Biografi Soeharto, Bapak Pembangunan Indonesia

Biografi Soeharto – Bapak Soeharto atau Bapak Harto merupakan salah satu bapak presiden Indonesia yang menjabat paling lama, yakni selama 32 tahun. Ia menjadi presiden Republik Indonesia menggantikan Soekarno. Di masyarakat internasional, Pak Harto dikenal sebagai seseorang yang selalu tersenyum. Ia pun dijuluki sebagai “The Smiling General” atau Sang Jenderal yang Tersenyum.

Sebelum Bapak Soeharto menjadi seorang presiden, ia merupakan seorang pemimpin militer pada masa penjajahan Belanda dan Jepang di Indonesia. Pangkat terakhir yang berhasil ia dapatkan yakni Mayor Jenderal. Setelah terjadi peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang dilakukan PKI, Soeharto pun menyatakan untuk menumpas gerakan PKI di Indonesia.

Berikut ringkasan kehidupan dan biografi Bapak Soeharto.

Kelahiran Soeharto

kelahiran pak harto
Photo by Wikandatu.com

Soeharto dilahirkan oleh ibunya bernama Sukirah pada hari Rabu tanggal 08 Juni 1921 di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta. Ketika Soeharto masih berumur empat puluh hari, Kertosudiro yang mana merupakan suami dari Sukirah menceraikannya. Banyak orang yang dekat dengan Soeharto berpendapat jika Kertosudiro bukanlah ayah kandung Soeharto.

Pada tahun 1974, muncul pemberitaan jika Soeharto merupakan anak dari seorang bangsawan yang berasal dari trah Hamengkubuwono II bernama Padmodipuro. Soharto kecil yang masih berumur enam tahun dibuang ke desa sehingga diasuh oleh Kertosudiro. Akan tetapi, pemberitaan ini dibantah oleh Soeharto. Soeharto menyatakan jika ia merupakan anak desa biasa seperti lainnya.

Ketidakjelasan mengenai asal usul Soeharto secara geneologi sampe sekarang pun masih belum terpecahkan. Menyadari kondisi Sukirah yang kurang baik, keluarga Sakirah pun memutuskan untuk menyerahkan pengurusan dan perawatan bayi Soeharto kepada kakak perempuan Kertosudiro.

Keluarga Soeharto

keluarga pak harto
Photo by arahfajar.com

Soeharto menikah dengan Raden Ayu Siti Hartinah atau lebih kita kenal dengan nama Ibu Tien. Ibu Tien merupakan putri dari KRMT Soemaharyomo. Ketika menikah dengan Bu Tien yang berumur 24 tahun, Soeharto waktu itu berumur 26 tahun dan masih berpangkat sebagai Letkol. Pernikahan keduanya dilaksanakan di Solo pada tanggal 26 Desember 1947.

Dari pernikahan Soeharto dan ibu Tien, mereka dikarunai enam orang anak. Keenam orang anak tersebut bernama Hutomo Mandala Putra, Siti Hediati Hariyadi, Siti Hardiyanti Rukmana, Bambang Trihadmodjo, Sigit Harjojudanto , Siti Hutami Endang Adiningsih.

Riwayat Pendidikan Soeharto

Pendidikan Pak harto
Photo by Boombastis.com

Ketika Soeharto sudah menginjak umur delapan tahun, ia sudah mulai bersekolah tetapi berpindah-pindah sekolah. Awalnya, ia bersekolah di Sekolah Desa (SD) Puluhan di Godean kemudian ia pun berpindah ke SD Pedes dikarenakan keluarganya pindah ke Kemusuk, Kidul.

Setelah lulus dari SD Pedes, Soeharto melanjutkan pendidikannya di SMP Muhammadiyah di Yogyakarta. Setelah mnematkan jenjang pendidikan SMP-nya, Soeharto mendaftarkan diri sebagai siswa di sekolah militer yang ada di Gombong, Jawa Tengah.

