Sejarah dan Isi Perjanjian Saragosa

tokoh perjanjian saragosa

Isi Perjanjian Saragosa – Ketika dunia masih diselimuti zaman imperealisme kuno yakni sekitar abad ke-15 sampai abad ke-17 M, terdapat beberapa negara pelopor penjelajahan Samudera.

Beberapa negara yang melakukan penjelajahan samudera adalah bangsa Portugis dan bangsa Spanyol. Dua bangsa ini dikenal sebagai dua kerajaan Katolik yang memiliki kekuatan teknologi navigasi, armada laut, dan perkapalan yang lebih maju daripada negara yang lainnya. Oleh karena itu, tidak heran jika terjadi persaingan yang cukup hebat antara keduanya untuk memperebutkan wilayah penjelajahan oleh dua kekuasaan.

Dua kekuasaan yang dimaksud tersebut ialah kekuasaan Spanyol dan kekuasaan Portugis dengan garis bujur melewati 297,5 marine leagues atau 17° ke arah timur dari Kepulauan Maluku. Akibat perebutan kekuasaan, tercetuslah sebuah perjanjian antara Spanyol dan Portugis.

Pemicu munculnya Perjanjian Saragosa adalah kedatangan bangsa Spanyol ke wilayah Maluku, yang mana sebelumnya Portugis sudah dahulu menempati wilayah tersebut.

Persaingan perebutan wilayah antara Spanyol dan Portugis ini membuahkan sebuah perjanjian, yang kita kenal sebagai Perjanjian Saragosa. Perjanjian ini disebut sebagai Perjanjian Saragosa disebabkan tempat untuk melaksanakan perjanjian ini berada di wilayah Saragosa, Sapnyol. Oleh karena itu, kali ini kita akan membahas materi mengenai sejarah dan isi Perjanjian Saragosa secara lebih mendalam.

Latar Belakang Terjadinya Perjanjian Saragosa

isi perjanjian saragosa
Photo by dosenpendidikan.co.id
Perjanjian Saragosa atau Perjanjian Zaragoza merupakan perjanjian yang dibuat antara pihak Spanyol dan pihak Portugis pada tanggal 22 April 1529 yang menyatakan jika bumi bagian timur dibagi atas dua kekuasaan.

Permasalahan yang melatarbelakangi terjadinya Perjanjian Saragosa dimulai karena pertikaian antara bangsa Spanyol dengan bangsa Portugis di Maluku. Pertikaian antara dua bangsa ini disebabkan perebutan dan monopoli perdagangan rampah-rempah antara kedua belah pihak di wilayah Maluku.

Pada tahun 1512 M, Portugis yang dipimpin oleh Alfonso d’Albuquerque datang ke Ternate di Maluku dan diterima dengan baik dan senang hati oleh Raja Ternate. Ketika bangsa Portugis datang ke Maluku, sedang terjadi pertikaian antara Kerajaan Ternate dengan Kerajaan Tidore.

Pertikaian antara dua kerajaan ini semakin memuncak ketika terbunuhnya Raja Kerajaan Ternate, Sultan Hairun. Pembunuhan ini dilakukan oleh bangsa Portugis, akan tetapi Kerajaan Ternate mengira bahwasannya yang membunuh Raja mereka adalah Kerajaan Tidore.

Kerajaan Ternate pun meminta bantuan kepada bangsa Portugis untuk membuat banteng pertahanan agar dapat berlindung dan terhindar dari serangan musuh. Sebagai imbalannya, Portugis diberikan izin untuk melakukan monopoli perdagangan di wilayah tersebut.

Akan tetapi, pada tahun 1521 M bangsa Spanyol yang juga melakukan ekspedisi penjelajahan tiba di wilayah Tidore. Kedatangan bangsa Spanyol ke wilayah Tidore di Maluku ini menjadi pemantik awal pertikaian dan konflik antara bangsa Portugis dan bangsa Spanyol di wilayah Maluku.

Kedua belah pihak ini sama-sama menuding jika salah satu dari keduanya telah melanggar Perjanjian Tordesilllas, yaitu perjanjian yang sebelumnya telah dibuat di Tordesillas (daerah dekat Madrid) antara Spanyol dan Portugis. Perjanjian ini diprakasai oleh Paus Alexander VI dan disahkan pada tanggal 2 Juli untuk Spanyol, sedangkan untuk Portugis baru disahkan pada tanggal 5 September tahun 1494 M.

Perjanjian Tordesillas mulai berlaku dari tanggal 4 Juni tahun 1494 sampai tanggal 13 Januari tahun 1750 M. Secara singkat, perjanjian ini memuat pembagian arah pelayaran dua negara. Bangsa Spanyol memiliki hak perdagangan dan pelayaran ke arah barat, sedangkan bangsa Portugis memiliki hak dan perdaagangan ke arah timur.

Untuk menenangkan kembali pertikaian antara bangsa Portugis dan bangsa Spanyol, maka disusun kembali perjanjian baru antara keduanya untuk menyelesaikan sengketa. Akhirnya, dibuatlah perjanjian yang dinamakan dengan Perjanian Saragosa atau Treaty of Zaragoza.

Tokoh dalam Perjanjian Saragosa

tokoh perjanjian saragosa
Photo by moondoggiesmusic.com

Perjanjian Saragosa juga diprakasai oleh Paus. Hal ini juga disebabkan karena bangsa Portugis dan bangsa Spanyol saling bersaingan dan saling mengklaim wilayah kekuasaaan di berbagai pulau di wilayah timur, tepatnya disekitar wilayah Samudera Pasifik.

Perjanjian ini melibatkan dua belah pihak yang bertikai, yakni antara pihak Spanyol dan pihak Portugis. Dari pihak Spanyol, tokoh dalam perjanjian ini diwakili oleh Kaisar Charles V. Sedangkan, dari pihak Portugis diwakili oleh Raja John III. Kedua tokoh inilah yang menandatangani barkas mengenai perjanjian ini.

Waktu dan Tempat Perjanjian Saragosa

Perjanjian Saragosa berhasil ditandatangani pada tanggal 22 April tahun 1529 M. Tempat terjadinya perundingan ini di kota Saragosa, Spanyol. Oleh karena itu, perjanjian ini dinamakan Perjanjian Saragosa. Perjanjian ini ditandatangani oleh masing-masing kepala pemerintahan, yaitu Raja John III dan Kaisar Charles.

Tujuan dari Perjanjian Saragosa antara lain untuk menegaskan kembali jika bangsa Portugis dan bangsa Spanyol tidak akan saling bersaing antara satu sama lain untuk memperebutkan kerajaan dan koloni.

Isi Perjanjian Saragosa

kapal merapat ke dermaga
Photo by google

Secara garis besar, Perjanjian Saragosa menjelaskan tentang kesepakatan antara bangsa Spanyol dan bangsa Portugis untuk perluasan garis demarkasi hingga Samudera Pasifik. Perjanjian yang terlaksana pada tanggal 22 April 1529 ini memiliki beberapa kesepakatan.

Isi Perjanjian Saragosa
  • Bumi terbagi menjadi dua pengaruh kekuasaan, yakni pengaruh bangsa Spanyol dan pengaruh bangsa Portugis
  • Bangsa Spanyol memiliki pengaruh dan hak wilayah kekuasaan dari wilayah Meksiko hingga memanjang ke arah barat, yakni kepulauan Filipina.
  • Bangsa Portugis memiliki pengaruh dan hak wilayah kekuasaan dari wilayah Brazil memanjang ke arah timur hingga ke Kepulauan Maluku.
  • Kawasan sebelah barat dari garis Saragosa masuk ke dalam wilayah kekuasaan bangsa Portugis
  • Kawasan sebelah selatan timur garis Saragosa masuk ke dalam wilayah kekuasaan bangsa Spanyol.

Dampak dari Perjanjian Saragosa

kapal penjelajah
Photo by dosenpendidikan.co.id

Perjanjian Saragosa yang telah disepakati oleh bangsa Spanyol dan bangsa Portugis ini memiliki beberapa dampak. Dampak yang sangat terasa bagi bangsa Spanyol adalah mereka harus meninggalkan wilayah Maluku dan berfokus pada kegiatan di wilayah Filipina.

Berikut dampak-dampak yang disebabkan dari isi Perjanjian Saragosa:

  • Munculnya pemikiran sebagian orang bahwasannya bumi itu bulat, bukan datar
  • Wilayah Maluku menjadi wilayah perdagangan yang termasyhur di dunia kala itu
  • Portugis mulai menanamkan kekuasaannya di wilayah Maluku, terutama dalam memonopoli perdagangan rempah-rempah
  • Kerajaan Ternate di Maluku diambil kendalinya oleh bangsa Portugis
  • Bangsa Spanyol mengklaim wilayah Filipina adalah wilayah kekuasaannya, karena bangsa Spanyol yang pertama kali menemukan wilayah tersebut

Untuk merebut kembali wilayah Filipina, terjadilah perang antara keduanya dari tahun 1565 M hingga tahun 1572 M. Peperangan ini menyebabkan tiga kerajaan Islam di wilayah Manila hancur dan runtuh, yakni kerajaan yang dipimpin oleh Raja Matada, Raja Sulaiman, dan Raja Iakandula.

Selain Perjanjian Saragosa, terdapat pula beberapa perjanjian yang mewarnai sejarah panjang Indonesia sebelaum mendapatkan kemerdekaan. Perjanjian-perjanjian tersebut diantaranya adalah Perjanjian Giyanti, Perjanjian Salatiga, dan Perjanjian Bongaya.

Demikianlah sedikit ulasan mengenai sejarah dan isi Perjanjian Saragosa antara Belanda dan Spanyol. Semoga materi kali ini dapat menambah wawasan kita tentang sejarah yang ada di Indonesia. Aamiin.

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: