Biografi Agustinus Adisucipto, Bapak Penerbangan Indonesia

Agustinus Adisucipto – Masyarakat Indonesia pasti sudah tidak asing lagi dengan nama Bandara Adisutjipto, terutama bagi warga Yogyakarta. Nama Bandara Adisutjipto diambil dari nama pahlawan dari angkatan udara yang mana juga dijuluki sebagai bapak penerbangan pertama Indonesia.

Ya, pada kesempatan kali ini kita akan membahas bersama mengenai biografi dari seorang pahlawan dari angkatan udara Indonesia, Agustinus Adisutjipto.

Kelahiran Agustinus Adisucipto

masa kecil adisucipto
Photo by airmagz.com

Nama lengkap dari Marsekal Adisucipto adalah Mas Agustinus Adisucipto. Agustinus Adisucipto dilahirkan pada tanggal 03 Juli tahun 1916 di Salatiga, Jawa Tengah. Akan tetapi, terdapat beberapa sumber yang mengatakan jika Adisutjipto dilahirkan pada hari Selasa tanggal 04 Juli 1916. Ia merupakan seorang marsekal muda yang beragama Kristen Katolik dan dibaptis di Gereja Katolik Santo Paulus Miki, Salatiga.

Agustinus Adisucipto merupakan anak pertama dari lima bersaudara dari pasangan suami istri yang bernama Pius Roewidodarmo dan R. Ng. Latifatun. Bapaknya, Pius Roewidodarmo merupakan seorang lulusan dari Kolese Xaverius dan pernah menjadi guru di Salatiga.

Riwayat Keluarga Agustinus Adisutjipto

keluarga adisucipto
Photo by pakdebast.blogspot.com

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, Agustinus Adisutjipto bekerja di perusahaan bus di Salatiga. Hal ini dilakukan karena pada masa penjajahan Jepang, para penerbang Indonesia statusnya diturunkan menjadi warga sipil biasa, termasuk Adisutjipto.

Pada masa ini pula, Adisutjpto menikah dengan seorang gadis yang mana masih saudara jauh satu keluarga. Gadis ini bernama Soegih Rahayu, seorang putri dari R. Soerojo seorang wartawan Koran De Locomotief. Keduanya pun dikaruniai seorang anak yang bernama Fransiskus Xaverius Adisusanto (Toddy) yang dilahirkan pada tanggal 04 November tahun 1946.

Riwayat Pendidikan Agustinus Adisucipto

riwayat pendidikan adisutjipto
Photo by google

Agustinus Adisucipto memulai masa sekolahnya di HIS (Hollands Inlandse School) Katolik di Muntilan. Setelah lulus pada tahun 1929, ia pun melanjutkan masa SMP nya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) St. Louis di Ambarawa. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan sekolah menengah atasnya di AMS (Algemene Middelbare School) mengambil bagian bidang ilmu pasti alam di Semarang dan lulus pada tahun 1932.

Kegemaran Adisutjipto sejak kecil di bidang olah raga adalah mendaki gunung, main sepak bola dan catur. Dalam permainan catur ini, sekali peristiwa ia pernah mengalahkan jago catur dari Salatiga.

Setelah lulus dari AMS, Agustinus Adisucipto ingin melanjutkan pendidikannya di dunia penerbangan. Akan etapi, ayahnya tidak menyetujuinya. Akhirnya, ia pun meneruskan pendidikannya sebagai seorang calon dokter yang bersekolah di GHS (Geneeskundige Hoge School) agar tidak mengecewakan ayahnya.

Akan tetapi, rasa cinta Adisutjipto pada dunia kedirgantaraan membuatnya membelokkan niatnya untuk menjadi seorang dokter. Ia hanya melanjutkan sekolah di GHS selama dua tahun tanpa menyelesaikan masa pendidikannya. Si GHS inilah, Adisutjipto bertemu dan berteman dengan Abdulrachman Saleh.

Adisucipto pun melanjutkan pendidikannya di sekolah penerbangan Militaire Luchtvaaart Opleiding School di Kalijati dan lulus pada tahun 1940. Kemampuannya dan kepiawaiannya dalam menerbangkan dan mengemudikan pesawat membuatnya langsung ditunjuk menjadi Kepala Staf AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia).

Keputusan Adisucipto untuk beralih ke dunia kedirgantaraan diambil setelah Indonesia mendapatkan kemenangan dalam pertempuran mengalahkan Jepang dan Belanda.

Riwayat Aktivitas Agustinus Adisucipto

pesawat cureng
Photo by tni-au.mil.id

Pada tahun 1945, setelah Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya, Adisucipto pun melakukan penerbangan pertamanya pada tanggal 27 Oktober 1945 menggunakan pesawat rakitan berjenis Cureng. Akhirnya, pada tanggal 27 Oktober 1945 diperingati sebagai Hari Penerbangan Nasional.

Pesawat Cureng berbendera merah putih yang dibawa oleh Adisucipto merupakan penerbangan pesawat berbendera merah putih pertama di Indonesia. Penerbangan ini dilakukan di sekitar Yogya untuk membakar semangat juang bangsa Indonesia dalam melawan penjajah yang masih terjadi di berbagai daerah.

Untuk menunjukkan dedikasinya terhadap dunia kedirgantaraan, Adisucipto pun mendirikan sekolah penerbangan di Yogyakarta, tepatnya di Lapangan Udara Maguwo. Sekolah ini didirikan pada tanggal 15 November tahun 1945.