Kerier Militer

jenderal soeharto
photo by boombastis.com
NoTanggal/TahunKarier Militer
11940Pak Harto menjadi pembantu Klerk pada Bank Desa di Wuryantoro
21 Juni 1940 Pak Harto menjadi anggota KNIL setelah menjalani pendidikan dasar militer di Gombong
32 Desember 1940 Pak Harto melanjutkan pendidikan militer di Sekolah Kader di Gombong
41941Pak Harto naik pangkat menjadi Kopral dan ditempatkan pada Batalyon XIII di Rampal, Malang setelah mengikuti kursus di Sekolah Kader Gombong dan dinaikkan menjadi Sersan
51 November 1942 Setelah Jepang menduduki Indonesia, Pak Harto masuk KEIBUHO, suatu badan kepolisian Jepang di Yogyakarta
61943 Pak Harto mendaftar menjadi tentara sukarela PETA
78 Oktober 1943 Pak Harto diangkat menjadi Shodanco (komandan peleton) kemudian ditugaskan di Wates, Yogyakarta
81944 Pak Harto mengikuti pendidikan pada Sekolah Perwira di Bogor dan dinaikkan pangkat menjadi Chucandho (Komandan Kompi)
91945 Setelah bertugas dalam kesatuan PETA di Salatiga, dan markas PETA di Madiun. Pak Harto juga mengikuti Batalyon PETA di Blitar yang memberontak melawan Jepang, ia pun diasingkan
105 Oktober 1945 Pak Harto masuk dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) tentara Republik yang pertama dan diangkat sebagai Wakil Komandan Batalyon
111945-1949 Pak Harto menjabat sebagai Komandan Kompi, Batalyon Resimen dengan pangkat Letkol yang beroperasi di wilayah Yogyakarta selama Aksi Militer Belanda
121950 Pak Harto diresmikan sebagai Letkol TNI, Komandan Brigade “0” dan Brigade “Gamisun Mataram” yang melakukan ekspedisi ke Sulawesi Selatan
1315 November 1951 Pak Harto menjadi Komandan Brigade Pragola, Sub Teritorium IV Jawa Tengah
141 Maret 1953 Pak Harto menjadi Komandan Resimen Infantri 15, Sub Territorium IV Jateng
151956 Pak Harto menjadi Perwira Menengah yang diperbantukan pada Kepala Staf Angkatan Darat untuk mengikuti perencanaan Staf Umum AD
161 Januari 1957 Pak Harto menjadi Kepala Staf Territorium IV /Diponegoro
171 September 1957 Pak Harto naik pangkat menjadi Kolonel Infanteri. Selain sebagai Panglima, ia juga diangkat menjadi Dewan Kurator Dari Akademi Militer Nasional di Magelang
181959-1960 Pak Harto mengikuti Kursus C – II, Seskoad di Bandung
191 Januari 1960 Pak Harto naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal
201 Maret 1960 Selain menjabat sebagai Deputy I Kasad, Pak Harto juga merangkap sebagai Panglima Korps Cadangan Umum AD (Caduad) dan Panglima Pertahanan Udara Angkatan Darat (Kohanudad)
2118 Desember 1960 Pak Harto merangkap sebagai Ketua Ad-hoc Panitia Retooling Dept. Angkatan Darat
22Juni 1961 Pak Harto ditugaskan ke LN untuk mengadakan hubungan dengan Atase-Atase Militer Indonesia di Beograd, Paris, dan Bonn
231 Januari 1962 Pak Harto naik pangkat menjadi Mayor Jendral
2423 Januari 1962 Pak Harto menjadi Panglima KOANDA IT merangkap sebagai Panglima Mandala untuk membebaskan Irian Barat (Trikora)
251 Mei 1963 Pak Harto menjadi Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (KOSTRAD)
261 Januari 1960 Pak Harto menjadi Wakil Panglima Mandala Siaga (KOLAGA) sewaktu konfrontasi dengan Malaysia (Dwikora)
271 Oktober 1965 Pak Harto menjadi pemegang Pimpinan sementara AD dalam menghadapi G-30-S/PKI

Ketika Belanda membuka pendaftaran masuk KNIL (Koninlijk Nederlands-Indisch Leger) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda di Inodpnesia, Soeharto tertarik untuk mendaftar. Pada tanggal 01 Juni 1940, Soeharto diterima sebagai siswa di sekolah militer di Gombong, Jawa Tengah. Setelah menjalani latihan selama enam bulan, Soeharto pun lulus dan dinyatakan mendapat lulusan terbaik. Ia pun mendapat pangkat kopral.

