Dinasti Abbasiyah, Dinasti Terlama dalam Islam

Dinasti Abbasiyah – Setelah masa kekhalifahan empat sahabat Nabi Muhammad berakhir, muncullah pemerintahan-pemerintahan Islam yang berbentuk kerajaan. Peemrintahan Islam  yang berbentuk kerajaan ini diantaranya adalah Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah.

Nama Dinasti Abbasiyah diambil dari nama kabilah yang mendirikan dinasti tersebut, Bani Abbasiyah. Nama Bani Abbasiyah sendiri disandarkan kepada salah satu paman Nabi Muhammad, yaitu Abbas bin Abdul Muthalib. Hal ini menunjukkan pertalian yang erat antara keluarga Bani Abbas dengan Nabi Muhammad.

Dinasti Abbasiyah merupakan kekhalifahan Islam terlama yang pernah memimpin dalam sejarah Islam, yaitu pada tahun 750 M /132 H -1258 M / 656 H atau sekitar lima abad lamanya.

Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah

dinasti abbasiyah
Photo by muslimobsession.com

Dinasti Abbasiyah adalah pemerintahan dalam sejarah Islam yang memimpin tahun 32 H/750 M setelah menumbangkan pemerintahan Bani Umayyah melalui pertempuran di suatu wilayah di daerah Damaskus.

Dinasti  Abbasiyah terbentuk melalui banyak faktor, diantaranya yaitu dengan menyebarkan propaganda untuk mengembalikan daulat kekhilafahan kepada kerabat Nabi Muhammad, pandangan umat Islam terhadap Dinasti Umayyah yang tidak berlaku adil, dan juga kebijakan yang diskriminatif terhadap penduduk non-Arab oleh Dinasti Umayyah.

Tokoh Pendiri Dinasti Abbasiyah

Nama Dinasti Abbasiyah dinisbahkan kepada pendiri Dinasti Abbasiyah yang merupakan keturunan dari Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad,  yang bernama Abdullah As-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim.

Dan tiga tokoh pendiri Dinasti Abbasiyah adalah,

1) Abul Abbas As-Saffah

abu abbas as-saffah
Photo by 411pahlawanmuslim.blogspot.com

Silsilah nasab Abul Abbas As-Saffah adalah Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthallib bin Hasyim atau lebih dikenal dengan sebutan Abul Abbas As-Saffah. Abul Abbas As-Saffah merupakan pendiri dan khalifah pertama Bani Abbasiyah.

Nama “As-Saffah” sendiri merupakan julukan yang berarti “Sang Penumpah Darah”. Julukan ini diberikan kepada Abul Abbas As-Saffah karena dia sering membantai lawan politiknya.

Abul Abbas As-Saffah lahir dari keluarga Bani Hasyim, yang merupakan keturunan dari Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad. Hal ini membuatnya menjadi figur pusat dari perlawanan terhadap Bani Umayyah sebab pertalian darahnya dengan Rasulullah.

As-Saffah memulai pemberontakannya terhadap Bani Umayyah dari Khurasan, wilayah yang sekarang merupakan bagian timur Iran dan barat Afganistan. Dari wilayah ini, As-Saffah memimpin pasukannya bertempur dengan Bani Umayyah hingga memperoleh kemenangan pada tahun 750.

2) Abu Ja’far Al-Mansur

abu ja'far al mansur
Photo by dicka77.blogspot.com

Abu Ja’far Abdullah bin Muhammad bin Mansur, atau lebih dikenal dengan sebutan Abu Ja’far Al-Mansur merupakan khalifah kedua Bani Abbasiyah. Dia sendiri merupakan saudara dari khalifah pertama Bani Abbasiyah, Abul Abbas As-Saffah.

Al-Mansur dianggap sebagai tokoh penting dalam sejarah berdirinya Bani Abbasiyah, selain sebagai pemimpin peperangan melawan Bani Umayyah, beliau juga dikenal sebagai pendiri ibu kota baru untuk Bani Abbasiyah, yaitu Madinat As-Salam atau lebih dikenal dengan Baghdad.

3) Abu Muslim Al-Khurasani

abu muslim al khurasani
Photo by wanzumadi.blogspot.com

Nama lengkap dari Abu Muslim Al-Khurasani adalah Abu Muslim Abd Al-Rahman bin Muslim Al-Khurasani merupakan seorang panglima perang keturunan Persia ketika memimpin pasukan dalam pemberontakan Bani Abbassiyah mengalahkan Bani Umayyah. Sesuai nama yang disematnya, Abu Muslim berasal dari Khurasan, wilayah Iran Timur.

