 1628 M dan 1619 M. Menurut pendapat Moejanto sebagaimana telah dikutip oleh Purwadi, Sultan Agung menggunakan konsep politik keagungbintaran. Konsep ini memiliki makna jika Kerajaan mataram harus memiliki sifat keunggulan, utuh, bulat, tidak tersaingi, dan tidak terbagi-bagi.

Penyebab Runtuhnya Kerajaan Mataram Islam

penyebab keruntuhan kerajaan mataram islam
Photo by kekunoan.com

Kerajaan Mataram Islam Runtuh dikarenakan beberapa sebab. Keruntuhan ini disebabkan faktor eksternal dan faktor internal dari kerajaan tersebut. Berikut sebab-sebab yang menjadikan kerajaan ini runtuh.

  • Faktor Internal

Berikut faktor internal yang menyebabkan kerajaan ini runtuh.

  1. Tidak adanya pembentukan pemimpin baru yang cakap
  2. Perang antar saudara dalam kerajaan yang melemahkan kekuatan kerajaan. Selain itu, Perang Paregreg juga menimbulkan kerugian bagi masyarakat Mataram.
  • Faktor Eksternal

Berikut faktor eksternal yang menyebabkan kerajaan ini runtuh.

  1. Adanya campur tangan VOC Belanda dalam pemerintahan Kerajaan Mataram Islam
  2. Terjadi ketimpangan ekonomi
  • Faktor Lain

Masa keruntuhan Kerajaan sebenarnya mulai terlihat ketika gagal dalam mengusir VOC Belanda dari Batavia. Akan tetapi, keruntuhan mulai terlihat ketika Sultan Amangkurat I memindahkan lokasi keraton dari Kotagede ke Pleret di tahun 1657 M. Ketika Amangkurat I berkuasa, Kesultanan Mataram sering terjadi pemberontakan yang mengakibatkan ia terpaksa bekerjasama dengan VOC.

Saat Sultan Amangkurat II berkuasa, ia juga kurang disukai oleh kalangan pejabat istana dikarenakan sangat patuh dengan VOC. Hal ini mengakibatkan pusat kerajaan atau keratin dipindahkan ke Kartasura karena keraton yang lama dianggap sudah tercemar.

Setelah Amangkuart II meninggal dunia, tahta kekuasaan diserahkan kepada Amangkurat III. Tidak seperti sultan pendahulunya yang begitu patuh pada VOC, Sultan Amangkurat III tidak patuh pada VOC. Hal ini membuat geram VOC yang menyebabkan VOC mengangkat Pakubuwana I sebagai raja. Adanya dua orang raja dalam satu kerajaan menimbulkan perpecahan internal di kalangan keraton.

Sultan Amangkurat III yang kalah dalam perseteruan ini akhirnya melakukan pemberontakan dan ditangkap dan diasingkan ke Batavia. Kekacauan politik di dalam Kesultanan Mataram baru dapat diredakan ketika Sultan Pakubuwana III berkuasa. Ia membagi wilayah Mataram menjadi dua bagian, yakni Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunan Surakarta.

Peninggalan Kerajaan Mataram

masjid agung negara
Photo by id.wikipedia.org

Sebagai salah satu kerajaan yang eksis pada zamannya, kerajaan ini tentu meninggalkan berbagai bentuk peninggalan yang menjadi sumber sejarah Kerajaan Mataram Islam. Peninggalan-peninggalan tersebut masih dapat kita kunjungi dan kita nikmati hingga saat ini.

Berikut sumber sejarah dan peninggalan Kesultanan Mataram.

  • Pasar Kotagede

Tata kota sebuah kerajaan biasanya terdiri dari Kerton, pasar, dan alun-alun. Pasar Kotagede merupakan salah satu bentuk peninggalan Kerajaan Mataram Islam yang masih ada hingga saat ini.

Pasar tradisional Kotgede sudah ada sejak zaman Panembahan Senopati berkuasa hingga saat ini. Setiap hari pasar dalam kalender Jawa, pasar tradisional ini selalu didatangi oleh pengunjung, baik untuk membeli maupun menjual.

  • Kompleks Makam Imogiri

Kompleks makam Imogiri merupakan kompleks pemakaman para pediri Kerajaan Mataram Islam. Pemakaman ini dikelilingi oleh tembok yang tinggi dan sangat kokoh. Makam ini juga dijaga oleh beberapa abdi berbusana adat Jawa selama sehari penuh. Gapura makam ini memiliki arsitektur gaya Hindu dengan pintu kayu tebal yang dihiasi ukiran indah.

  • Masjid Agung Negara

Masjid Agung Negara merupakan salah satu peninggalan masjid besar yang dibangun pada tahun 1763 M hingga tahun 1768 M. Masjid ini menggunakan tema berwarna biru sebagai tema utama dan ciri khas arsitekturnya.

  • Masjid Jami’ Pakuncen

Terdapat dua masjid yang menjadi bukti peninggalan Kerajaan Mataram Islam. Selain Masjid Agung Negara, kerajaan ini juga meninggalka sebuah masjid yang didirikan oleh Raja Amangkurat I. Masjid ini dinamakan Masjid Jami’ Pakuncen yang juga tidak kalah indah dengan Masjid Agung Negara.

  • Pertapaan

Pertapaan digunakan sebagai tempat khusus untuk bertapa atau tempat menepi. Di tempat ini, banyak orang yang berikhtiar untuk mendapatkan wangsit agar mendapatkan apa yang diinginkan. Menurut sejarah, Ki Ageng Pemanahan sering melakukan pertapaan disini.

  • Lain-Lain

Selain lima peninggalan diatas, terdapat beberapa peninggalan lainnya dari Kerajaan Mataram Islam. Peninggalan-peninggalan tersebut diantaranya adalah Kerjinan Perak, Batu datar di Lipura, Batu Ktai Gundil, Gapura makam Kotagede, Bangsa Duda, Rumah Kalang, dan makanan khas. Makanan khas yang dipercaya merupakan warisan dari Kesultanan Mataram hingga sekarang masih ada adalah Kue Kipo.

Demikianlah sedikit ulasan mengenai sejarah dan peninggalan Kerajaan Mataram Islam. Semoga materi kali ini dapat menambah wawasan kita mengenai sejarah yang ada di Indonesia. Aamiin.

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!