Yuk, Intip Sejarah dan Isi Perjanjian Tuntang

isi perjanjian tuntang

Isi Perjanjian Tuntang – Kesepakatan antara Indonesia dan Belanda kerap kali dilaksanakan untuk mendamaikan kedua belah pihak. Selain dengan Indonesia, Belanda juga mengadakan perjanjian dengan berbagai negara Eropa yang juga ingin menjajah Indonesia. Perjanjian yang diadakan sebelum Indonesia merdeka diantaranya adalah Perjanjian Saragosa, Perjanjian Giyanti, Perjanjian Bongaya dan Perjanjian Tuntang.

Perjanjian Tuntang atau biasa disebut sebagai Kapitulasi Tuntang merupakan perjanjian yang dilakukan oleh pihak Inggris dengan pihak Belanda. Perjanjian ini memuat tentang penyerahan kepualaun Nusantara kepada Pemerintah Britania-Raya atau Inggris.

Sebelumnya, Inggris mendarat di Batavia pada tanggal 11 Agustus tahun 1811 M. Setelah melakukan pendaratan, pasukan Inggris langsung menyerang pasukan Belanda. Akibat kekuatan yang tidak seimbang, Batavia pun jatuh ke tangan Inggris dan Jensens sebagai pengganti Gubernur Jenderal Daendels melarikan diri ke Tuntang, Semarang, Jawa Tengah.

Jensens pun tidak mempunyai pilihan selain menyerah kepada Jenderal Auchmuty dan menyerahkan Nusantara dalam sebuah perjanjian yang kita kenal sebagai Perjanjian Tuntang atau Kapitulasi Tuntang.

Perjanjian ini dilaksanakan pada tahun 1811 M di Desa Tuntang, oleh karena itu perjanjian ini dinamakan Perjanjian Tuntang atau Kapitulasi Tuntang. Sekarang, Desa Tuntang terletak di daerah administrative Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Pemilihan Tuntang sebagai tempat diadakannya perjanjian dikarenakan tempat ini dahulunya adalah tempat peristirahatan para pembesar Hindia Belanda yang terletak di tepi Danau Rawa Pening yang mengalir ke Sungai Tuntang dan bermuara ke Laut Jawa di wilayah Demak. Selain itu, di tempat ini juga terdapat barak-barak tentara Belanda.

Perjanjian Tuntang atau Kapitulasi Tuntang merupakan awal penjajahan Inggris ke Nusantara atau Indonesia. Ketika itu, Thomas Stamford Raffles diangkat menjadi letnan gubernur jenderal mewakili Lord Minto yang berkedudukan di Calcutta India sebagai pemerintahan Britania Raya atau Inggris di Indonesia.

Latar Belakang Terjadinya Perjanjian Tuntang

isi Perjanjian tuntang
Photo by synaoo.com

Peristiwa yang melatarbelakangi terjadinya peristiwa Perjanjian Tuntang dimulai dengan kebangkrutan VOC yang membuat VOC dihapus pada tahun 1799. Akibat peristiwa ini, pemerintahan di Nusantara pun diserahkan kepada pemerintah Kerajaan Belanda pada waktu itu.

Pemerintah Inggris menguasai Indonesia hanya selama lima tahun. Setelah berjalan lima tahun, kekuasaan di Indonesia diberikan kepada pihak Belanda. Hal ini disebabkan keadaan negeri jajahan sangat bergantung dengan keadaan di negeri Eropa.

Kebangkrutan VOC dilihat dari buruknya serikat dagang VOC seperti adanya kekosongan kas dan penumpukan hutang perusahaan. Akibat hal ini, VOC tidak dapat menjalankan kegiatan-kegiatan seperti biasanya.

Berikut beberapa faktor yang menyebabkan kebangkrutan VOC
  • Banyaknya kalangan pegawai VOC yang melakukan kecurangan dan korupsi
  • Tidak adanya keterampilan cakap yang dimiliki pegawai VOC, sehingga pengendalian perdagangan VOC Belanda tidak berjalan dengan baik
  • VOC memiliki banyak hutang dikarenakan peperangan yang terjadi kepada pihak rakyat pribumi dan pihak Kerajaan Inggris
  • Banyak gaji yang harus dibayar akibat kekuasaan yang luas dan pegawai yang banyak
  • Pembayaran Devident (keuntungan) kepada pihak pemegang saham turut memberatkan keuangan VOC setelah pemasukan yang kurang
  • Persaingan dagang di Asia semakin memanas dengan adanya Prancis dan Inggris
  • Perubahan perpolitikan di Belanda dengan didirikannya Republik Bataaf 1795 yang menganjurkan adanya perdagangan bebas
  • Moral penguasa VOC Belanda menurun diakibatkan sistem monopoli
  • Sistem Verplichte Leverinte berjalan tidak lancar

Pada tahun 1800 M, Prancis yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte hampir menguasai seluruh wilayah daratan Eropa. Hal ini menyebabkan negara-negara jajahan bangsa Eropa juga harus diserahkan kepada pemerintah Prancis, begitu juga dengan Hindia-Belanda.

Kebangkrutan yang dialami oleh VOC di Indonesia membuat Kaisar Prancis, Napoleon Bonaparte, yang menduduki daerah Belanda memberikan kekuasaan kepada saudaranya dan diangkat menjadi Raja Belanda, Louis Bonaparte.

Raja Louis Bonaparte pun memerintahkan kepada Herman William Deandels sebagai gubernur jenderal di Hindia-Belanda. Salah satu tugas utama dari Herman William Deandels adalah mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris dan membereskan keuangan pemerintahan VOC di Hindia Belanda.