Abu Muslim dianggap sebagai tokoh utama yang menggalang dukungan kepada Bani Abbassiyah dari orang-orang Persia dan orang non-Arab dalam pemberontakan terhadap Bani Umayyah. Sebelumnya, BAni Umayyah melakukan diskriminasi terhadap orang non-Arab (kaum Ajam) yang menjadi salah satu faktor pemberontakan terhadap Bani Umayyah.

Silsilah Khalifah Dinasti Abbasiyah

Dinasti Abbasiyah menurut asal-usul penguasa mengalami tiga kali pergantian, yaitu Bani Abbas, Bani Buwaihi, dan Bani Saljuk.

a) Bani Abbasiyah (750 M -932 M)

 

Bani Abbasiyah merupakan dinasti yang dibangun oleh Abu Abbas As-Saffah, penamaan ‘Abbasiyah’ ini bersandar pada paman Nabi Muhammad yang termuda, Abbas bin Abdul Muthalib.

Khalifah-Khalifah yang Memimpin Dinasti Abbasiyah dari Bani Abbas
  1. (132 H – 136 H / 750 M – 754 M) Khalifah Abul Abbas As-Saffah
  2. (136 H – 158 H / 754 M – 775 M) Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur
  3. (158 H – 169 H / 775 M – 785 M) Khalifah Al-Mahdi
  4. (169 H – 170 H / 785 M – 786 M) Khalifah Al-Hadi
  5. (170 H – 193 H / 786 M – 809 M) Khalifah Harun Ar-Rasyid
  6. (193 H – 198 H / 809 M – 813 M) Khalifah Al-Amin
  7. (198 H – 218 H / 813 M – 833 M) Khalifah Al-Ma’mun
  8. (218 H – 227 H / 833 M – 842 M) Khalifah Al-Mu’tasim
  9. (227 H – 232 H / 842 M – 847 M) Khalifah Al-Wasiq
  10. (232 H – 247 H / 847 M – 861 M) Khalifah Al-Mutawakkil
  11. (247 H – 248 H / 861 M – 862 M) Khalifah Al-Muntasir
  12. (248 H – 252 H / 862 M – 866 M) Khalifah Al-Mustain
  13. (252 H – 255 H / 866 M – 869 M) Khalifah Al-Muktazz
  14. (255 H – 256 H / 869 M – 870 M) Khalifah Al-Muhtadi
  15. (256 H – 279 H / 870 M – 892 M) Khalifah Al-Muktamid
  16. (279 H – 289 H / 892 M – 902 M) Khalifah Al-Muktadid
  17. (289 H – 295 H / 902 M – 908 M) Khalifah Al-Muktafi
  18. (295 H – 320 H / 908 M – 932 M) Khalifah Al-Muktadir

b) Bani Buwaihi (932 M – 1075 M)

Bani Buwaihi merupakan rezim Syi’ah yang berkuasa pada masa kekhilafahan Dinasti Abbasiyah. Dinasti ini dibangun oleh tiga orang putra Abu Syuja’ Buwaihi yaitu Ali bin Buwaihi yang berkuasa di daerah Isfahan (Iran), Hasan bin Buwaihi yang berkuasa di Rayy dan Jabal (Iran), dan Ahmad bin Buwaihi yang membangun kekuatan di Khuzistan dan Al-Ahwaz (sekitar Irak).

Khalifah-Khalifah yang Memimpin Dinasti Abbasiyah dari Bani Buwaihi
  1. (320 H – 322 H / 932 M – 934 M) Khalifah Al-Kahir
  2. (322 H – 329 H / 934 M – 940 M) Khalifah Ar-Radi
  3. (329 H – 333 H / 940 M – 944 M) Khalifah Al-Mustaqi
  4. (333 H – 334 H / 944 M – 946 M) Khalifah Al-Muktakfi
  5. (334 H – 363 H / 946 M – 974 M) Khalifah Al-Mufi
  6. (363 H – 381 H / 974 M – 991 M) Khalifah At-Tai
  7. (381 H – 422 H / 991 M – 1031 M) Khalifah Al-Kadir
  8. (422 H – 467 H / 1031 M – 1075 M) Khalifah Al-Kasim

c) Bani Saljuk (1075 M – 1258 M)

Pendiri dari Dinasti Seljuk adalah Seljuk Beg. Akan tetapi, yang berhasil mewujudkann berdirinya dinasti ini adalah Tugril Beg. Kehadiran Bani Saljuk dilingkungan istana merupakan “undangan” khalifah untuk membantu melumpuhkan kekuatan Bani Buwaihi di Baghdad.

Khalifah-Khalifah yang Memimpin Dinasti Abbasiyah dari Bani Saljuk
  1. (467 H – 487 H / 1075 M – 1094 M) Khalifah Al-Muqtadi
  2. (487 H – 512 H / 1094 M – 1118 M) Khalifah Al-Mustazhir
  3. (512 H – 529 H / 1118 M – 1135 M) Khalifah Al-Mustasid
  4. (529 H – 530 H / 1135 M – 1136 M) Khalifah Ar-Rasyid
  5. (530 H – 555 H / 1136 M – 1160 M) Khalifah Al-Mustafi
  6. (555 H – 566 H / 1160 M – 1170 M) Khalifah Al-Mustanjid
  7. (566 H – 575 H / 1170 M – 1180 M) Khalifah Al-Mustadi
  8. (575 H – 622 H / 1180 M – 1225 M) Khalifah An-Nasir
  9. (622 H – 623 H / 1225 M – 1226 M) Khalifah Az-Zahir
  10. (623 H – 640 H / 1226 M – 1242 M) Khalifah Al-Mustanshir
  11. (640 H – 656 H / 1242 M – 1258 M) Khalifah Al-Musta’sim

Masa-Masa Keemasan Dinasti Abbasiyah

1. Abu Abbas Abdullah bin Muhammad As-Saffah (721 M – 754 M)

dinasti abbasiyah
Photo by ganaislamika.com

Abu abbas Abdullah bin Muhammad As-Saffah merupakan khalifah pertama sekaligus pendiri Dinasti Abbasiyah. Beliau memimpin Dinasti Abbasiyah dari semenjak berdirinya Dinasti tersebut hingga akhir hayatnya tahun 754 M.

Abu Abbas As-Saffah merupakan pemimpin dari dalsalah satu cabang Bani Hasyim, yang menisbatkan nasabnya kepada Hasyim, buyut dari Rasulullah, melalui peman beliau, yaitu Abbas bin Abdul Muthalib. Abu Abbas mendapatkan dukungan besar dari golongan Syi’ah yang menginginkan pemerintahan dikembalikan kepada Ahlul Bait keturunan Rasulullah melalui Ali bin Abi Thalib.

Kebijakan yang dibuat oleh Dinasti Umayyah yang tanggung-tanggung dan bersifat diskriminatif terhadap umat Muslim non-Arab dan Arab membuat kerusuhan-kerusuhan yang berimbas pada eksistensi Dinasti Umayyah.

2. Abu Ja’far Al-Mansur (754 M- 775 M)

abu ja'far al mansur
Photo by ganaislamika.com

Abu Ja’far Abdullah bin Mansur merupakan khalifah kedua dari Bani Abbasiyah, ia merupakan saudara dari As-Saffah, khalifah pertama Bani Abbasiyah. Ia dilahirkan di Al-Humayyah, kampung halaman Bani Abbasiyah setelah bermigrasi dari Hijaz. Beliau merupakan khalifah yang memindahkan ibukota dari Kuffah ke Baghdad.

Pada masa Khalifah Al-Mansur, beliau mempelopori gerakan penerjemahan terutama dalam bidang astronomi, kimia, dan kedokteran. Naskah-naskah filsafat karya Aristoteles dan Palto juga diterjemahkan.

Ia meninggal pada tahun 775 ketika perjalanan haji ke Makkah, ia dimakamkan entah dimana. Makamnya ada diantara salah satu ratusan nisan di sepanjang jalan untuk menyembunyikan badannya dari Bani Umayyah. Setelah meninggalnya, ia digantikan oleh putranya, Al-Mahdi.

Pada masa ini juga terbentuknya perpustakaan yang bernama Baitul Hikmah, yang kemudian berganti nama menjadi Khizanah Al-Hikmah (Khazanah Kebijaksanaan) pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid.

3. Harun Ar-Rasyid (786 M- 809 M)

harun ar rasyid
Photo by bincangsyariah.com
Pada masa Harun Ar-Rasyid, perpustakaan Baitul Hikmah pada masa Khalifah Al-Mansur berganti nama menjadi Khizanah Al-Hikmah (Khazanah kebijaksanaan) berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian.

Harun Ar-Rasyid lahir di Rayy pada tahun 766 dan meninggal di Khurasan pada tanggal 24 Maret tahun 809. Beliau merupakan khalifah ke-5 yang memerintah antara tahun 786 sampai tahun 803. Ayahnya bernama Muhammad Al-Mahdi merupakan khalifah ke-3 dan kakaknya, Musa Al-Hadi merupakan khalifah ke-4.

Era pemerintahan Harun Ar-Rasyid dikenal sebagai masa keemasan Islam (The Golden Age of Islam), yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Ma’mun Ar-Rasyid. Pada masa ini, Baghdad menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan di dunia.

