Biografi WR Supratman, Pencipta Lagu Indonesia Raya

Biografi W.R Supratman – Wage Rudolf Supratman merupakan salah satu pahlawan nasional yang dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai seseorang yang menciptakan lagu kebangsaan Indonesia. Selain seorang komponis yang cukup dikenal di Indonesia, WR Supratman juga seorang wartawan dan juga ikut terlibat dalam sumpah pemuda pada tahun 1928 M.

Berikut biografi singkat mengenai Wage Rudolf Supratman.

Kelahiran Wage Rudolf Supratman

rumah kelahiran supratman
Photo by detiknews.com

Wage Rudolf Supratman dilahirkan pada tanggal 09 Maret 1903 di Jatinegara, Jakarta. Akan tetapi, beberapa pendapat mengatakan jika WR Supratman dilahirkan pada tanggal 19 Maret 1903. Ayahnya bernama Djoemeno Senen Sastrosoehardjo yang mana merupakan seorang sersan di Batalyon VIII, KNIL Belanda. Sedangkan ibunya bernama Siti Senen.

WR Supratman memiliki saudara berjumlah enam yang mana semuanya adalah perempuan dan dia menjadi satu-satunya anak laki-laki dalam keluarganya. Saudaranya yang tertua bernama Roekijem.

Masa Kecil WR Supratman

masa kecil supratman
Photo by alinea.id

Masa kecil yang dilalui oleh WR Supratman cukup keras. Ia sudah merasakan kehilangan pada umur 6 tahun, ibunya yang menjadi semangatnya dalam belajar di sekolah Boedi Oetomo meninggal dunia. Setelah ibunya meninggal dunia, ayah WR Supratman yang mana merupakan seorang sersan tidak mampu membiayai seluruh anak-anaknya.

Bertepatan dengan tahun meninggalnya ibu WR Supratman, kakak tertuanya yang bernama Roekiyem Soepratiyah dipinag oleh Willem Van Eldik. WR Supratman pun dibawa oleh kakaknya keluar Jawa, yakni ke Makassar untuk mengikuti tugas suaminya. Tujuan mereka membawa Supratman ke Makassar adalah agar ia bisa mendapat masa depan yang cerah sehingga mampu mengangkat martabat keluarganya.

Sebenarnya kakak ipar Supratman yang bernama Belanda tersebut tidak memiliki darah Belanda sama sekali. Kakak iparnya pun menjabat sebagai petugas administrasi di kantor kepolisian Belanda. Pekerjaan inilah yang mengharuskan kakak iparnya menuruti perintah atasannya untuk berpindah ke Makassar di Sulawesi Selatan.

Perkenalan Wr Supratman dengan Dunia Musik

biola wr supratman
Photo by travel.kompas.com

WR Supratman mulai mengenal dunia musik lewat kakak iparnya, Willem Van Eldik. Willem Van Eldik bergabung dengan grup korps musik di kantornya. Eldik sangat menyukai musik, begitu juga dengan istrinya. Mereka pun kerap mendengarkan lagu lewat piringan hitam. Selain musik, Eldik juga menyukai dunia sandiwara.

Setelah melihat kecintaan Supratman pada musik, Eldik pun memberikan biola kepada Supratman sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-17. Eldik juga mengajari adik iparnya cara bermain biola.

Selain mempelajari musik dari kakak iparnya hingga menjadikannya seorang master biola dan guitar, Supratman juga bersekolah. Ia bersekolah di sekolah Belanda yang mana hanya orang-orang pribumi tertentu saja yang diperbolehkan sekolah Europe Large School (ELS).

Ketika mendapati adik iparnya memiliki bakat dalam bidang musik, Eldik pun mengajak Supratman untuk bergabung dengan sebuah grup musik beraliran jazz bernama Black & White. Ketenaran yang dimiliki band tersebut membuat mereka sering tampil dalam berbagai pertunjukan di daerahnya.

Asal-Usul Nama Rudolf

asal usul nama rudolf
Photo by boombastis.com

Nama ‘Rudolf’ di tengah-tengah nama Supratman merupakan nama pemberian dari kakak iparnya. Kakak iparnya memebri nama ‘Rudolf’ kepada Supratman agar pengakuan palsu jika Supratman adalah anak dari Roekiyem dan Eldik semakin kuat. Hal tersebut merupakan salah satu alasan Supratman bisa sekolah di sekolah Belanda.

