Sejarah Kerajaan Bali Kuno di Pulau Dewata

pura taman ayung

Kerajaan Bali – Pulau Bali yang memiliki julukan Pulau Dewata merupakan salah satu kawasan di Indonesia yang sangat terkenal di dunia internasional dengan wisatanya yang indah. Mayoritas masyarakat di wilayah Bali menganut agama Hindu yang menjadikan wilayah ini identik dengan kebudayaan dari agama tersebut.

Sejarah agama Hindu menjadi agama dengan penganut terbanyak di Bali tentu tidak lepas dengan kontribusi kerajaan pada zaman terdahulu sebelum Indonesia merdeka. Berikut akan kita ulas bersama mengenai sejarah lengkap kerajaan yang pernah menguasai pulau tersebut dan perkembangannya.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Bali

Sebelum mengalami keruntuhannya, Kerajaan Bali telah dipimpin oleh banyak raja yang beberapa diantaranya membawa pengaruh yang kuat. Dinasti Warwadewa merupakan penguasa yang paling masyhur selama memimpin Kerajaan Bali. Raja-raja dari Dinasti Warmadewa mampu mempertahankan kekuasaan selama kurang lebih dari satu abad tanpa konflik internal yang berarti.

Akan tetapi, sebelum Kerajaan Bali yang dipimpin oleh Dinasti Warmadewa berkuasa telah muncul sebuah kenegaraan dibawah pemerintahan Singha Mandawa. Singha Mandawa merupakan sebuah kerajaan yang berada di wilayah Panglapuan. Asal-usul dari Singha Mandawa sendiri dimulai ketika Kerajaan Sriwijaya mengutus utusan ke Pulau Jawa yang dikenal sebagai masyarakat Gaja Yana dan menetap di Jawa Timur.

Masyarakat Gaja Yana yang menetap di Jawa Timur diserang oleh kerajaan-kerajaan kecil di sekitar wilayahnya. Hal ini menyebabkan mereka menyelamatkan diri ke sebuah pulau di sebelah timur Pulau Jawa yang kini dikenal sebagai Pulau Bali. Kemudan, berdirilah sebuah pemerintahan “Singha Mandawa” yang diambil dari bahasa Sansekerta, bukan bahasa Bali Kuno.

Masa kekuasaan Singha Mandawa tidak terlalu lama, yakni hanya 60 tahun. Akan tetapi, pengaruh dari kerajaan ini cukup besar. Wilayah kekuasaan Singha Mandawa meliputi wilayah Bali Utara hingga ke Bangli dan Tampaksiring.

Kerajaan Singha Mandawa runtuh setelah berhasil ditaklukkan oleh Kesari Warmadewa. Hal ini sebagaimana diberitakan dalam sebuah pilar batu yang menyebut nama tokoh Kesari Warmadewa sebagai seorang raja yang berkuasa atas raja lain setelah berhasil menaklukkan banyak wilayah.

Dinasti Warmadewa dipercaya berasal dari Kerajaan Sriwijaya yang diutus untuk menaklukkan wilayah di Jawa oleh rajanya. Nama “Warmadewa” sendiri merupakan nama yang sering kali digunakan oleh raja-raja di Sriwijaya seperti Mauli Bhusana Warmadewa atau Senggrama Wijaya Tungga Warmadewa.

Kesari Warmadewa dan Gaja Yana merupakan sama-sama utusan dari Raja Sriwijaya. Akan tetapi, keturunan Gaja Yana yang mendirikan pemerintahan di Bali dianggap telah keluar dari kekuasaan Kerajaan Sriwijaya sehingga Kesari Warmadewa diperintah untuk menaklukkannya hingga berdirilah Kerajaan Bali Kuno.

Letak Kerajaan Bali

peta pulau Bali
Photo by balitoursclub.net

Pulau Bali merupakan pulau kecil yang letaknya berada di sebelah timur Pulau Jawa. Oleh karena itu, dalam perkembangannya, Kerajaan Bali memiliki hubungan yang cukup erat dengan Pulau Jawa. Secara geografis, Kerajaan Bali sendiri terdapat di Pulau Bali. Beberapa pendapat mengatakan jika Pulau Bali dulunya masih bagian dari Pulau Jawa. Hal ini terlihat dari banyaknya kesamaan antara Pulau Jawa dan Pulau Bali baik dari adat maupun budayanya.

Selain itu, banyak penduduk Jawa yang melarikan diri ke Bali yang tidak ingin masuk Islam ketika pengaruh Islam datang ke Pulau Jawa. Oleh karena itu, terjadi percampuran adat dan kebudayaan yang cukup berpengaruh dengan suasana kehidupan masyarakat di Pulau Bali.

Raja Kerajaan Bali

raja kerajaan bali
Photo by gurusekolah.co.id

Sebagai wilayah yang pernah berdiri diatasnya kerajaan, Bali tentu memiliki raja-raja yang pernah memimpinnya. Menurut catatan yang tercatat dalam Prasasti Blanjong, Dinasti Warmadewa merupakan dinasti pertama yang memimpin Kerajaan Bali Kuno. Selain Dinasti Warmadewa, terdapat juga beberapa prasasti yang ditemukan memuat didalamnya raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Bali.

Berikut beberapa raja yang pernah memimpin Kerajaan Bali:

  • Sri Kesari Warmadewa

Dalam sejarah Bali Kuno, Sri Kesari Warmadewa merupakan raja pertama yang memimpin Kerajaan Bali. Sri Kesari juga sebagai pendiri dari Dinasti Warmadewa. Sri Kesari Warmadewa disebut merupakan pendatang dari Pulau Sumatera ke Pulau Bali pada sekitar abad ke-9. Kedatangannya ke Pulau Bali disebabkan terdapat persaingan antara Kerajaan Mataram dan Kerajaan Sriwijaya.

Disebutkan dalam kitab kuno Raja Purana bahwa Raja Bali yang bernama Sri Wira Dhalem Kesari mendirikan sebuah istana yang dinamakan Istana Singhadwala atau Singhamandawa di wilayah Desa Besakih. Selain itu, sang raja juga sangat tekun dan gigih melakukan pemujaan terhadap Dewa yang bertahta di Gunung Agung. Tempat pemujaaan Raja Sri Kesari sekarang dinamakan Merajan Selonding.

Pada masa pemerintahannya, kondisi penduduk sangatlah kondusif dan makmur. Kebudayaan juga berkembang pesat. Ia pun memperluas Pura Penataran Besakih. Masa pemerintahan Raja Sri Kesari memimpin Kerajaan Bali tidaklah lama. Ia hanya memerintah selama 2 tahun yakni dari tahun 913 – 914 M hingga akhirnya digantikan oleh Ugrasena.

  • Sri Ugrasena

Ratu Sri Ugrasena memimpin Kerajaan Bali sejak tahun 915 – 942 M. Pusat pemerintahan ketika ia memimpin terletak di Singhamanadawa. Beberapa sumber menyebutkan jika rentang masa kekuasaan Ratu Sri Ugrasena semasa dengan pemerintahan Mpu Sindok dari Wangsa Isyana di Jawa Timur.

Selama masa pemerintahannya, ia dikenal sebagai ratu yang bijaksana. Secara spiritual, Kerajaan Bali pun berkembang pesat dibawah pimpinannya. Ia membangun tempat pemujaan, adanya upacara keagamaan, pemberian penghargaan, dan pembebasan pajak untuk wilayah tertentu.

Meski tidak menyematkan gelar Warmadewa dalam namanya, namun dapat dipastikan Ratu Sri Ugrasena merupakan masih memiliki hubungan dengan Dinasti Warmadewa. Pada masa pemerintahannya, para pendeta Siwa Budha, Hindu, Rsi para empu yang datang dari Jawa dan India ke Pulau Bali dan dapat hidup rukun dibawah naungannya.

Ratu Sri Ugrasena berhasil meninggalkan 9 buah prasasti. Prasasti-prasasti yang ditinggalkannya mayoritas bercerita tentang pembebasan pajak wilayah-wilayah tertentu dibawah kekuasaan Kerajaan Bali diantaranya adalah wilayah pembangunan tempat suci. Namun, terdapat sejumlah prasasti juga yang menyebutkan tentang kehidupan Ratu Sri Ugrasena, seperti Prasasti Sembiran A I, Prasasti Pengotan A I, Prasasti Gobleg Pura Batur A, dan juga prasasti lainnya yang tertulis dalam Bahasa Bali Kuno.

Selain itu, terdapat juga prasasti yang menceritakan tentaang pembangunan tempat-tempat suci. Ketika wafat, Ratu Sri Ugrasena dimakamkan di Air Mandatu.

  • Sri Tabanendra Warmadewa

Setelah Sri Ugrasena meninggal dunia, tahta kerajaan diberikan kepada anaknya yang bernama Sri Tabanendra Warmadewa. Raja Tabanendra Warmadewa memimpin Kerajaan Bali dari tahun 955- 967 M dengan gelar Sang Ratu Aji Tabanendra Warmadewa.

Beliau berhasil mempersunting seorang anak dari seorang mpu yang bernama Sri Subhadri Dharmadewi yang mana adalah anak dari Mpu Sendok yang berasal dari Jawa Timur. Pada masa pemerintahannya, ia memberikan izin kepada rakyatna unuk membuat sebuah tempat pemukaan di tempat pemakaman raja sebelumnya.

Dalam sebuah prasasti yang menggunakan Bahasa Bali Kuno di Manikliyu, Kintamani, disebutkan jika terdapat seorang ratu yang pernah memerintah Kerajaan Bali. Hal tersebut menandakan jika sang permaisuri dari Raja Sri Tabanendra yakni Sri Subhadri Dharmadewi pernah ikut memerintah Kerajaan Bali, yakni dari tahun 943 – 961 M.

  • Jayasingha Warmadewa

Terdapat pro dan kontra mengenai Jayasingha Warmadewa apakah ia keturunan dari Raja Tabanendra atau bukan. Hal ini dikarenakan pada tahun 960 M ketika ia berkuasa bersamaan dengaan kekuasaan kepemimpinan Raja Tabanendra. Kemungkinan, Jayasingha merupakan putra mahkota yang telah diangkat menjadi raja dikarenakan sang ayah, Tabanendra Warmadewa, lengser keprabon.

Pada masa pemerintahan Jayasingha Warmadewa, ia berhasil membuat sebuah telaga atau pemandian yang bersumber dari aliran yang suci di Desa Manukraya. Pemandian tersebut juga dikenal dengan nama Tirta Empul yang terletak di Tampaksiring, Gianyar, Bali. Masa pemerintahan Raja Jayasingha Warmadewa dimulai pada tahu 968 – 975 M.

  • Sri Janashadu Warmadewa

Setelah Raja Jayasingha meninggal dunia, tahta pemerintahan diserahkan kepada putranya yang bernama Sri Janashadu Warmadewa sekitar abad ke-10 M.  Pada masa pemerintahannya, ia dikenal sebagai raja yang bijak dan peduli dengan fasilitas keagamaan di wilayah kekuasaannya.

Banyak sekali perbaikan bangunan keagamaan yang dilakukan, diantaranya adalah pembangunan perbaikan dan merawat pura-pura dan tempat pertapaan. Pada masa tersebut, Kerajaan Bali juga mendapat banyak bantuan dari Kerajaan Jawa Timur. Raja Janashadu memimpin Kerajaan Bali dari tahun 975 – 983 M.

  • Sri Wijaya Mahadewi

Pemimpin selanjutnya yang memerintah Kerajaan Bali adalah seorang ratu bernama Ratu Sri Wijaya Mahadewi yang bergelar Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi. Menurut silsilah keluarga, Ratu Sri Wijaya Mahadewi ini merupakan seorang putri Empu Sindok dari Jawa Timur yang mana masih keturunan dengan Kerajaan Sriwijaya.

Bukti lain yang menunjukkan jika Ratu Sri Wijaya Mahadewi masih memiliki hubungan keturunan dengan orang Jawa adalah namanya. Di Bali tidak mengenal nama “Wijaya” yang tersemat pada nama sang ratu, melainkan banyak yang menggunakan marga Madihati, Makudur, atau Pangkaja di Bali.

Sistem pemerintahan yang dianut oleh Ratu Sri Wijaya Mahadewi memiliki kesamaan dengan sistem pemerintahan di wilayah Jawa. Nama-nama jabatan yang diberlakukan oleh ratu dalam sistem pemerintahannya juga memiliki kesamaan dengan pemerintahan di Jawa.

Prasasti yang berhasil ditemukan pada masa pemerintahan Ratu Sri Wijaya Mahadewi hanya ada satu buah, yakni Prasasti Gobleg. Dalam prasasti tersebut diberitakan jika ratu memberi izin kepada rakyatnya untuk melakukan perbaruan peninggalan prasastinya di bukittunggal Desa Taba Air.

Masa pemerintahan ratu berakhir pada tahun 989 M. Pemerintahan Kerajaan Bali selanjutnya pun dipimpin oleh Raja Dharma Udayan Warmadewa yang juga ditemani oleh istrinya, Gunapriya Dharmapatni.

  • Dharma Udayana Warmadewa

Pada masa pemerintahan Raja Dharma Udayana Warmadewa, Kerajaan Bali mengaalami puncak kejayaannya. Ia memimpin Kerajaan Bali bersama dengan permaisurinya yang bernama Mahendradatta yang mana merupakan seorang putri dari Raja Makuta Wangsa Wardhana dari Jawa Timur.

Sebelum Raja Udayana Naik tahta, banyak yang memperkirakan ia sempat berada di Jawa Timur dikarenakan namanya juga tercantum dalam Prasasti Jalatunda. Setelah memiliki gelar raja, Raja Udayana diberi gelar Dharmodayana Warmadewa dan istrinya bergelar Sang Ratu Luhur Sri Gunapriya Dharmapatni.

Pernikahan antara Udayana dengan Mahendradatta cukup membawa pengaruh kebudayaan Jawa di Bali. Pengaruh tersebut diantaranya bahasa Jawa Kuno mulai digunakan dalam penulisan prasasti di Bali dan mulai dilakukan pembentukan dewan penasihat kerajaan sebagaimana yang ada di pemerintahan kerajaan-kerajaan di Jawa.

Pernikahan antara Udayan dan Mahendradatta melahirkan tiga orang putra. Ketiga putra tersebut bernama Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu. Dari ketiga putra tersebut, Airlangga tidak pernah memimpin di Kerajaan Bali dikarenakan ia menjadi menantu Dharmawangsa di Jawa Timur.

Raja Udayana memimpin Kerajaan Bali bersama permaisurinya dari tahun 988 M hingga tahun 1001 M dikarenakan pada tahun tersebut permaisurinya wafat dan dimakamkan Burwan. Sepeninggal permaisurinya, Raja Udayan tetap memimpin kerajaan hingga tahun 1011 M hingga akhirnya wafat dan dimakamkan di Banuwka.

Peristiwa mengenai wafatnya Raja Udaya diperkuat dengan informasi di Parsasti Air Hwang (1011 M) yang menyebutkan nama Udayana. Selain itu, dalam Prasasti Ujung (Hyang), Raja Udaya setelah wafat dikenal dengan nama Batara Lumah di Banuwka.

  • Marakata

Setelah Raja Udayana meninggal dunia, upacara pemakaman yang besar pun dilaksanakan sebagai penghormatan untuk sang raja yang sudah berjasa besar pada Kerajaan Bali. Salah satu pemuka masyarakat yang hadir dalam upacara pemakaman tersebut adalah Mpu Beradah yang mana merupakan utusan dari Airlangga, anak pertamanya.

Pemerintahan Kerajaan Bali pun diserahkan kepada anak Raja Udayana yang kedua bernama Marakata. Raja Marakata memimpin Kerajaan Bali dari tahun 1011 – 1022 M. Ia memiliki gelar Dharmawangsawardhana Marakata Pangkajasthana Uttunggadewa. Masa pemerintahannya sezaman dengan masa pemerintahan Airlangga di Jawa Timur.

Selama menjalani masa pemerintahannya, Raja Marakata dijuluki sebagai sumber kebenaran hukum dikarenakan ia selalu melindungi dan memperhatikan rakyat yang dipimpinnya. Sikapnya yang dermawan membuatnya juga sangat disegani dan dihormati oleh rakyatnya. Selain itu, Raja Marakata juga membangun sebuah candi atau persada di Gunung Kawi, Tampaksiring, Bali.

Masa pemerintahannya yang sezaman dengan Airlangga menyebabkan ahli sejarah Stutterheim berpendapat jika Marakata adalah Airlangga. Kesimpulan ini didaptkan karena adanya persamaan daru unsur nama maupun masa pemerintahannya. Selain itu, jika dilihat dari cara kepemimpinan dan kepribadian memiliki banyak kesamaan.

Kemudian, dari tahun 1022 M hingga tahun 1049 tidak dipaparkan dalam bukti sejarah mengenai raja yang memerintah Kerajaan Bali.

  • Anak Wungsu

Anak Wungsu memimpin Kerajaan Bali selama 28 tahun, yakni sejak 1049 – 1077 M. Ia memiliki gelar Paduka Haji Anak Wungsu Nira Kalih Bhatari Lumah I Burwan Bhatara Lumah I Banu Wka. Selain itu, Raja Anak Wungsu kerap kali dianggap sebagai jelmaan dari Dewa Wisnu, ia juga dianggap oleh rakyatnya sebagai Dewa Kebaikan.

Pada masa pemerintahannya, ia dianggap sebagai Raja Bali Kuno yang paling banyak meninggalkan prasasti. Prasasti yang ditinggalkan oleh Raja Anak Wungsu berjumlah 28 buah prasasti yang tersebar di wilayah Bali Utara, Bali Tengah, dan Bali Selatan.

Prasasti-prasasti tersebut diantaranya prasasti yang tersimpan di Desa Trunyan Bangli, prasasti di Bebetin Buleleng, prasasti di Sembiran Buleleng, Prasasti Serai, Prasasti Pengotan, Prasasti Klungkung dan lainnya. Prasasti-prasasti yang ditinggalkan sebagian besar menggunakan Bahasa Bali Kuno.

Raja Anak Wungsu sendiri tidak memiliki keturunan, permaisurinya dikenal dengan nama Batari Mandul. Ia wafat pada tahun 1077 dan dimakamkan di wilayah Gunung Kawi, dekat Tampaksiring, Bali.

  • Sri Suradhipa

Setelah Raja Anak Wungsu meninggal dunia, Kerajaan Bali dipimpin oleh seorang ratu. Ratu tersebut bernama Sri Suradhipa yang memimpin kerajaan dari tahun 1078 – 1114 M. Sri Suradhipa merupakan salah satu keturunan dari Dinasti Warmadewa, ia adalah anak dari Sri Sakalendu. Hal tersebut tercatat dalam sebuah prasasti yang sekarang tersimpan di Gobleg Buleleng yang berangka tahun 1115 M.

  • Jaya Sakti

Setelah masa pemerintahan Ratu Sri Suradhipa di Kerajaan Bali berakhir, pemerintahan kerajaan secara berturut-turut dipimpin oleh Sri Jaya Sakti Sri Jaya Kasunu, dan Sri Jaya Pangus. Jika ditilik dari nama-nama yang memimpin, telah terjadi pergantian wangsa atau dinasti dari Dinasti Warmadewa beralih ke Dinasti Maharaja Jaya Sakti.

Raja Jaya Sakti memimpin Kerajaan Bali dari tahun 1133 – 1150 M yang sezaman dengan pemerintahan Raja Jayabaya di Kediri. Dalam masa pemerintahannya, ia dibantu oleh penasihat pusat kerajaan. Penasihat pusat ini terdiri dari para senapati dan pimpinan keagamaan, baik agama Hindu maupun agama Buddha.

Dalam menjalankan pemerintahannya, Raja Jaya Sakti menggunakan kitab Undang-Undang yang bernama Kitab Utara Widdhi Balawan dan Kitab Rajawacana sebagai pedomannya.

  • Jaya Kasunu

Kerajaan Bali berikutnya kemudian dipimpin oleh Sri Jaya Kasunu. Pada masa pemerintahannya, diperkenalkan adanya Hari Raya Galungan dan Kuningan.

  • Jaya Pangus

Setelah Raja Jaya Kasunu tidak memimpin kerajaan, Kerajaan Bali dipimpin oleh Sri Jaya Pangus dari tahun 1177 – 1181 M. Ia berhasil meninggalkan 43 prasasti yang banyak menyebut dalam prasasti tersebut dua permaisurinya, yakni Arkajalancana dan Sasangkajacihna. Setelah Raja jaya Pangus meninggal dunia, raja-raja yang meimpin Kerajaan Bali tidak begitu terkenal karena sumber sejarah yang tidak banyak diketahui.

  • Bedahulu

Pada tahun 1343 M, Kerajaan Bali dipimpin oleh Bedahulu yang memiliki gelar Sri Astasura Ratna Bhumi Banten. Raja Bedahulu memerintah kerajaan dibantu oleh kedua patihnya yang bernama Kebo Iwa dan Pasunggrigis.

Raja Bedahulu merupakan raja terakhir yang memimpin Kerajaan Bali. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Bali berhasil ditaklukkan oleh Kerajaan Majapahit dibawah pimpinan Patih Gajah Mada. Sejak saat itu, wilayah Kerajaan Bali menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Setelah Dinasti Jaya Sakti berhasil memimpin Kerajaan Bali, datanglah serangan dari Kerajaan Singasari dan berhasil menaklukkan kerajaan tersebut pada tahun 1284 M. Kemudian, datanglah Kerajaan Majapahit yang menaklukkan Bali pada tahun 1343 M. Raja-Raja selanjutnya yang memimpin Kerajaan Bali diantaranya Sri Aji Kresna Kepakisan, Dalem Samprangan, Dalem Ketut, Dalem Waturenggong, Dalem Bekung, Dalem Sagening, Dalem Di Made, Dewa Pacekan, DewaCawu, dan Anglurah Agung Maruti.

Aspek Kehidupan Kerajaan Bali

kerajaan Bali
Photo by histori.id

Suasana dan kondisi kehidupan kerajaan pada zaman dahulu dapat kita lihat dari bekas-bekas peninggalannya yang berhasil diteliti. Peninggalan-peninggalan tersebut dapat berupa kitab, candi, ataupun prasasti. Berikut suasana dan kondisi kehidupan Kerajaan Bali dalam beberapa aspek kehidupan:

  • Kehidupan Politik

Kerajaan Bali mencapai puncak kejayaannya ketika Raja Udayana berkuasa. Ia berkuasa dari awal tahun 989 – 1011 M. Raja Udayana memiliki tiga orang putra yang bernama Airlangga, Marakatapangkaja, dan Anak Wungsu. Dari ketiga anak tersebut, hanya Airlangga yang tidak pernah memimpin Kerajaan Bali karena ia menjadi menantu dari anak seorang raja di Jawa Timur. Airlangga pun menjadi raja besar di Kerajaan Medang Kamulan, Jawa Timur.

Menurut salah satu prasasti, Raja Udayana memiliki hubungan yang baik dengan Dinasti Isyana di Jawa Timur. Hubungan baik ini terjalin dikarenakan permaisuri Udaya yang bernama Gunapriya Dharmapatni masih memiliki silsilah keturunan dari Mpu Sindok. Setelah masa hidup Udayan berakhir, kendali pemerintahan Kerajaan Bali diteruskan oleh anaknya yang bernama Marakata.

Selama Raja Marakata berkuasa, ia berhasil membangun sebuah tempat untuk ibadah masyarakat Kerajaan Bali di Gunung Kawi. Setelah Raja Marakata wafat, tahta kerajaan diambil alih oleh adiknya yang bernama Anak Wungsu. Anak Wungsu merupakan salah satu raja besar yang berasal dari Dinasti Warmadewa.

Selama dibawah pemerintahan Raja Anak Wungsu, ia berhasil menjaga kestabilan Kerajaan Bali. Ia berhasil menghadang berbagai gangguan yang berusaha merusak kestabilan kerajaan, baik itu gangguan dari luar maupun dari dalam.

Selama memimpin kerajaan, Raja Anak Wungsu dibantu oleh penasihat pusat yang dikenal dengan nama pakirankiran i jro makabehan. Badan penasihat pusat ini terdiri dari para senapati dan pemuka Agama Hindu dan Agama Buddha. Badan penasihat ini bertugas untuk memberi tafsiran dan nasihat kepada raja dalam berbagai aspek permasalahan kehidupan dalam kehidupan masyarakat.

Para senapati bertugas dalam urusan bidang kehakiman dan pemerintahan, sedangkaan para pemuka agama bertugas untuk menangani permasalahan sosial dan agama.

  • Kehidupan Ekonomi

pertanian sawah
Photo by Sasin Tipchai

Masyarakat Kerajaan Bali mayoritas mengandalkan usaha bertahan hidup dalam sektor pertanian. Hal ini disebutkan dalam berbagai prasasti Kerajan Bali yang memuat beragam informasi yang berhubungan dengan kehidupan bercocok tanam. Istilah-istilah yang seringkali memuat informasi bercocok tanam adalah sawah, parlak (sawah kering), kebwan (kebun), gaga (ladang), dan kasuwakan (irigasi).

Selain mengandalkan sektor bertanian untuk bertahan hidup, masyarakat Kerajaan Bali juga seorang Pande (Perajin). Masyarakat Pande memiliki bakat dalam membuat beragam perhiasan yang terbuat dari emas dan perak. Kerajinan yang dibuat oleh seorang Pande biasanya alat-alat yang berhubungan dengan peralatan rumah tangga, alat-alat pertanian, dan senjata.

Masyarakat Kerajaan Bali juga mengandalkan usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan menjadi Undagi. Para Undagi memiliki bakat dan kepandaian dalam hal pahat-memahat, lukis, dan seni bangunan.

Selain mengandalkan sektor pertanian, pande, dan undagi, Masyarakat Kerajaan Bali juga mengandalkan sektor perdagangan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pada masa kehidupan Bali Kuno, pedagang dibagi menjadi pedagang laki-laki dan pedagang perempuan. Pedagang laki-laki dinamakan wanigrama dan pedagang perempuan disebut wanigrami.

Pada masa ini, masyarakat Bali berhasil melakukan kegiatan jual-beli hinggaa antar pulau disekitarnya. Hal ini dijelaskan dalam sebuah prasasti peninggalan Kerajaan Bali yang bernama Prasasti Banwa Bharu.

  • Kehidupan Sosial

Terdapat beberapa sistem sosial yang berkembang dalam masyarakat Bali Kuno. Sistem sosial pertama adalah sistem kesenian. Sistem kesenian di Bali Kuno dipengaruhi oleh dua aspek kesenian, yakni kesenian rakyat dan kesenian keraton.

Sitem sosial selanjutnya adalah sistem kasta. Agama Hindu yang didalmnya menganut sistem kasta dalam membedakan keturunan mereka pun berpengaruh terhadap sistem sosial masyarakat. Pembagian kasta ini terdiri dari brahmana, ksatria, waisya. Untuk masyarakat yang lahir dari luar kasta tersebut disebut jaba. Tiap-tiap kasta memiliki tugas dan kewajiban yang berbeda dalam urusan keagamaan.

Kehidupan sosial lainnya adalah sistem dalam hak waris. Dalam budaya Bali, pewaris dibedakan atas anak laki-laki dan anak perempuan dimana hak waris danak laki-laki lebih besar dibandingkan hak waris anak perempuan.

Meskipun masyarakat Bali dikenal terbuka dengan budaya dari luar, mereka masih menjaga dan mempertahankan adat-istiadat dan tradisi hingga sekarang. Masyarakat di Pulau Bali pun dikenal menganut banyak agama, yakni Agama Hindu, Buddha, Islam hingga Animisme dengan Agama Hindu sebagai penganut terbanyak.

  • Kehidupan Budaya

gamelan kerajaan bali
Photo by Christopher Jayanata

Kehidupan kebudayaan di Bali sangat dipengaruhi oleh kebudayaan dari India, terutama budaya Agama Hindu dan Buddha. Kebudayaan dari beberapa kepercayaan lain sebelum kedatangan dua agama tersebut juga turut berpengaruh di Bali. Kebudayaan Jawa yang berkembang pada masa Kerajaan Bali dibawah pemerintahan Raja Udayana juga ikut memengaruhi perkembangan kebudayaan di Bali.

Agama Hindu yang saat ini berkembang di Bali juga sudah bercampur dengan unsur budaya asli sehingga dikenal sebagai Hindu Dharma. Salah satu contoh dari pencampuran ini adalah dewa tertinggi dalam Agama Hindu-Buddha bukanlah Dewa Siwa, melainkan Sang Hyang Widhi yang memiliki kedudukan yang sama dengan Sang Hyang Wenang di Jawa.

Di Bali, dewa tidak dipatungkan. Adanya patung dewa di Pulau Bali diyakini merupakan pengaruh dari kebudayaan Jawa. Patung hanya hanya berfungsi sebagai hiasan. Di dalam kuil, dibuatkan satu tempat khusus sebagai tempat turunnya dewa atau roh nenek moyang setelah mengalami proses ngaben.

Ngaben merupakan budaya pembakaran mayat atau tulang surge. Ngaben adalah kebudayaan India yang diadaptasi di Bali. Roh yang sudah menjalani proses upacara ngaben telah dianggap suci sehingga disediakan tempat khusus. Akan tetapi, Ida Sang Hyang Widhi sebagai dewa tertinggi dalam Agama Hindu di Bali tidak disediakan tempat khusus, melainkan dibangun sebuah bangunan suci pada setiap kuil yang berbentuk Padmasana atau Meru beratap dua untuk Ida Sang Hyang Widhi.