4. Al-Ma’mun Ar-Rasyid (813 M- 833 M)

al ma'mun Ar rasyid
Photo by merdeka.com

Ma’mun Ar-Rasyid memiliki nama lengkap Abdullah bin Ar-Rasyid bin Al-Mahdi lahir pada tanggal 14 September tahun 786 dan meninggal pada tanggal 9 Agustus tahun 833. Ia meninggal pada usia 48 tahun. Al-Ma’mun Ar-Raysid mewarisi masa keemasan Khalifah Harun Ar-Rasyid.

Pada masa ini, perpustakaan Khizanah Al-Hikmah (Khazanah Kebijaksanaan) pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid berganti nama menjadi Bait Al-Hikmah dikembangkan dan dipergunakan lebih maju sebagai tempat penyimpanan buku-buku kuno Persia, Byzantium, Ethiopia, dan India. Selain itu, lembaga ini juga digunakan untuk pusat kegiatan study dan riset astronomi juga matematika.

Peta Kekuasaan pada Masa Dinasti Abbasiyah

peta kekuasaan bani Abbasiyah
Photo by deviantart.com

Peta kekuasaan Dinasti Abbasiyah semakin bertambah dengan pusat pemerintahan di Baghdad. Peta kekuasaan dan pengaruh Islam bergerak ke wilayah Timur Asia tengah dari perbatasan India hingga ke wilayah Cina.

Selain itu, wilayah yang dikuasai juga meliputi wilayah kekuasaan pada masa Dinasti Umayyah antara lain Hijaz, Yaman Utara dan Yaman Selatan, Oman,Kuwait, Irak, Iran,Yordania, Palestina, Libanon, Mesir, Tunisia, Aljazair, Maroko, Spanyol, Afganistan, dan Pakistan. Dan perluasan ini terus berkembang hingga meliputi daerah Turki, Armenia, dan sekitar laut Kaspia.

Ilmuwan Muslim pada Masa Dinasti Abbasiyah

Diantara tokoh-tokoh ilmuwan Muslim pada masa Dinasti Abbasiyah adalah,

  • Ibnu Sina

ibnu sina
Photo by kikynakesya.blogspot.com

Nama lengkap dari Ibnu Sina adalah Abu Ali Al-Husaini bin Abdullah bin Sina, atau lebih dikenal dengan Avicenna di dunia Barat. Selain sebagai seorang dokter, beliau merupakan seorang filsuf, ilmuwan, dan penulis aktif pada zamannya.

Ibnu Sina lahir pada tahun 370 H/980 M di Afsyahnah daerah dekat dengan Bukhara, tempat kelahiran Imam Bukhari yang mana sekarang masuk dalam wilayah Uzbekistan. Beliau dibesarkan di lembah Sungai Daljah dan Furat, tepi selata Laut Kaspia.

Di dunia kedokteran, Ibnu Sina merupakan ilmuwan muslim pertama yang menemukan peredaran darah manusia, kemudian disempurnakan oleh William Havey enam ratus kemudian. Ibnu Sina juga mengatakan jika bayi selama dalam kandungan ibunya, mengambil makanan lewat tali pusarnya dan juga yang mempratekkan pembedahan dan menjahitnya.

Karya Ibnu Sina yang paling terkenal dalam bidang kedokteran adalah Al-Qanun fi At-Tibb yang merupakan rujukan dalam bidang kedokteran selama berabad-abad. Selian itu, karya beliau yang lain adalah Asy-Syifa, An-Najat, dan Mantiq Al-Masyriqin.

  • Al-Farabi

al farabi
Photo by lenterapendidikan.com

Nama lengkap Al-Farabi adalah Abu Nasr Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan bin Ulzagh Al-Farabi, atau juga lebih dikenal dengan Alpharabius di dunia barat. Beliau merupakan seorang ilmuwan besar dan seorang filsuf Islam. Selain itu, beliau juga ahli dalam bidang bahasa, musik, ilmu alam, matematika, pengobatan, teologi, fiqh, dan manthiq.

Al-Farabi dilahirkan di daerah Farab, Kazakhstan dan meninggal di Aleppo. Ayahnya seorang opsir tentara Turki keurunan Persia, sedangkan ibunya merupakan orang Turki asli. Beliau dilahirkan pada masa pemerintahan yang paling kacau karena ketidakstabilan politik pada masa itu.

Oleh karena itu, Al-Farabi berkenalan dan mempelajari pemikiran-pemikiran dari para ahli filsafat Yunani seperti Plato dan Aristoteles, kemudian mencoba mengkombinasikan ide dan pemikiran-pemikiran Yunani Kuno dengan pemikiran Islam.

