Biografi Eka Tjipta Widjaja, Sang Pendiri Sinar Mas Group

Biografi Eka Tjipta Widjaja – Dalam kebutuhan sehari-hari, mata kita tidak lagi asing dengan brand yang dibuat oleh grup perusahaan Sinar Mas. Perusahaan Sinar Mas merupakan perusahaan yang didirikan oleh Eka Tjipta Widjaja.

Eka Tjipta Widjaja merupakan salah satu konglomerat terbesar yang ada di Indonesia. Ia sudah mengenal dunia bisnis dalam beberapa zaman yang membuatnya cukup disegani di dunia bisnis Indonesia. Ia memiliki perusahaan besar yang bergerak dalam bidang kertas dan pulp, minyak kelapa sawit, keuangan, dan property.

Berikut sedikit biografi singkat dan perjalanan bisnis Eka Tjipta Widjaja.

Biodata Singkat Eka Tjipta Widjaja

NamaEka Tjipta Widjaja / Oei Ek Tjhong
Tempat, Tanggal LahirChina, 03 Oktober 1923
WafatJakarta, 26 Januari 2019
IstriTrini Dewi Lasuki
Melfie Pirieh
AnakTeguh Ganda Widjaja
Oei Hong Leong
Franky Oesman Widjaja
Indra Widjaja
Frankle Widjaja
Muktar Widjaja
Jimmy Widjaja
Fenny Widjaja
Sukmawati Widjaja
Ingrid Widjaja
Nanny Widjaja
Lanny Widjaja
Inneke Widjaja
Chenny Widjaja
Meilay Widjaja
Jetty Widjaja

Kelahiran Eka Tjipta Widjaja

Eka Tjipta Widjaja lahir di Quanzhou, Provinsi Fujian (Hokkian), Tiongkok dengan nama asli Oei Ek Tjhong. Ia dilahirkan pada tanggal 03 Oktober 1923 dari keluarga yang kurang mampu.

Tumbuh dan lahir dari keluarga yang kurang mampu membuat ayah Eka memutuskan untuk merantau ke negeri orang demi mengadu nasib. Ayahnya merantau ke Indonesia dan tiba di Makassar lebih dahulu lalu membuka toko kecil disana.

Masa Kecil

masa kecil eka tjipta widjaja
Photo by disway.id

Di umur Eka yang masih menginjak usia sembilan tahun, ia bersama ibunya menyusul ayahnya ke Makassar. Mereka berlayar kurang lebih selama tujuh hari tujuh malam di lautan. Karena keadaan perekonomian yang kurang mampu, mereka hanya mampu tidur di bawah kelas dek kapal yang mana merupakan tempat terburuk di kapal tersebut.

Mereka berdua juga tidak mampu memasak makanan yang enak karena masalah perekonomian. Bahkan, mereka hanya berbekal uang 5 dollar yang tidak dapat dibelanjakan begitu saja karena untuk berlayar ke Indonesia, mereka masih berhutang kepada rentenir sebanyak 150 dollar.

Setelah sampai di Makassar, Eka membantu ayahnya untuk berdagang agar mampu membayar hutang kepada rentenir sebanyak 150 dollar. Dua tahun kemudian, toko yang digeluti ayahnya pun maju dan mampu membayar hutang rentenir tersebut.

Eka kecil akhirnya meminta ayahnya untuk masuk ke sekolah meskipun menolak untuk dimasukkan ke kelas satu. Selepas tamat dari sekolah dasar, ia masih ingin bersekolah. Akan tetapi, masalah perekonomian keluarganya lagi-lagi menjadi halangan untuk mewujudkan keinginannya tersebut. Meskipun hanya tamatan SD, Eka mampu menjadi pebisnis besar di Indonesia.

Perjalanan Merintis Bisnis

eka tjipta widjaja
Photo by wartaekonomi.co.id

Pada tahun 1938, Eka mulai berjualan biskuit dan kembang gula secara door to door mengelilingi Kota Makassar menggunakan sepeda. Ketika itu, usianya baru menginjak 17 tahun. Dalam kurun waktu dua bulan, ia berhasil mendapatkan laba sebesar RP 20 yang cukup besar di masa itu dalam satuan rupiah.

Harga beras pada masa tersebut masih berkisar 3-4 sen per kilogram. Eka pun membeli becak untuk membantunya mengangkut barang dagangannya untuk mengembangkan usaha yang dirintisnya.

Jatuh Bangun dalam Merintis Usaha

Usaha berjualan biskuit dan kembang gula yang ditekuninya tidak lagi bertahan lama selepas pendudukan tentara Jepang di Indonesia, termasuk wilayah Makassar. Bisnis yang dibangunnya tersebut hancur total dikarenakan regulasi pajak yang ditetapkan pemerintah Jepang terlalu besar. Eka akhirnya menganggur karena tidak ada barang impor atau ekspor yang dapat dijual.

Total laba sebanyak Rp 200 yang dikumpulkan Eka selama bertahun-tahun pun habis tak bersisa untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Ditengah keputusasaannya, Eka bersepeda mengelilingi Makassar hingga tiba di Paotere. Paotere merupakan sebuah kawasan di pinggiran Makassar yang saat ini menjadi salah satu pangkalan perahu terbesar di luar Pulau Jawa.

Perjalanan  Berbuah Berkah

Di Paotere, ia melihat ratusan tentara Jepang yang sedang mengawasi ratusan tawanan pasukan Belanda setelah Jepang berhasil menguasai Indonesia dari penjajahan Belanda. Yang menjadi menarik perhatian Eka bukanlah kegiatan tentara Jepang tersebut, melainkan tumpukan terigu, semen, dan gula yang masih dalam keadaan baik. Melihat tumpukan bahan makanan tersebut, otak bisnisnya pun berputar cepat.

Eka segera mengayuh sepeda bututnya untuk kembali ke rumah. Ia berencana untuk membuka tenda di dekat lokasi tentara Jepang dan Belanda tersebut untuk menjual makanan dan minuman disana. Ia menyiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk berjualan.

Esok harinya, Eka sudah tiba di Paotere sebelum matahari terbit. Ia membawa gula, kopi, kaleng bekas minyak yang berisi air, oven kecil yang telah diisi arang untuk memanaskan air, cangkir, sendok, dan bahan lainnya. Ia meminjam segala keperluan untuk berjualan dari ibunya.

Enam ekor ayam milik ayahnya pun tak lepas dari eksekusinya. Ia meminjam ayam tersebut untuk dipotong dan dimasak menjadi ayam putih gosok garam. Eka juga meminjam sebotol whiskey, sebotol brandy, dan sebotol anggur dari teman-temannya.

Tepat pukul tujuh pagi, ia telah siap untuk menjual dagangannya. Sesuai dengan perkiraannya, 30 orang Jepang dan Belanda mulai berdatangan. Akan tetapi, tak ada satu pun pelanggan yang mendatangi lapak dagangannya hingga pukul sembilan pagi. Dia pun memutar otak dan berinisiatif untuk mendatangi komandan pasukan Jepang.

Pada awalnya, Eka mentraktir komandan Jepang untuk makan dan minum di tenda dagangannya. Komanda Jepang tersebut mengomentari makanan dan minuman yang dijual Eka setelah mencicipi seperempat ayam komplet dengan kecap cuka dan bawang putih serta dua teguk whisky dengan komentar “koto” yang berarti enak dalam Bahasa Jepang.

Pendekatan Berujung Keberuntungan

Setelah kejadian tersebut, seluruh anak buah Jepang dan tawanan tentara Jepang diizinkan untuk makan dan minum di tenda dagangan milik Eka. Ia pun tak lupa untuk meminta izin mengambil seluruh barang yang sudah dibuang oleh tentara Jepang.

Eka meminta anak-anak satu kampungnya untuk mengangkut barang-barang tersebut dengan becak ke rumahnya. Ia membayar masing-masing anak sebesar 5-10 sen. Barang-barang yang diambilnya tersebut memenuhi rumah, halaman, dan sebagian halaman milik tetangganya.

Ia pun mulai memilah dan memilih barang-barang yang masih bisa digunakan dan dijual kembali. Terigu yang sekiranya masih baik pun dipisahkan. Sementara itu, beras yang sudah keras ditumbuk dan dirawat hingga bisa digunakan kembali. Ia juga mulai belajar untuk membuat karung.

Pada saat itu, perang masih berkecamuk di Indonesia. Pasokan keperluan bahan pangan dan bahan bangunan menjadi sangat kurang. Semen, terigu, arak China, dan barang-barang lainnya yang diperoleh Eka dari puing-puing yang dibuang oleh tentara Jepang sangatlah berharga.

Dia mulai berbisnis menjual terigu seharga Rp 60 yang sebelumnya Rp 50 per karung, bahkan hingga harganya mencapai Rp 150. Ia juga menjual semen seharga Rp 20 per karung lalu dinaikkan menjadi Rp 40 per karung.

Pada suatu waktu, terdapat seorang kontraktor yang ingin memborong semen miliknya untuk membangun makam orang kaya. Ia menolak tawaran borongan semen tersebut. Ia berpikir, daripada menjual semen tersebut ke kontraktor lebih baik ia menjadi kontraktor untuk membuat makam tersebut.

Ia kemudian membayar tukang untuk membuat makam dengan bayaran Rp 15 per hari dan ditambah 20% saham kosong untuk mengadakan kontrak pembuatan enam makam mewah.

Eka mematok harga pembuatan makam Rp 3.500 hingga harga yang dipatoknya mencapai Rp 6.000. Setelah stok semen dan beton miliknya habis, ia berhenti menjadi kontraktor kuburan.

Pada tahun 1950, Eka mulai berpindah haluan dalam berbisnis ke kopra, daging buah kelapa yang dikeringkan untuk bahan pembuatan minyak kelapa, dan lain-lain. Untuk mendapatkan harga kopra yang murah, ia pun berlayar selama berhari-hari ke Selayar di selatan Sulawesi Selatan dan ke berbagai sentra kopra lainnya.

Masa Kebangkrutan

Eka Sempat mendapatkan laba besar dari bisnis berjualan kopra. Akan tetapi, beberapa waktu kemudian ia mengalami kebangkrutan dan rugi besar akibat Jepang memberlakukan peraturan jual beli minyak kelapa. Jual beli minyak kelapa dikuasai oleh Mitsubishi yang menjual seharga Rp 1,80 per kaleng, padahal saat itu harga pasar berkisar Rp 6 perkaleng.

Eka Tjipta Widjaja pun tidak menyerah, ia kembali mencari peluang bisnis yang lain. Ia mencoba berdagang gula, teng-teng (makanan khas Makassar yang terbuat dari gula merah dan kacang tanah), wijen, dan kembang gula.

Ketika usaha yang dirintisnya mulai bersinar, ujian kembali datang menimpanya. Harga gula jatuh yang menyebabkan Eka kembali bangkrut dan rugi besar. Bahkan, modal usahanya pun habis dan masih meninggalkan utang. Akhirnya, ia harus menjual dua sedan, dua mobil jip, dan menjual perhiasan keluarga termasuk cincin kawin demi melunasi utang dagang.

Jatuh bangun yang dirasakan Eka Tjipta Widjaja dalam berbisnis tidak menjadikannya jera untuk terus mencoba berdagang. Ia kembali berusaha untuk membangun bisnisnya. Ia mulai berbisnis dari usaha leveransir (penyedia bahan-bahan keperluan berupa bahan bangunan, bahan makanan, dll.) dan barang kebutuhan lainnya. Usaha yang dijalaninya ini juga mengalami pasang surut.

Pada tahun 1950-an, barang dagangannya habis dijarah oleh para oknum Permesta (Perdjoeangan Rakjat Semesta) terutama barang dagangan kopra. Modal usaha yang dimilikinya pun habis, tetapi ia bangkit lagi dan kembali mencoba untuk berdagang.

Pada tahun 1957, Eka Tjipta Widjaja pindah ke Surabaya dan menjadi pemasok kebutuhan TNI di Indonesia Timur. Akan tetapi, pada masa tersebut Pemerintah Indonesia menerapkan Program Benteng. Dalam program ini, pengusaha Melayu diberi kemudahan dalam berdagang sementara keturunan Tionghoa seperti Eka lumayan kesulitan dalam berdagang. Hal ini menjadikan Eka harus berusaha lebih giat lagi.

Sinar Mas Group

sinar mas group
Photo by tribunnewswiki.com

Pada tahun 1966, Eka Tjipta Widjaja pindah ke Jakarta dan mendirikan CV Sinar Mas. Perusahaan ini bergerak di ekspor barang dan impor barang tekstil.

Tahun 1968 pada masa Orde Baru, Eka kembali mencoba peruntungannya dengan membangun bisnis kopra. Ia mendirikan pabrik di Sulawesi Utara bernama Bitung Manado Oli, Ltd. Minyak goreng miliknya dengan merek Bimoli pernah merajai pasar. Eka pun pernah mendapat julukan sebagai Raja Minyak Goreng Indonesia.

Pada masa pak Soeharto berkuasa, Eka mendapat angin segar untuk bisnis usahanya. Baginya, berbisnis pada masa rezim Soeharto berkuasa bisnin usaha yang digelutinya relative stabil dan tidak mengalami kebangkrutan yang begitu serius seperti pada masa-masa sebelumnya.

Pada tahun 1983, Eka membangun aliansi dengan Liem Sioe Liong untuk memperkuat minyak goreng Bimoli bersama-sama. Akan tetapi, aliansi yang dibangunnya tersebut tidak bertahan lama karena Eka memutuskan untuk keluar dari aliansi tersebut pada tahun 1990. Eka pun mengeluarkan minyak goreng dengan merek baru bernama Filma. Tak lama kemudian, Sinar Mas juga meluncurkan minyak goring bermerek Kunci Mas.

Memulai Bisnis Kertas

Pada tahun 1972, Eka membangun sebuah pabrik kimia soda di Mojokerto. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia yang memproduksi buku tulis dengan merek Sinar Dunia menjadi pabrik kertas pertama yang dibangun oleh Perusahaan Sinar Mas Group.

Perusahaan kertas Tjiwi Kimia sudah resmi terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan melepaskan sebesar 9,30 juta saham miliknya ke publik. Dengan terdaftarnya perusahaan ini di Bursa Efek Indonesia, maka perusahaan ini berubah menajdi perusahaan publik.

Selain mendirikan Pabrik Kertas Tjiwi Kimia, Sinar Mas Group juga mulai diversifikasi bisnis dengan membangun bisnis property dibawah naungan PT Duta Pertiwi pada tahun 1972. Pembangunan bisnis dalam sektor property ini merupakan momentum yang tepat dikarenakan pertumbuhan property Indonesia cukup menjanjikan di akhir tahun 1980-an.

Pada tahun 1989, PT Duta Pertiwi memulai proyek propeti pertamanya dengan membangun ITC (International Trade Center) manga Dua di Jakarta. Kawasan hunian pertama yang menjadi proyek PT Duta Pertiwi adalah perumahan Bumi Serpong Damai (BSD). Perumahan BSD menjadi salah satu perumahan prestisius di Serpong, Tangerang.

Pada tahun 1994, Duta Pertiwi akhirnya melantai di Bursa Efek Indonesia dan mulai melebarkan bisnisnya di berbagai tempat, tidak hanya di Jakarta. Bisnis yang dijalankan oleh Sinar Mas juga mulai melebar ke kota lainnya seperti Surabaya, Baalikpapan, Batam, dan Samarinda. Bahkan, bisnis ini juga sudah meluas hingga ke China, Singapura, dan Malaysia. Sinar Mas juga sudah memiliki protofolio property di London, Inggris.\

Memulai Bisnis Keuangan

Perusahaan Sinar Mas jga mulai terjun ke dunia bisnis jasa keuangan dengan didirikannya PT Internas Astha Leasing Company. PT ini kemudian berganti nama menjadi PT Internas Arta Finance Company.

Perusahaan Sinar Mas juga membeli saham Bank International Indonesia (BBI). Bank ini berhasil berkembang menjadi salah satu bank swasta terbesar di Indonesia. Akan tetapi, pada tahun 2001 Perusahaan Sinar Mas terpaksa melepas saham BII untuk membayar hutang perusahaan akibat jatuhnya harga kelapa sawit dan pulp and paper di pasar internasional.

Pada tahun 2015, BII secara resmi dibeli oleh Maybank yang berasal dari Malaysia. Nama BII pun berubah menjadi Bank Maybank Indonesia. Dengan perubahan nama tersebut, Sinar Mas sudah tidak memiliki saham di BII setelah penjualan saham perusahaan BII secara keseluruhan.

Meskipun begitu, Sinar Mas Multiartha saat ini sudah melantai di Bursa Efek Indonesia dan telah menyediakan beragam jasa keuangan dengan membawahi beberapa anak perusahaan seperti multifinance, asuransi, pasar modal, jasa administrasi saham, sekuritas, dan fintech.

Pengusaha Kelapa Sawit

pendiri Sinar mas group
Photo by cnbcindonesia.com

Pada tahun 1986, Perusahaan Sinar Mas memulai usaha bisnis di sektor agribisnis dengan membangun Sinar Mas Forestry. Mereka membeli perkebunan kelapa sawit seeluas 10.000 hektar di Riau dilengkapi dengan mesin dan pabrik berkapasitas produksi sebesar 60.000 ton. Mereka juga membeli perkebunan dan pabrik the seluas 10.000 hektar yang berkapasitas 20.000 ton.

Pada tahun 1996, Eka mendirikan PT Dian Swastatika Sentosa untuk memfasilitasi listrik ke pabrik APP (Asia Pulp and Paper). Akan tetapi, PT Dian Swastatika Sentosa akhirnya berkembang menjadi perusahaan energy tenaga listrik, pertambangan batu bara, pupuk dan bahan kimia, dan penyedia layanan internet dengan merek My Republic.

Pengalaman pernah menjual saham BII tidak membuat Perusahaan Sinar Mas kapok untuk berbisnis di dunia perbankan. Pada tahun 2005, Sinar Mas Group membeli saham Bank Shinta yang menjadi cikal bakal lahirnya Bank Sinarmas.

Perkembangan telekomunikasi yang pesat di Indonesia menjadikan Sinar Mas tertarik untuk ikut terjun dalam bagian tersebut. PT Smart Telecom akhirnya didirikan pada tahun 2006 hasil dari merger dengan salah satu provider telekomunikasi Fren yang bermain di sektor jaringan CDMA. Meskipun teknologi jaringan CDMA tidak bertahan lama, Sinar Mas tidak menyerah begitu saja.

Smartfren pun berubah haluan di jaringan $G LTE Advanced supaya mampu menjangkau pelanggan yang lebih luas dan dapat bersaing dengab perusahaan-perusahaan lainnya yang telah bermain di jaringan GSM lebih dulu seperti Telkomsel, XL Axiata, Tri Indonsat, dll.

Regenerasi Perusahaan

Usia ang semakin menua menjadikan Eka Tjipta Widjaja tidak lagi berada di garda depan untuk menjalankan perusahaan-perusahaannya. Ia melakukan regenerasi dengan menjadikan anak dan cucunya melanjutkan roda bisnis di Sinar Mas Group. Setiap satu anak akan diserahkan satu bisnis yang otomatis menurun ke cucu.

Perusahaan Sinar Mas Group membagi perusahaannya menjadi enam pilar utama bisnis. Keenam pilar tersebut yakni pulp and paper, jasa keuangan, pengembang dan real estate, agribisnis dan makanan, telekomunikasi, serta energy dan infrastruktur.

Enam pilar bisnis ini juga diaplikasikan dalam enam nilai bisnis yang dijalankan dalam perusahannya. Keenam nilai tersebut yakni intregitas, pengembangan berkelanjutan, inovasi, komitmen, sikap positif, dan loyalitas.

Anak tertua Eka, Teguh Ganda Widjaja saat ini mengelola bisnis bagian pulp and paper, Franky O Widjaja mendapatkan bisnis bagian agribisnis dan makanan. Sementara itu, Muktar Widjaja mendapatkan bisnis bagian pengembang dan real estate dan Indra Widjaja mendapatkan bisnis bagian jasa keuangan.

Saat ini, bisa dikatakan Sinar Mas Group mayoritas sudah dipegang oleh generasi III meskipun terdapat lini bisnis yang masih dipegang oleh generasi II. Menjalankan bisnis yang dilakukan dua generasi berbeda secara bersama-sama tentu memiliki tantangan tersendiri. Tantangan yang muncul biasanya disebabkan karena komunikasi dan perbedaan latar belakang pendidikan.

Untuk mengatasi hal tersebut sebagaimana dikutip dari wawancara Gandi Sulistiyanto dari Kontan, generasi Eka bersepakat jika keputusan akhir diputuskan oleh anak tertua. Meskipun dalam diskusi terdapat perbedaan pendapat, jika sudah diputuskan oleh anak tertua maka yang lain harus mengikuti.

Eka Tjipta Foundation

eka tjipta foundation
Photo by ekatjipta.org
Kebahagiaan karena berbuat sesuatu untuk masyarakat merupakan kepuasan yang tiada tandingannya – Eka Tjipta Widjaja

Pada tahun 2006, sebagai salah satu dedikasinya untuk Indonesia, Eka menciptakan Eka Tjipta Foundation (ETF). ETF merupakan salah satu organisasi nirlaba yang memiliki tujuan untuk meningkatkan pendidikan dan konservasi lingkungan di Indonesia untuk berbagi pada sesame.

Meskipun hanya lulusan SD, Eka berhasil mendapatkan gelar kehormatan Doctor Honoris Causa (Dr. HC) dari Pittsburg State University, Amerika Serikat. ETF menyalurkan beasiswa Tjipta Sarjana Bangun Desa (TSBD) berupa beasiswa pendidikan sarjana dan fellowship. Beasiswa ini digunakan untuk penelitian dan pendidikan master serta doctoral setiap tahun.

Selain itu, juga terdapat program Tjipta Pemuda Bangun Bangsa (TPBB). Program TPBB ini khusus memberikan beasiswa kepada siswa yang berprestasi tingkat nasional dan internasional untuk berkuliah di 10 universitas ternama di Indonesia dan 15 perguruan tinggi terbaik di dunia.

Kontribusi yang Eka dedikasikan di bidang filantropi membuat Forbes Asia memasukkan namanya dalam daftar “48 Heroes of Philanthropy” tahun 2010. Pada tahun yang sama, Museum Rekor Indonesia (MURI) juga memberikan anugerah rekor pada Eka untuk kategori “Pemberri Beasiswa S1 terbanyak dalam kurun waktu tertentu” (2007/2008 – 2008/2009) kepada 2.018 mahasiswa yang berprestasi.

Berikut beberapa penghargaan yang berhasil didapatkan oleh Eka Tjipta Widjaja.

Penghargaan Eka Tjipta Widjaja

NoKarierPenghargaan
1Pendiri PT Tjiwi Kimia 1976Orang terkaya kedua di Indonesia Versi Globe Asia tahun 2010
2Pendiri dan Pemilik Sinarmas GroupHero of Philantrophy oleh Forbes Asia
3Pendiri Yayasan Eka Tjipta FoundationSatya Lencana Pembangunan tahun 1995 oleh Presiden Soeharto
4Doktor Honoris Causa dari Pittsburg University AS
5Penghargaan dari Legiun Veteran RI tahun 1994
6Direktur terbaik menurut majalah Money

Kekayaan Eka Tjipta Widjaja

Eka Tjipta Widjaja merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia. Pada tahun 2018, Majalah Forbes menempatkan Eka Tjipta Widjaja dalam urutan ke 3 orang terkaya di Indonesia. Kekayaannya tercatat sebesar US$ 8,6 miliar atau setara dengan Rp 124,7 triliun jika mengacu kurs Rp 14.500 per dollar AS.

Kekayaan yang dimiliki oleh Eka Tjipta Widjaja menjadikannya sebagai sebagai orang terkaya yang paling tua di Indonesia.

Kematian Eka Tjipta Widjaja

kematian eka tjipta
Photo by cnbcindonesia.com

Crazy Rich Indonesian ini meninggal pada hari Sabtu, 26 Januari 2019 pukul 19:43 WIB. Ia tutup usia di umurnya yang menginjak 97 tahun di kediamannya. Jenazahnya disemayamkan di Rumah Duka RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.

Jenazah Eka Tjipta Widjaja dimakamkan di makam keluarga yang berlokasi di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada hari Sabtu, 02 Februari 2019.

Demikianlah sedikit ulasan mengenai biografi Eka Tjipta Widjaja, salah satu konglomerat ternama di Indonesia. Selain Eka Tjipta Widjaya, konglomerat Indonesia lainnya adalah William Soeryadjaya, Chairul Tanjung, dan Bob Sadino. Semoga materi kali ini dapat menambah wawasan kita dan memotivasi kita dalam berbisnis. Aamiin.

Alhamdulillah

Aamiin.

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!