Lambang Kerajaan Aceh

Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Islam Aceh

Kerajaan Aceh – Nanggroe Aceh Darussalam atau NAD merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang diistimewakan. Seperti yang telah kita ketahui, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dikenal khalayak umum dengan sebutan Serambi Mekkah. Sebutan Serambi Mekkah kepada Provinsi NAD tidak lain dikarenakan wilayah ini lekat dengan syariat Islam.

Provinsi Aceh dikenal sebagai salah satu jalannya masuk dan penyebaran agama Islam di Nusantara. Masuknya Islam ke Aceh pun berpengaruh dengan keadaan dan situasi lingkungan setempat. Salah satu dampak masuknya Islam ke Provinsi Aceh adalah berdirinya beberapa kerajaan Islam di Indonesia, diantaranya adalah Kerajaan Aceh Darussalam.

Kerajaan Aceh Darussalam juga dikenal dengan sebutan Kerajaan Aceh atau Kesultanan Aceh. Kerajaan Aceh berdiri pada detik menjelang runtuhnya Kerajaan Samudera Pasai. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya ketika berada dibawah pemerintah Sultan Iskandar Muda.

Berikut akan kita bahas bersama mengenai sejarah Kerajaan Aceh secara lengkap.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Aceh

kerajaan aceh
Photo by dictio.id

Kesultanan Aceh berdiri sekitar abad ke-16, dimana ketika itu jalur perdagangan lada yang semula melewati Laut Merah, Kairo, dan Laut Tengah berganti melewati Tanjung Harapan dan Sumatera. Hal ini pun membawa dampak yang besar bagi perdagangan di Samudera Hindia, khususnya bagi Kerajaan Aceh.

Pada saat itu, Sultan Ali Mughayat Syah atau Sultan Ibrahim diangkat sebagai Sultan dari kerajaan ini. Penobatan sultan ini dilaksanakan pada hari Ahad tanggal 1 Jumadil Awal tahun ke-913 H atau bertepatan dengan tanggal 8 September 1507. Ibu kota dari Kerajaan Aceh berada di Kota Bandar Aceh Darussalam.

Kesultanan Aceh berhasil didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1496 M. Pada awalnya, Kesultanan Aceh berdiri diatas wilayah kerajaan Lamuri, kemudian Kesultanan Aceh berhasil menundukkan dan menyatukan beberapa wilayah di sekitar kerajaannya.

Pada tahun 1524 M, wilayah Kesultanan Samudera Pasai sudah menjadi bagian dari Kerajaan Aceh yang juga diikuti dengan wilayah Aru. Pada tahun 1528, Sultan Ali Mughayat Syah digantikan oleh anaknya yang bernama Salahuddin. Sultan Salahuddin memerintah Kesultanan Aceh hingga tahun 1537 M.

Kemudian, Sultan Salahuddin digantikan oleh saudaranya yang bernama Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar melalui sebuah kudeta. Sultan Alauddun Riayat Syah pun memimpin Kesultanan Aceh hingga tahun 1571 M.

Kehidupan Kerajaan Aceh

Kerajaan Islam Aceh
Photo by suwarnews.blogspot.com

Berikut beberapa kondisi kehidupan Aceh dalam berbagai sektor:

  • Kehidupan Sosial

Struktur sosial masyarakat Aceh terdiri dari empat golongan, yakni golongan teuku (kaum bangsawan), golongan teungku (kaum ulama), hulubalang atau ulebalang (para prajurit), dan golongan rakyat biasa. Antara golongan teuku dan golongan teungku sering kali terjadi persaingan yang menyebabkan melemahkan kekuasaan Kesultanan Aceh.

Sejak Kerajaan Perlak berkuasa, terjadi permusuhan antara aliran Syiah dan aliran Ahlus Sunnah wal Jamaah. Namun, pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, aliran Syiah mendapatkan perlindungan dan berkembang di wilayah kekuasaan Kerajaan Aceh.

Aliran Syiah diajarkan oleh Hamzah Fansuri dan dilanjutkan oleh muridnya yang bernama Saymsuddin pasai. Setelah Sultan Iskandar Muda meninggal dunia, aliran Ahlus Sunnah wal Jamaah berkembang pesat di wilayah Aceh.

  • Kehidupan Politik

Kehidupan politik Kerajaan Aceh sudah terbilang maju. Metode perluasan wilayah tidak hanya dilakukan dengan cara berperang, tetapi juga sudah menggunakan cara-cara yang sesuai aturan.

Pemerintahan juga sudah berjalan dengan lancar. Kesultanan Aceh sudah memiliki pemimpin-pemimpin yang kompeten dalam bidangnya. Ketika Sultan Iskandar Muda berkuasa, ia membuat tata undang-undang untuk menjalankan peraturan di Kerajaan Aceh.

  • Kehidupan Ekonomi

Letak Kesultanan Aceh yang strategis menjadikan kehidupan ekonomi rakyatnya terbilang makmur. Mereka melakukan perdagangan dengan alat tukar koin emas dengan pedagang lainnya dari manca negara. Aceh pun berkembang menjadi Bandar utama di Asia bagi para pedagang dari manca negara.

Pertanian utama rakyat Aceh adalah lada. Lada menjadi sumber daya alam yang sangat melimpah sehingga menjadi komoditas utama untuk diperdagangkan. Selain itu, tambang timah juga menjadi barang yang tinggi nilainya.

  • Kehidupan Budaya

Kehidupan budaya masyarakat Aceh tidak begitu banyak diketahui karena Kerajaan Aceh tidak banyak meninggalkan hasil budaya. Perkembangan kebudayaan yang terlihat nyata adalah bangunan Masjid Baiturrahman.

Kebudayaan masyarakat Aceh juga berkaitan dengan hubungan dan interaksi antar masyarakat. Rakyat Aceh juga sudah mengenal sastra, hal ini dapat dibuktikan dengan terciptanya buku Bustanussalatain dan Tibyan fi Ma’rifatil Adyan karya Nuruddin Ar-Raniry. Kepenulisan yang berkembang pada saat itu sarat sekali dengan pengaruh agama Islam.

Karya sastra lainnya peninggalan Kerajaan Aceh adalah Hikayat Prang Sabi, Hikayat Malem Diwa, Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, dan Sejarah Melayu.

  • Kehidupan Agama

Masyarakat Aceh menganut agama Islam sebagai agama mayoritas. Selain itu, Kerajaan Aceh juga kerajaan yang bercorak agama Islam. Masuknya agama Islam di Indonesia juga melalui ujung pulau Sumatera, yakni wilayah Aceh. Oleh sebab itu, wilayah Aceh mendapatkan julukan sebagai Serambi Mekkah.

Dalam pembinaan kesusasteraan dan ilmu agama, Aceh telah melahirkan beberapa ulama ternama. Karangan ulama ini menjadi rujukan utama dalam bidang masing-masing. Ulama-ulama terkenal pada masa Kerajaan Aceh diantaranya adalah Hamzah Fansuri, Saymsuddin al-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniry, dan Syekh Abdul Rauf Singkili.

Sistem Pemerintahan Kerajaan Aceh

Lambang Kerajaan Aceh
Photo by id.wikipedia.org

Orang yang memimpin Kerajaan Aceh disebut dengan sebutan Sultan (Raja) dan Sultanah (Ratu). Kekuasaan tertinggi Kerajaan Aceh berada di tangan Sultan. Sistem pemerintahan ini diteruskan oleh keturunan yang masuk dalam silsilah dari raja-raja Aceh yang berkuasa.

Akan tetapi, pada masa pemerintahan Sri Alam (1579), sistem kekuasaan tertinggi tidak lagi berada di tangan sultan. Kekuasaan tertinggi terletak di tangan para hulubalang (orang-orang kaya). Namun, sistem ini tidak lagi berlaku ketika Sultan Iskandar Muda berkuasa. Sistem pemerintahan kembali ke aturan semula.

  • Gampong

Ketika Sultan Iskandar Muda berkuasa, bentuk territorial pemerintah terkecil dalam susunan pemerintah di Aceh dalah Gampong atau dalam istilah melayu disebut Kampung. Pemimpin gampong disebut sebagai Geucik atau Keuchik yang dibantu oleh seorang yang mahir dalam masalah keagamaan yang disebut dengan Teungku Meunasah.

Selain itu, dalam sebuah gampong juga terdapat golongan yang disebut Ureung Tuha (orang tua). Golongan Ureung Tuha merupakan golongan orang-orang tua kampung yang disegani dan berpengalaman mengenai kampungnya. Menurut tradisi, jumlah mereka ada empat orang yang dinamakan Tuha Peut dan juga ada yang delapam orang dinamakan Tuha Lapan.

  • Mukim

Bentuk territorial yang lebih besar lagi yakni Mukim. Mukim merupakan gabungan dari beberapa buah gampong yang letaknya berdekatan dan penduduknya melakukan sembahyang bersama setiap hari Jumat di sebuah masjid.

Pemimpin mukim disebut sebagai Imum Mukim. Imum Mukim bertindak sebagai pemimpin sembahyang setiap hari Jumat di sebuah masjid. Dalam perkembangannya, fungsi Imum Mukim menjadi kepala pemerintahan dari sebuah Mukim. Dengan perubahan fungsi tersebut, nama panggilan Imum Mukim berubah menjadi Kepala Mukim.

Pengganti seorang imam sembahyang setiap hari Jumat di sebuah masjid diserahkan kepada orang lain yang disebut sebagai Imum Mesjid.

  • Sagoe

Di wilayah Aceh Rayeuk (Kabupaten Aceh Besar sekarang), terdapat suatu bentuk pemerintahan yang disebut dengan nama Sagoe atau Sagi. Keseluruhan wilayah Aceh Rayeuk tergabung dalam tiga buah sagi yang dapat disebut sebagai tiga buah federasi. Penamaan Sagi berkaitan dengan jumlah mukim dari masing-masing sagi.