Al-Farabi dikenal juga sebagai “guru kedua” setelah Aristoteles dalam bidang filsafat karena kemampuannya dalam memahami Aristoteles yang kita kenal sebagai guru pertama dalam ilmu filsafat. Salah satu karya Al-Farabi yang terkenal adalah Al-Madinah Al-Fadhilah yang membahas mengenai pencapaian kebahagiaan melalui kehidupan politik dan hubungan antara pemerintahan yang paling baik.

  • Ibnu Rusyd

ibnu rusyd
Photo by republika.co.id

Nama lengkap dari Ibnu Rusyd adalah Abdul Walid Muhammad bin Rusyd, atau biasa dilatinkan dengan nama Averros. Beliau merupakan salah satu filsuf Islam yang terkemuka, dan juga dikenal sebagai “Penafsir atau the Commentator”, yakni penafsir pemikiran Aristoteles.

Beliau dilahirkan di Kordoba, Spanyol pada tahun 1126 M/520 H dan dibesarkan dalam keluarga dengan pengetahuan yang luas dan teguhnya dalam menegakkan agama. Neneknya adalah seorang ahli fikih dan tokoh politik yang berpengaruh serta hakim agung di Andalusia.

Salah satu karya yang terkenal milik Ibnu Rusyd adalah Al-Kulliyat yang telah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. Pemikiran-pemikiran Ibnu Rusyd sangat berpengaruh hingga saat ini, terutama di negara-negara Eropa dan banyak dikaji di tingkat universitas. Selain ahli dalam bidang filsafat, beliau juga ahli dalam bidang kedokteran.

  • Al-Khawarizmi

Al Khawarizmi
Photo by tirto.id

Nama lengkap dari Al-Khawarizmi adalah Abu Ja’far Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi, atau dikenal sebagai Algorismi/Algorism di dunia barat. Beliau dikenal sebagai salah satu tokoh dalam bidang Matematika dan dikenal sebagai Bapak Aljabar. Istilah algoritma dalam matematika disandarkan pada nama beliau, yaitu ilmu hitung desimal dengan menggunakan angka arab.

Selain bidang matematika, Al-Khawarizmi juga ahli dalam bidang astronomi dan geografi. Hasil karya Al-Khawarizmi dalam bidang matematika antara lain penemuan angka nol dan tabel-tabel trigonometri. Aljabar dalam matematika juga merujuk pada karya beliau, yaitu Hisab Al-Jabr wal Muqabalah (kalkulasi integral dan persamaan).

Karya beliau dalam bidang astronomi adalah Zij As-Sindhind, yaitu kitab yang menjelaskan mengenai penanggalan, perhitungan letak matahari, bulan, dan planet-planet secara benar. Juga menjelaskan mengenai peredaran benda-benda angkasa, astrologi, perhitungan gerhana, dan penampakan bulan.

Dalam bidang geografi, Al-Khawarizmi menulis buku Surah Al-Ardh (bentuk bumi) yang membahas tentang garis lintang, garis bujur kota-kota, gunung-gunung, laut, pulau, dan sungai-sungai pada peta bumi. Al-Khawarizmi lah orang pertama kali yang menciptakan geografi bumi dan menggambarkan peta Benua Afrika.

  • Al-Ghazali

imam al ghazali
Photo by bincangsyariah.com

Nama lengkap dari Al-Ghazali adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Ath-Thusi Asy-Syafi’i atau dalam dunia barat juga dikenal sebagai Algazel, nama Hamid diambil dari nama anaknya dan nama Al-Ghazali berkaitan dengan ayahnya yang seorang pemintal bulu domba (ghazal). Beliau merupakan salah satu ilmuwan muslim dalam bidang filsafat, teologi, dan sufisme.

Dalam bidang filsafat, ia mengembangkan perpaduan antara pemikiran filsafat modern dan Yunani Klasik yang tidak menyalahi ajaran agama Islam. Dan dalam bidang agama juga sufisme, beliau memandang bahwasannya pentingnya sufisme sebagai cara menggapai kembali kemurnian dalam ajaran Islam.

Dan diantara karya beliau yang terkenal adalah Ihya Ulumuddin (kebangkitan ilmu-ilmu agama) dalam bidang tasawuf, Tahafatu Al-Falasifa (kesalahan para filsuf) dalam bidang filsafat yang kemudian ditanggapi oleh Ibnu Rusyd dalam bukunya Tahafut Al-Tahafut (the Incoherence of the Incoherence, dan masih banyak lainnya.

  • Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldun
Photo by startfmmadina.com

Nama lengkap dari Ibnu Khaldun adalah Abu Zayd ‘Abd Al-Rahman bin Muhammad bin Khaldun Al-Hadrami atau biasa disebut juga sebagai bapak pendiri historiografi, sosiologi, dan ekonomi. Beliau lahir di Tunisia pada tanggal 01 Ramadhan tahun 732 H dari keluarga Andalusia kelas atas keturunan Arab.

Dan diantara kitab terkenal milik Ibnu Khaldun adalah Muqaddimah yang bercorak sosiologis-historis dan filosofis, yang mana kitab tersebut masih terus dikaji hingga saat ini.

Karya lain milik beliau adalah At-Ta’riif bi Ibn Khaldun (kitab autobiografi, catatan dari kitab sejarahnya), dan Lubab Al-Muhassal fi Ushul Ad-Diin, yaitu sebuah kitab yang berisi tentang permasalahan dan pendapat-pendapat teologi yang merupakan ringkasan dari kitab Muhassal Afkaar Al-Mutaqaddimiin wa Al-Muta’akhiriin karya Imam Fakhruddin Ar-Razi.

  • Al-Kindi

al kindi
Photo by goedangbiografi.blogspot.com

Nama lengkap dari Al-Kindi adalah Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq As-Sabbah Al-Kindi, beliau merupakan filsuf muslim pertama yang juga ahli dalam bidang kedokteran dan astronomi. Selain bisa berbahasa Arab, ia juga mahir berbahasa Yunani sehingga banyak karya-karya filsuf Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, seperti Aristoteles dan Plotinos.

Al-Kindi lahir pada masa pemerintahan hrun Ar-Rasyid, tepatnya pada tahun 801 M di Kufah dan meninggal pada tahun 869 M. Nama Al-Kindi didapatkan dari nama salah satu suku di Arab yang besar sebelum Islam, yaitu suku Kindah.

Al-Kindi dikenal sebagai filsuf yang pertama dari kalangan umat Islam karena beliau lah orang Islam pertama yang mendalami ilmu-ilmu filsafat. Hingga abad ke-07, pengetahuan mengenai filsafat masih didominasi oleh orang-orang Kristen Suriah. Ia menuliskan filsafat sebagai ilmu dari segala ilmu dan kearifan dari segala kearifan.

Daintara karya-karya milik Al-Kindi dapat dikelompokkan dalam bidang filsafat, logika, ilmu hitung, music, astronomi, geometri, medis, astrologi, psikologi, politik, dan meteorology. Salah satu karya Al-Kindi dalam bidang filsafat adalah Risalah fi Madkhal Al-Mantiq bi Istifa Al-Qawl fih yang berisi tentang sebuah pengantar logika.

Penyebab Runtuhnya Dinasti Abbasiyah

perang salib
Photo by wawasansejarah.com

Diantara sebab runtuhnya Dinasti Abbasiyah dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

a) Faktor Internal

Diantara sebab-sebab faktor internal yang menyebabkan runtuhnya Dinasti Abbasiyah adalah,

  • Perebutan Kekuasaan

Kekhilafahan Dinasti Abbasiyah didirikan oleh bani Abbas yang juga bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilatarbelakangi karena persamaan nasib kedua golongan ini pada masa Bani Umayyah berkuasa, keduanya sama-sama tertindas. Setelah khilafah Bani Abbasiyah berdiri, dinasti ini tetap mempertahankan persekutuan tersebut.

Walaupun demikian, orang-orang Persia merasa tidak puas dengan pencapaian selama ini. Mereka menginginkan sebuah dinasti yang dengan raja dan pegawai dari orang Persia pula. Sementara itu, bangsa Arab beranggapan bahwasannya mereka adalah ras istimewa dan menganggap rendah bangsa non-Arab di dunia Islam.

Fanatisme kebangsaan ini sepertinya tetap dibiarkan berkembang. Dengan masuknya unsur Turki dan Persia ke dalam istana, serta dominasi mereka yang terlalu kuat membuat mereka dapat menentukan siapa yang diangakat menjadi khalifah.

Sejak itu, kekuasaan Bani Abbas sebenarnya sudah berakhir. Kekuasaan Bani Abbas diambil alih oleh bangsa Turki, yang kemudian direbut oleh Bani Buwaihi, bangsa Persia, pada periode ketiga. Dan selanjutnya beralih ke bangsa Turki pada periode keempat, Dinasti Seljuk.

  • Munculnya Dinasti yang Memerdekakan Diri

Peta wilayah kekuasaan milik Dinasti Abbasiyah dari periode pertama hingga masa keruntuhannya sangatlah luas dan meliputi berbagai bangsa yang beragam seperti Macitaroko, Mesir, Syiria, irak, Persia, Turki, dan India. Walaupun dalam kenyataannya banyak daerah yang tidakn dikuasai oleh pemerintah, namun daerah-daerah tersebut berada dibawah kekuasaan gubernur-gubernur setempat.

Selain cangkupan wilayah yang cukup luas dengan komunikasi antar pusat dan daerah cukup sulit dilakukan, perebutan kekuasaan di pusat dengan ditambahnya masuknya unsur Turki dan Persia membuat keadaan semakin memburuk. Akibatnya, daerah-daerah tertentu di pinggiran mulai melepaskan diri dari kekuasaan Bani Abbasiyah.

  • Kemerosotan Perekonomian

Pada periode pertama terbentuknya pemerintahan Bani Abbasiyah, dana yang msuk melebihi dana yang keluar. Sehingga, Baitul-Mal penih dengan harta. Perekonomian masyarakat sangat maju terutama dalam bidang pertanian, perdaganagan, dan industri.

Akan tetapi, setelah memasuki kemunduran politik, perekonomian ikut mengalamu kemunduran yang drastis. Pendapatan negara menurun sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Hal ini disebabkan menyempitnya wilayahnya kekuasaaan dan banyaknya kerusuhan yang terjadi menyebabkan terganggunya roda perekomian.

Selain itu, kondisi perekonomian yang buruk memperlemah kekuatan politik Dinasti Abbasiyah. Hal ini menyebabkan banyak dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti kepada pemerintah, hal ini diperparah dengan kehidupan para khalifah dan pejabat yang mewah dan banyak melakukan korupsi.

  • Munculnya Aliran-Aliran Sesat dan Fanatisme Keagamaan

Sejak terjadinya konflik antara Muawiyah dan Khalifah Ali, umat Islam lahir menjadi tiga kelompok, yaitu pemgikut Muawiyah, Syiah, dan Khawarij. Ketiga kelompok ini senantiasa berebt pengaruh. Selain itu, muncul juga kelompok-kelompok lainnya seiring berjalannya zaman.

Pada masa bani Abbasiyah, karena keinginan orang Persia tidak sepenuhnya tercapai untuk menjadi penguasa, maka kekecewaan tersebut mereka propagandakan dengan menyebarkan ajaran Manusime, Zoroasterisme, dan Mazdakisme. Kemudian, muncullah gerakan Zindiq, yaitu seseorang yang menampakkan keislaman akan tetapi menyembunyikan kekafiran mereka.

Khalifah Al-Mansur berusaha keras untuk memberantas golongan-golongan ini. Setelah beliu wafat, putranya, Al-Mahdi berusaha lebih keras dalam memberantsanya hingga mendirikan jawatan khusus untuk mengawasi kegiatan mereka dengan tujuan memberantas bid’ah. Akan tetapi, semua usaha ini tidak menghentikan kegiatan mereka.

Hingga saat gerakan ini mulai tersudut, [pendukungnya banyak yang bersembunyi dan berlindung di balik jaran syi’ah. Sehingga, banyak aliran syi’ah yang dipandang ekstrim, bahkan oleh penganut syi’ah sendiri. Syi’ah pernah berkuasa di dalam khilafah Abbasiyah melalui Bani Buwaihi lebih dari seratus tahun.

Selain itu, juga terjadi konflik antara aliran Islam lainnya seperti perselisihan antara Ahlussunnah dengan Mu’tazilah, yang dipertajam dengan menjadikan Mu’tazilah sebagai mazhab resmi negara pada masa khalifah Al-Ma’mun.

b) Faktor Eksternal

Beberapa faktor eksternal yang menyebabkan Dinasti Abbasiyah runtuh adalah,

  • Perang Salib

perang salib
Photo by idntimes.com

Kemenangan orang Islam dalam peperangan melawan tentara Romawi menanamkan benih permusuhan dan kebencian pihak Romawi terhadap orang Islam. Rasa kebencian ini semakin bertambah ketika Dinasti Saljuk mengusai Baitul Maqdis dan menerapkan beberapa peraturan yang dirasakan mempersulit orang Kristen yang ingin berziarah kesana.

Oleh karena itu, Paus Urbanus II menyerukan kepada umat Kristen Eropa untuk melakukan perang suci, yang kemudian disebut dengan Perang Salib. Perang ini berlangsung dari tahun 1907-1124 hingga menelan banyak korban jiwa dan mengusai beberapa wilayah Islam, yaitu Nicea, Edessa, Baitul Maqdis, Akka, Tripoli, dan Kota Tyre.

  • Serangan Tentara Mongolia

serangan tentara mongol dinasti abbasiyah
Photo by ongkronganislami.net

Orang-orang Mongolia adalah bangsa yang berasal dari Asia Tengah, kawasan terjauh di China. Terdiri dari kabilah-kabilah yang kemudian disatukan oleh Jengis Khan.

Awal penghancuran Baghdad dan Khilafah Islam, orang-orang Mongolia memulai dengan menguasai negari-negeri Asia Tengah, Khurasan, Persia, dan Asia Kecil.  Pada bulan September 1257, Hulagu mengirimkan ultimatum kepada khalifah agar menyerah, akan tetapi khalifah enggan memberikan jawaban.

Akhirnya, pada bulan Januari 1258, Hulagu Khan menghancurkan tembok ibukota kemudian menghancurkan kota Baghdad dan membakarnya. Khalifah Al-Mu’tashim dan para fuqaha semua dieksekusi, dan pembunuhan berlangsung selama 40 hari dengan jumlah korban sekitar dua juta orang. Hal ini menandai berakhirnya Dinasti Abbasiyah.

Peninggalan Dinasti Abbasiyah

Dan diantara peninggalan-peninggalan Dinasti Abbasiyah adalah,

a) Bidang Politik dan Militer

dinasti Abbasiyah
Photo by peradabandansejarah.blogspot.com

Dinasti Abbasiyah dalam pemerintahannya lebih mengorientasikan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Sehingga, Diansti Abbasiyah lebih terkenal dengan masa keemasaannya peradaban Islam.

Akan tetapi, usaha dalam memperluas daerah kekuasaan tetap penting. Hal ini terlihat ketika dinasti ini melakukan pembaharuan dalam tatanan politik pemerintahan dan militer. Salah satu pembaharuan yang dibuat adalah dibentuknya satuan militer yang diberi nama Diwanul jundi.

Dewan ini berfungsi sebagai pengatur semua urusan yang berkaitan dengan kemiliteran, pertahanan, dan keamanan. Pembentukan dewan ini didasari banyaknya pemberontak dan usaha dari berbagai daerah kekuasaan yang berusaha untuk melepaskan diri sari Dinasti Abbasiyah.

b) Kota-Kota Pusat Peradaban

kota baghdad dinasti abbasiyah
Photo by travel.dream.co.id

Diantara kota-kota yang menjadi pusat peradaban pada masa Dinasti Abbasiyah adalah Kota Baghdad dan Kota Samarra.

Kota Baghdad adalah ibukota Dinasti Abbasiyah yang dibangun oleh Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur yang merupakan khalifah kedua dari dinasti ini. Selain sebagai ibukota Dinasti Abbasiyah dan kota pusat peradaban, kota ini juga sebagai kebangkitan ilmu pengetahuan dan dari sinilah para ahli ilmu datang beramai-ramai untuk menimba ilmu.

Sedangkan kota Samarra terletak di sebelah timur Sungai Tigris yang berjarak kurang lebih 60 km dari pusat Kota Baghdad. Didalam kota ini terdapat 17 istana mungil yang menjadi rujukan seni bangunan Islam di kota-kota lain.

c) Bangunan Tempat Pendidikan dan Tempat Peribadatan

dinasti abbasiyah
Photo by id.wikipedia.org

Berikut beberapa bangunan peninggalan pada masa Dinasti Abbasiyah,

  • Madrasah

Madrasah pertama kali didirikan oleh Nizamul Mulm. Madrasah-madrasah ini terletak di kota Baghdad, Balkan, Muro, Tabrisan, Naisabur, Hara, Isfahan, Mausil, Basrah, dan kota-kota lainnya.

  • Kuttab

Kuttab adalah tempat belajar bagi pelajar tingkat rendah hingga tingkat menengah.

  • Masjid Munadharah

Masjid Munadharah biasanya dignakan sebagai tempat pertemuan para pujangga, ahli fiqh, dan para sarjana untuk seminar masalah-masalah ilmiah.

  • Masjid

Masjid biasanya digunakan untuk mempelajari ilmu para pelajar tingkat tinggi dan takhasus.

  • Baitul Hikmah

Baitul Hikmah merupakan perpustakaan pusat yang juga digunakan sebagai pusat penelitian dan penyimpanan arsip-arsip kuno.

  • Masjid Raya Cordoba

Masjid ini terletak di Cordoba yang dibangun pada tahun 786 M.

  • Masjid Ibnu Toulon

Masjid ini terletak di Kairo dan dibangun pada tahun 786 M.

  • Istana Al-Hamra
  • Istana Al-Cazar, dan lain-lain.

Sekian beberapa informasi dan sejarah mengenai Dinasti Abbasiyah. Semoga dengan kita mengerti, memahami, dan mempelajari materi ini dapat membuat kita lebih bijak dalam menghadapi persoalan hidup dan membuat kita termotivasi tentang kisah-kisah hebat mereka. Aamiin.

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!