Hingga kini, masyarakat Bali masih menjaga tradisinya dengan menggunakan pakaian adat khas Bali, melaksanakan upacara adat, dan juga kesenian Bali yang masih kental dengan budaya asli Bali. Kerajaan Bali Kuno juga berpengaruh cukup besar terhadap budaya dan adat-istiadat yang ada di Bali.

Meskipun sudah memasuki era globalisasi, pemandangan di Pulau Bali masih tidak jauh dengan bangunan yang identik dengan corak kuno dan masyarakatnya yang masih kental menganut sistem adat.

Masa Kejayaan Kerajaan Bali

Kerajaan Bali
Photo by Michelle Maria

Kerajaan Bali mengalami puncak kejayaannya ketika masa pemerintahan Dharma Udayana Warmadewa. Puncak kejayaan Kerajaan Bali ini didapatkan karena sistem pemerintahan yang dijalankan Raja Udayana lebih jelas dan tertata daripada sebelumnya.

Kekuatan Kerajaan Bali pada masa ini diperkuat dengan adanya pernikahan antara Dharma Udayana dengan Mahendradatta yang mana merupakan seorang putri dari Raja Makutawangsawardhana dari Jawa Timur. Hal ini memperkokoh kekuatan dan kedudukan Kerajaan Bali antara Pulau Jawa dengan Pulau Bali.

Raja Udayana terkenal sebagai pemimpin yang bijak dan baik dalam usahanya menyejahterakan kehidupan rakyatnya. Masyarakat Bali menganggapnya sebagai pembenaran atas kebenaran hukum. Raja Udayana juga membangun sebuah tempat pertapaan di Gunung Kawi yang lokasinya cukup dekat dengan Istana Tampaksiring.

Penyebab Keruntuhan Kerajaan Bali

Kerajaan Bali mengalami keruntuhannya ketika Raja Bedahulu berkuasa. Pada masa pemerintahannya, ia cukup dikenal sebagai raja yang kuat diantara raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Bali. Dalam menjalankan pemerintahan, Raja Bedahulu didampingi oleh patihnya yang sangat sakti bernama Ki Kebo Iwa.

Akan tetapi, Kerajaan Bali berhasil ditaklukkan oleh Kerajaan Majapahit pada tahun 1343 M dibawah pimpinan patih yang legendaris dari kerajaan tersebut, Patih Gajah Mada. Pada awalnya, Patih Gajah Mada kesulitan untuk menaklukkan Kerajaan Bali karena keberadaan patih kerajaan tersebut, Ki Kebo Iwa. Akhirnya, Patih Gajah Mada membuat siasat untuk menjebak Patih Kebo Iwa.

Patih Gajah Mada mengajak Raja Bali untuk berunding mengenai penyerahan Kerajaan Bali ke Kerajaan Majapahit. Ki Kebo Iwa pun dikirim ke Kerajaan Majapahit sebagai perwakillan dari Kerajaan Bali untuk meperundingan perjanjian damai. Akan tetapi, setelah sampai di Kerajaan Majapahit, Ki Kebo Iwa dibunuh tanpa sepengetahuan Kerajaan Bali.

Setelah pembunuhan Ki Kebo Iwa, Patih Gajah Mada pun menaklukkan Kerajaan Bali. Setelah ditaklukkan oleh Kerajaan Majapahit, Kerajaan Bali kuno berganti nama menjadi Kerajaan Bali Baru.

Peninggalan Kerajaan Bali

Sebagai salah satu kerajaan yang pernah menguasai wilayah Pulau Dewata. Kerajaan Bali tentu memiliki peninggalan sebagai bukti keeksisan kerajaan ini diantaranya adalah prasasti. Selain prasasti, peninggalan lain dari Kerajaan Bali adalah pemandian, candi, dan pura.

Berikut beberapa peninggalan Kerajaan Bali yang berhasil ditemukan:

  1. Prasasti Blanjong

prasasti Blanjong
Photo by balitoursclub.net

Prasasti Blanjong adalah peninggalan sejarah pertama yang dibuat pada masa pemerintahan raja pertama dari Kerajaan Bali, Sri Kesari Warmadewa. Prasasti Blanjong adalah prasasti tertua dari kerajaan tersebut yang memuat didalamnya dua buah tulisan dan dua bahasa, yakni ditulis dengan huruf Pranagari dengan bahasa Bali Kuno dan huruf Kawi dengan bahasa Sansekerta.

Prasasti yang memiliki angka tahun 913 M atau 835 Saka ini ditemukan di Banjar Blanjong, Desa Sanur Kuah, Denpasar Selatan, Bali. Bentuk dari prasasti ini berupa pilar batu yang memiliki tinggi 177 cm dan berdiameter 62 cm. Dalam Prasasti Blanjong menyebutkan kata Walidwipa yang menunjukkan penyebutan lain untuk Pulau Bali, dikeluarkan oleh Raja Kerajaan Bali Sri Kesari Warmadewa sebagai tanda kemenangan mengalahkan musuh-musuhnya.