Kematian Agustinus Adisucipto

korban pesawat dakota vt-cla
Photo by jonkeneddy.wordpress.com

Ketika Belanda melakukan Agresi Militer I di Indonesia, Adisucipto dan Abdulrahman Saleh diminta untuk terbang menggunakan pesawat Dakota berjenis C-47B dengan nomor registrasi VT-CLA ke India. Penerobosan blockade udara yang dilakukan oleh Belanda menuju India dan Pakistan pun berhasil dilalui oleh pesawat Dakota VT-CLA.

Ketika akan pulang ke Indonesia, pesawat Dakota VT-CLA milik Indonesia ini melakukan pendaratan di Singapura untuk mengangkut obat-obatan dari Palang Merah Malaya. Pesawat Dakota VT-CLA pun baru melanjutkan perjalanan ke Indonesia pada pukul 13.00 WIB.

Penumpang Pesawat Dakota VT-CLA
  1. Komodor Muda Udara Agustinus Adisucipto
  2. Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdulrahman Saleh
  3. Pilot Alexander Noel Constantine yang berkebangsaan Australia
  4. Co-Pilot R.L. Hazelhurst yang berkebangsaan Inggris
  5. Juru Radio, Opsir Udara Adisumarmo Wiryokusumo
  6. Juru Teknik, Bhida RAM yang berkebangsaan India
  7. A.N Constantine
  8. Zainal Arifin, Atase Perdagangan Republik Indonesia di Singapura
  9. Gani Handonocokro

Sementara itu, di landasan udara Maguwo, KSAU Soerjadi Surjadarma sudah menunggu kedatangan pesawat Dakota VT-CLA. Ia memerintahkan agar pesawat Dakota VT-CLA tidak perlu berputar-putar sebelum melakukan pendaratan.

Perintah tersebut dimaksudkan untuk menghindari kemungkinan adanya serangan udara dari Belanda pada pesawat tersebut. KSAU Soerjadi Surjadarma mengingat dalam pesawat Dakota VT-CLA terdapat dua tokoh penting AURI, yakni Agustinus Adisucipto dan Abdulrachman Saleh.

Ketika pesawat Dakota VT-CLA telah mendekati landangan udara Maguwo pukul 16.30 WIB, pesawat ini tetap berputar-putar untuk melakukan persiapan pendaratan karena yang menjadi pilot adalah Alexander, ia tidak menuruti apa yang sudah dipesankan oleh Soerjadi Surjadarma.

Penembakan Pesawat Dakota VT-CLA

pesawat dakpta vt-cla
Photo by historia.id

Ketika pesawat Dakota VT-CLA sedang berputar-putar untuk persiapan melakukan pendaratan, tiba-tiba dari arah utara muncul dua pesawat P-40 Kittyhawk milik Belanda yang dikemudikan oleh Lettu B.J Ruesink dan Serma W.E. Erkelens. Kedua pesawat ini pun langsung menembaki pesawat Dakota VT-CLA milik Indonesia dengan peluru yang berkaliber 22,75 mm.

Penembakan yang dilakukan oleh dua pesawat Kittyhawk milik Belanda menyebabkan pesawat Dakota VT-CLA milik Indonesia kehilangan kendali. Pesawat Dakota VT-CLA pun jatuh di perbatasan antara Desa Ngoto dan Desa Wojo dan pesawat pun langsung terbakar hebat. Semua awak penumpang yang ada di dalam pesawat Dakota pun tidak ada yang selamat kecuali Abdul Gani Handonotjokro.

Agustinus Adisucipto pun meninggal pada tanggal 27 Juli tahun 1947 M. Marsekal Muda Anumerta pun dimakamkan di pemakaman umum Kuncen I dan II. Akhirnya, pada tanggal 14 Juli 2000 dipindahkan ke Monumen Perjuangan TNI AU di Ngoto, Bangunharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Pihak Belanda sempat tidak mengakui atas insiden penembakan ini. Akan tetapi atas desakan dari pihak India, pihak Belanda akhirnya mau mengakui dan mengganti pesawat yang ditembak olehnya dengan pesawat Dakota DC-3 dari pihak Indonesia.

Riwayat Karir Agustinus Adisucipto

Agustinus Adisucipto mencapai karirnya dalam dunia kedirgantaraan dengan jabatan Marsekal Muda Anumerta.

Riwayat Penghargaan Agustinus Adisucipto

mas agustinus adisujipto
Photo by phinemo.com

Berdasarkan Surat Keputusan KSAU No. 76/48/Pen.2/KS/52 pada 17 Agustus 1952 atas pengabdian dan jasa yang telah dilakukan, nama Agustinus Adisutjipto dan Abdulrachman Saleh diabadikan sebagai nama pangkalan udara. Keduanya juga dianugerahi tanda jasa Bintang Garuda No. 000001 pada tanggal 17 April tahun 1959 dan Bintang Mahaputra kelas IV pada tanggal 17 Agustus 1960.

Selain itu, Agustinus Adisutjipto dan Abdulrahman Saleh ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keppres No. 071/TK/TH/1974 pada tanggal 09 November 1974. Bapak Agustinus Adisutjioto juga ditetapkan sebagai Bapak Penerbangan Indonesia.

Demikianlah sedikit ulasan mengenai sejarah dan biografi Agustinus Adisucipto, bapak penerbangan Indonesia. Selain biografi mengenai Agustinus Adisucipto, terdapat juga biografi pahlawan lainnya seperti Bung Tomo dan Soeharto. Semoga materi kali ini dapat menambah wawasan kita mengenai sosok pahlawan dari dunia kedirgantaraan Indonesia. Aamiin.

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!