Hingga saat ini, nama ‘Rudolf’ ditengah nama asli Wage Supratman masih dianggap sebagai nama asli oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Pada akhirnya, nama Supratman pun dikenal sebagai Wage Rudolf Supratman yang disingkat menjadi WR Supratman.

Riwayat Pendidikan WR Supratman

masa kecil supratman
Photo by pinterpandai.com

Setelah WR Supratman berhasil menjalani sekolah di ELS selama beberapa waktu, identitas mengenai dirinya yang mana merupakan bukan anak dari Van Eldik terbongkar. Hal tersebut menjadikan dirinya di drop out dari sekolah.

Setelah di drop out dari ELS, Supratman pun melanjutkan sekolahnya di sekolah anak Melayu di Makassar. Ia berhasil mendapatkan ijazah resminya pada tahun 1917. Setelah berhasil menyelesaikan pendidikannya di sekolah Melayu, Supratman berhasil melanjutkan pendidikan kursus bahasa Belanda.

Berkat dukungan dari kakak sulung dan kakak iparnya, Supratman berhasil menyelesaikan kursus bahasanya hanya selama 2 tahun. Ia pun berhasil mendapatkan gelar KAE (Klein Amtenaar Examen) berkat keberhasilannya tersebut.

Setelah WR Supratman berhasil menguasai bahasa Belanda, ia melanjutkan pendidikannya ke Normaal School di Makassar, sebuah sekolah keguruan yang menyiapkan tenaga pendidikan dan kependidikan. Setelah WR Supratman berhasil meyelesaikan pendidikannya, ia lalu dijadikan guru di Sekolah Angka 2 ketika berumur 20 tahun.

Perjalanan Karir

sumpah pemuda
Photo by harisluqmanhakim.blogspot.com

Dalam perjalanannya menjadi seorang guru pengajar, Supratman sempat dipindah tugaskan ke wilayah Singkang. Suasana di Singkang yang sangat berbeda dengan suasana di Makassar membuat Supratman bersikeras kembali ke Makassar. Ketika ia kembali ke Makassar, Supratman harus mencopot pekerjaannya sebagai seorang pengajar. Ia pun beralih profesi menjadi seorang klerk di Firma Nedem.

Pekerjaannya di Firma Nedem tidak bertahan lama, Supratman pun berpindah profesi menjadi seorang advokat di kantor advokat milik teman dari kakak iparnya. Akan tetapi, rasa rindu terhadap keluarga besarnya di Jawa membuat Supratman pulang ke Jawa dan meninggalkan pekerjaannya di kantor advokat. Ia pun kembali ke rumah kakaknya yang kedua di Surabaya, Jawa Timur.

Kembali ke Jawa

pulau jawa masa penjajahan Belanda
Photo by rudydewanto.com

Supratman pun kembali ke rumah kakaknya yang kedua di Surabaya bernama Roekinah Soepratirah. Di Surabaya, Supratman hanya mengunjungi keluarga kakaknya yang bekerja di kantor pelayaran. Setelah sekian lama tinggal bersama kakak keduanya, Supratman pun kembali ke Jawa Barat untuk berjumpa kembali dengan ayah kandungnya.

Setelah sekian lama menanggur di kampun halamannya, Supratman kembali melamar pekerjaan sebagai seorang wartawan di sebuah surat kabar ‘Kaum Muda’ yang ada di Bandung, Jawa Barat. Di surat kabar inilah, bakat musik yang dimiliki oleh Supratman kembali muncul. Ia pun memutuskan untuk bergabung dengan sebuah grup musik.

Dalam perjalanannya sebagai seorang wartawan, Supratman bertemu dengan banyak orang dari berbagai kalangan. Setelah berhasil menjadi seorang wartawan selama setahun, ia bertemu dengan rekan baru yang bernama Harun Harahap. Harun Harahap pun memiliki sebuah rencana untuk mendirikan sebuah kantor berita baru yang akan bermarkas di Jakarta.

Kembali ke Jakarta

kota jakarta masa penjajahan belanda
Photo by hipwee.com

Kantor yang didirikan oleh Harun Harahap dinamai ‘Alpena’, dan Supratman pun ikut bekerja di kantor berita tersebut. Lokasi pekerjaannya di Jakarta membuat jiwa nasionalisme Supratman ikut bangkit, yang mana pada saat itu Jakarta sedang dilanda semangat kepemudaan dan kebangkitan. Supratman pun berkenalan dengan banyak tokoh dari pergerakan nasional dan mulai menyiapkan diri untuk ikut berkontribusi di dalamnya.

Naluri kewartawanan Supratman pun belum padam. Naluri ini semakin bertambah seiring dengan ditutupnya surat kabar Alpena yang didirikan oleh Harun Harahap. Ia pun berpindah tempat ke surat kabar Sin Po. Tugasnya sebagai wartawan dari Koran Sin Po menjadikannya harus sanggup meliput segala perkembangan rapat pemuda pergerakan nasional.

Hal ini membuat Supratman semakin terlibat aktif dalam aktifitas pergerakan nasional yang mana usianya masih terbilang muda, yakni 23 tahun. Pilihannya untuk menjadi pemuda pergerakan nasional menjadikannya hidup melarat. Jika di Makassar ia mampu mendapatkan segala fasilitas karena dekat dengan orang-orang Belanda, kini ia harus berjuang mati-matian untuk hidup di bilangan Rawamangun.

Menjadi Buronan

buronan
Photo by nasional.tempo.co

Supratman pun rela menderita demi berjuang untuk menyudutkan pihak penjajah di Indonesia. Tulisan-tulisannya yang diterbitkan di Koran Sin Po semakin menyudutkan pihak Hindia Belanda. Ia pun mulai masuk daftar pencarian oleh polisi Belanda.

Meski sudah masuk daftar pencarian polisi Belanda, ia masih menyempatkan diri untuk menjual buku-buku untuk memenuhi kebutuhan hariannya. Ia sama sekali tidak takut dengan propaganda Belanda yang dilancarkan untuknya.

Kegiatan Supratman yang sering bersinggungan dengan tokoh-tokoh nasional membuat tulisan Supratman semakin menggelisahkan pemerintah Hinida-Belanda. Keterlibatan Supratman dalam dunia politik membuatnya semakin gigih dalam mencari berita. Ia tidak lagi membatasi diri sebagai wartawan yang mencari berita, tetapi ia juga ikut memberikan sumbangan pemikiran untuk kemerdekaan Indonesia.

Berjuang Lewat Musik

alat musik biola
Photo by amazonaffilatex.blogspot.com
Bukankah Anda pencipta lagu Indonesia Raya? Berjuang teruslah demi kemerdekaan kita, Tuan Soepratman.

– Ir.Soekarno di pengadilan Bandung

Kepiawaian Supratman dalam dunia musik membuatnya berkontribusi kemerdekaan dalam dunia muusik. Ia menciptakan banyak lagu yang bertemakan persatuan. Lagu pertamanya yang bertemakan persatuan dan berhasil digarapnya dikenal dengan judul ‘Dari Sabang Sampai Merauke’. Ketika Supratman menciptakannya, lagu ini dikenal dengan judul ‘Dari Barat Sampai ke Timur’.

Lagu terakhir yang berhasil dibuatnya berjudul ‘Matahari Terbit’. Akan tetapi, lagu paling fenomenal yang membuatnya terancam adalah ‘Indonesia Raya’. Efek dari lagu ini ialah berhasil menyatukan rasa kebangsaan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Instrument lagu Indonesia Raya pertama kali diperkenalkan ke khalayak ramai ketika Kongres Pemuda II berlangsung. Kongres Pemuda II ini pun melahirkan sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Setiap tanggal 28 Oktober pun diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda.

Atas saran dari Soegondo, lagu Indonesia Raya diperkenalkan secara instrumental karena berkaitan dengan kondisi dan situasi Indonesia ketika itu. Semua peserta yang hadir dalam Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 terpukau dengan lagu persatuan tersebut. Lagu Indonesia Raya pun terkenal di kalangan pergerakan nasional.

Penghargaan WR Supratman

wage rudolf supratman
Photo by kbr.id

Wage Rudolf Supratman diberi gelar sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah Indonesia. Selain itu, ia juga dianugerahi Bintang Maha Putera Utama kelas III pada tahun 1971.

Karya WR Supratman

wage rudolf supratman
Photo by Merdeka.com

Karya musik WR Supratman yang masih dapat kita jumpai hingga saat ini diantaranya adalah:

  1. Indonesia raya (1928)
  2. Indonesia Iboekoe (1928)
  3. Bendera Kita Merah Putih (1928)
  4. Bangunlah Hai Kawan (1929)
  5. Raden Adjeng Kartini (1929)
  6. Di Timur Matahari (1931)
  7. Matahari Terbit Agustus (1938)
  8. Selamat Tinggal (1938), tapi belum sempat diselesaikan

Selain musik, WR Supratman juga memiliki beberapa karya yang berbentuk buku, diantaranya adalah:

  1. Perawan desa
  2. Dara Moeda
  3. Kaoem Panatik

Akhir Hayat

akhir hayat pembuat lagu indonesia raya
Photo by situsbudaya.id

Sepak terjang Supratman dalam perjuangan kemerdekaan lewat dunia musik membuatnya menjadi perhatian polisi Belanda. Kejarannya dari polisi Belanda mengharuskannya untuk berpindah tempat terus-menerus.

Supratman mengatakan dia ikhlas berjuang untuk kemerdekaan Indonesia meski pun ia pun belum sempat merasakan dan menikmati kemerdekaan Indonesia. Ia yakin suatu saat Indonesia akan merdeka.

Supratman berusaha untuk terus bertahan karena Ir.Soekarno memintanya untuk terus berjuang dalam kemerdekaan Indonesia ketika terjadi pertemuan di pengadilan Bandung. Setelah pertemuan tersebut, Ir. Soekarno pun dijebloskan ke penjara bersama tokoh pergerakan lainnya berdasarkan keputusan hakim.

Ketika Supratman melarikan diri ke Surabaya, ia pun jatuh sakit dan tak kunjung sembuh. Meski dalam keadaan sakit, Supratman terus memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Polisi Belanda pun berhasil menangkapnya di jalan Embong Malang ketika Supratman memimpin paduan suara yang disiarkan oleh NIROM (RRI). Polisi Belanda pun menjebloskan Supratman ke Penjara Kalisosok.

Kesehatan Supratman di penjara pun semakin menurun dan memprihatinkan, ia pun dipulangkan. Penderitaan Supratman pun berakhir pada tanggal 17 Agustus 1938. Ia meninggal pada hari Rabu Wage. Tempat meninggalnya Supratman di jalan Mangga 21 Surabaya dijadikan sebagai museum W.R Supratman yang menyimpan duplikat biola legendaris miliknya.

Supratman pun dimakamkan di TPU Kapas. Makamnya lalu dipindahkan ke Jalan Tambak Segaran Wetan pada tanggal 20 Mei 1953. Setelah ia diakui oleh pemerintah sebagai salah satu pahlawan Indonesia, makamnya dipindahkan kembali di Kenjeran pada tanggal 25 Oktober 1953.

Hingga akhir hayatnya, Wage Rudolf tidak memiliki keluarga atau pun keturunan. Namun, jasa dan pengorbanannya untuk Indonesia tetap dikenang hingga sekarang.

Hari Musik Nasional

hari musik nasional
Photo by mldspot.com

Hari kelahiran W.R Supratman, tanggal 09 Maret, diakui oleh Presiden Megawati sebagai Hari Musik Nasional. Akan tetapi, hari kelahiran Supratman masih diperdebatkan mengenai kebenarannya.

Perdebatan ini terjadi karena terdapat pendapat yang menyatakan jika W.R Supratman dilahirkan pada tanggal 19 Maret 1903 di Dukuh Trembeleng, Desa Somogiri, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Pendapat ini pun diakui oleh keluarga Supratman dan dikuatkan dengan putusan Pengadilan negeri Purworejo pada tanggal 29 Maret 2007.

Demikianlah sedikit ulasan mengenai sejarah dan biografi pencipta lagu Indonesia Raya, Wage Rudolf Supratman. Selain WR Supratman, terdapat pula sejarah biografi mengenai Agustinus Adisujipto, Bung Tomo, dan Soeharto. Semoga materi kali ini dapat menambah wawasan dan rasa cinta kita kepada pahlawan-pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Aamiin.

Alhamdulillah.

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!