  1. Prasasti Panglapuan

Prasasti Panglapuan berisi tentang badan penasihat pusat yang dibentuk oleh Raja Udayana ketika Ia berkuasa untuk membantu proses pemerintahannya. Para anggota penasihat pusat ini terdiri dari pendeta Hindu dan pendeta Buddha.

  1. Prasasti Sanur

Isi dari Prasasti sanur menunjukkan jika raja-raja yang berkuasa di Kerajaan Bali berasal dari wangsa atau Dinasti Warmadewa.

  1. Prasasti Gunung Panulisan

Prasasti Gunung Panulisan ditemukan di dalam Pura Puncak Panulisan. Oleh karena itu, nama dari prasasti ini hampir sama dengan Pura Puncak Panulisan.

  1. Candi Gunung Kawi

candi gunung kawi
Photo by baliexpress.jawapos.com

Candi Gunung Kawi atau Candi Tebing Kawi terletak di Sungai Pakesiran, Dusun Penaka, Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali. Candi ini merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Bali yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Marakata. Pembangunan candi ini juga dilanjutkan pada masa pemerintahan adiknya, Raja Anak Wungsu.

Bentuk candi ini cukup unik dikarenakan candi biasanya terbuat dari bata merah atau batu gunung, tetapi candi ini terbuat dari pahatan di dinding tebing batu padas yang utuh di tepi sungai.  Nama Candi Gunung Kawi sendiri diambil dari kata Gunung yang bermakna gunung atau pegunungan dan Kawi yang bermakna pahatan. Jadi, candi Gunung Kawi bermakna candi yang dipahat di gunung.

Letak Candi Gunung Kawi yang berdekatan dengan pertapaan Agama Buddha menjadikan candi ini sebagai simbol toleransi dalam beragama.

  1. Candi Mangenin

candi mangenin
Photo by artisanalbistro.com

Candi Yeh Mangenin terletak di Banjar, Sarasada, Desa Tampaksiring. Candi ini dibangun di lembah Sungai Pakesiran, tepatnya dibangun dibagian lereng timur tebing yang dikenal memiliki tebing yang terjal dan curam.

  1. Pura Agung Besakih

pura besakih
Photo by MariaHZ

Pura Besakih merupakan salah satu pura yang ada di Bali. Pura ini dikenal juga dengan nama pura ibu (Mother Temple) dikarenakan disinilah pusat kegiatan beragam upacara Agama Hindu diadakan. Pura ini terletak di lereng Gunung Agung, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem.

  1. Pura Tirta Empul

pura tirta empul
Photo by bobobox.co.id

Wilayah Tampaksiring merupakan wilayah yang cukup dikenal sebagai wilayah yang memilki peninggalan sejarah dari Kerajaan Bali, diantaranya adalah Pura Tirta Empul. Pura ini dibangun ketika Raja Jayasingha Warmadewa berkuasa, yakni tahun 967 M.

Pura Tirta Empul adalah tempat suci yang dijadikan Raja Jayasingha sebagai tempat untuk menjalani hidup dengan cara yang sederhana. Hidup bebas dari ikatan dan materi duniawi, melakukan pertobatan, brata, yoga, semedi, dan meditasi.

Secara etimologi, Tirta Empul diartikan sebagai air yang menyembur keluar dari tanah. Air dari Tirta Empul ini terus mengalir ke Sungai Pakesiran. Air suci dari pura ini berfungsi sebagai penawar racun yang disebarkan oleh Mayadenawa sebagaimana disebutkan dalam Purana Bali Dwipa. Pura Tirta Empul juga digunakan untuk upacara melukat sebagaimana yang dijelaskan dalam tata cara melukat/meruwat.

  1. Pura Penegil Dharma

Pura Penegil Dharma terletak di Desaa Kubutambahan dan di Desa Bulian, Buleleng Utara. Pura ini didirikan ketika Dinasti Warmadewa berkuasa di Kerajaan Bali.

Sejarah munculnya Pura Penegil Dharma dimulai pada tahun 915 M. Keberadaan pura ini berkaitan erat dengan sejarah panjang Ratu Ugrasena, salah satu anggota keluarga Kerajaan Mataram, dan kedatangan Maha Rsi Markendaya ke Pulau Dewata.

  1. Candi Wasan

Candi Wasan terletak di daerah Wasan, Batuan, Sukawati, Gianyar, Bali. Candi ini memiliki ukuran panjang 11,10 m dan lebar jika dihitung dari lapik candi selebar 9,40 m. Ketinggian candi ini diperkirakan 14,1 m jika dilihat dari ukuran panjang dan lebarnya. Ketika diadakan ekskavasi pada situs ini oleh Balai Arkeologi Denpasar, candi ini hanya tampak utuh dibagian kaki candi saja, sedangkan bagian atas candi tersusun acak.

Demikianlah sedikit ulasan mengenai sejarah kerajaan kuno dari Pulau Dewata. Semoga materi kali ini dapat menambah wawasan yang lebih mendalam tentang sejarah-sejarah yang ada di Indonesia. Aamiin.

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!