Setelah mengikuti Sekolah Kader di Gombong, ia pun dinaikkan pangkat menjadi sersan. Kemudian, Soeharto pun bergabung dengan tentara Belanda, KNIL. Ia memulai karirnya di kemiliteran dengan menjabat sebagai pangkat sersan di KNIL.

Ketika Jepang menjajah Indonesia, Soeharto pun bergabung dengan KEIBUHO pada tanggal 01 November 1942. KEIBUHO merupakan badan kepolisian Jepang yang ada di Yogyakarta. Pada tahun 1943, Soeharto bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Yogyakarta.

Di PETA, Soeharto pun dilatih untuk menjadi Komandan Peleton (Shodancho) di PETA. Setelah berhasil menjalani masa latihannya,m Soeharto ditugaskan di Batalyon Wates Yogyakarta, Pos Pertahanan di Glagah Pantai Selatan Yogyakarta dan Madiun.

Keberhasilan Soeharto menjadi Komandan Peleton (Shodanco) pun mengantarkannya menjadi Komandan Kompi (Chucandho) setelah mengikuti pendidikan pada Sekolah Perwira di Bogor. Pada tanggal 05 Oktober 1945, Soeharto secara resmi masuk sebagai anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) atau yang sekarang kita kenal sebagai Tentara Negara Indonesia (TNI). Di BKR, berpangkat sebagai Wakil Komandan Batalyon pertama di Indonesia.

Pada tahun 1949, Soeharto berhasil merebut kembali Yogyakarta melalu peristiwa Serangan 1 Maret dalam aksi Agresi MIliter Belanda ke Indonesia. Selain itu, ia juga pernah menjadi pengawal Panglima Besar Besar Jenderal Soedirman.

Peran Soeharto dalam G30S PKI

biografi soeharto
Photo by tribunnews.com

Setelah terjadi peristiwa G30S PKI, Mayor Jenderal Soeharto segera menangani segala sesuatu yang berhubungan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada tanggal 03 Oktober 1965, Mayjen Soeharto pun diangkat menjadi Kopkamtib yang mana jabatan ini memiliki wewenang yang besar untuk membersihkan orang-orang yang diduga berhubungan dengan G30S PKI.

Pada pagi dini hari tanggal 01 Oktober 1965, pasukan Tjakrawibawa yang dikomandoi oleh Letnan Kolonel Untung Syamsuri membunuh tujuh perwira angkatan darat. Tujuh perwira tersebut adalah Jenderal TNI Ahmad Yani, Letnan Jenderal R. Suprapto, Letnan Jenderal M.T. Haryono, Letnan Jenderal S Parman, Mayor Jenderal D.I. Pandjaitan, Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, Kapten Pierre Tendean.

Setelah dilantik menjadi Menteri Panglima Angkatan Darat pada tanggal 14 Oktober 1965, Soeharto pun segera membubarkan Partai Komunis Indonesia dan ormas-ormasnya sebagai salah satu upaya untuk menertibkan negara pasca tragedi Gerakan G30S PKI. Pada tanggal 11 Maret 1966, Soeharto menerima mandat Surat Perintah Sebelas Maret atau kita kenal sebagai Supersemar dari Presiden Soekarno.

Sehari setelah menerima Surat Perintah Sebelas Maret, Menpangad Letjen Soeharto pun membubarkan Partai Komunis Indonesia dan dinyatakan sebagai partai terlarang di Indonesia. Kondisi politik yang kaca balau pasca terjadinya peristiwa G30S PKI, maka dilaksanakanlah sidang MPRS pada tada bulan Maret 1967.

Sidang yang dilaksanakan pada bulan Maret ini menetapkan penunjukkan Soeharto sebagai presiden berdasarkan pada tanggal 22 Februari 1967 hingga terpilihnya presiden yang sah oleh MPR dalam pemilihan umum.