Setiap Sagoe, diperintah oleh seorang pemimpin yang disebut sebagai Panglima Sagoe atau Panglima Sagi. Para panglima sagi ini juga dibseri gelar Uleebalang. Pengangkatan panglima sagi disahkan oleh Sultan Aceh dengan pemberian suatu sarakata yang dibubuhi stempel cap Kerajaan Aceh yang dikenal dengan sebutan Cap Aikureung (cap sembilan).

Diluar ketiga sagi tersebut, di Aceh rayeuk masih terdapat unit-unit pemerintahan yang berdiri sendiri yang disebut dengan mukim. Mukim-mukim ini diikuti nama dibelakangnya (nama tempat). Kepala Mukim ini memiliki status derajat yang sama dengan Uleebalang seperti panglima sagi. Namun, luas wilayah teritorialnya relatif lebih kecil dibandingkan dengan sagi.

Kepala pemerintahan mukim ini berada langsung dibawah pengawasan Sultan Aceh. Jadi, mereka tidak berada dibawah pengawasan panglima sagi dari ketiga federasi tersebut. Diluar mukim-mukim yang berdiri sendiri, di Aceh Rayeuk masih terdapat sejumlah mukim yang tunduk dibawah Kepala Sagi.

  • Nangroe

Bentuk pemerintahan lainnya adalah Nangroe atau Negeri. Nangroe asalnya merupakan wilayah taklukkan Kerajaan Aceh yang lokasinya berada diluar Aceh Inti atau Aceh Rayeuk. Jumlahnya diperkirakan melebihi seratus dan menyebar di seluruh wilayah Aceh. Pemimpin Nangroe disebut sebagai Uleebalang yang ditetapkan oleh adat secara turun-temurun.

Para uleebalang ini menerima kekuasaan langsung dari Sultan Aceh, tetapi pengangkatannya sebagai uleebalang di daerahnya harus disahkan oleh Sultan Aceh. Surat pengangkatan ini dinamakan Sarakata dan dibubuhi stempel Kerajaan Aceh, Cap Sikureung.

  • Sultan

Tingkat tertinggi dalam struktur pemerintahan Kerajaan Aceh berada di tangan pemerintahan pusat yang berkedudukan di ibukota Kerajaan, Bandar Aceh Darussalam. Kepala pemerintahan Kerajaan Aceh disebut sebagai Sultan yang para kelompoknya memiliki gelar Tuanku. Dalam mengendalikan pemerintahan, Sultan dibantu oleh beberapa pembantu yang membawahi masing-masing bidang.

Berdasarkan sebuah manuskrip, terdapat 24 lembaga atau jabatan dalam pemerintahan pusat Kerajaan Aceh. Susunan pemerintahan ini diumpamakan sebagai kementrian pada masa sekarang. 24 jabatan ini dipegang oleh orang-orang tertentu yang diangkat oleh Sultan Aceh.

Berikut Nama dari 24 Lembaga Kerajaan
  1. Keurukon Katibul Muluk atau Sekretaris Raja
  2. Rais Wazirat Addaulah atau Perdana Menteri
  3. Wazirat Addaulah atau Menteri Negara
  4. Wazirat al Akdham atau Menteri Agung
  5. Wazirat al HArbiyah atau Menteri Peperangan
  6. Wazirat al Haqqamiyah atau Menteri Kehakiman
  7. Wazirat ad Daraham atau Menteri Keuangan
  8. Wazirat ad Mizan atau Menteri Keadilan
  9. Wazirat al Maarif atau Menteri Pendidikan
  10. Wazirat al Khariziyah atau Menteri Luar Negeri
  11. Wazirat ad Dakhilyyah atau Menteri Dalam Negeri
  12. Wazirat al Auqaf atau Menteri Urusan Wakaf
  13. Wazirat az Ziraaf atau Menteri Pertanian
  14. Wazirat al Maliyyah atau Menteri urusan HArta
  15. Wazirat al Muwashalat atau Menteri Perhubungan
  16. Wazirat al asighal atau Menteri Urusan Kerja
  17. As Syaikh al Islam Mufti Empat Syeik Kaabah
  18. Qadli al Malik al Adil atau Qadi Raja Yang Adil
  19. Wazir Tahakkum Muharrijlailan atau Ketua Pengurus Kesenian
  20. Qadli Muadlam atau Qadhi/Jaksa Agung
  21. Imam Bandar Darul Makmur Darussalam
  22. Keuchik Muluk atau Keuchik Raja
  23. Imam Muluk atau Imam Raja
  24. Panglima Kenduri Muluk atau Ketua Urusan Kenduri Raja.

Wilayah Kekuasaan Kerajaan Aceh

peta wilayah kekuasaan Kerajaan Aceh
Photo by sejarahlengkap.com

Wilayah yang berhasil dikuasai oleh Kerajaan Aceh Darussalam baik dari awal terbentuknya hingga masa keruntuhannya meliputi hampir seluruh wilayah Aceh. Selain hampir wilayah Aceh, Kerajaan Aceh berhasil menguasai wilayah Tamiang, Pedir, Meureudu, Samalanga, Peusangan, Lhokseumawe, Kuala Pase, dan Jambu Aye.

Selain itu, Kerajaan Aceh juga berhasil menaklukkan seluruh negeri di sekitar Selat Malaka, termasuk didalamnya Johor dan Malaka. Wilayah di sebelah timur Malaya seperti Haru, Batu Bara, Natal, Paseman, Asahan, Tiku, Pariaman, Salida, Indrapura, Siak, Indragiri, Riau, Lingga, hingga Palembang dan Jambi juga berhasil dikuasai oleh Kerajaan Aceh.

Kerajaan Aceh Darussalam juga berhasil menaklukkan wilayah Pahang, Kedah, dan Patani.

Silsilah Sultan Kerajaan Aceh

Sultan Iskandar Muda
Photo by tirto.id
NoTahun Nama
11514 – 1528 MSultan Ali Mughayat Syah
21528 -1537 MSultan Salahuddin
31537-1568 MSultan Alaudin Riayat Syah Al-Kahar
41575 – 1576 MSultan Sri Alam
51576 – 1577 MSultan Zain al-Abidin
61577 – 1589 MSultan Ala’ al-Din Mansyur Syah
71589 – 1596 MSultan Buyong
81596 – 1604 MSultan Ala’ al-Din Riayat Syah Sayyid al-Mukammil
91604 – 1606 MSultan Ali Riayat Syah
101606 – 1636 MSultan Iskandar Muda
111636 – 1641 MSultan Iskandar Tsani
121641-1675Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam
131675-1678Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam
141678-1688Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Syah
151688-1699Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din
161699-1702Sultan Badr al-Alam Syarif Hashim Jamal al-Din
171702-1703Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui
181703-1726Sultan Jamal al-Alam Badr al-Munir
191726Sultan Jauhar al-Alam Amin al-Din
201726-1727Sultan Syams al-Alam
211727-1735Sultan Ala‘ al-Din Ahmad Syah
221735-1760Sultan Ala‘ al-Din Johan Syah
231760-1781Sultan Mahmud Syah
241781-1785Sultan Badr al-Din
251785-…Sultan Sulaiman Syah
26Sultan Alauddin Muhammad Daud Syah
271795-1815Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam
281815-1818Sultan Syarif Saif al-Alam
291818-1824Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam
301824-1838Sultan Muhammad Syah
311838-1857Sultan Sulaiman Syah
321857-1870Sultan Mansur Syah
331870-1874Sultan Mahmud Syah
341874-1903Sultan Muhammad Daud Syah

Berikut beberapa sultan atau raja yang pernah memimpin Kerajaan Aceh Darussalam:

  • Sultan Ali Mughayat Syah (1514 – 1528 M)

Sultan Ali Mughayat Syah atau Sultan Ibrahim merupakan sultan pertama dari Kerajaan Aceh. Ia berkuasa dari tahun 1514-1528 M. Dibawah pemerintahannya, Kerajaan Aceh berhasil memiliki kekuasaan wilayah yang meliputi Banda Aceh – Aceh Besar.

Kerajaan Aceh juga melakukan perluasan wilayah hingga ke beberapa wilayah di kawasan Sumatera Utara, yakni daerah Daya dan Pasai. Sultan Ali juga menyerang kedudukan Portugis di Malaka dan menaklukkan Kerajaan Aru.

Sultan Ali Mughayat Syah meninggal dunia akibat diracuni oleh salah seorang istrinya. Perlakuan sang istri ini membalas perlakuan Sultan Ali Mughayat Syah terhadap saudara laki-lakinya, Raja Daya.

  • Sultan Salahuddin (1528 -1537 M)

Sultan Salahuddin merupakan anak dari Sultan Ali Mughayat Syah. Setelah Sultan Ali Mughayat Syah meninggal dunia, tampuk kekuasaan Kerajaan Aceh diberikan kepada putranya tersebut. Sultan Salahuddin menjabat sebagai sultan dari tahun 1528 – 1537 M.

Akan tetapi, selama berkuasa sebagai sultan, Sultan Salahuddin kurang memperhatikan kerajaannya. Akibatnya, Kerajaan Aceh kurang berkembang dengan baik selama pemerintahan Sultan Salahuddin. Kerajaan ini pun sempat mengalami kemunduran. Akhirnya, tampuk kekuasaan pun berpindah ke tangan saudaranya, Sultan Alaudin Riayat Syah.

  • Sultan Alaudin Riayat Syah Al-Kahar(1537-1568 M)

Sultan Alaudin Riayat Syah merupakan saudara dari Sultan Salahuddin. Sultan Aludin berkuasa dari tahun 1537 – 1568 M. Selama dibawah kekuasaan Sultan Alaudin, Kerajaan Aceh berhasil berkembang menjadi Bandar utama di wilayah Asia bagi pedagang Muslim mancanegara.

Lokasi Kerajaan Aceh yang strategis menjadikan kerajaan ini memiliki peluang untuk menjadikan wilayah pelabuhannya sebagai tempat transit rempah-rempah dari Maluku. Akibatnya, kerajaan ini berhadapan langsung dengan Portugis.

Sultan Alauddin juga memperkuat angkatan lautnya sebagai pendukung lokasi strategis kerajaannya. Selain itu, Kerajaan Aceh Darussalam juga melakukan hubungan diplomatic yang baik dengan Kerajaan Turki Usmani.

  • Sultan Sri Alam (1575 – 1576 M)
  • Sultan Zain al-Abidin (1576 – 1577 M)
  • Sultan Ala’ al-Din Mansyur Syah (1577 – 1589 M)
  • Sultan Buyong (1589 – 1596 M)
  • Sultan Ala’ al-Din Riayat Syah Sayyid al-Mukammil (1596 – 1604 M)
  • Sultan Ali Riayat Syah (1604 – 1606 M)
  • Sultan Iskandar Muda (1606 – 1636 M)

Sultan Iskandar Muda memerintah Kerajaan Aceh sepeninggal Sultan Alauddin Riayat Syah. Ia merupakan salah satu sultan yang berhasil membawa Kerajaan Aceh pada puncak kejayaannya. Sultan Iskandar Muda memerintah dari tahun 1606 – 1636 M.

Ketika memimpin Kerajaan Aceh, Sultan Iskandar membuat terobosan baru kerajaan dengan mengangkat seorang pemimpin adat untuk setiap suku. Beliau juga menyusun tata negara (qanun) yang menjadi pedoman bagi kerajaan dalam penyelenggaraaan aturan. Saat itu, Kerajaan Aceh masuk dalam lima Kerajaan Islam terbesar di dunia setelah Kerajaan maroko, Isfahan, Persia, dan Agra.

Kerajaan Aceh juga berhasil merebut pelabuhan penting dalam arus perdagangan, yakni di pesisir barat dan timur Sumatera, dan pesisir barat Semenanjung Melayu. Untuk memperlemah kedudukan Portugis, Kerajaan Aceh menjalin hubungan diplomatik dengan Inggris dan Belanda.

  • Sultan Iskandar Tsani (1636 – 1641 M)

Sultan Iskandar Tsani memerintah Kerajaan Aceh dari tahun 1636 – 1641 M. Sultan Iskandar Tsani lebih mementingkan pembangunan dalam negeri dibanding ekspansi seperti sultan sebelumnya. Selama pemerintahan Sultan Iskandar Tsani, sektor pendidikan agama Islam juga mulai bangkit. Hal ini dapat dibuktikan dengan terciptanya buku Bustanus Salatain yang dibuat oleh Ulama Nuruddin Ar-Raniry.

Meskipun Sultan Iskandar Tsani hanya memimpin Kerajaan Aceh selama empat tahun, Aceh berada dalam situasi yang damai. Syariat Islam sebagai landasan hukum pun mulai ditegakkan di wilayah Aceh.

Setelah Sultan Iskandar Thani wafat, pemerintahan Kerajaan Aceh dipimpin oleh dua orang sultanah atau ratu. Ratu yang pertama kali memimpin adalah Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam (1641 – 1675 M) dan Sri Ratu Naqiatuddin Nur Alam (167 – 1678 M).

  • Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam (1641-1675)
  • Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678)
  • Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688)
  • Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699)
  • Sultan Badr al-Alam Syarif Hashim Jamal al-Din (1699-1702)
  • Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702-1703)
  • Sultan Jamal al-Alam Badr al-Munir (1703-1726)
  • Sultan Jauhar al-Alam Amin al-Din (1726)
  • Sultan Syams al-Alam (1726-1727)
  • Sultan Ala‘ al-Din Ahmad Syah (1727-1735)
  • Sultan Ala‘ al-Din Johan Syah (1735-1760)
  • Sultan Mahmud Syah (1760-1781)
  • Sultan Badr al-Din (1781-1785)
  • Sultan Sulaiman Syah (1785-…)
  • Sultan Alauddin Muhammad Daud Syah
  • Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam (1795-1815)
  • Sultan Syarif Saif al-Alam (1815-1818)
  • Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam (1818-1824)
  • Sultan Muhammad Syah (1824-1838)
  • Sultan Sulaiman Syah (1838-1857)
  • Sultan Mansur Syah (1857-1870)
  • Sultan Mahmud Syah (1870-1874)
  • Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903)

Masa Kejayaan Kerajaan Aceh

kerajaan islam aceh
Photo by salam-online.com

Meskipun kekuasaan tertinggi berada di tangan Sultan, tetapi kenyataannya Sultan dikendalikan oleh para hulubalang (orang-orang kaya). Dalam sebuah hikayat Aceh, Sultan yang pernah dikudeta secara paksa adalah Sultan Sri Alam yang dikudeta pada tahun 1579 M. Sikap sultan yang melampui batas dengan membagikan harta kepada pengikutnya menjadi pemicu kudeta.

