Biografi Jenderal Ahmad Yani, Pahlawan Revolusi Indonesia

Biografi Ahmad Yani – Ketika terjadi pemberontakan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tanggal 30 Septemner 1965, terdapat tujuh perwira yang menjadi korban keganasan dari partai tersebut. Salah satu perwira yang menjadi korban dari peristiwa keganasan partai tersebut adalah Jenderal Ahmad Yani. Kali ini, kita akan membahas mengenai biografi dari Jenderal Ahmad Yani.

Berikut ulasan singkat mengenai biografi Jenderal Ahmad Yani.

Kelahiran Ahmad Yani

Ahmad Yani dilahirkan di Jenar, Purworejo, Jawa Terngah pada tanggal 19 Juni 1922. Ia lahir dalam anggota keluarga Wongsoredjo. Ayahnya bernama Sarjo bin Suharyo dan ibunya bernama Murtini. Ahmad juga memiliki dua orang adik perempuan yang bernama Asmi dan Asiha.

Wongsoredjo bekerja disebuah pabrik gula milik Belanda. Pada tahun 1927, ia dan keluarganya pindah ke Batavia karena sang ayah pindah kerja untuk General Belanda. Ketika baru lahir, nama Ahmad Yani hanyalah bernama Ahmad, tetapi majikannya yang bernama Hulstyn memberi tambahan nama Yani dibelakang nama Ahmad.

Keluarga Ahmad Yani

jenderal ahmad yani
Photo by arahfajar.com

Ahmad Yani menikah dengan Yayu Rulia Sutowiryo pada tanggal 5 Desember 1944. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai enam orang putrid an dua orang putra. Kedelapan anaknya bernama  Amelia Achmad Yani, Elina Lilik Elastria, Widna Ani Andriani, Reni Ina Yuniati, Indria Ami Rulliati, Herlia Emmy Rudiati, Untung Mufreni, dan Irawan Sura Eddy.

Riwayat Pendidikan Ahmad Yani

jenderal ahmad yani
Photo by tokoh.co.id
Riwayat Pendidikan Ahmad Yani
  1. HIS (Hollandsch-Inlandsche School), setingkat SD di Bogor
  2. MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), setingkat SMP di Bogor
  3. AMS (Algemeene Middelbare School), setingkat SMU di Jakarta
  4. Pendidikan militer di Dinas Topografi Militer di Malang
  5. Pendidikan HEIHO di Magelang
  6. PETA (Pembela Tanah Air) di Bogor
  7. Command and General Staff College di Fort Leaven Worth, Kansas, Amerika Serikat
  8. Special Warfare Course di Inggris

Pendidikan formal yang berhasil ditempuh oleh Ahmad Yani dimulai dari pendidikannya di HIS (Hollandsch-Inlandsche School) di Bogor. HIS merupakan pendidikan setingkat SD pada zaman Belanda. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan tersebut pada tahun 1935.

Ahmad Yani kemudian melanjutkan pendidikannya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Bogor, yakni pendidikan setingkat SMP dan tamat pada tahun 1938. Setelah tamat dari MULO, ia melanjutkan pendidikannya di AMS (Algemeene Middelbare School) Jakarta, yakni pendidikan setingkat SMU. Akan tetapi, Ahmad Yani berhenti dari pendidikan AMS ini pada tahun 1940.

Setelah keluar dari AMS, Ahmad Yani mengikuti pendidikan militer setelah adanya milisi yang dimumukan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Ia mengikuti pendidikan militer pada Dinas Topografi Militer di Malang.

Setelah Jepang berkuasa di Indonesia, Ahmad Yani juga mengikuti pendidikan HEIHO di Magelang. Setelah lulus dari HEIHO, ia melanjutkan karier militernya dengan menjadi tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor.

Pada tahun 1955, Ahmad Yani bersekolah di Command and General Staff College di Fort Leaven Worth, Kansas, Amerika Serikat selama sembilan bulan. Pada tahun selanjutnya, ia juga mengikuti pendidikan selama dua bulan di Special Warfare Course di Inggris.

Karier Militer Ahmad Yani

biografi ahmad yani
Photo by Kepogaul.com

Karier militer Ahmad Yani mulai terlihat ketika ia ditunjuk sebagai pemimpin Tentara Keamanan Rakyat atau TKR di Purwokerto. Ketika Belanda melancarkan agresi milter pertamanya ke Indonesia, Ahmad Yani bersama pasukannya berhasil menghalau serangan Belanda di tempat mereka bertugas, yakni di daerah Pingit.

Keberhasilan Ahmad Yani menghalau serangan Belanda ketika Agresi Militer Belanda I menjadikan ia ditunjuk sebagai Komandan Wehrkreise II. Setelah Indonesia merdeka, Ahmad Yani diberi tugas untuk melawaan pasukan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang mengacau di Jawa Tengah. Lalu dibentuklah pasukan Benteng Raiders untuk menumpas pasukan DI/TII dan berhasil dikalahkan.

Pada tahun 1958 ketika terjadi pemberontakan PRRI di Sumatera Barat, Ahmad Yani yang berpangkat sebagai kolonel pun ditunjuk sebagai komandan untuk menumpas pemberontakan tersebut. Pasukan yang dikomandoi oleh Ahmad Yani bernama Komando Operasi 17 Agustus. Pemberontakan PRRI di Sumatera pun berhasil ditumpas. Karena pencapaian tersebut, Ahmad Yani diangkat sebagai panglima atau Menteri Angkatan Darat pada tahun 1962.

Bintang Kehormatan Ahmad Yani

bintang penghargaan ahmad yani
Photo by tribunnews.com

Berikut beberapa bintang kehormatan yang berhasil diperoleh Ahmad Yani selama hidupnya.

  1. Bintang RI Kelas II
  2. Bintang Sakti
  3. Bintang Gerilya
  4. Bintang Sewindu Kemerdekaan I dan II
  5. Satyalanca Kesetyaan VII, XVI
  6. Satyalanca G.O.M I dan II
  7. Satyalanca Sapta Marga (PRRI)
  8. Satyalanca Irian Barat (Trikora)
  9. Ordenon Narodne Armije II Reda Yugoslavia (1958)
  10. Dll

Ahmad Yani dalam Peristiwa G 30 S PKI

biografi ahmad yani
Photo by jambi.tribunnews.com
Kalau Bapak (Ahmad Yani) tidak mulai mengambil tindakan (terhadap PKI), maka tak pelak Anda akan dibunuh oleh mereka.

– Jenderal MT.Haryono

Pada awal tahun 60-an, gerakan politik Presiden Soekarno cenderung lebih condong ke arah Partai Komunis Indonesia atau PKI. Ahmad Yani merupakan salah satu tentara Angkatan Darat yang sangat berhati-hati dan berwaspada dengan perkembangan komunis di Indonesia. Kewaspadaannya terhadap komunis semakin bertambah ketika PKI mengusulkan pembentukan angkatan kelima.

Angkatan kelima merupakan angkatan setelah tiga angkatan TNI dan polisi, yakni angkatan buruh dan tani yang dipersenjatai. Selain itu, Bung Karno juga mencoba untuk memasukkan ideologi komunis menjadi ideologi nasional dengan sebutan Nasionalis-Agama-Komunis atau ideologi Nasakom.

Ahmad Yani dan Nasution terus menunda perintah Bung Karno untuk membuat angkatan kelima pada tanggal 31 Mei 1965. Pada malam hari tanggal 30 September 1965, Ahmad Yani menemui beberapa tokoh, diantaranya adalah Jenderal Basuki Rahmat yang mana merupakan komandan divisi di provinsi Jawa Timur.

Jenderal Basuki Rahmat pun melaporkan kepada Ahmad Yani mengenai keprihatinannya terhadap peningkatan aktivitas kaum komunis di wilayah Jawa Timur. Setelah mendengar penjelasan dari Jenderal Basuki Rahmat, Ahmad Yani pun mengakhiri pertemuan dan meminta kepada Jenderal Basuki menemani dirinya membahas masalah ini di pertemuan dengan presiden.

Peristiwa Gerakan 30 S PKI

Pada tanggal 1 Oktober 1965 dini hari, PKI pun melancarkan aksinya. Gerakan yang kita kenal dengan Gerakan 30 September PKI dimulai dengan mendatangi tujuh anggota staf Angkatan Darat dan menculik mereka. rumah Ahmad Yani yang berada di Jalan Latuhahary No.6 di daerah Menteng di Jakarta Pusat pun tidak lepas dari incaran PKI.

Anggota PKI yang datang ke rumah Ahmad Yani pun membawanya dengan mengatakan jika Bung Karno memanggil Ahmad Yani. Ahmad Yani pun menyanggupinya dan meminta izin waktu sebentar untuk mandi dan berganti pakaian. Akan tetapi, pasukan tersebut tidak mengizinkannya dan bersikap kasar terhadap Ahmad Yani.

Ahmad Yani pun marah atas sikap kasar mereka dan menampar salah satu penculik tersebut, lalu menutup pintu rumahnya. Salah satu penculik dari PKI pun menembak dan berhasil membunuh Ahmad Yani. Tubuh Ahmad Yani kemudian diseret dan diangkut ke daerah Lubang Buaya di pinggiran wilayah Jakarta.

Sampai di Lubang Buaya, jasad Ahmad Yani yang sudah meninggal masih siksa dahulu sebelum dimasukkan ke dalam Sumur Lubang Buaya bersama enam staf angkatan darat lainnya.

Akhir Hayat

akhir hayat yani
Photo by tribunnews.com

Jasad Ahmad Yani dan enam staf angkatan darat lainnya yang masih berada di dalam Sumur Lubang Buaya pun baru diangkat pada tanggal 04 Oktober 1965. Tanggal 01 Oktober pun diperingati sebagai hari kesaktian pancasila. Pada tanggal 05 Oktober 1965, dilaksanakan upacara khas kenegaraan dan para pahlawan yang gugur pada peristiwa Gerakan 30 September pun dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Ahmad Yani bersama enam staf angkatan darat lainnya yang menjadi korban keganasan peristiwa 30 September secara resmi dinyatakan sebagai pahlawan revolusi. Pernyataan ini berdasarkan Keputusan Presiden Noimor 111/KOTI/1965. Secara anumerta, pangkat Ahmad Yani pun dinaikkan menjadi Jenderal Bintang Empat dari Letnan Jenderal.

Setelah Ahmad Yani meninggal dunia, istri dan anaknya pun pindah rumah. Istri Ahmad Yani pun berkontribusi dalam pengubahan rumahnya menjadi museum yang membahas peristiwa 30 September, terutama ketika penyerangan Ahmad Yani. Keadaan rumah dan perabotan rumah masih sama dengan kondisi waktu itu. Bahkan, lubang peluru di dinding dan pintu rumah Ahmad Yani pun masih ada.

Selain biografi Ahmad Yani, terdapat pula beberapa biografi mengenai WR Supratman dan Agustinus Adisucipto. Demikianlah sedikit ulasan mengenai biografi Ahmad Yani, bapak pahlawan revolusi Indonesia. Semoga materi kali ini dapat menambah wawasan kita mengenai sejarah dan biografi pahlawan Indonesia. Aamiin.

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!