Karier Politik Soeharto

biografi soeharto
Photo by Merdeka.com
NoTanggal/TahunKarier Politik
116 Oktober 1965 Pak Harto ditunjuk oleh Presiden Soekarno sebagai Pangkopkamtib
21 Februari 1966 Pak Harto diangkat sebagai Menteri/KASAD
311 Maret 1966 Pak Harto pangkatnya dinaikkan menjadi Letnan Jendral
421 Februari 1966 Pak Harto diberi tugas oleh Presiden Soekarno untuk melaksanakan Surat Perintah 11 Maret
527 Maret 1966 Pak Harto ditunjuk sebagai Menteri/Panglima AD dalam Kabinet Dwikora yang disempurnakan
621 Juni 1966 Pak Harto menjadi Wakil Perdana Menteri ad interim bidang Pertahanan dan Keamanan (Kabinet Dwikora yang disempurnakan Iagi) dan Menpangad
71 Juli 1966 Pengesahan SP 11 Maret dengan Tap MPRS No.IX/1966
85 Juli 1966 Pak Harto dinaikkan pangkatnya menjadi Jendral Ditugaskan oleh MPRS (Tap XIII/1966) membentuk Kabinet Ampera bersama-sama dengan Presiden Soekarno
925 Juli 1966 Pak Harto menjadi Ketua Presidium Kabinet Ampera: Menteri Presidium Bidang Hankam; Menpangad
1012 Maret 1967 Pak Harto menjadi Pejabat Presiden (Tap MPRS No.XXXIII/1967) berlaku surat mulai tanggal 22 Februari 1967)
1127 Maret 1967 Pak Harto dilantik sebagai Presiden RI (Tap MPRS XIIV/1968)
1223 Maret 1973 Pak Harto dilantik sebagai Presiden untuk kedua kalinya

Setelah sukses dengan karier militernya, melalui surat Perintah Sebelas Maret tahun 1967, Soeharto pun mulai mengganti kedudukan Soekarno sebagai Presiden Indonesia. Satu tahun kemudian, pada bulan Maret 1968 Soeharto pun ditetapkan sebagai presiden kedua oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS).

Masa pemerintahan Soeharto selama menjabat sebagai presiden dinamakan sebagai Zaman Orde Baru. Hal pertama yang menjadi fokus Pak Harto ketika menjabat sebagai presiden adalah perbaikan ekonomi Indonesia. Kiblat yang digunakan Pak Harto untuk memperbaiki perekonomian negeri yakni ekonomi didikan Barat.

Pada tahun 1980-an, pertumbuhan ekonomi Indonesia maju pesat dibawah pemerintahan Presiden Soeharto. Pada tahun 1984, Indonesia berhasil menjadi negara swasembada pangan berupa beras. Pada tahun tersebut, Indonesia berhasil memproduksi beras sebanyak 25,8 ton dan berhasil mendapatkan penghargaan dari FAO pada tahun 1985.

Kebijakan Soeharto

kebijakan politik soeharto
Photo by saatsantai.com

Salah satu kebijakan yang dikeluarkan pada masa pemerintahan Soeharto adalah Keluarga Berencana. Program ini merupakan salah satu kebijakan yang dikeluarkan dalam bidang kesehatan oleh Soeharto dan masih digunakan hingga saat ini. Program ini membuat Indonesia mendapatkan penghargaan dari PBB sebagai negara percontohan.

Dalam bidang perpolitikan, Soeharto memangkas partai-partai politik hingga menyisakan Partai Golongan Karya sebagai partai yang dominan kala itu. Hanya ada tiga partai yang diperbolehkan mengikuti pemilihan umum, yakni Partai Pembangunan Nasional, Partai Golongan Karya, dan Partai Demokrasi Indonesia. Partai Golongan Karya pun keluar sebagai partai yang selalu memenangkan pemilu pada masa orde baru.

Kebijakan politik Soeharto banyak memunculkan keluhan dari masyarakat. Kebijakan yang dianutnya memberikan kesan di masyarakat sebagai anti demokrasi dan otoriter. Pada tanggal 15 Januari 1974, terjadi peristiwa Malaria tau dikenal dengan sebutan Malapetaka Lima Belas Januari. Pada tanggal 15 Januari 1947, massa banyak yang turun ke jalan untuk menolak modal asing yang selama ini menjadi salah satu program ekonomi Soeharto.

Pada tahun 1997, terjadi krisis moneter di kawasan Asia, Indonesia pun merasakan dampak dari krisis tersebut. Demonstrasi pun terus terjadi. Puncak demonstrasi terjadi pada tahun 1998 yang dilakukan oleh mahasiswa.

Demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh mahasiswa ini mengakibatkan kondisi tanah air sangat genting. Kejadian ini membuat Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden. Pada tanggal 21 Mei 1998, Presiden Soeharto secara resmi mengundurkan diri menjadi seorang presiden dan digantikan oleh Bapak B.J Habibie. Masa reformasi pun dimulai.

Penghargaan Soeharto

bintang penghargaan soeharto
Photo by usemayjourney.wordpress.com
Kita perlu berani mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah.

Berikut beberapa biografi mengenai penghargaan yang berhasil Soeharto peroleh selama masa hidupnya.

  1. Bidang Republik Indonesia Klas-l
  2. Bintang MahaPutera Klas-I
  3. Bintang Jasa Klas-I
  4. Bintang Sakti
  5. Bintang Dharma
  6. Bintang Gerilya
  7. Bintang Sewindu APRI
  8. Bintang Kartika Eka Paksi Klas-I
  9. Bintang Jalasena Klas-I
  10. Bintang Garuda
  11. Bintang Swa Bhuana Paksa Klas-I
  12. Bintang Bhayangkara Klas-I
  13. Stl. Teladan
  14. Bapak Pembangunan Nasional
  15. Bintang Mahakarya Gotong Royong dari Ormas Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong

Karier Soeharto

Soeharto dan wiranto
Photo by Boombastis.com

Berikut biografi mengenai riwayat karier yang berhasil Soeharto dapatkan.

  • Anggota TNI
  • Komandan Brigade Garuda Mataram
  • Komandan Resimen Infenteri 15 dengan pangkat letnan kolonel
  • Panglima Korps Tentara I Caduad (Cadangan Umum AD)
  • Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat
  • Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad)
  • Panglima Kopkamtib
  • Mayor Jendral
  • 1966 – 1998 Presiden Kedua RI

Kematian Soeharto

detik-detik meningalnya soeharto
Photo by Merdeka.com

Soeharto meninggal dunia pada hari Minggu tanggal 27 Januari 2008 pukul 13.00 WIB di Rumah Sakit Pertamina Jakarta diumurnya yang ke-87 tahun setelah dirawat selama 24 hari. Pada pukul 14.35 WIB, jenazah Soeharto diberangkatkan dari RSPP ke rumah kediamannya yang terletak di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta. Soeharto meninggal dunia akibat kegagalan multi organ yang dideritanya.

Esoknya pada hari Senin tanggal 28 Januari 2008, jenazah Soeharto diberangkatkan ke Bandara Halim Perdanakusuma dari rumahnya di Cendana pada pukul 07.30 WIB. Pada pukul 10.00 WIB, jenazah Soeharto akan diterbangkan dari Bandara Halim Perdanakusuma ke Solo untuk dimakamkan di Astana Giri Bangun, Solo.

Jenazah Soeharto pun sudah sampai di Astana Giri Bangun sebelum pukul 12.00 WIB. Jenazah pun diturunkan ke liang lahat pada pukul 12.15 WIB. Almarhum sudah masuk ke liang lahat pada pukul 12.17 WIB. Seluruh prosesi pemakaman Presiden Soeharto dipimpin oleh inspektur upacara Bapak Sosilo Bambang Yudhoyono selaku presiden yang menjabat kala itu.

Selain biografi mengenai Bapak Soeharto, terdapat juga pahlawan pencipta Indonesia Raya, WR Supratman. Demikianlah sedikit ulasan materi mengenai kehidupan dan riwayat biografi Soeharto. Semoga materi mengenai biografi Soeharto dapat menambah wawasan kita mengenai kehidupan dan sejarah beliau. Aamiin.

Alhamduliullah

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!