Pengganti Sultan Sri Alam, yakni Sultan Zainal Abidin juga dibunuh beberapa bulan kemudian setelah naik tahta karena sikapnya yang kejam. Selain itu, ia juga gemar berburu dan melakukan adu binatang.

Raja-raja dan orang kaya pun menawarkan mahkota kerajaan kepada Alaiddin Riayat Syah Sayyid al-Mukamil dari anggota Dinasti Darul kamal pada tahun 1589. Ia pun mengakhiri periode ketidakstabilan Kerajaan Aceh dengan memberantas orang kaya yang berlawanan dengannya sambil memperkuat kedudukannya sebagai penguasa absolut.

Usaha yang dilakukan oleh Sultan Alauddin Riayat Syah Sayyid al-Mukammil dampaknya dapat dirasakan oleh sultan setelahnya. Kerajaan Aceh melakukan perluasan dan ekspansi wilayah pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda berkuasa. Salah satu prestasi Sultan Iskandar Muda adalah penaklukkan Pahang yang mana merupakan wilayah dengan penghasil sumber utama timah.

Pada tahun 1629 M, Kerajaan Aceh melakukan penyerangan terhadap tentara Portugis yang ada di Malaka dengan kekuatan armada mencapai 500 buah kapal perang dan 60.000 tentara angkatan laut. Serangan ini dilakukan untuk memperluas dominasi kekuasaan kerajaan Aceh atas Selat Malaka dan semenanjung Melayu.

Akan tetapi, ekspedisi yang dilakukan oleh Kerajaan Aceh mengalami kegagalan, meskipun pada tahun yang sama Kerajaan Aceh berhasil menduduki wilayah Kedah dan banyak membawa penduduk Kedah ke Aceh.

Sultan Iskandar Muda juga melakukan pembenahan terhadap sistem pemerintahan di Kerajaan Aceh. Sistem pemerintahan yang bagus ini berimbas pada kehidupan ekonomi rakyatnya yang semakin berkualitas.

Dalam bidang pertahanan, Sultan Iskandar Muda memfalisitasi dan membina dalam pertahanan laut maupun pertahanan darat. Transportasi untuk berhubungan dengan kerajaan di luar negeri pun menjadi lancar.

Penyebab Runtuhnya Kerajaan Aceh

Perang Aceh
Photo by steemit.com

Kerajaan Aceh mengalami kemunduran sejak meninggalnya Sultan Iskandar Tsani. Kemunduran ini diakibatkan tidak ada lagi penerus yang mampu mengatur wilayah kekuasaan Kerajaan Aceh yang luas. Akibatnya, banyak sekali wilayah taklukkan yang melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Aceh, seperti Johor, Pahang, dan Minangkabau.

Selain itu, kerap kali terjadi pertikaian antara golongan ulama (Teungku) dan golongan bangsawan (Teuku). Pertikaian yang terjadi disebabkan oleh perbedaan aliran dalam beragama. Meskipun begitu, Kerajaan Aceh mampu bertahan hingga abad ke-20.

Kesultanan Aceh juga sempat dipimpin oleh beberapa Sultanah (Ratu). Beberapa ratu yang pernah memimpin Kesultanan Aceh diantaranya adalah Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam (1641 – 1675) dan Sri Ratu Naqiatuddin Nur Alam (1675 – 1678). Sayangnya, pertikaian yang terjadi di Kesultanan Aceh terus berlangsung hingga membuat kerajaan ini runtuh pada awal abad ke-20.

Berikut beberapa sebab yang menyebabkan runtuhnya Kesultanan Aceh:

  • Menguatnya Negara Penjajah

Kekuasaan negara penjajah, yakni Belanda di pulau Sumatera dan Selat Malaka semakin menguat. Hal ini dibuktikan dengan jatuhnya wilayah lain di sekitarnya, yakni Minangkabau, Siak, Tiku, tapanuli, mandailing, Veli, Barus, dan Bengkulu dibawah kekuasaan penjajahan Kerajaan Belanda.

  • Perebutan Kekuasaan Tahta Aceh

Faktor penting lainnya yang menyebabkan Kesultanan Aceh runtuh adalah perebutan kekuasaan tahta Kerajaan Aceh. Setelah meninggalnya Sultan Iskandar Tsani, terjadi berbagai rangkaian peristiwa dimana para bangsawan ingin menghilangkan kontrol ketat dari kekuasaan sultan. Para bangsawan mengangkat janda dari Sultan Iskandar Tsani sebagai sultanah yang memimpin Kerajaan Aceh.

Beberapa sumber mengatakan, ketakutan akan adanya raja yang bersikap tirani layaknya Sultan Iskandar Muda menjadi latar belakang pengangkatan ratu atau sultanah ini.

  • Perang Saudara

Perang saudara ikut andil yang menjadi sebab melemahnya kekuasaan Kesultanan Aceh. Pada masa pemerintahan Sultan Alauddin jauhar Alamsyah (1795 – 1824 M), seorang keturunan dari Sultan yang dibuang bernama Sayyid Husain mengklaim mahkota Kerajaan Aceh dengan mengangkat putranya menjadi Sultan tandingan yang bernama Sultan Saif Al-Alam.

Perang saudara pun kembali terjadi. Namun, berkat bantuan Thomas Raffles dan Koh Lay Huan, kedudukan Sultan Alauddin Jauhar Alamsyah dikembalikan kembali.

  • Adanya Pembayaran Upeti Kepada Sultan

Sultan Mansyur Syah berusaha untuk memperkuat kembali kekuasaan Kesultanan Aceh yang sudah melemah. Dia berhasil mengalahkan para raja lada untuk memberikan upeti kepada Sultan, hal yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh sultan sebelumnya.

Untuk memperkuat pertahanan di wilayah timur (Deli, Serdang, dan Langkat), Sultan Mansyur Syah mengirimkan armada perang pada tahun 1854 dibawah kepemimpinan Laksamana Tuanku Usen dengan kekuatan 200 perahu. Akan tetapi, pada tahun 1865 Kesultanan Aceh harus angkat kaki dari wilayah atersebut karena ditaklukkannya di banteng Pulau Kampai.

  • Ditolaknya Persekutuan dengan Perancis

Sultan juga berusaha mengadakan persekutuan dengan pihak luar untuk membendung agresi wilayah dari Kerajaan Belanda. Selain bekerjasama dengan Kesultanan Turki Usmani, Sultan juga mengirimkan sebuah surat diplomasi kepada pemerintah Perancis.

Akan tetapi, surat yang dikirimkan kepada Raja Perancis Louis Philippe I dan Presiden republic Perancis ke II tidak begitu ditanggapi secara serius oleh pemerintah Prancis.

  • Penerus Pemerintahan yang Kurang Kompeten

Kemunduran Kesultanan Aceh terus terjadi paska wafatnya Sultan Iskandar Tsani dikarenakan penerusnya yang kurang kompeten dalam memimpin kerajaan. Naik tahtanya Sultan Mahmudsyah yang sangat muda dan lemah menajdi faktor kesekian melemahnya Kerajaan Aceh.

Rangkain cara untuk membendung dan melawan ekspansi dari Kerajaan Belanda mengalami kegagalan. Upaya untuk meminta bantuan kepada Kerajaan Turki Usmani juga tidak berhasil karena pada saat itu Turki sedang berperang dengan Rusia di Krimea. Usaha lain juga dilakukan dengan meminta bantuan kepada Italia, Perancis, hingga Amerika namun tidak membuahkan hasil.

  • Perang Aceh

Perang Aceh dimulai sejak Belanda menyatakan perng terhadap Kerajaan Aceh pada ranggal 26 Maret 1873 M setelah melakukan beragam ancaman diplomatik. Akan tetapi, Belanda belum berhasil merebut wilayah yang besar. Belanda tetap melakukan berbagai usaha untuk menaklukkan Kerajaan Aceh.

Pada tahun 1879 dan tahun 1898, Sultan dari Kesultanan Aceh pada saat itu yakni Sultan Muhammad Daud Syah II meminta kepada Rusia agar diberikan ststus protektorat kepada Kerajaan Aceh. Kesultanan Aceh juga meminta bantuan untuk melawan Belanda, tetapi permintaan tersebut ditolak.

Pada bulan Januari tahun 1903, Sultan Muhammad Daud Syah akhirnya menyerahkan diri kepada Belanda setelah keluarganya ditawan oleh tentara Belanda. Panglima Polem Muhammad Daud, Tuanku Raja Keumala, dan Tuanku Mahmud menyusul untuk menyerahkan diri pada bulan September tahun 1903 M.

Perjuangan rakyat Aceh untuk melawan Belanda pun dilanjutkan oleh ulama keturunan dari Tgk. Chik di Tiro dan berakhir ketika Tgk. Mahyidin di Tiro atau Teungku Mayed tewas dalam perang pada tahun 1910 di Gunung Halimun.

Peninggalan Kerajaan Aceh

Sebagai salah satu kerajaan Islam terbesar di Indonesia, tentu saja Kesultanan Aceh memiliki jejak peniggalan dari kesultanan tersebut. Berikut beberapa peninggalan Kesultanan Aceh yang masih dapat kita nikmati sekarang.

  • Masjid Raya Baiturrahman

masjid raya Baiturrahman
Photo by kompasiana.com

Masjid Raya Baiturrahman merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Aceh yang menjadi kebanggan rakyat Aceh sekarang. Masjid Raya Baiturrahman dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612 M, tepat ketika kerajaan ini berada di puncak kejayaannya.

Letak masjid ini berada di tengah pusat Kota Banda Aceh. Masjid Raya Baiturrahman pernah dibakar ketika Belanda melakukan Agresi Militer II ke Indonesia. Namun, empat tahun setelahnya masjid ini dibangun kembali oleh pihak Belanda untuk meredam amarah rakyat Aceh yang hendak balik menyerang Belanda merebut syahid.

Ketika Aceh dilanda tsunami pada tahun 2004, Masjid Raya Baiturrahman tetap tegak kokoh berdiri melindungi warga yang berlindung didalamnya ketika tsunami terjadi. Hingga saat ini, Masjid Raya Baiturrahman terus dikembangkan dan direnovasi menjadi lebih indah.

  • Taman Sari Gunongan

Taman Putroe Phang
Photo by kompas.com

Gunongan merupakan sebuah bangunan yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda. Bangunan ini dibangun atas dasar cinta Sultan Iskandar Muda terhadap seorang putri dari Pahang (Putroe Phaang). Sultan Iskandar Muda pun menjadikan putri dari Pahang tersebut sebagai permaisuri.

Sebagai bukti rasa cinta Sultan Iskandar Muda kepada Putroe Phaang, ia ingin memenuhi keinginan Putroe Phaang tersebut. Suktan Iskandar pun membangun sebuah taman sari yang indah dan dilengkapi Gunongan sebagai pemenuhan permintaan sang permaisuri.

Saat ini, taman sari dan Gunongan menjadi tempat yang terpisah menjadi taman sari, taman putroe phaang dan Gunongan. Letak antara tiga tempat tersebut dengan Masjid Raya Baiturrahman cukup berdekatan.

  • Masjid Tua Indrapuri

Masjid Tua Indrapuri
Photo by lamurionline.com

Masjid Indrapuri merupakan bangunan tua berbentuk segi empat sama sisi. Bentuknya khas mirip candi. Masjid Tua Indrapuri pada awalnya merupakan sebuah candi peninggalan peninggalan dari Kerajaan Hindu di Aceh. Akan tetapi, pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, candi tersebut diubah fungsinya menjadi sebuah masjid.

  • Makam Sultan Iskandar Muda

makam sultan iskandar muda
Photo by ragamtempatwisata.com

Peninggalan Kesultanan Aceh selanjutnya adalah makam dari Raja Kerajaan Aceh yang paling terkenal, Sultan Iskandar Muda. Makam ini terletak di Kelurahan Peuniri, Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Malam ini sangat kental dengan nuansa islami dengan ukiran dan pahatan kaligrafi pada batu nisannya. Makam ini juga menjadi salah satu bukti sejarah masuknya Islam ke Indonesia.

  • Meriam Kerajaan Aceh

Meriam Kerajaan Aceh
Photo by kelasips.com

Kesultanan Aceh juga mampu membuat sarana persenjataannya sendiri. Hal ini terlihat berupa peninggalan meriam-meriam tua yang berjejer di banteng Indraparta dan Museum Aceh.

Teknisi Kerajaan Aceh membuat meriam ini berbekal ilmu yang dipelajari dari Kerajaan Turki Usmani. Peranan meriamini sangat penting dalam perlawanan dan perang melawan penjajah dan kapal-kapal perang musuh yang hendak mendarat ke dermaga.

  • Banteng Indra Prata

Benteng indra patra
Photo by indonesiakaya.com

Peninggalan Kesultanan Aceh berikutnya adalah Benteng Indra Prata. Letak banteng ini terletak di sekitar pesisir Pantai Aceh. Banteng Indra Prata dibangun ketika Sultan Iskandar Muda berkuasa. Banteng ini berfungsi untuk tempat pertahanan rakyat Aceh, terutama dalam bidang kemaritiman.

Pembangunan banteng Indra Prata sebenarnya sudah dimulai sejak kekuasaan Kerajaan Lamuri, kerajaan Hindu tertua di Aceh, tepatnya sejak abad ke-7 M. Benteng ini terletak di Desa Ladong, kec. Masjid Raya, Kab. Aceh Besar.

  • Pinto Khop

Pinto Khop
Photo by glory-travel.com

Pintu Khop merupakan gerbang masuk Gunongan atau Taman Sari milik sang putri dari Pahang. Arsitrektur Pinto Khop ini bergaya Islam dengan bagian atap berbentuk seperti kubah masjid. Tempat ini merupakan pintu penghubung antara istana dengan taman putroe phang.

  • Hikayat Prang Sabi

hikayat prang sabi
Photo by irakbuzz.blogspot.com

Hikayat Prang Sabi merupakan karya satra dalam sastra Aceh yang berbentuk hikayat. Isi dari hikayat ini menceritakan tentang jihad. Karya sastra ini ditulis oleh para ulama yang berisi ajakan, nasihat, dan seruan utuk terjun ke medan jihad demi menegakkan agama Allah dari serangan kaum kafir.

Demikianlah sedikit ulasan mengenai sejarah Kerajaan Aceh. Semoga materi kali ini dapat menambah wawasan ilmu sejarah kita dan dapat menjadikan kita lebih bijak lagi dalam membuat keputusan, terutam dalam lingkup kekuasaan. Aamiin.

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!