Untuk menstabilkan keuangan negara, Deandels menjual tanah negara kepada swasta yang mana merupakan bentuk pelanggaran undang-undang. Akibat peristiwa ini, Herman William Deandels digantikan oleh Jansens.

Isi Perjanjian Tuntang

isi perjanjian tuntang
Photo by pedomanbengkulu.com

Perjanjian Tuntang atau Kapitulasi Tuntang merupakan perjanjian yang berisi tentang penyerahan kekuasaan Belanda di Indonesia kepada pemerintah Inggris, termasuk pangkalan-pangkalan milik Belanda.

Isi Perjanjian Tuntang atau Kapitulasi Tuntang antara Belanda dengan Inggris
  • Seluruh Pulau Jawa dan pangkalan-pangkalan yang dimiliki oleh Belanda di wilayah Madura, Palembang, Makassar, dan Sunda Kecil harus diserahkan sepenuhnya kepada pemerintahan Inggris
  • Seluruh tentara dan militer milik Belanda harus menjadi tawanan Inggris
  • Pegawai sipil yang berminat bekerja dengan Pemerintah Inggris dapat bekerja dengannya, termasuk didalamnya orang-orang Belanda

Dampak Perjanjian Tuntang

kerja rodi
Photo by blog.airyrooms.com
Ketika Inggris menjajah Indonesia, kekuasaan Inggris di Indonesia dipegang oleh Thomas Satmford Raffles yang menjabat sebagai Letnan Gubernur Jenderal mewakili Lord Minto yang berkedudukan di wilayah Calcutta, India.

Setiap peristiwa yang terjadi pasti memiliki dampak terhadap peristiwa selanjutnya, hal ini biasa kita kenal sebagai hukum sebab-akibat. Perjanjian Tuntang juga membuat dampak baru terhadap kependudukan bangsa Indonesia oleh pemerintahan Inggris. Pemerintah Inggris memegang roda pemerintahan dan kekuasaan di Indonesia selama lima tahun dari tahun 1811 M – 1816 M.

Selama berkuasa di Indonesia, pemerintah Inggris menerapkan beberapa poin, diantaranya adalah:

  • Menghapuskan program wajib pajak dan kerja paksa
  • Rakyat bebas menentukan tanaman yang akan ditanam
  • Tanah merupakan milik pemerintah, sementara petani bertugas sebagai penggarap
  • Bupati termasuk dalam pegawai pemerintahan

Kontribusi Raffles Selama Memimpin Indonesia

Thomas Stamford Bingley Raffles
Photo by pedomanbengkulu.com

Selain itu, terdapat beberapa perubahan penting yang dilakukan Raffles terhadap Indonesia selama ia menjabat di Indonesia. Diantara perubahan-perubahan yang dilakukan Raffles adalah:

1. Bidang Pemerintahan

  • Pulau Jawa dibagi menjadi 18 karesidenan dan mengangkat seorang asisten residen dari orang Eropa sebagai pengawas bupati Mengurangi kekuasaan seorang bupati dengan menjadikannya pegawai pemerintahan dan digaji dengan uang, sehingga tidak mengandalkan pajak dari masyarakat
  • Menerapkan pengadilan dengan sistem juri seperti di Inggris
  • Membangun pusat pemerintahan di Istana Bogor

2. Bidang Ekonomi

kebun raya bogor
Photo by dolanyok.com
  • Penghapusan sistem kerja rodi yang pernah diterapkan pada masa penjajahan Belanda, kecuali untuk wilayah Priangan dan Jawa Tengah
  • Penghapusan penyerahan wajib bumi dan hasil bumi oleh penduduk kepada penguasa
  • Memberlakukan sistem pajak tanah (landrent system) dengan ketentuan petani harus menyewa tanah yang akan digarapnya kepada pemerintah, besarnya biaya sewa tanah disesuaikan dengan keadaan tanah
  • Meneruskan usaha yang pernah diterapkan Belanda, contohnya penjualan tanah kepada swasta dan penanaman kopi
  • Memonopoli penjualan garam agar tidak dipermainkan dalam perdagangan disebabkan garam sangat penting bagi rakyat

Selain itu, terdapat beberapa kegiatan Raffles yang berjasa dalam perkembangan ilmu pengetahuan selama masa pemerintahannya, diantaranya adalah:

bunga rafflesia arnoldi
Photo by pesona.travel
  • Membangun Gedung Harmony sebagai lembaga penunjang ilmu pengetahuan Bataviassch Genootshap
  • Menulis sejarah tentang kebudayaan dan alam Jawa yang tertuang dalam karyanya bernama “History of Java” yang terbit pada tahun 1817 M.
  • Perintis Kebun Raya Bogor. Nama Raffles pun diabadikan dalam sebuah nama bunga bangkai bernama Rafflesia Arnoldi

Pada tahun 1814 M, Napoleon Bonaparte mengalami kekalahan melawan raja-raja Eropa dalam perang koalisi. Kekalahan ini melahirkan Kongres Wina tahun 1814 untuk memulihkan keadaan di Eropa. Sedangkan, pengembalian kekuasaan di Indonesia ditandai dengan Convention of Londong tahun 1814 M.

Demikianlah sedikit ulasan mengenai sejarah dan isi Perjanjian Tuntang. Semoga materi ini dapat menambah wawasan kita terhadap sejarah Indonesia. Aamiin.

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: