Dinasti Fatimiyah, Dinasti Syiah Pertama

Dinasti Fatimiyah merupakan dinasti berideologi Syiah yang berkuasa di Mesir dan Syiria. Negeri ini dikuasai oleh Ismailliyah yang merupakan salah satu cabang Syiah yang berbasis di Yaman dan dipimpin oleh Imam Syiah. Dinasti ini dinamakan Fatimiyah karena dinisbatkan kepada putri Rasulullah, Fatimah binti Rasulullah. Hal ini dikarenakan pendiri dinasti ini mengaku sebagai keturunan putri Rasulullah.

Dinasti ini merupakan satu-satunya kekhalifahan Islam yang bermahzab Syi’ah yang memiliki jangkauan pengaruh sangat luas, hingga mampu menyaingi kedigdayaan kekhalifahan yang lain saat itu. Dinasti Fatimiyah juga merupakan kekhalifahan yang berasal dari Afrika Utara hingga mampu merebut Mesir dan memindahkan ibukota negara ke Mesir.

Sejarah Berdirinya Dinasti Fatimiyah

perkembangan dinasti fatimiyah
Photo by rangkumanmakalah.com

Sejarah berdirinya dinasti ini dimulai sejak abad ke-10, ketika saat itu kekuasaan Daulah Abbasiyah di Baghdad mulai melemah. Muncullah Dinasti Fatimiyah sebagai babak baru perkembangan ilmu pengetahuan, yang mana pada saat itu Daulah Abbasiyah mulai menurun dalam perkembangan ilmu pengetaahuan yang sudah dirintis sebelumnya.

Dinasti Fatimiyah juga kadang disebut sebagai Bani Ubaidillah karena nama pendirinya adalah Sa’id bin Husain As-Salamiyah yang memiliki gelar sebagai Ubaidillah Al-Mahdi. Dinasti ini merupakan satu-satunya dinasti yang bermahzab Syi’ah dan memiliki jangkauan pengaruh sangat luas,

Sejak berdirinya dinasti ini, umat Islam mempunyai dua otoritas berbeda yang sama-sama kuat. Dengan dua acuan tradisi fiqh, keilmuan, dan kekuasaan yang berbeda. Daulah Abbasiyah di Irak dan Dinasti Fatimiyah di Mesir. Dan dalam waktu singkat, ibukota Dinasti Fatimiyah di Kairo menjadi pusat beradaban Islam menggantikan kota Baghdad.

Dinasti Fatimiyah berdiri sebagai efek samping dari beberapa kebijakan yang sangat represif dari Daulah Abbasiyah, terutama kepada keturunan Rasulullah khususnya yang berasal dari pihak Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah binti Muhammad. Ia menyandarkan klaim pemerintahannya sebagai ahli waris yang sah keturunan dari putri Rasululah, Fatimah binti Muhammad.

Akan tetapi, masalah nasab dan keturunan Dinasti Fatimiyah yang bersandar kepada Fatimah binti Muhammad masih dan terus menjadi perdebatan antar sejarawan. Dari dulu hingga saat ini masih belum ada kesepakatan mengenai nasab keturunan ini.

Pendiri Dinasti Fatimiyah

syiah ismailliyah
Photo by islami.co

Pendiri Dinasti Fatimiyah adalah penganut Syi’ah Ismailliyah. Nama ini diambil dari Ismail, putra pertama dari imam Syi’ah yang ke-6, Imam Ja’faq As-Shaddiq. Oleh karena itu, sebagian umat Syiah menganggap Ismail sebagai Imam penerus Ja’far As-Shaddiq yang kemudian menjadi cikal-bakal nama Syiah Ismailliyah.

Imam terakhir kaum Syiah, Muhammad Al-Habib, memiliki seorang putra yang bernama Abu Muhammad ‘Abdullah yang memiliki gelar ‘Ubaidullah Al-Mahdi atau pemimpin yang dijanjikan. Dialah yang dikenal sebagai pendiri dari Dinasti Fatimiyah. Dia mengumpulkan kekuatan dan memimpin untuk melakukan pemberontakan terhadap gubernur Abbasiyah di Afrika Utara.

Pada tahun 909 M, Abu Muhammad ‘Abdullah berhasil mendirikan imperium Fatimiyah yang membentang dari Mauritania hingga ke perbatasan Mesir. Saat itu, pusat pemerintahan dinasti ini masih di Tunisia. Namun, setelah penaklukan Mesir sekitar tahun 971, ibukota dinasti ini dipindah ke Mesir pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mu’iz

Silsilah Khalifah Dinasti Fatimiyah

silsilah khalifah dinasti fatimiyah
Photo by guruhady.blogspot.com

Silsilah khalifah yang menjabat dalam pemerintahan Dinasti Fatimiyah terdapat 14 khalifah yang berkuasa.

Khalifah-Khalifah yang Memimpin Dinasti Fatimiyah
  1. (909 M – 934 M) Al- Mahdi
  2. (934 M – 946 M) Al- Qa’im
  3. (946 M – 952 M) Al-Manshur
  4. (952 M – 975 M) Al-Mu’iz
  5. (975 M – 996 M) Al-Aziz
  6. (996 M – 1021 M )Al-Hakim
  7. (1021 M – 1035 M)Az-Zahir
  8. (1035 M – 1094 M)Al-Mustanshir
  9. (1094 M – 1101 M)Al-Musta’li
  10. (1101 M – 1130 M)Al-Amir
  11. (1130 M – 1149 M)Al-Hafizth
  12. (1149 M – 1154 M)Az-Zafir
  13. (1154 M – 1160 M)Al-Fa’iz
  14. (1160 M – 1171 M) Al-‘Adhid

Masa Kejayaan Dinasti Fatimiyah

al azhar kairo
Photo by acehsatu.com

Masa kejayaan Dinasti Fatimiyah mulai terjadi pada masa Khalifah Al-Mu’iz ketika memindahkan ibukota ke Kairo. Dan puncak kejayaannya terjadi pada masa pemerintahan Al-‘Aziz, selain melestarikan pencapaian khalifah sebelumnya, dia juga menyempurnakan pencapaian-pencapaian tersebut. Dalam waktu singkat, pada masa ini kota Kairo menjadi pusat peradaban Islam menggantikan kota Baghdad.

Menurut Eamon Gaeron, salah satu alasan kenapa Dinasti Fatimiyah dapat dengan cepat mencapai kemajuan adalah karena dinasti ini pada masa pemerintahan Khalifah A-‘Aziz lebih mengedepankan visi pembangunan yang bersifat egaliter dan mengedepankan toleransi. Hal ini berbeda dengan sistem pemerintahan Islam sebelumnya, khususnya masa Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah.

Salah satu kontribusi Al-‘Aziz adalah didirikannya sebuh masjid dan universitas khusus yang menjadi pusat pembibitan paham Ismailliyah, yang diberi nama dengan Al-Azhar. Dinasti Fatimiyah kerap kali menggunakan lembaga pendidikan untuk menyebarkan doktrinasi mereka, tapi hal ini hanya untuk kalangan terbatas. Di luar hal ini, mereka tetap mengedepankan toleransi yang tinggi.

Peta Kekuasaan Dinasti Fatimiyah

peta kekuasaan dinasti fatimiyah
Photo by kumpulanmakalah.com

Pada masa kejayaannya, peta kekuasaan Dinasti Fatimiyah meliputi daerah seluruh Afrika Utara, Sicilia, Mediterania, dan kedua sisi wilayah tepian Laut Merah dengan pusat pemerintahannya di Kairo, Mesir.

Tokoh Ilmuwan pada Masa Dinasti Fatimiyah

Berikut beberapa tokoh ilmuwan pada masa Dinasti Fatimiyah:

  • Muhammad At-Tamimi (ahli Fisika dan Kedokteran)
  • An-Nu’man (ahli Hukum dan menjabat sebagai hakim)
  • Ali bin Yunus (ahli Astronomi)
  • Ali Al-Hasan bin Al-Khaitami (ahli Fisika dan Optik)

Sebab Kemunduran Dinasti Fatimiyah

prajurit
Photo by Devanath

Diantara beberapa faktor yang membuat sebab kemunduran Dinasti Fatimiyah adalah,

  • Perilaku Al-Hakim (pengganti Khalifah Al-‘Aziz) yang kejam

Saat Khalifah Al-Hakim menduduki kursi khalifah Dinasti Fatimiyah, toleransi dan keramahan yang dibangun oleh khalifah sebelumnya terhadap dinasti ini dan Kota Kairo perlahan luntur. Dan intoleransi ini menyebar hampir ke seluruh penjuru wilayah kekuasaan Dinasti Fatimiyah.

Pada masa Khalifah Al-Hakim, sekte Syi’ah Ismaliyah begitu mendominasi dari sekte-sekte lainnya, bahkan kaum muslimin dari kelompok non-Ismaili mengalami diskriminasi pada masa ini. Dan kaum non-muslim mengalami intoleransi yang lebih hebat, hal ini dibuktikan dengan dihancurkannya Gereja Makam Yesus oleh kaum Muslimin.

  • Konflik internal antar para elit Dinasti Fatimiyah

Konflik internal yang terjadi dalam dinasti ini terjadi setelah wafatnya Khalifah Al-Aziz. Hal ini dikarenakan mayoritas khalifah setelahnya menduduki jabatan khalifah ketika usianya masih sangat muda bahkan masih dalam usia kanak-kanak, misalnya Al-Hakim naik tahta pada usia 11 tahun, Az-Zahir berusia 16 tahun, dan Al-Faiz berusia 4 tahun.

Akhirnya, keran usia yang masih relatif sangat muda. Jabatan Al-Wazir yang mulai dibentuk pada masa Al-Aziz ditunjuk sebagai pelaksana pemerintahan sampai khalifah siap untuk mengatur pemerintahan. Akibatnya, jabatan wazir menjadi hal yang diperebutkan dan menimbulkan konflik internal di Istana.

  • Pengaruh tiga bangsa besar yang menjadi pendukung utama terbentuknya Dinasti Fatimiyah

Dinasti fatimiyah terbentuk dengan bantuan tiga bangsa besar, yaitu bangsa Arab, bangsa Afrika Utara, dan bangsa Barbar. Ketika khalifah yang memimpin mempunyai pengaruh yang kuat, maka tiga bangsa ini dapat diintregasikan menjadi kekuatan yang dahsyat. Akan tetapi jika pengaruh khalifah lemah, maka akan terjadi bentrokan perebutan kekuasaan.

  • Faktor eksternal

Faktor eksternal yang mempengaruhi sebab kemunduran dinasti ini adalah rongrongan  bangsa Normandia, Bani Saljuk, dan Bani Sulaim dari Nejed yang berusaha untuk menguasai sedikit demi sedikit kekuasaan Dinasti Fatimiyah.

  • Kehancuran Dinasti Fatimiyah pada masa Khalifah Al-‘Adid

Saat Al-‘Adid menjabat sebagai khalifah di usia 11 tahun, wilayah kekuasaan Dinasti Fatimiyah menjadi ajang perebutan antara Nuruddin Zangi sebagai perwakilan Dinasti Abbasiyah yang berada di Syiria dan pasukan Salib di Yerussalem yang dipimpin oleh Raja Almeric.

Pada tahun 1169 M, pasukan Nuruddin Zangi yang dipimpin oleh Shalahuddin Al-Ayyubi dapat mengusir pasukan Salib dari Mesir dan diangkat menjadi wazir oleh Khalifah Al-‘Adid. Setelah Khalifah Al-‘Adid wafat, maka berakhir pula riwayat kekuasaan dinasti ini. Setelah itu, Shalahuddin Al-‘Ayubi mendeklarasikan berdirinya Dinasti Ayyubiyah pada tahun 1174 M.

Kemajuan-Kemajuan Dinasti Fatimiyah

masjid al azhar
Photo by shadyshaker

Berikut beberapa peninggalan dari Dinasti Fatimiyah.

a) Agama

Dalam bidang agama, dinasti ini memberlakukan ajaran-ajaran Syi’ah dan menganggap bahwa imam Syi’ah itu bersih dari dosa dan kesalahan. Pada zaman ini, umat Kristen diberikan toleransi yang tak terbatas yang sebelumnya belum pernah mereka dapatkan.

b) Pendidikan

Dalam bidang pendidikan, pada masa Khalifah Al-Aziz masjid Al-Azhar ditingkatkan fungsinya yang semula hanya sebagai tempat ibadah ditingkatkan menjadi universitas. Pada masa Khalifah Al-Hakim, didirikanlah sebuah lembaga yang diberi nama ‘Bait Al-Hikmah’ yang mana lembaga ini setara dengan lembaga-lembaga ilmu pengetahuan di Baghdad, dll.

Selain itu, dinasti ini juga mendirikan observatorium untuk mempelajari astronomi, astrologi, kedokteran, kimia, dan sejenisanya di Bukit Al-Mukattam.

c) Politik

Sistem pemerintahan yang diterapkan pada masa dinasti ini bersistem teokrasi, karena mereka menganggap jabatan khalifah ditentukan olehh suatu nash atau wasiat Nabi kepada Ali di Gadir Khummah. Hal ini dibuktikan dengan penamaan-penamaan khalifahnya, seperti Khalifah Al-Mu’iz lidillah, Al-Mustansir billah, dll.

Akan tetapi, jika sistem pemilihan khalifah dengan penunjukan langsung, maka sistem pemilihannya bisa disebut sebagai monarki bahkan bisa disebut sebagai monarki absolut. Khalifah yang terpilih kemudian membawahi beberapa menteri yang diambil dari orang-orang yang mampu dan memiliki keahlian tanpa memandang sekte, suku, bahkan agama.

d) Militer

Salah satu kebijakan militer pada dinasti ini adalah keberadaan tentara bayaran sebagai penopang utama pemerintahan Fatimiyah. Hal ini terjadi karena pada awal mula berdirirnya, dinasti ini menganut Syi’ah Ismailliyah yang mana merupakan kelompok minoritas.

Tentara bayaran ini diambil dari ras kulit hitam atau Zawila yang dibeli dari pasar budak di Afrika. Tentara ini juga diambil dari orang Eropa Sakalaba atau biasa dipanggil dengan sebutan Bangsa Slav yang menjadi bangsa termiskin di Eropa Timur.

e) Ekonomi

Dalam bidang perekonomian, dinasti ini membuat jalan terusan untuk meningkatkan perekonomian dinasti tersebut. Dinasti ini juga menambah aturan baru dalam bidang perindustian, para pelaku industri dibatasi dari hidup bermewah-mewahan.

Satuan uang Kekhalifahan Fatimiyah di Mesir menggunakan dinar dengan menerapkan kurs dirham yang telah ditentukan, hal ini diterapkan untuk melindungi para pedagang kecil dari kesewenangan pedagang besar yang menggunakan uang dinar sebagai kurs.

Selain itu, pendapatan dari dinasti ini juga diperoleh dari pertanian, perdagangan, dan bea cukai. Hal ini terjadi karena pada saat itu menjadi jalur penghubung antara Afrika, Asia, dan Eropa melalui Sungai Nil. Selain itu, Mesir juga menjadi tempat pertukaran berbagai komoditas antara Asia dan Eropa.

f) Kebudayaan dan Peradaban

Salah satu peninggalan kebudayaan dan peradaban yang masih eksis dari Dinasti ini adalah kota Kairo. Pada tahun 975 M – 1075 M, Fustat yang merupakan ibukota Mesir menjadi pusat produksi keramik dan karya seni Islami, selain itu juga menjadi salah satu kota terkaya di dunia.

g) Seni

Pada masa dinasti ini, seni cukup berkembang dengan pesat. Antara lain keindahan seni dalam bidang tekstil. Selain itu, produk tenunan pada masa ini mempunyai kekhasan bergaya koptik Mesir yang juga dipengaruhi gaya Iran dan Sasaniyah. Seni keramik pada masa ini mengikuti pola-pola Iran dan seni penjilidan buku yang menjadi penjilidan pertama dalam dunia Islam.

h) Arsitektur

Salah satu peninggalan dinasti ini yang masih ada hingga saat ini adalah Masjid Al-Azhar yang dibangun oleh Jenderal Jawhar pada tahun 927 M. Gaya arsitektur Masjid Al-Azhar merupakan penggabungan antara Masjid Ibnu Tulun di Mesir dan gaya Persia dengan menara yang menjadi ciri khas Irak Utara.

Sebagai umat Islam, kita tidak dapat lepas dari sejarah tentang Islam. Dan sejarah mengenai kekuasaan Islam pada masa dinasti ini tidak hanya pada masa Dinasti Fatimiyah. Ada beberapa dinasti lain yang ikut berdiri, seperti Dinasti Abbasiyah dan Dinasti Ayyubiyah.

Semoga, dengan kita mempelajari dan mengenang kembali kisah-kisah mengenai sejarah perkembangan Islam zaman dulu hingga kini dapat menambah wawasan dan rasa cinta kita kepada Islam, juga dapat menjadi motivasi lebih untuk menjadi generasi yang lebih baik dari generasi yang sebelumnya. Aamiin

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!